WpMag

Tampilkan postingan dengan label NOVEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NOVEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

LARUNG SESAJI


LARUNG SESAJI

Semua orang berkumpul dibibir pantai. Tua muda, kecil-besar, wanita dan pria semua berkumpul. Hari ini memang berbeda dengan hari yang lain.  Hari ini tak ada aktifitas yang berjalan. Melaut, bertani, pasar, semua mati. Khusus hari ini semua tak dibolehkan untuk bekerja. Jika mereka bekerja, pastilah tahu akibatnya. Hukum adat tak ada yang berani melanggar. Apalagi kalau yang bilang sesepuh adat, petuahnya bagaikan sabda yang harus dijalankan.
Semua orang menunggu di bibir pantai. Mereka semua menunggu acara adat larung sesaji. Larung sesaji merupakan acara adat yang rutin diadakan dikampung kami tiap tahunnya. Ini adalah bentuk curahan syukur kepada Sang Pencipta berkat rizki yang diberikan selama satu tahun penuh. Larung sesaji ini diawali dengan penyembelihan kerbau kemarin yang diadakan di Balai Desa. Kerbau yang disembelih diambil kepalanya untuk di larung ke laut. Sedangkan daging dan tulang serta kulit dibagikan kepada masyarakat kampung. Ini persis seperti hari raya Qurban. Semua kebagian daging. Mungkin inilah hari raya ketiga di kampung kami. Larung sesaji diadakan setiap tanggal satu Sura atau Muharam dan merupakan peringatan tahun baru Jawa atau Islam. Entah kapan larung sesaji ini ada. Namun kata sesepuh adat, larung sesaji telah lama ada sebelum zaman kemerdekaan.
Mbah Sarip demikianlah beliau biasa dipanggil. Orang tua yang kesehariannya juga sebagai nelayan. Seorang sesepuh adat yang sangat disegani di kampung kami, dimana semua petuahnya pasti dilaksanakan oleh semua masyarakat. Kata beliau, Larung sesaji telah ada sebelum beliau lahir. Dulu larung sesaji berasal dari masa kerajaan Majapahit. Kejayaan Majapahit telah sampai ditanah ini. Ketika itu Larung sesaji merupakan cara tolak balak  dan wujud syukur yang di tujukan kepada Sang Pencipta. Seiring berjalannya waktu, larung sesaji  terus ada dan tetap menjadi nilai budaya adat kampung kami.
Dari sudut lain pantai, terlihat segerombolan orang menyangga tumpeng yang berisikan kepala kerbau. Di belakangnya diiringi oleh anak kecil, bapak-bapak, ibu-ibu dan semua masyarakat. Sementara aku bersama dengan Gemol, Sadli dan Lasmi ikut berjalan dibelakang para pemain reog yang menari diiringi musik gamelan. Tumpeng berisi kepala kerbau tersebut akan dilarungkan kelaut namun sebelumnya dibacakan doa di pinggir pantai oleh mbah Sarip. Tumpeng pun telah tiba tepat di bibir pantai. Semua warga duduk dan terdiam mendengarkan petuah yang diucapkan oleh mbah Sarip termasuk musik gamelan yang tadi ikut mengarak tumpeng kepala kerbau. Sementara ombak laut menunggu kepala kerbau itu untuk dibawa ke laut selatan. Dengan sabar mereka menunggu. Sedangkan Mbah Sarip masih saja komat-kamit didepan tumpeng berisi kepala kerbau tersebut. Bahasa yang diucapkannya pun tak jelas. Aku bingung, begitu juga yang lain.  
“Bay, ngomong apa itu mbah Sarip?”Tanya Gemol..sambil menggaruk-garuk rambutnya yang menjadi kebiasaan sedari kecil.
“Nggak tahu kayaknya bahasa Sansekerta”  jawabku dengan sedikit berspekulasi
Ngawur kamu itu bahasa Jawa kuno” jawab Sadli dengan argumen yang ia kemukakan.
“Iya, itu Jawa kuno alias bahasa Kawi” tambah Lasmi seakan mengamini perkataan Sadli tadi
“Bahasa Kawi?apa itu?” tanyaku dengan penuh kebingungan
“Bahasa yang biasa dipakai untuk pementasan pewayangan” tambah Lasmi
Dengan komat-kamit seakan mau menjadi dalang dalam pementasan wayang, mbah Sarip terlihat khusuk. Sesekali beliau mendongakkan kepala sambil menengadahkan tangannya. Dan tak lupa, beliau juga meniup kemenyan yang berada didepannya. Persis orang penggambuh yang mau mengobati tukang “Jaranan”. Dengan pakaian hitam dan kaos dalam putih, beliau memang pantas menjadi seorang sesepuh adat. Tak lama berselang beliau menengadahkan tangan dan meminta semua hadirin untuk mengikuti beliau. Berbagai bacaan beliau ucapkan. Entah itu bahasa Kawi, bahasa Sansekerta ataupun bahasa Jawa aku tak tahu artinya. Yang aku lakukan hanya mengamini setiap jeda dalam perkataannya.
