WpMag

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2015

CATATAN RELAWAN FBM 2015

CATATAN RELAWAN FBM 2015

Hari berikutnya target harus terpenuhi. Semua surat harus selesai tersampaikan dengan baik ke sekolahh-sekolah. Akupun memutuskan untuk mengajak salah satu temen. Sebenarnya dia ini gak tau Sendang, dan dengan cara ini aku bisa mengajak ia  untuk jalan-jalan ke Sendang. Akhirnya dia pun aku sindir “Dolanmu mek adoh endok”. Maksudnya jalan-jalanmu jauh telur yaitu makna sindirian dimana telur yang gak punya kaki aja bisa dikirim kemana-mana bahkan sampai luar pulau. Kamu yang punya kaki dan bisa naik kendaraan aja gak tau mana-mana.

Foto : Dokumen Pribadi
Surat pertaman adalah ke SMP 1 Karangrejo. Disana akupun ngajak ngobrol salah satu staf gurunya.
“Pak, kalau siswa sini biasanya ikut lomba menulis apa saja?” tanyaku

“Ya ikut, tapi menulis yang olimpiade (maksudnya karya tulis ilmiah)”

“Kalau lomba cerpen dan sebagainya”

“Kayaknya belum mas”

“Iya Pak, kebetulan ini memang yang pertama di Tulungagung”

Lanjut, surat aku sampaikan ke SMA 1 Karangrejo, SMP 2 Karangrejo dan SMP Kristen Sendang. Di SMP Kristen Sendang akupun ngajak ngobrol lagi ke beberapa staf TU. Kesimpulannya selama ini memang untuk lomba menulis khususnya cerpen, geguritan, cerkak memang jarang sekali ada dan bahkan mungkin ini yang pertama. Di SMP Sendang wajah-wajah staf Tu nya ramah. Aku pun dipersilahkan duduk dan mengisi daftar tamu yang telah di sodorkan. Mungkin SMP swasta, memang pelayanan yang nomer satu.

Foto : Dokumen Pribadi

Terakhir surat yang harus disampaikan adalah ke SD-SMP 1 Atap. Letaknya cukup jauh. Kira-kira dari kantor Kecamatan Sendang sekitar 7-8 kilometer. Namun karena ini adalah amanat yang harus aku sampaikan, akhirnya akupun sampai di SD-SMP 1 Atap. Dari sebelah sekolah aku bisa menyaksikan kota Tulungagung dari ketinggian. Terlihat rumah, pabrik, jalan raya, menghiasi kota Tulungagung. Ternyata Tulungagung memiliki panorama yang gak kalah indah bila dibandingkan kota lain. Lantas kenapa ini semua tidak digarap oleh pemerintah dengan serius?. Jika menilik Jogja, sebenarnya potensi Tulungagung gak kalah. Seperti contoh daerah hutan pinus Mangunan di Jogja. Hanya modal pohon pinus yang menjulang dan lingkungan yang bersih bisa jadi tempat wisata. Di daerah Kecamatan Sendang pun ada. Beberapa ruas jalan di penuhi pohon pinus yang menjulang dan rindang. Jika ini digarap serius dengan publikasi yang bagus mungkin bisa menjadi alternatif lain untuk wisata alam.

Kamis, 04 Juni 2015

ULTAH SAMA

ULTAH SAMA

Bagaimana rasanya jika ada orang yang memiliki tanggal lahir sama dengan kalian?. Bagaimana rasanya jika tidak hanya tanggal lahir tapi bulan dan tahun pun juga sama. Kadang kita memandang bahwa dunia ini luas, namun kemudian kita mendekonstruksi pemikiran kita mengatakan bahwa dunia itu juga sih. Seperti yang aku alami, dalam satu unit ternyata aku dan dia sama tanggal lahir, bulan, dan tahun. Wooo, luar biasa. LPPM ternyata lucu juga sih, tanpa sengaja mempertemukan dengan seseorang yang memiliki tanggal lahir sama. Hehehe

Dia bernama Rizki, seorang teman dari jurusan teknik fisika yang ternyata memiliki tanggal lahir sama dengan ku. Awalnya aku tak tahu mengenai hal ini, bagiku ngapain mengetahui tanggal lahir ornag kayak gak ada kerjaan??? Hehehe. Ketika itu, pagi telah menjemput kami setelah semalaman  tak bisa tidur karena dinginnya udara di Dieng. Kemarin, kita belum selesai menata barang bawaan di pondokan, sehingga harus melanjutkannya di pagi hari.  Beberapa barang yang berada di ruang tamu acak-acak an kayak kapal pecah. Mungkin satu minggu dibiarkan bisa jadi sarang tikus  dan kita akan dianggap menjadi orang yang sukses melakukan breeding tikus pada waktu KKN. Konyol jika itu terjadi. Hehehe

“Yuk, bin kita beli kardus untuk tempat pakaian” Rizki mengajakku
“Ayo,” tanpa berfikir panjang
Sembari menelusuri jalanan di DIeng untuk mencari took yang menjual kardus, Rizki mengajak ngobrol. Aku pun tak kalah mengimbangi obrolannya. Tanpa disengaja ia bertanya padaku.
“Kamu lahir tanggal 9 ?
“Iya”jawabku
“Bulan januari 90?”
“Iya, emangnya ada apa?”
“Kok tanggal lahir kita sama”
“Beneran? Kok kamu tahu?”
“Ya iyalah aku buka fb mu”
Dalam batinku, kok cowok kepo cowok, opo untunge. Tapi ya sudahlah.