“Amin….amiiiin….aaaaaaminnnnnnnnn” semua terlihat kidmat mengucapkan kata amin mengiringi doa yang beliau panjatkan.
Selesai berdoa, tumpeng pun diangkat untuk dilarungkan ke laut. Beberapa kapal nelayan siap menjadi pengawal dalam melarungkan tumpeng berkepala kerbau itu. Sementara kami masih saja dirundung penasaran mengenai bahasa yang digunakan mbah Sarip dalam berdoa tersebut. Perdebatan kecil muncul mengiringi kepergian kepala kerbau kepantai Selatan. Walaupun tumpeng kepala kerbau telah berada diujung laut dan  perahu nelayan mulai berangsut kembali ke pantai. Kami masih saja memperdebatkan masalah bahasa yang digunakan Mbah Sarip tadi. Akhirnya Lasmi yang selalu berada dipihak netral memberikan solusi.
“Ya sudah, ayo kita bersama-sama tanya Mbah Sarip langsung”
“Ide bagus itu, dari pada debat terus tak berujung” tambahku
Kamipun segera mencari Mbah Sarip. Lolongan mata kami tak menemukan sosok ceking berbaju hitam tadi. Wajah keriputnya tak terlihat di keramaian orang-orang. Sesekali ku dongakkan kepala untuk mencari beliau. Dan ternyata beliau berleha-leha di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Dengan ditemani sebatang rokok yang berada disela-sela jari tangannya beliau sangat menikmati udara sejuk sore ini. Segera kami berjalan menuju tempat beliau. Rasa penasaran dicampur rasa ingin tahu menyeruak seketika untuk segera mendapatkan jawabannya.
“Mbah, mau tanya boleh?”
“Tanya apa nak?” sembari melentikkan batang rokok agar abunya lepas
“Ini mbah, kami mau tanya isi petuah dan bahasa yang mbah gunakan tadi apa?” tanya Lasmi dengan penuh penasaran
 “Iya mbah artinya apa soalnya bahasanya agak nyleneh”tambah Sadli
“Itu bahasa Kawi”
“Bahasa Kawi mbah”  jelasku dengan muka terkaget
“Iya nak, bahasa Kawi merupakan bahasa yang biasa masyarakat dulu gunakan untuk komunikasi. Jauh sebelum bahasa Jawa dipakai, masyarakat lebih suaka bahasa Kawi. Katanya sih bahasanya lebih halus. Jika dipakai untuk memberi petuah dan doa lebih sopan. Apalagi doa, isinya kan ungkapan kepada Tuhan mengenai diri kita masak bahasanya nggak halus “Payo isin”. Kita saja kalau ketemu orang yang lebih tua bahasanya kan pasti yang sopan. Masak menghadap Sang Pencipta bahasanya nggak sopan?” jawab Mbah Sarip dengan penuh kebijaksanaan
“O, begitu to mbah, kalau isinya itu apa mbah?” tanya Sadli sembari menganggukkan kepalanya
“Isi dari bacaan tadi adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena limpahan Rizki yang diberikan sepanjang tahun. Begitu besar rizki yang diberikan ini harus disyukuri. Karena dengan syukur maka Tuhan akan memberi rizki yang banyak untuk tahun depan. Selain itu terdapat ungkapan doa keselamatan semoga segala aktifitas yang dialakukan oleh masyarakat di ridhoi oleh Sang Pencipta. Tak hanya itu saja beberapa petuah mbah ucapkan sebagai pedoman masyarakat dalam menjalani segala aktifitas. Diharapakan dengan berbagai doa dan petuah tersebut akan memudahkan masyarakat dalam menjalani aktifitas ditahun yang baru ini.”
“Terimakasih mbah” seru Lasmi
“Iya nak, sama-sama, siapa disini yang mau menggantikan mbah besok?” sembari melepaskan asap rokok keudara dengan entengnya
“Gemol mbah” seru Sadli,
 “tidak mbah, Sadli” jawab Gemol
“Ubay mbah”tambah Sadli lagi
“Tidak mbah, tidak bisa aku mbah”
“Ya sudah, hanya bercanda” sembari menerbitkan senyuman kepada kami
Kamipun  berpamitan pada Mbah Sarip. Dengan ucapan beribu terimakasih, karena perdebatan kami telah mendapatkan jawaban. Sekarang tak ada lagi perdebatan, karena semua telah terkuak. Mengenai isi dari semua yang diucapkan oleh Mbah Sarip dan bahasa yang digunakan tadi.

Selasa, 24 Juli 2012

ATLET LARI


ATLET LARI

Jika mendengar suara itu, pasti semua orang akan berlari ketakutan seakan ia diburu setan. Kami takut tak kepalang karena itu akan menjadi mala petaka besar. Suara itu terdengar beberapa kali, dan semua yang mendengar itu pasti tahu, bahwa itu adalah suara lonceng tanda masuk sekolah. Lonceng keramat yang menjadi musuh bagi setiap siswa yang datang telat. Lonceng yang mengantarkan kami kedalam sebuah perbatasan waktu. Memang sekolah kami masih sangat tradisional untuk masalah yang sepele seperti ini. Namun bagi para siswa tak mengapa asalkan biaya untuk sekolah tak tinggi sehingga dapat dijangkau untuk semua masayarakat pesisir. Hanya ada satu sekolah yang ada di kecamatan Sadeng dan itupun memprihatinkan. Cukup jauh jaraknya jika dari kampung kami.
Suara lonceng terdengar bertalu-talu dari tempatku berjalan. Langsung aku terperanjat dan berlari menuju gerbang. Kira-kira jarakku lari dari gerbang sekolah sekitar dua ratus meter. Nafasku engos-engosan, Jantung berdetak lebih kencang bagaikan gerakan piston motor yang dipacu kencang oleh pengendaranya. Setiba di depan gerbang Pak Darmo selaku guru yang paling keras dan disiplin sudah siap berdiri didepan gerbang. Sembari tangan kananya memegang sebuah koran yang telah digulungnya membentuk sebuah balok kecil. Jika dilihat mungkin lebih mirip lagi dengan lontong kukus.  Yang membedakan, kalau lontong enak dimakan, kalau yang di pegang pak Darmo, jauh dari yang terbayang, akan sangat sakit jika mengenai badan. Jantungku semakin terpacu kencang seakan tak ada waktu untuk diam. Dalam hati, “ah aku terlambat lagi, Ah hukuman apa yang akan aku terima”. Kumis Pak Darmo yang panjangnya menutupi hidung cukup menggetarkan jantungku hingga aku mati kaku. Kumis yang menandakan kedikdayaannya sebagai seorang guru yang dianggap killer di sekolah kami. Kumis inilah perlambang kekuatan pak Darmo. Jika beliau mencukur kumisnya, terlihat wajah asli nan lugu bagaikan seorang perjaka kemarin sore. Tak ada yang mengira hanya dibalik kumisnya itulah ia menyimpan kekuatan killer-nya.
“Kamu, lagi….kamu lagi,” dengan wajah geram sembari berkacak pinggang
“Ma…Maaf Pak,” jawabku dengan penuh rasa takut
“Setiap hari maaf, setiap hari telat. Memangnya ini sekolah bapakmu.?” Dengan nada tinggi sembari memainkan koran yang digulungnya tadi
Tubuhku kaku, mulutku sulit untuk digerakkan, tanganku terasa dingin dan gemetaran. Wajah Pak Darmo terlihat sangat seram, sangar seperti Van Daime bintang film Holiwood itu. Tubuhnya yang kekar cukup tepat jika dijadikan guru kedisiplinan sekolah kami.
Sebenarnya Pak Darmo dulu ialah bekas anggota TNI. Ketika beliau berusia 35 tahun, beliau ditugaskan dalam operasi militer di Poso. Ketika itu Poso sedang dihadapkan pada konflik SARA. Terjadi permusuhan antara berbagai golongan. Pada operasi tersebut, nasib naas menimpa Pak Darmo. Pada saat patroli beliau tertembak tangannya terlihat bekas luka tembak di tangan kiri dengan dihiasi beberapa bekas jahitan. Setelah kejadian itu, beliau mengundurkan diri dari keanggotaan TNI dan mulai untuk membantu sekolah kami ini. Pada dasarnya pendidikan beliau adalah sebagai guru. Beliau menamatkan sekolah guru di Surabaya. Namun setelah lulus, bukannya menjadi guru beliau malah mencoba mendaftar sebagai anggota TNI. Usianya pada waktu itu masih mencukupi dan beliau mendaftar sebagai calon Tantama. Salah satu tingkatan anggota TNI yang paling bawah dan biasanya ditempatkan di garis depan saat operasi militer.  Beliau merupakan guru yang sangat disiplin. Selalu datang paling pagi dari siapapun di sekolah ini. Jadi pantaslah jika beliau marah ketika tahu anak muridnya yang tidak disiplin.
Pak Darmo terus mengoceh didepanku dan beberapa teman lain yang berjejer bak ikan asin yang sedang dijemur diterik matahari. Terdengar suara sepatu yang bergerak kearah kami.  Suaranya semakin dekat dan berhenti tepat disamping kami berdiri.
“Kamu, kenapa telat?” tanya Pak Darmo
“Taaa..taaadi”. sembari tangannya menggaruk-garuk kepala yang merupakan kebiasaannya sedari dulu. Belum sempat selesai Pak Darmo menyeletuk memotong perkataannya
“Alasan saja.” dengan nada tinggi