Jumat, 29 Mei 2015

RAHASIA TAKDIR

RAHASIA TAKDIR

Sumber gambar : mhmgatsu.abatasa.co.id

Tak ada yang pernah menyangka bahwa semua harus terjadi. Bangunan cinta yang telah tersusun di hati kini porak poranda. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Seakan semua serba tiba-tiba. Mengenai canda tawa kemarin sore kini ditelan nestapa. Ia tertegun lantaran tak percaya takdir membawanya pada sebuah penyesalan. Rasa kesal tak dapat ia ungkapkan, hanya raut muram wajah yang terus ditunjukkan. Sementara matanya mulai berbinar-binar ketika malam mulai menyelimuti. Dingin yang menyeruap masuk dalam kamarnya tak ia hiraukan. Seakan dunia tak ada, hanya derita yang terus ia rasakan.
Baru kamarin sore obrolan hangat itu masih terjadi. mengenai kesibukan pekerjaan, planning jalan-jalan diakhir pekan bahkan mengenai masa depan hubungan mereka. Ditemani secangkir teh hangat mereka memadu cinta di sebuah kedai sederhana.
“Bukankah kamu yang dulu ngebet sama aku?”
“Eh, Ge’er. Kamu ya”
“Hayo, dulu yang invite siapa?”
“Hem”sambil tersenyum. “Tapi, kamu kan yang mulai nge BBM aku?”
“Iya, sih. Tapi kan cuman nanya doang?”
“Iya, nanya. Kan nanyanya terus-terusan. Jadi kan kamu yang ngebet”
Pantulan cahaya lampu kota jatuh di permukaan sungai. Memanjakan mata untuk menikmati keindahannya. Di kedai sederhana tersebut mereka mencurahkan semua kerinduan. Walaupun rumah mereka dekat, namun jarang bertemu. Karena kesibukan dan untuk menjaga agar tak ada gosip yang menyebar ketetangga. Bagaimanapun, di desa jika ada sebuah berita akan cepat menyebar. Bagaikan hembusan angin yang mengalir tak terbendung.
***
“Mas, untuk sementara kita gak usah pacaran dulu ya”
“Memangnya kenapa?, Ada masalah apa kamu, kok tiba-tiba ngomong gitu?” dengan raut muka heran
“Pokoknya untuk sementara kamu gak usah hubungin aku dulu” sembari menundukkan kepala
“Apa ada yang salah dariku?” tanyanya lagi
“Tidak Kok, aku ingin sendiri dulu”
Sungguh terasa sesak dadanya mendengar apa yang baru saja di katakana pacarnya. Pagi, sebelum berangkat mereka bertemu. Pacaranya menginginkan bertemu di sebuah jalan menuju tempatnya kerja. Tak menyangka dia akan mendengar kabar itu. Ia tak dapat menahan beratnya beban yang tengah dihadapi.
Tak lama berselang pacaranya berpamitan, dan ia tak dapat berkata apa-apa. Seolah lidahnya kaku, mulutnya ngilu tak keluar sepatah kata pun untuk membalikkan perkataan pacarnya. Beribu pertanyaan muncul menghiasi isi kepala. Ketika di tempat kerja ia hanya termenung dan meratapi nasib yang menimpanya. Beberapa kali ia kirimkan pesan lewat BBM namun tak merespon. Beberapa kali ia telfon tak diangkat bahkan HPnya pun tak aktif. Ada apa dengan dia?. Apakah ada masalah yang tengah dihadapi?. Biasanya ia selalu cerita, namun kenapa semua ini mendadak?. Sungguh tak terduga.
***
Susah move on, itu yang tengah ia hadapi. Walaupun sudah satu bulan sejak kejadian di pagi hari itu belum ada kejelasan. Ia tak berani nyamperin kerumahnya lantaran takut dengan orang tua dan tetangganya. Sudah berpuluh bahkan beratus kali ia mengirimkan pesan singkat lewat BBM ataupun SMS namun tak pernah ada respon.
“Sudahlah Rus, jangan terlalu di ratapi” Bima mencoba menenangkannya
“Bagaima bisa Bim. Semua tak ada kejelasan. Semua serba mendadak”
“Iya, tapi apakah dengan meratapi semua itu akan menyelesaikan masalah”
“Sudahlah jangan kau menasihatiku” dengan wajah kesal
“Hem, dulu aku pernah merasakan apa yang pernah kamu rasakan. Ditinggal kekasih dan semua terasa pahit. Namun aku merenung, apakah aku terus begini?. Duduk dan meratapi nasib yang tak pasti. Sedangkan mantanku kini sudah menjalin hubungan dengan cewek lain. Bukankan aku yang kalah kalau aku terus meratapinya. Bukankah cewek didunia ini banyak.
Biarkan lah ia Rus, bangkitlah. Dengan kau bangkit dan menunjukkan bahwa kau bisa bangkit. Suatu saat nanti ia akan menyesal. Tunjukkan pada dirinya bahwa kau bisa. Tunjukkan bahwa kau lelaki yang sukses dan patut dijadikan pemimpin bagi seorang wanita. Lelaki yang tanggung jawab dan berani berkorban lebih dari yang ia pikirkan”
Sejenak ia terdiam. “Hem, betul juga saranmu Bim”.
“Ingat sebentar lagi haflah akhirussaanah. Bagaimana hafalanmu?” Tanya Bima
“Hem, kurang dikit Bim”
“Cepat di selesain semua”
***
Waktu terasa sangat cepat. Kini ia telah bangkit dari semua permasalahan itu. Mengenai sang mantan sudah ia lupakan jauh-jauh. Hafalan nadhom alfiah telah mengantarkannya mengkatamkan kitab Alfiah Ibnu Malik. Masa lalu yang suram telah ia pendam. Hanya lautan ilmu dan fokus pada pekerjaan menjadi prioritas utama. Mengenai wanita, ia tak begitu memikirkannya.
Sudah setahun semua itu berlalu. Kini ia telah mendapatkan pekerjaan yang mapan. Menjadi wiraswasta adalah jalan hidupnya. Ekonominya sudah cukupan. Suatu siang ia singgah ke masjid Pondok tempat ia menimba ilmu. Tak terduga Mbah Kyai mengetahui dan memanggilnya. Setelah sholat dhuhur ia diminta untuk ke rumah Mbah Kyai. Ia bingung jarang sekali Mbah Kyia memanggilnya. Ada apa ini?.
“Kang, sekarang kerjanya lancar?”
“Alhamdulillah Kyai”
“Sudah punya calon belum?”
“Untuk sementara belum” jawabnya sedikit grogi
“Ada seorang sahabat yang meminta dicarikan jodoh untuk anaknya dari santri sini. Apakah kamu siap?”
“hemm” Ia terdiam dan bingung “InsyaAlloh siap Kyai”
“Besok habis sholat ashar saya tunggu di dalem”
“Baik Kyai”
Entah angin apa yang membawanya menjawab iya dengan tegas. Seorang santri memang selalu mematuhi apa yang diperintahkan oleh Kyai nya. Entah disuruhh apa, pokoknya dijalankan. Ini adalah putusan terberat yang ia ambil. Besok semua di pertemukan. Ia tak pernah melihat sosok wanita yang ditawarkan oleh Kyai nya. Namun kepasrahan akan pilihan Kyai nya adalah kunci.
***
Hari itu pun tiba. Terlihat didalam rumah Kyai ada beberapa orang yang tengah menunggu. Sementara ia dan keluarga memasuki dalem. Ia pun langsung sungkem ke Kyai. Mencium tangannya untuk mengharapkan berkah dan restu dari sebuah pilihan yang berat ini. Mereka duduk berseberangan. Kyai dan Bu Nyai berada di tengah. Beberapa saat Kyai membuka acara dan menjelaskannya.
“Nak Rus, ini calon yang Kyai maksud kemarin. Apakah Nak Rus setuju?”
Ia mendongakkan kepala dan melihat sosok calon yang ditawarkan oleh Kyai. Sungguh terkaget dan tak bisa berkata apa-apa. Seorang yang di jodoohkan oleh Kyai dengan dirinya adalah mantan kekasihhnya. Entah, takdir begitu hebatnya memainkan semua ini. Penuh rahasia dan makna. Manusia tak dapat menjangkaunya dengan akal dan logika.
“Saya setuju Kyai”
***
Pesta pernikahan itu berlangsung sederhana. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Kerabat semua datang memanjatkan doa untuk mereka berdua. Malam sudah semakin larut. Namun mereka berdua masih terjaga. Menyaksikan bulan yang benderang menerangi jagad raya. Ribuan bintang berkerlip seakan tersenyum dan memanjatkan doa untuk pernikahan mereka.
“Kenapa dulu kamu gak jelasin ke aku?”
“Waktu itu aku bingung Mas”
“Bingung kenapa?”
“Ibu memintaku untuk pindah ke rumah kakek dan melanjutkan mondok disana”
“Terus kok kamu mau dijodohkan?”
“Tak ada pilihan lain bagi seorang anak perempuan selain patuh terhadap orang tua. Ibu selalu menginginkan untuk mendapatkan menantu dari santri pondok. Dan semua terasa berat”
“Memang, Tuhan memiliki sekenario yang begitu indah ya” sembari mentap langit diluar sana
“Iya Mas” ia memegang tangan Rus dengan begitu hangat.


Kamis, 23 Oktober 2014

BAGAIMANA GAYA TIDURMU


BAGAIMANA GAYA TIDURMU

Sebenarnya aku bingung mau ngapain. tak ada kegiatan apa lagi kuliah. Namun yang pasti, hidup di jogja untuk sementara dinikmati sebelum terjun ke pekerjaan nantinya. Malah ini bukan hanya hidup mampir ngombe, tapi hidup untuk menikmati kehidupan. Hehehe.
Aku terbangun dalam tidur dan ku buka Hp ku. Menunjukkan pukul setengah satu. Masih lama untuk menyambut sinar mentari menyinari dunia. Aku aktifkan internat dan ternyata ada notifikasi baru dari WA. Ternyata banyak obrolan selama aku keluar dari jasadku dan menikmati hidup dalam alam mimpi. Salah satu temen mengirimkan satu gambar yang membuatku tertawa di pagi yang masih terlihat malu. Ini isinya.
Bagaimana gak tertawa, la isinya ternyata gambar fose orang tidur. Ada yang jungkir balik, ada yang ditutup rapat kayak mayit. Ada yang kayak katak habis di tindes truk, dan masih banyak lagi. Mereka membahas fose tidur masing-masing. Ada yang inilah itulah. Membuatku gelid an tertawa.

Namun yang pasti, di waktu KKN kemarin yang dapat diamati gaya itudurnya adalah kaum Sudra. Karena apa? Tentunya pasti pada tau. Iya karena kaum Sudra tidurnya di luar kamar. Sehingga teman-teman yang lain pastilah tau kondisi dan fose mereka dalam tidur. Mungkin ada yang hanya kelihatan kepalanya, kayak korban mutilasi. Mungkin ada yang terlihat tangannya keluar selimut dan menghantam teman lain. mungkin juga ada yang tubuhnya kelihatan dank kepalanya ditutup kayak tersangka curanmor. 

Selasa, 22 April 2014

LIR ILIR AYO NGLILIR

LIR ILIR AYO NGLILIR

Perjalanan kemarin banyak mengisahkan cerita manis. Entah kapan hujan turun membasahi bumi, yang pasti pelangi akan muncul ditengah terik matahari setelah hujan. Dan pelangi hati akan muncul setelah kesedihan melanda kita. Hanya kita mampu berdiri dan bangkit lagi atau tidak.
Lucu sebenarnya mengingat sms salah seorang temen. Yang kurang lebih begini kalimatnya.
“Ngopo ganti kartu Cak?, lari dari kenyataan opo mencari kenyataan baru?, awakmu ki galau ne kok mesti bareng-bareng karo aku”.
Walaupun aku masih dilanda masalah namun membaca sms dari temen ku langsung ngakak dalam hati. Hahaha. Sungguh kok bisa-bisanya buat kalimat seperti itu. Mungkin kalimat itu tak akan aku lupakan. Dan sahabat yang selalu menghadapi masa-masa sulit bersamaan tak akan aku lupakan. Sahabat yang selalu mengingatkan masalah yang kita hadapi adalah berat, dan kita memiliki kesamaan dalam setiap masalah…hahaha. Kembali ke topik awal bahwa, aku ingin menceritakan bagaimana rasanya terjatuh dan sulit untuk
Negeri Di Atas Awan 34
bangkit. Kita semakin pesimis, dan rasa keyakinan semakin tipis. Seolah kita tak percaya dengan Tuhan mengenai takdir kita hari ini. Aku pun begitu, menyalahkan diri sendiri, orang-orang terdekat, dan bahkan gak percaya kok begitu teganya Tuhan men takdirkan ku seperti ini. Yah, memang nasib, mau bagaimana lagi ya dijalani aja.
Setelah hampir sepuluh hari meninggalkan Yogya akhrinya aku memutuskan untuk kembali dan mencoba menikmati puing-puing yang berserakan. Mengenai kejadian beberapa minggu aku coba untuk menghapusnya. Jalan-jalan adalah salah satu cara yang ampuh untuk menghilangkan penat yang ada.
“Mas, beneran lupakan semua itu, jangan mas malah mengucilkan diri dari pergaulan. Sudah lah mas, lupakan”
Seorang sahabat memberikan saran setelah aku bercerita panjang lebar. Ada 3 tahap yang harus di jalani yaitu pertama melupakan masa lalu, kedua kembali ke Skripsi, ketiga sukses dan buat orang yang mengecewakan kita akan menyesal. Cukup menarik sekali sarannya. Dan aku fikir-fikir untuk segera merealisasikannya.
“Lir ilir-Lir ilir, tandure wes sumilir, ayo nglilir”