Dengan penuh penasaran mataku kulirikan kesamping kanan, terlihat sosok Gemol yang telat. Tubuhnya cukup kekar, namun agak gendut. Raupan mukanya persis petinju dunia yaitu Muhammad Ali. Kulitnya sawo matang, dan semakin matang saja karena setiap hari dijemur diterik matahari. Ia tak ubahnya aku, tubuhnya mulai gemeteran, terlihat kaki yang tak kuat menyangga tubuh besarnya. Kakinya seperti pohon bambu yang digoyang oleh angin sore hari. Terus bergerak tak karuan. Aku melihat bibirnya melentik-lentik tak mau diam. Melihat Gemol yang ketakutan itu, hatiku terpingkal-pingkal, namun tak kulahirkan, karena takut akan amukan Pak Darmo. Sementara Lasmi yang berada di sampingnya diam dengan muka tertunduk. Ia tetap diam, dan mungkin merasa bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan. Mataku langsung kubanting kedepan lagi, takut kalau Pak Darmo mengetahui gerakan kecil ini. Beliau sangat hafal dan awas terhadap tingkah laku kami. Seperti tupai yang mengintai mangsanya atau seperti singa lapar yang ingin menerkam siapa saja yang didekatnya.
“Kalian ini” sembari koran yang dipegangnya diacung-acungkan pada kami semua.
 “Setiap hari telat…mau jadi apa kalian? bagaimana seandanya pendiri bangsa ini seperti Bung Karno, Bung Hatta dan yang lain mengetahui penerusnya seperti kalian ini. Jika tau pasti akan marah. Akan kau bawa kemana nasib bangsa ini?” dengan nada menggebu-gebu
Nasihat dan omelan terus beliau dengungkan di depan kami. Saking seringnya telat, akupun sampai hafal semua kata yang keluar dari mulutnya.  Entah harus berapa kali nasihat ini masuk ke telinga kami. Entah berapa menit beliau selalu berkata hal yang sama pada kami. Setiap hari, ketika ada murid yang telat beliau selalu memperingatkan dan memberi nasihat dengan kata-kata yang sama. Namun semua nasihatnya hanya dianggap angin musiman yang cepat sekali hilang, masuk  telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak ada satu baitpun dari nasehatnya yangnyantol” di telinga kami.
Selesai mendengarkan nasihat beliau, akhirnya kamipun diberi hukuman untuk memutari lapangan sepak bola disamping sekolah. Lapangan yang dipenuhi debu dan sedikit rumput ini cukup membuatku lelah. Apalagi debu yang berterbangan akibat gerakan kaki kami, semakin menguras tenaga. Yang paling parah adalah Gemol, bukan saja ia telat namun ia tak membawa sepatu. Katanya sepatu yang ia punya satu-satunya kehujanan dan belum kering. Sungguh malang nasibnya. “Sudah jatuh tertimpa tangga” mungkin itu ungkapan yang paling tepat menggambarkan keadaannya saat ini. Gerak lari Gemol membuatku geli, seperti ikan yang diletakkan di palka kapal, lenggak-lenggok tak karuan. Kadang kala kekanan, dan kadang juga kekiri.
“Las, lihat itu temanmu, larinya melenggak-lenggok tak karuan” seruku pada Lasmi yang berlari disampingku
“Ah kau Bay, bisa aja. Jangan mengumpat terus” jawab Lasmi sembari berlari kecil karena rasa capek yang mulai menyeruap
Sementara yang lain terus berlari memutari lapangan yang sedikit oval itu. Hukuman  kami adalah memutari lapangan sebanyak 7 kali. Namun baru 3 kali, nafasku sudah engos-engosan seperti motor yang dicopot filternya. Jantungpun berdetak semakin kencang. Belum lagi tadi belum sempat sarapan karena dikejar sang waktu.
Sementara Pak Darmo masih mengawasi dipinggir lapangan dengan pluit yang menggantung dilehernya. Peluit berwarna merah yang selalu tersampir dileher seperti kalung. Tak jarang Pak Darmo menegur kami yang berlari kecil karena nafas engos-engosan. Jika ada yang tidak tahu pasti mengira bahwa kami sedang pemanasan atau sedang latihan bermain bola.
“Cepat….lari yang benar, mau jadi apa kau…..lari saja nggak becus” seru Pak Darmo dari pinggir lapangan
Suara peluit kadang juga terdengar dari pinggir lapangan sebagai teguran dan peringatan. Ketika suara peluit terdengar secepat kilat kami langsung meningkatkan akselerasi kecepatan lari kami dari pelan, menjadi agak kencang. Sudah 5 putaran  telah kami lakukan, sementara Pak Darmo masih saja berdiri di pinggir lapangan. Pandangannya tak lepas dari kami yang sedang menjalani masa hukaman. Mungkin dalam benak Pak Darmo, “ini adalah pelajaran dan peringatan agar engkau lebih menghargai waktu dan bersikap disiplin”. Tapi selama bertahun-tahun metode yang diterapkan Pak Darmo belum juga membuahkan hasil yang maksimal. Setiap hari, setiap minggu pasti ada yang terlambat dan memutari lapangan. Namun Pak Darmo tak menyerah dan putus arang dalam memperlakukan siswanya agar disiplin.