Sabtu, 11 Januari 2014

LAKI-LAKI DAN TEH HANGAT

LAKI-LAKI DAN TEH HANGAT

Pria paruh baya itu masih terdiam ditempatnya. Sambil menundukkan kepala ia nikmati hidangan yang berada di depannya. Sebuah nasi kucing dengan beberapa mendoan dan sate ampela adalah menunya setiap malam. Sementara segelas teh hangat menjadi minuman yang selalu menemaninya. Sudah hampir satu bulan pria tersebut selalu makan diangkringan itu. Entah daya tarik apa, tak ada yang tahu.
Tubuhnya biasa saja tinggi badannya jika ditaksir tak lebih dari seratus tujuh puluh. Umurnya pun belum begitu tua. Terlihat dari raut wajah yang masih segar. Warna kulitnya terlihat kecoklatan karena sinar lampu 5 watt yang menerangi angkirngan di sudut jalan itu.
Angkringan itu setiap harinya ramai di sesaki pembeli. Semenjak matahari telah pulang keperaduannya angkringan tersebut buka. Menjadi tempat dimana bertemunya orang-orang yang kelaparan. Ada satu yang menarik, penjualnya ada seorang perempuan muda dengan rambut sepunggung. Usianya pun mungkin belum sampai 25 tahun. Rambutnya yang hitam, dan dekik pipinya yang terlihat ketika tersenyum menjadi magnet tersendiri. Namun entah mengapa laki-laki itu selalu datang dan makan di angkringannya. Apakah karena kecantikannya. Atau karena masakannya atau mungkin karena hal lain.
***
“Silahkan Mas, mau minum apa?” tanya sang penjual warung dengan ramah
“Teh hangat” dengan nada datar dan menundukkan kepala
Dalam hati perempuan tersebut, kenapa laki-laki ini selalu datang ketika setelah magrib dan selalu memesan teh hangat. Kenapa juga ia selalu makan-makanan yang sama? Beribu tanda tanya menyelimuti berkeliaran ketika laki-laki itu datang.
“ Dari mana Mas?” tanya sang penjual untuk mencairkan suasana
“ Dari sana” sambil menunjukkan arah kedatangannya tadi
Suasana masih dingin. Obrolan pun tak berlanjut sementara beberapa pembelipun berdatangan. Ada yang memesan wedang jahe, susu panas, es teh, dan sebagainya. Perempuan penjual angkringan masih sibuk meracik minuman yang di pesan oleh para pembeli.
“Sudah Mbak” sambil menyodorkan uang
“Iya mas”
Selalu dan selalu uang tersebut pas sesuai yang ia pesan. Entah mengapa,padahal perempuan penjual angkringan tersebut hanya sekali mengatakan berapa habisnya. Namun semenjak itu apa yang ia pesan selalu sama sehingga uang yang diberikan sama setiap harinya.
***
Esok hari, laki-laki itu datang namun tidak seperti biasa. Laki-laki itu datang sudah agak larut malam. Beberapa makan sudah mulai habis. Wajahnya masih tertunduk seperti hari-hari kemarin. Raut mukanya pun tak menunjukkan kegembiraan apapun. Ia ambil tempat duduk seperti biasa. Dibawah temparan sinar lampu kuning ia mengambil mendoan dan mencicipinya.
“Pasti teh hangat” tebak perempuan penjual angkringan
“Iya Mbak”
Langsung seketika perempuan yang ramah itu meracikkan teh hangat untuk laki-laki tersebut. di sodorkanlah teh hangat yang telah selesai dibuat.
“Ini Mas”
“Terimakasih Mbak”
“Kok, gak seperti biasa datangnya agak malem?” tanya perempuan penjual angkringan
“Iya”
Hanya jawaban dingin yang selalu keluar dari mulut laki-laki itu. Dan hanya sepatah dua patah kata yang ia utarakan. Membuat perempuan penjual angkringan tersebut semakin penasaran dengan laki-laki aneh itu. Ingin ia menguntit dibelakngnya ketika ia pulang. Ingin ia mengetahui dimana rumahnya, dan kenapa ia selalu diam. Bukan karena ia memiliki wajah yang lumayan tampan, tapi memang karena ada rasa penasaran yang menyeruak di benak perempuan penjual angkringan tersebut.
***
Sudah beberapa hari laki-laki itu tak menunjukkan batang hidungnya. Entah kenapa perempuan tersebut selalu gelisah ketika laki-laki itu tak datang di angkringannya. Selalu ada rasa kawatir dan kurang nyaman. Ingin rasanya jika laki-laki itu datang kembali akan di tanyai mana rumahnya?. sudah berkeluarga belum?. Apa pekerjaannya?. Beberapa pertanyaan sudah ia siapkan untuk laki-laki itu.  Namun sampai satu minggu belum juga datang diangkrinnya.
***
“ Kenapa Mbak kok gelisah” tanya seorang laki-laki yang menikmati makanan di angkringannya
“Enggak kok”
“Kenapa melihat arah sana?”
“Tidak apa-apa. Oh ya kemana laki-laki yang biasa makan disini yang hanya diam itu?” tanyanya balik sambil menunjukkan tempat duduk yang biasa ditempati
“Oh, Mas Fuad to”
“Aku gak tahu namanya, pokoknya yang biasa makan disini dan selalu memesan teh hangat”
“Dia itu Mas Fuad Mbak, entah sekarang kemana. Semenjak ia di pecat dari pekerjaannya di PT INKO”
“Kenapa di pecat?” tanyanya lagi
“Dia kan tuna netra, dulu kebijakan perusahaan memang membolehkan seorang tuna netra bekerja yang terpenting skillnya. Tapi semenjak pergantian menager, kebijkan tersebut dirubah. Akibatnya Mas Fuad di pecat”
“Oh begitu. Ternyata dia itu buta ya. Kok gak kelihatan kalau dia itu buta” sambil menyodorkan susu panas pada laki-laki yang diajaknya bicara
“Iya, dia itu buta tapi hati dan perasaannya tidak pernah buta. Ia sangat hafal dan pintar. Walaupun dia buta, ia dapat bekerja di depan computer. Mengetik berbagai tugas kerjanya. Ia juga sangat hafal dengan jalan pulang ke kostnya”
Ternyata laki-laki yang selalu datang tengah malam itu adalah laki-laki luar biasa. Laki-laki buta mata, namun tak pernah buta hatinya. Laki-laki yang selalu menundukkan pandangannya. Laki-laki yang makannya sederhana, sesederhana pakaiannya.
Dunia itu memang kejam, dan manusia-manusia itu juga kejam. Tidak memberikan kesempatan pada orang lain yang ingin hidup. Saling tindas menindas, dan yang tak berdaya di sisihkannya. Atas nama kekurangan laki-laki itu harus meninggalkan pekerjaannya. Harus meninggalkan segala rutinitasnya selama ini.


Jumat, 19 Oktober 2012

BERHARAP HUJAN



BERHARAP HUJAN

Ku hirup udara dalam-dalam. Aku merasakan begitu hangat udara yang masuk. Apa yang aku lakukan sebagai penenang dikala rasa ini datang. Rasa ragu-ragu, rasa kurang percaya diri, dan inilah rasa itu rasa kawatir. Mengapa aku memiliki rasa itu? Bingung kan, atau gak bingung malah gak mutu ini semua.

So, besok pagi sekitar jam 9 aku akan melakukan ujian Kerja Lapangan (KL). Sebenarnya sih kerja lapangan ini dah selesai beberapa bulan lalu. Tepatnya sebelum hari raya idul fitri. Dan penulisan laporan pun sudah selesai beberapa bulan lalu juga sih, tapi, ya banyak revisi. Bukan karena dosennya yang killer dan corat sana-sini dan salah kanan kiri. Tapi memang aku aja yang gak teliti.

Namun biarlah itu semua, yang penting aku harus sukses untuk ujian KL besok. Jika aku flashback  maka banyak kejadian yang penting dan mungkin tak akan kulupakan. Mungkin aku pernah menceritakannya pada beberapa postingan terdahulu mengenai KL ku di Subang Jawa Barat. Namun, yang membekas adalah begitu banyak ilmu yang tak ada di bangku kuliah aku dapatkan di sana. Aku mendapatkan langsung dari lapangan.

“Sebenarnya sudah berapa kali kamu revisi?” seorang teman menanyai saya
“ya baru 4 atau 5 kali aku lupa?”
“Baru 4!”
“iya, gak usah kaget, besok kalau  dapet dosen itu kamu juga tahu sendiri”

Mungkin orang-orang atau bahkan anda bertanya-tanya “kok banyak sekali revisinya?”. Apa memang banyak yang salah atau memang dosennya yang sangat teliti. Ya saya akan menjawabnya dua-dua nya. Pertama aku yang kurang teliti karena sering setelah saya print eh ternyata banyak yang salah. Ada yang salah hurufnya, spasinya, dan bahkan substansinya. Waduh…!!!

Kedua, ya dosennya cukup teliti. Eh salah bukan cukup sih tapi sangat teliti. Bahkan saya sendiri pernah diminta untuk mencari di KBBI mengenai suatu kata. Kata itu adalah “KOMODITAS”, aku menulisnya “KOMUDITAS”. Hayo yang bener yang mana pasti bingung yang pekek O atau pakek U. tapi setelah aku buka KBBI yang bener ternyata KOMODITAS, kali ini aku salah nulis. Sebenarnya masih banyak sekali kata-kata yang aku tulis salah dalam laporan KL ku.

Semoga saja besok turun hujan dan hawa dingin akan datang. Biar hatiku dingin dan ketenangan akan menghampiriku. Yang pasti satu, ujiannya dapat berjalan mulus dan sukses mendapat nilai A.

Selasa, 24 Juli 2012

RENUNGAN SORE HARI



RENUNGAN SORE HARI


Sore yang semakin menguning telah menyapa manusia. Menyapa mereka yang telah seharian bekerja. namun aku menerawang jauh kedepan, ketika seorang sahabat bertanya padaku mengenai wanita. Simpel pertanyaan tersebut seperti ini “kamu suka cewek yang berkerudung atau yang tak berkerudung?”. Maka aku segera menjawab dengan entengnya
“suka cewek yang berkerudung”
“kalau aku suka keduanya” jawabnya balik seakan tak ada yang menyuruh untuk menjawab.
“kenapa kamu suka kedua-duanya?”
“aku suka yang berkerudung dan aku akan berusaha untuk menjaganya, menjaga kehormatannya, menjaga kesuciannya”
“terus kalau yang tak berkerudung?” tanyaku lagi
“aku suka yang gak berkerudung karena aku akan berjuang untuk menutupnya, agar ia dapat menutup auratnya. Dan itu adalah perjuangan yang cukup berat”
Mendengar pernyataan tersebut aku sedikit tercengang. Apa yang dikatakannya telah membuka pintu-pintu dalam pikiranku yang sempit ini. pernyataan tersebut membuka pintu hatiku dalam menyikapi setiap orang dan setiap wanita. Kita harus berfikir positif kepada siapa saja. Kepada orang yang baru kita kenal atau orang yang telah dekat dengan kita.
Barang kali kita harus membuka kaca mata kuda yang kadang sering kita kenakan. Barang kali kita harus membuka mata hati lebar-lebar mengenai realita hidup ini. dan kita harus siap untuk menghadapi ini semua. Apa yang ada didepan kita adalah suatu takdir terbaik yang diberikan oleh Tuhan pada kita….
Selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan….semoga diberi kemudahan dan kelancaran serta keikhlasan

Selasa, 17 Juli 2012

REUNI BABAK 2


REUNI BABAK 2


Aku menatap luasnya pesawahan yang terhampar di luar sana. Melambai-lambai hijau padi menghiasi pemandangan. Rimbun, sejuk menyapa ku yang tengah melakukan perjalanan ini. Sungguh begitu indahnya nan jauh disana.
“akua…akua….canggoreng…..mezon…mezon”
Seorang pedagang asongan menyapa penumpang yang tengah terlelap dalam perjalanan. Keringat mengalir deras ditengah panasnya siang. Melewati sela  keriput wajah yang mulai termakan usia. Ubannya memenuhi kepala. Terlihat rambutnya yang terbaur berwarna tak karuan, hitam putih tak begitu jelaas. Semangatnya terlihat menyala-nyala seperti panasnya siang ini. Ku lihat wajahnya yang lusuh. Aku menarawang jauh kebelakang menembus lorong-lorong waktu. Kuingat sahabatku yang hitam, kecil beleh dibilang, hitam legam bagaikan warna kopiah bapakku. Lebih bagus kopiah bapakku yang warnanya mulai menguning “Nyadam” korma. Orang bilang ia memiliki nasab dari orang timur, walaupun sebenarnya aslinya dari jawa. Jawa tulen. Jika gak percaya coba ajak ngobrol dengan bahasa Indonesia kagak ngerti. “dlongap-dlongop” seperti orang kehilangan saudaranya di perantauan. Namanya tak penting disebutkan. Kadang ia bingung apa arti dari nama yang diberikan ibunya. Terlalu padat namanya, hanya 5 huruf. Ia kebingungan ketika membuat account FB ataupun email. Hingga nama kampungnya dipakai. Sungguh sangat tragis mendengarnya.
Kereta berjalan pelan, derit lokomotif menyayat telinga. aku melihat keluar jendela gerbong. Terlihat ramainya stasiun Klaten di luar sana. Seorang pedagang asongan menyapaku dengan ramahnya. Aku tersenyum padanya.
“Mas, mizon …, akua….”
“Akua satu aja pak”
“ini mas”
Aku rogoh saku celanaku. Sebelah kanan, tak ada dompet, sebelah kiri juga tak ada, di belakang juga tak ada. Dimana gerangan dompetku. Untuk masalah ini aku gak ingin seperti sahabatku yang dulu. Ku coba untuk menenangkan pikiranku dulu.
“maaf pak, gak jadi”
“ah, mas kalau gak niat beli jangan beli”
“maaf pak”
Aku masih sibuk dengan pencarian domepetku. Ku buka satu peratu kolong saku di tasku. Reslating terdengar seperti orang teriak….krek…krekkk. masih belum ketemu juga. Aku diam, aku merenung. Aku masih diam dalam pencarian dompet yang belum juga datang jawaban. Aku ingat sosok didepanku yang duduk tadi. Dia sudah gak ada. Apa dia sudah turun disini. Aku lihat diluar sana. Pandangan mata ini beredar disepanjang stasiun yang ramai dipenuhi manusia. Kulihat orang tua tadi, sembari memegang dompet yang dari kejauhan mirip sekali dengan dompet milikku. Aku berlari turun daris stasiun untuk mengejarnya. Berlari terus, hingga terengah-engah.
“mas berhenti” panggilku dari belakang. Ia pun menoleh me
Melihat aku yang menyapanya ia langsung berlari terbirit-birit. Aku coba untuk mengejarnya. Walaupun tubuhnya tua namun ia masih kuat dalam lari. Sementara tubuhku yang semakin subur saja tak kuat untuk mengejarnya. Orang-orang distasiun hanya memandangi kami yang sedang saling kejar-kejaran. Mungkin mereka semua mengira bahwa kami sedang main “kucing-kucingan”.
Sudah hilang sudah semua yang ada didompet. Mulai dari uang, berbagai kartu nama, KTP maupun ATM. Hilang lenyap digondol copet……
(bersambung)
Salam hangat persahabatan kita “Keluarga BDP 09)

Sabtu, 07 Juli 2012

REUNI BABAK 1


REUNI
BABAK 1

Sebelumnya aku sampaikan beribu maaf jika dalam tulisan ini menyinggung perasaan teman-teman semua…..salam hangat persahabatan kita :D

Kringggggg…kringggg…..kringggggg……..

Terdengar suara HP yang berbunyi nyaring. Seakan dapat memekakkan telinga siapa saja. Suaranya seperti deru kendaraan. Menderum-derum tiada henti. Kuambil dari ujung tempat tidurku. Ku buka.

“ah, aku lupa, ini kan”

Segera aku bangun dari tempatku tidur dan melihat kalender yang terpasang tepat disamping kanan pintu kamarku. Kulihat lekat-lekat hari ini. Terlihat tanggal yang tertera di kalender, 29 Februari. Oh ini kan tanggal yang kita rencanakan dulu.

Segera aku SMS satu persatu dari mereka. Apakah pada ingat hari ini. Hari yang telah direncanakan bahwa kami akan mengadakan reuni. Segara aku pun menyiapkan semuanya untuk melaju ke Jogja. Walaupun hari ini ada keperluan sedikit, namun harus aku tinggalkan karena ini adalah janji yang telah lama. Aku ingat janji adalah hutang, maka dari itu harus ditepati.

Kereta melaju dengan kencang meninggalkan kotaku yang rindang. Terus berjalan melewati belantara perumahan, pesawahan, ramainya kota dan rindangnya pegunungan. Aku telusuri sudut-sudut pandangan ini. Aku teringat beberapa tahun lalu ketika masih pertama naik kereta. Aku teringat beberapa tahun lalu ketika bertemu seorang sahabat di gerbong kereta ini. oh waktu itu terasa cepat sekali. Hingga meninggalkan kenangan-kenangan indah yang tak terlupakan.

Seorang tua duduk didepanku. Terlihat rambutnya yang mulai dipenuhi uban. Hitam putih tak jelas. Aku melihat wajah nan keriput itu. Ia terlalap tidur ditemani mimpi yang menyambutnya. Pikiranku pun melayang sekitar 5 tahun silam ketika berada dalam suatu ruang dan dimensi watu yang lain.

Disudut kelas, seorang anak manusia. Seorang terpelajar tertidur pulas dengan mimpinya. Ditengah samudra ilmu yang di ajarkan oleh seorang dosen ia malah menikmati samudra mimpinya. Menyelam entah kemana ia pergi. Meninggalkan kami yang tengah bergelut dengan logika, kaidah ilmiah, dan teori-teori yang kemudian aku kenal dengan ilmu perikanan. Aku bergelut, mereka bergelut, dan yang satu ini juga bergelut. Namun ia bergelut dengan mimpinya. Oh, apa yang kau lakukan kawan.