Putaran terakhir kami lalui dengan nafas yang semakin pendek. Jantung berdetak kencang bagaikan dentang lonceng tadi pagi yang membuat kami harus menjalani hukuman ini. Debu semakin berterbangan seperti kabut dipagi hari yang menghalangi pandangan. Pandangan matapun semakin terbatas, debu yang berterbangan juga terhirup kehidung. Rasa sesak, disertai batuk mulai datang. jika terus-terusan begini bisa-bisa kami kena penyakit paru-paru.
Tujuh putaran lapangan bola sudah kami lewati dengan susah payah. Keringat bercucuran dan menetes melewati sela-sela pipi ini. Seperti aliran sungai Brantas yang bermuara dipantai Selatan. Ditambah lagi nafas kembang-kempis untuk mengambil udara yang seakan melawan kami. Belum sampai disitu saja, kami harus menghadap lagi ke Pak Darmo untuk mendengarkan berbagai nasihatnya lagi.
“Brukkk,…..brukkkk…brukkk”
“Maaf, pak saya telat”
Terlihat wajah lusuh anak satu ini yang menghadap Pak Darmo. Namanya Sadli, tubuhnya kerempeng, dengan raut muka anak nelayan yang kumal. Seperti tak pernah mandi air tawar. Pakainnya lusuh, tak pernah kena strika setelah dibeli. Seorang pesilat yang lincah dan memiliki garis nasab guru silat dikampung kami. Tupai lompat, ia biasa kami juluki. Kelihaan dan kelincahannya menjadikan ia dijuluki tupai lompat. Tak perlu diragukan lagi mengenai fisiknya, ia mampu memutari lapangan bola sekolah kami sepuluh kali dan bahkan lima belas kali. Seakan ia tak punya jantung dan paru-paru. Ia mungkin tidak bernafas dengan paru-paru namun dengan insang. Entah seperti apa jantung dan paru-paru anak itu. Atau mungkin ia mewarisi kekuatan fisik pemain bola dari Brazil. Sang legendaris sepak bola sepanjang masa yaitu Pele.
Wajah pak Darmo semakin geram, melihat siswanya yang sudah jam setengah delapan baru datang kesekolah. Dalam hatinya, “ini anak mau nya dijadikan apa?”.
“He, kau….Sadli, kenapa kau telat?” tanya Pak Darmo dengan penuh kecurigaan
“Aaaannuuu pak” jawab Sadli dengan wajah sedikit pasrah
“Anu apa?, sudah gak usah banyak penjelasan langsung putari lapangan 10 kali.” dengan raup muka yang seram
“Tapi pak, kumohon dengarkan alasan saya?” dengan sedikit mengiba
Halah, alasan apa lagi, paling kau mencari-cari alasan yang nggak masuk akal. Aku tak peduli, sudah muak aku mendengarkan alasan dari kau, dasarrr…!”dengan nada keras ssambil melototkan kedua matanya seakan amu keluar dari kelopak mata.
“Tapi pak?”dengan muka menyerah
“Tak perlu tapi-tapian, kalau tak mau kutambah lagi hukumannya”
“Jangan pak”  sembari berjalan meninggalkan kami dan menuju lapangan bola.
Sadli tak dapat menjelaskan alasan kenapa ia terlambat karena pak Darmo sudah tak memerlukan alasan yang tak masuk akal. Memang Sadli suka ngeles kalau masalah keterlambatan. Namun karena seringnya ia terlambat, sampai hafal Pak Darmo dengannya. Mau tak mau, ia harus menjalani hukuman seperti yang kami telah jalankan barusan. Dengan muka sedikit tertunduk lesu  ia segera berlari menuju lapangan dan mengitari lapangan sepak bola. Tak berapa lama ia pun selesai berlari. Akhirnya kami semua dibolehkan masuk ke kelas masing-masing. Sembari berjalan membelakangi Pak Darmo, Sadli membuka obrolan.
“Bay, lihat itu alis Pak Darmo naik turun seperti harga BBM akhir-akhir ini” tawa kecil langsung pecah ketika Sadli membuka obrolan mengiringi perjalanan kami ke kelas.
“Husf…” seru Lasmi untuk memotong tawa kecil kami semua. Pak Darmo mengetahui umpatan Sadli tadi
“Apa yang kau katakan, Le?”  . Dengan wajah yang geram ia menimpali Sadli dengan kata “Le” yang merupakan kata sakral yang jarang di ucapkan oleh masyarakat di kampung kami. jika kata “Le” diucapkan oleh seseorang seumuran, artinya  ia merendahkan orang lain dan akan menyulutkan emosi yang dipanggilnya.
“Tidak Pak” kami semua langsung berlari kecil meninggalkan Pak Darmo dan segera menuju ruang kelas. Sementara Pak Darmo masih saja berdiri di tempat dan melihat kami berlari memunggunginya
 Sinar mentari pagi mengantarkan kami menjadi atlit lari disekolah. Atlit lari yang tak pernah ikut dalam setiap kejuaraan dan hanya menjadi cadangan sepanjang hayat. Lomba tujuh belas agustus pun tak pernah dipanggil apalagi perlombaan tingkat provinsi dan bahkan nasional tidak pernah tersentuh. Sepanjang sekolah ini masih berdiri tegak. Sepanjang Pak Darmo masih berdiri didepan pitu gerbang menunggui kami yang terlambat. Sepanjang itu pula kedisiplinan diajarkan Pak Darmo dalam mendidik kami. Anak-anak bandel yang setiap hari dikejar oleh sang waktu.
***
BERSAMBUNG.........