Ia masih tertidur pulas. Dan tak lama berselang seorang dosen yang aku tak berani menyebutkan namanya, menerangkan dengan suara agak kencang. Seakan ia dipanggil seseorang, ia pun terbangun dan mengacungkan tangannya.

“apa maksudmu dek?” tanya seorang dosen padanya

“bapak mengabsen saya kan?” jawabnya dengan wajah sedikit bingung

Pecah riuh kelas itu. semua tertawa terbahak-bahak. Mencekik ruang kelas. Terlihat mukanya memerah memendarkan darah yang mulai naik keatas. ia bingung. ia malu. Ia salah tingkah.

“bapak tidak mengabsenmu”

Terdengar derit dari lokomotif. Kereta mulai berjalan pelan diatas rel yang telah ada. Seperti perjalanan manusia diatas dunia ini. Hanya mereka yang mengikuti koridor-koridor yang benarlah yang sukses. Aku lihat diluar sana. Ratusan orang mulai memadati stasiun. Ada yang berjalan kearah utara ada juga yang berjalan kearah selatan. Ada juga yang tergesa-gesa kesana kemari. Kuamati wanita itu, ia berjalan kearah utara, tak lama berselang kembali lagi keselatan. Tas ia bawa lumayan besar. Kasihan juga kalau terus melihatnya.

Aku teringat pada sahabatku. Yang sering tergesa-gesa, yang sering bingung sendiri dan tak tahu sebabnya. Disudut kampus itu, perkuliahan sudah selesai. Kini tinggal praktikum yang harus dilakukan. Dibawah, iya dikolam bawah, sekitar 20 mahasiswa tengah sibuk bermain-main dengan ikan. Ada yang mengukur panjang dan beratnya (seperti petugas posyandu… :D). ada yang mengukur pH, DO, Alkalinitas (seperti anak kecil yang sedang bermain air yang diberi pewarna), ada yang menguras bak (seperti petugas PDAM saja). Namun ditengah kesibukan itu, seorang terpelar kebingungan lantaran HP nya hilang. Sekali lagi aku gak berani nyebutin namanya, entar ada yang tersinggung. Ia bingung bukan kepalang. Ia berjalan kesana kemari seperti setrika saja. Atau mungkin seperti orang yang sedang ngukur jalan. Kubiarkan ia, karena memang aku gak tahu.

“sudah lah, tenangkan dirimu sebentar”

“aduh, HP ilang kok disuruh tenang” sembari berjalan kesana kemari. Tak karuan

“iya tenanglah sebentar, duduk disini dulu. Terus ingat-ingat tadi kamu taruh dimana?”

Kereta pun melaju kembali meninggalkan stasiun Solo yang tengah dipadati para manusia-manusia penempuh kehidupan. Kereta terus melaju menuju Jogja. Meninggalkan perempuan yang kebingungan tadi. Dan mengingatkanku akan seorang sahabat yang sering bingung sendiri. Walaupun aku sendiri juga sering seperti itu.

Inilah manusia dengan kisahnya. Selalu memberikan inspirasi, kesan, dan pelajaran yang dapat dipetik. Manusia terus berjalan dalam lubang-lubang kegelapan ia nyalakan lilin kedamaian untuk meneranginya. Dalam kerasnya batu cobaan ia mencoba untuk memecahkannya dengan berbagai cara.

“seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer : Bumi Manusia)

NB : cerita diatas adalah fiktif belaka dan imajinasi manusia biasa. Manusia yang penuh kilaf dan salah ini mencoba untuk mengukir imajinasi dari adanya intuisi untuk sebuah hari esok yang berarti.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya

Jumat, 15 Juni 2012

JANGAN JADI PECUNDANG


 JANGAN JADI PECUNDANG




Kenapa hidup itu serba sulit. Hidup serba penuh ketidak pastian. Dan hidup penuh dengan pertanyaan. Kenapa Tuhan menkadirkan manusia hidup didunia ini. hidup dengan penuh cobaan. mungkin itulah yang dirasakan Subri saat ini. semenjak calon istrinya meninggal karena kecelakaan, Subri tak ubahnya songgok tubuh yang tak bernilai. Ia hanyalah sampah dari sekian sampah yang ada dimuka bumi. Tak ada yang dikerjakannya selain menyesali apa yang terjadi. Seakan Tuhan tak adil selama ini. selama perjalanan hidupnya dipenuhi dengan cobaan yang tak kurung henti.
“apakah engkau akan terus begini, anakku”
Ia hanya terdiam ketika ibunya bertanya. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan wanita dengan tubuh yang mulai diteln usia itu. Ibunya hanya bisa mengingatkan dan mengingatkan ia yang terus dirundung rasa yang tak dapat dilukiskan.
Malam, yang semakin larut dengan ditemani bulan yang bersinar cukup terang mejadi saksi hidup yang penuh dengan penderitaan. Malam yang dingin itu telah mencengkerang tubuh kurus yang ditelan sang waktu. “ aku takkan bercinta lagi, dengan siapapun. Hanyalah waktu yang kucinta menemani setiap penderitaan ini”. Gumam Subri didalam hati dengan disaksikan berjuta bintang yang berkerlap-kerlip dan bulan yang tersenyum indah mengamininya.
malam mengantarkan Subri dalam sebuah mimpi yang tak pernah ia alami. Disebuah perkampungan yang sepi ia berjalan sendiri. Ia bingung mau kemana, karena tak ada arah dan tujuan yang jelas. Terlihat seorang tua yang sedang membenahi jaring yang tersampir disebuah tiang. Dengan penuh kesabaran ia benahi jaring itu satu persatu. Ia rajut kembali jaring yang mulai rusak itu. Subri yang kebingungan menghampiri orang tua dengan tubuh ceking dan kulit yang mulai keriput.
“Tuan, ijikanlah aku bertanya”
“silahkan anak muda” jawab orang tua dengan senyum lebar
“aku mau pulang, aku tak tahu arah tujuan”
Seorang tua itu tersenyum dengan lebar dan kemudian tertawa. Subripun bingung apa yang dilakukan Tua tersebut.
“Tuan, aku mau pulang ke kampungku, apa Tuan tahu arah menuju kampungku?”
ia tersenyum kembali, dan berkata
“ kenapa kamu mau pulang, nikmati saja perjalananmu”
Subri semakin bingung.
“aku mau pulang tuan”
“apa kau ingin menjadi pecundang.  Kamu pulang berarti kamu menyerah. Kenapa kamu tak mengikuti caraku untuk merajut jaring yang berlobang ini. kesinilah anak muda, bantulah aku”
Seketika ia terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasah baju tidurnya. Tangannya gemeteran dan tubuhnya tak dapat dikontrol bergerak sendiri. Ia bingung apa yang baru saja dialami. Apa maksud dari semua mimpi yang dialaminya barusan.
Hari berikutnya tak berubah, ia bermimpi persis dengan apa yang terjadi tadi malam.
“apa engkau ingin jadi pecundang. Kesinilah anak muda.”
Suara orang tua tersebut selalu berbisik ditelinganya. Apa yang sebenarnya terjadi. kanapa mimpi itu selalu berulang-ulang kali. Dan apa yang dimaksud dari semua itu kenapa aku disuruh untuk membantu merajut jaring. Aku tak bisa, aku sungguh tak bisa.
“aku tak bisa merajut jaring tuan”
“engkau, pengecut anak muda”
“kenapa engkau bilang padaku aku pengecut”
“engkau tak ubahnya seonggok daging yang tak punya harga. Apa engkau ingin jadi bangkai-bangkai yang berjalan tanpa arti?”
Selalu ia dirundung rasa cemas disetiap harinya. Ditengah kecemasan yang kian hari terus menyelimutinya, ia pergi ke sebuah danau. Sebuah danau yang mempertemukannya dengan calon istrinya beberapa tahun yang lalu. Disebuah senja yang tak kurung hilang dari peraduannya. Di senja yang mengantarkannya menghabiskan waktu bersama pacarnya. Dipinggir danau inilah ia bercumbu mesra. Namun ia bingung kenapa ia datang kemari. Seakan ada yang menariknya untuk datang. ia tak tahu.
Burung-burung berterbangan, pulang keperaduannya. Ia pulang dengan membawakan kabar pada Subri. Seakan burung tersebut mengingatkan Subri. Bahwa hidup harus dijalani. Tidak turus bermurung durja menyesali takdir. Harus tetap terbang menjalani setiap waktu yang disajikan oleh Tuhan.

Kamis, 17 Mei 2012

CINTA TAK TERDUGA


CINTA TAK TERDUGA


Ia berjalan sempoyongan dengan langkah gontai. Seakan kakinya tak kuat menyangga tubuh yang rapuh itu. tubuhnya terpontang-panting diterpa angin sore. Ia terus berjalan menyusuri trotoar yang lengang itu. walaupun disampingnya ratusan kendaraan hilir mudik tak karuan, ia tak pernah menolehkan mukanya pada kendaraan tersebut. Walaupaun suara deru mesin mobil tak pernah mati, ia tak mendengarnya. Seakan ia benci dengan kendaraan, dengan mobil. Mobil adalah kendaraan terkutuk baginya. Terkutut, semenjak tadi.
Didalam mobil itulah, hubungan ia dengan pacarnya putus. Dimobi itulah segala bentuk cinta itu lenyap. Dimobol itulah segala kenangan harus di kandaskan dari memori otaknya. Hilang ditelan segala kecurigaan. Hilang karena memang takdir yang kejam. Membawakan hubungan mereka dipenghujung jalan.
“ yang aku, sebaiknya kita segera menikah”
“apa kau bilang, menikah!!”
“iya memangnya kenapa, perutku sudah semakin besar”
“gugurin aja”
Terjadi perdebatan sengit antara Ratna dengan kekasihnya Ridwan. Cowok yang telah menemaninya selama dua tahun itu kini meninggalkannya dengan tega. Meninggalkan segala kenangan yang telah dilalui. Meninggalakan asa yang pernah mereka bangun bersama. Ridwan, cowok dengan tubuh proposional dan kuli putih itu telah memikat hati Ratna dua tahun lalu. Cowok yang dulu memuja-muja Ratna itu kini telah lenyap ditelan sang waktu.
Ia masih berjalan dibawah pohon trembesi yang sesekali menggugurkan daunnya. Seperti hati ratna yang saat ini gugur danjatuh dengan sangat telak. Dalam hatinya ia menympai cowok bangsat itu. cowok yang dulu menjilat-jilat dan tunduk pada dirinya. Cowok yang dulu memenujanya seperti anjing dengan majikannya. Kini ia menyampakkan Ratna.
“Yang…hubungan kita saat ini semakin mesra saja, seperti bulan dn bintang diatas sana”
“ah..kamu bisa aja yang”
“ditemani dinginnya malam, mari kita nikmati malam ini”
Dalam sebuah kamar kost yang cendelanya sedikit terbuka mereka berdua bercumbu mesra. Bulan, bintang, dan embun malam tak mereka hiraukan. Waupun semua menyaksikan dengan iri. Mereka berdua seakan acuh dengan segalanya. Seakan dunia hanya miliknya. Di kamar Kost Ridwan mereka melampiaskan nafsu kebinatangan.
“ah, kamu yang jangan tarik-tarij terus”
“nggak,…ngakk”
“ah…yang”
Mereka melupakan segalanya. Hanya nafsu kebinatangan yang ada. Tubuh mereka adalah manusia, namun hati mereka, otak mereka adalah binatang. Hanya dengan jalinan cinta saj mereka rela mengorbankan segalanya. Hukum moral, hukum adat, hukum agama telah mereka tbrak dengan penuh kenikmatan. Memang kadang kehidupan itu membingungkan. Sesuatu yang nikmat akan merupakan larangan dan pantangan. Namun sesuatu yang nggak enak adalah sebuah kewajiban yang harus dijalankan.
Suara ayam, burung dan deru kendaraan bermotor telah membangunkannya dari percumbuan tanpa ikatan pernikahan itu. lentikan burung diatas ranting daun telah mengusik tidurnya. Suara kenalpot kendaraan memekakkan tenginga mereka. Hingga kini mereka terbangun.
“apa yang terjadi tadi malam”
“sudah, tenang saja, aku tanggung jawab kok”
Ratna mengis sejadi-jadinya dikamar kost Ridwan. Ia menangis dengan penuh penyesalan mengenai perbuatannya tadi malam. Dibawah minuman setan ia terlena dan lupa akan dunia. Mereka melayang dalam mimpi kenikmatan. Mereka hilang dan terbang dengan kedamaian sesaat.
Hari berganti hari. Lembaran hidup terus bergulir. Waktu seperti kertas yang kosong, terus diisi dengan berbagai tulisan. Dengan berbagai kegiatan. Hingga mengatarkan Ratna pada sebuah pergolakan hati. Semakin lama perutnya membesar dan terlihat. Ketika mengenaan pakaian terasa sesak tubuhnya karena sang jabang bayi didalam perutnya sudah mulai beranjak besar. Ia bingung, lantaran ia masih semester 5, kurang 3 semester lagi. Walaupaun kampus tak melarang seorang mahasiswa yang bunting, ia bingung jika ditanya oleh teman-temannya. Ia bingung jika nantinya pulang ke rumah ditanya oleh orang tua dan keluarganya. Ia bingung harus bagaimana. Ditengah kebingungannya. Ia memutuskan untuk meminta pertanggung jawaban pada cowoknya.
Langkah kakiknya mengantarkan Ratna untuk melewati hari yang berat ini. hari dimana ia telah diputuskan oleh pacarnya. Tidak hanya itu, pacarnya tidak mau bertanggung jawab atas kejadian tempo hari lalu. Memang dimana-mana laki-laki adalah bajingan, gumam Ratna dalam hati sembari meludah. Laki-laki adalah pengecut, bedebah, dan semuanya adalah pengkianat. Laki-laki adalah hewan. Terus gumamnya dalam hati seakan menyumpai seluruh laki-laki di dunia. Laki-laki baginya adalah seorang yang bertubuh manusia namun berhati binatang. Ia kadang buas dan bernafsu, namun tak pernah bertanggung jawab. Laki-laki mungkin juga lebih dari itu, binatang saja kadang bertanggung jawab, namun laki-laki tak pernah bertanggung jawab. Semua laki-laki sama, manis didepan dan pahit dibelakang. Tidak hanya Ridwan cowoknya, bapaknya tak berbeda jauh. Ia telah meninggalkan ibu ketika Ratna masih kecil. Bapaknya telah berpindah kelain hati dan mencampakkan ibunya dengan penuh penderitaan.
“nak, jangan mudah percaya dengan laki-laki, kebanyakan dari mereka adalah pembual”
Itu adalah pesan ibunya ketika Ratna akan pindah ke Jogja untuk menuntut ilmu. Pesan ibunya adalah sebuah sabda yang harus diamalkan. Namun manusia lagi-lagi lupa. Ia lupa lantaran bius nafsu dunia. Air mata Ratna tak henti-hentinya membasahi wajah yang sembab itu. Ia seakan menandakan kepedihan hati seorang wanita. Kepedihan yang mendalam akibat bualan laki-laki. Mulai detik ini aku tak kan mudah percaya pada bajingan itu, pada laki-laki, pada semua orang yang ditakdirkan menjadi laki-laki, aku tak percaya.
“sore Rat, masih inget aku” terdengar suara dari gagang telpon yang dipegang Ratna
“siapa ya,” jawab Ratna dengan wajah bingung
“aku, temanmu waktu SMA dulu”
“ntar, aku coba ingat-ingat” terjadi keheningan sesaat di antara perbincangan dua insane manusia itu
“masak gak inget sih, ini aku Lisma teman satu kelas dulu”
“oh, kamu to Lis tak kirain siapa”
“Ntar sore ada acara gak?”
Perbincangan dua sahabat itu dilanjutkan di sebuah Gazebo yang merupakan tempat dimana mereka berdua menghabiskan sore ketika masih duduk dibangku SMA. Mereka menghabiskan senja itu disebuah Gazebo dekat danau yang di sekililingi pepohonan kelapa. Pohon kelapa yang melambai-lambai diterpa oleh angin sore itu seakan ingin mendengarkan perbincangan mereka berdua.
“Rat gimana rencana kedepan, masih saja ngarepin itu cowok bajingan”
“ah gak tahu aku, soal cowok bajingan itu telah aku buang dari memori otakku”
“sukurlah, oh ya aku punya kenalan cowok ia simple dan tidak neko-neko”
“untuk saat ini semua cowok dimataku sama, Lis, semuanya Bajingan”
“tapi ini lain Rat, ia bisa nerima semua orang”
Bujuk-rayu Lisma berhasil melumerkan hati ratna yang telah membatu itu. mereka berdua siap untuk ketemua dengan cowok yang akan dikenalkan pada Ratna. Walaupun Ratna masih trauma dengan cowok, namun ia juga membutuhkan cowok untuk masa depannya. Tak bisa ia terus-terusan sendiri ditengah usia yang menginjak angka 27 tahun. Walaupun ia telah menahan malu dari berbagai pihak lantaran seorang laki-laki yang gak bertanggung jawab itu, ia ingin mencoba untuk memulainya lagi. Kalau tidak, takutnya siapa jabang bayi yang akan menghidupinya kelak. Ibunya tak akan sanggup terus-terusan membiayai hidupnya.
Ia terkaget ketika Lisma memperkenalkan seorang laki-laki dengan tubuh tegap itu. seorang laki-laki dengan kemeja warna merah kotak-kotak itu membuat ratna mati kaku. Bibirnya tak dapat digerakkan. Ia bingung dan gugup
“ini Rat cowok aku maksud” seru Lisma pada Ratna
“oh, ternyata kamu ya”
“iya, ternyata kamu ya”
Seru mereka berdua seakan pernah bertemu dan kenal.
“Memangnya kalian sudah kenal?”
“sudah” jawab laki-laki dengan wajah meyakinkan
“iya, Lis ia yang membuatku bisa seperti ini, iya membangkitkanku dari terjatuh ini”
“kamu gak pernah cerita sih, katanya trauma sama cowok?” seru Lisma
“iya sih…maaf..maaf”
“memang dunia ini sempit ya”seru cowok tersebut