Sabtu, 30 Juni 2012

NOVEL PERTAMA


NOVEL PERTAMA

Alhamdulillah telah terbit novel pertamaku yang berjudul "Berlayar". bagi semua pembaca, teman, sahabat, dan semuanya yang ingin membeli/ memesan silahkan kontak ke e mail ku ya : robinkalituri@gmail.com atau robinkalituri@yahoo.co.id
tidak hanya itu aku sangat berharap ada masukan dari kawan-kawan semua mengenai novel ini.....terimakasih dalam jabat tangan erat persahabatan kita.....Robin





ROBIN



BERLAYAR



Penerbit
KMIP PUBLISHER



BERLAYAR
Oleh: Robin
Copyright © 2012 by Robin
Editor
Premedia Putra
Penerbit
(KMIP PUBLISER)
(Website:www.kmip.faperta.ugm.ac.id)
(Email:)

Desain Cover:
Prameidia Putra

Diterbitkan melalui:

Ucapan Terimakasih:
Ucapan syukur dan terima kasih aku haturkan kepada Allah SWT yang selalu memberikan rahmat serta nikmatnya. Kepada kedua orang tuaku: Sukiran dan Mukilah yang selalu mendoakan baik siang maupun malam. Kepada Alm KH. Abdul Aziz yang selalu membimbing dan selalu aku takzimi. Kepada kakak-kakakku: Rofik, Rokani, Rohmat yang selalu memotivasi dalam tolabul ilmi di Jogja. Kepada guruku dan dosen-dosenku: Prof Rustadi, Dr Triyanto, Suadi Phd dll,  yang mengenalkanku pada sebuah peradaban manusia. Kepada sahabat-sahabatku ikan angkatan 09’: Putra, Suhar, Senu, Ali, Aziz, Nuri, Tyas, Ima, Rofi, Windi, dan yang tak dapat aku sebutkan semua. Sahabatku geng kontrakan Cepit: Bang Edi, Singgih, Gembong yang usil dan aneh-aneh. Kepada seluruh orang yang aku kenal dan memberikan inspirasi.








DAFTAR ISI
ATLET LARI………………………………………………………………………..…………..…..7
TARI…………………………………………………………………………………………..……….17
LARUNG SESAJI………………………………………………………………………………….21
BALAP PERAHU………………………………………………………………………..…..…….27
BALAI KOTA………………………………………………………………………..……..……….41
TRAGEDI PAGI HARI…………………………………………………………………………….51
PENERANG JALAN…………………………………………………………..…………….……55
KABAR DARI PASAR……………………………………………………..………...…….…..63
MERANCANG ASA………..…………………………………………………..………..……..67
UAN……………………………………………………………….…..…………………….…..……75
RESTU IBU………………………………………………………………………….……..……….79
NASIB LASMI…………………………………………………..………………………………..73
JOGJA WE ARE COMING………………………………………………………..…….………87
BERMALAM DI SPBU…………………………………………………………….….….……..91
DOKUMEN BERHARGA……………………………………………………………..….…..109
PERTOLONGAN…………………………………………………………………………..…….121
PEPERANGAN ……………………………………………………………………………….…129
MIMPI ITU DATANG……………………………………………………………………..…….134
JALAN YANG IA PILIH…………………………………………………………………….….139
EMBUN PAGI PERTAMA…………………………………………………………………….145





“Orang berilmu dan beradab tidaklah diam dikampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang, merantaulah kau akan mendapat pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah manisnya hidup akan terasa setelah berjuang.”
(Imam Syafi’i)


“Perjalanan manusia seperti perahu layar yang mengarungi lautan. Kadang kala tertiup angin, tersapu arus, dan diterpa gelombang. Namun itulah yang mengantarkannya kepada pulau tujuan”





TARI
Wajahnya mengingatkanku pada bintang film yang pernah aku lihat di televisi balai desa dulu. Oh iya, dia mirip sekali dengan Paramita Rusadi. Seorang artis multi-tallent yang memiliki wajah catik, suara merdu dan pandai ber-akting. Seorang artis yang hanya bisa kulihat di televisi. Rambutnya bak deru ombak yang bergelombang, hitam legam seperti warna kopiah bapakku. Hidungnya terlihat runcing namun mancung. Kulitnya bersih dan putih sangat perfect. Jika tersenyum terlihat dekik pipinya. Sosoknya bagaikan bidadari yang diutus di bumi untuk menyegarkan pikiranku dengan membawakan sumber air oasis di padang pasir. Sedikit yang aku tahu dari para nelayan, ia adalah anak juragan yang menguasai perahu nelayan di kampungku. Jika memang benar ia anak juragan, maka bagaikan punguk merindukan bulan. Bagaikan bumi dan langit terlalu jauh untuk mengharapkannya. Jika aku diijinkan, maka aku rela menjadi pembantunya. Oh bidadari surga.
Pertama kali melihatnya, hati ini langsung bergetar menyenandungkan lagu cinta yang tumbuh. Waw, apakah ini cinta pada pandangan pertama? Salah satu jenis cinta yang menurutku sangat tidak rasional, karena itu hanya ada di film dan juga sinetron. Namun kini setelah melihatnya, ideologi  yang aku anut mengenai cinta pada pandangan pertama yang hanya di Film atu sinetron mulai menipis, dan aku bahkan mulai amnesia dengan ideologiku yang satu itu.
Entah cinta atau nafsu, itu juga samar-samar. Disore yang cerah dia sedang asik bermain di pantai ditemani seseorang, yang mungkin sahabatnya. Sesekali kulihat ia sedang bermain pasir dan tak lama kemudian ia berenang ditepian pantai. Aku malu, maka aku hanya dapat meliriknya dari kejauhan. Pandanganku tetap tertuju pada lautan luas dan perahu nelayan yang akan bersandar.
Ombak lautan masih tertata apik menyenandungkan lagu perjuangan kepada para nelayan dan buruh tarik jaring yang telah siap untuk beradu nasib. Kepada para ibu-ibu yang dirumah untuk menunggu suaminya datang. Kepada para tengkulak yang menunggu ikan hasil tangkapan nelayan bersandar. Sementara mentari mulai pulang dari peraduannya. Tergantikan oleh jingga yang elok di ujung laut sana. Ia pulang mengantarkan cerita kepada manusia. Bahwa hidup selalu berjalan dan terus berubah sepanjang masa. Tak ada yang tetap dan konstan. Yang ada adalah perubahan yang terus berjalan.
***
Terdengar suara yang asing ditengah-tengah kami yang duduk di tepian pantai. Suara yang tak pernah aku dengar sepanjang masa. Namun seakan ada sesuatu yang menggetarkanku. Entah itu apa aku masih bingung. Seketika kamipun menengok  datangnya sumber suara tadi. Ternyata seorang gadis yang aku lihat beberapa hari yang lalu.
“boleh ikut duduk disini” tanyanya dengan mengedarkan senyum kepada kami dengan bibir yang mengulum manis
“boleh…boleh silahkan” jawab Lasmi dengan penuh keramahan
Semua terpukau olehnya, seperti anak kecil yang sedang melihat topeng monyet di pasar Ngemplak. Mata kami mendelik seakan mau keluar dari kelopak mata. Memperhatikan setiap gerak wajahnya. Menyejukkan setiap perkataannya. Seakan aku jatuh cinta padanya. Sebagai anak nelayan yang setiap hari hanya duduk dipantai menunggu kapal datang, kini malah bidadari yang datang. Sungguh hanya dapat memandanginya.
“Perkenalkan nama ku Sadli,” serabut Sadli dengan melontarkan tangan kanannya ke gadis tadi
“nama ku Tari”
Aku dan Gemol juga tak mau kalah, untuk memperkenalkan diri. Dengan wajah yang sedikit tegang dan tangan yang bergetar akhirnya kuberanikan tangan ini ku gerakkan untuk menjabat tangannya. Rasa canggung yang menyeruap aku tahan sekuat tenaga. Ketika tangan kami mulai mendekat, seolah-olah waktu mulai melambat bak slow motion di film Matrix. Ketika kedua tangan kami bersatu disitulah pertama kalinya dalam hidup, aku merasa dunia mulai berhenti berputar, yang terdengar hanya detak jantungku yang sangat kencang dan yang terlihat hanya senyumnya yang manis dengan cekung pipinya yang khas. Oh Tuhan rasanya aku mau pingsan. Namun dari belakang Gemol menepuk pundakku dan menyadarkanku dari lamunan konyol ini.
“hoi, gentian dong…!” seru Gemol dengan membisikkan ditelingaku
 “Iya…iya sabar, sirik aja sih!” jawabku sembari melepaskan jabatan tangan ini.
Lasmi yang berada disamping kami hanya, diam dan kemudian berdehem. Inilah pertama kalinya aku berkenalan dengan seorang gadis. Sejak itulah kami mengenal Tari dan sering main bersama di pinggir pantai sambil menunggu kapal nelayan bersandar.
***
PENERANG JALAN

Pesan yang disampaikan kak Ridwan tempo hari lalu selalu membayangiku. Seakan ia selalu membisikkan di telingaku. Pada waktu makan, mau tidur, dirumah, belajar seakan aku selalu dibisiki oleh kata-kata itu. Beasiswa satu kata yang selalu aku ingat dan selalu menggangguku. Bulan terasa sangat terang, bintang menemani disana dengan penuh kesetiaan, malam semakin larut, bulan mulai bergerak ketimur. Tak terasa, hawa dingin menyeruap masuk sela-sela jendela kamar. Cahaya bulan yang terang seakan menemani dan menerangiku dalam lamunan ini. Iya dalam lamunan untuk dapat meraih beasiswa di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Bisa di UI, ITB atau bahkan UGM.
Deru ombak terdengar mengalunkan lagu melodi memecah sepi, dipinggir pantai terlihat plankton yang berkerlap-kerlip seperti kunang-kunang yang terang. Beberapa kapal motor nelayan terdengar dari kejauhan. Menandakan bahwa waktu melaut sudah datang. Jika para nelayan mulai berangkat melaut, sudah dapat dipastikan ini menginjak pukul 1 dini hari. Namun aku belum merasakan ngantuk.
Lambat laun suara deru ombak semakin meredup. Hawa dingin semakin meruap. Menyelimuti sepinya pagi ini. Sesekali suara jangkrik terdengar di pojok rumah. Lamat-lamat kelopak mataku semakin menggerayut tak kuasa lagi. Hingga lambat laun tak terdengar lagi suara deru ombak, jangkrik yang bernyanyi riang dan perahu nelayan.
***