Sabtu, 05 Mei 2012

SENJA DI UJUNG SANA


SENJA DI UJUNG SANA


“nanti sore ada waktu gak?”
“emmm…kosong, emangnya ada apa?”
“ada suatu hal yang ingin aku katakan padamu?”
“mengenai apa?…oh ya kebetulan aku juga mau nyampein kabar padamu”
“ya sudah nanti ya, aku tunggu di senja ujung sana
Terdengar suara tutt…tut…dari gagang telpon menandakan bahwa berbincangan singkat itu telah berakhir. Rozik sangat senang, seakan pintu itu akan terbuka lebar. Hatinya berbuncah-buncah karena ia akan mengungkapkan apa yang ia  rasakan selama ini. Apalagi ia akan mengungkapkannya di senja ujung sana. Sebuah tempat yang mempertemukan ia dengan Naim. Sebuah tempat bersejarah dalam hidup mereka. Sebuah tempat dimana, ikatan persahabatan itu dimulai. Dan kini berubah menjadi tempat yang akan mengikat mereka menjadi sebuah hubungan lebih dari itu.
Walaupun sebenarnya Naim telah mengungkapkan rasa cintanya terlebih dulu beberapa bulan silam. Namun Rozik saat itu belum bisa melupakan pacarnya yang telah pergi. Rozik belum bisa melupakan. Kenangan bersama Rusmi. Bercumbu mesra di balkon kafe, berpegang erat di pinggir danau Sentanu telah membawa Rozik sulit melupakan Rusmi.
Naas ketika senja belum sepenuhnya pulang. Ketika mentari memendarkan jingga diujung langit Rusmi telah pergi untuk selamanya. Bus yang ia tumpangin, dihantam oleh container yang tanpa ampun membabi buta seluruh penumpang. Ia telah memakan dengan lahab seisi penumpang. Sopir, kernet, kondektur, dan seluruh penumpang tak dapat menyelamatkan diri. Hanya mereka yang diizinkan oleh Tuhan untuk menikmati sisa hiduplah yang dapat selamat. Hanya mereka yang diberi tambahan nyawalah yang dapat selamat. Sedangkan Rusmi, telah dibawa oleh malaikat kealam sana. Ia pergi tanpa meninggalkan pesan. Ia pergi dengan sendiri, ditemani air mata dari kerabat dan sahabat dekatnya. Hanya peluh air mata disenja itu yang mengantarkannya untuk pulang selamanya.
Semenjak itulah Rozik merasa hidupnya tak berguna lagi. Ia merasa bahwa, cinta itu teramat kejam. Mengantarkan pacarnya Rusmi untuk meninggalkannya sendiri. Berhari-hari dan bahkan beberapa minggu Rozik tak bisa makan. Ia hanya termenung di kamar, sesekali keluar untuk mencari hawa segar. Senja di ujung sana, adalah tempat yang biasa Rozik habiskan untuk mengenang pacarnya itu. Senja adalah teman sepi yang menghiasi hidupnya. Senja adalah lagu melo yang ada dan selalu merengkuh erat di tubuhnya. Senja inilah yang membukakan harapan baru. Disinilah Rozik bertemu dengan seorang yang membangkitkan semangatnya untuk dapat bertahan dalam keterpurukan. Ialah Naim seorang gadis dengan rambut panjang, hem kotak-kotak warna biru, dan gelang yang melilit tangan kirinya. Gadis dengan wajah yang lumayan, tidak kurang dan tidak lebih. Gadis dengan senyum simpul sedikit malu. Gadis dengan semangat menggebu-gebu.
“apa engkau terus begini, dimakan sang waktu”
“memangnya kenapa?”
“apa engkau ingin menjadi teman kesendirian, apa kau ingin menjadi teman senja yang akan hilang, apa kau ingin menjadi teman waktu yang terus berjalan. Lihatlah…lihat disana masa depan menatap kita. Masa depan menunggu kita..masa depan telah mengulurkan tangannya pada kita untuk meraihnya dan menggenggamnya erat. Apa engkau akan menjadi teman senja yang akan hilang ini”
Rozik terdiam ketika Naim memberikan nasihatnya. Seakan ia merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini, meratapi nasib adalah kebodohan yang paling bodoh sepanjang masa. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Naim adalah benar. Bahwa kita tak boleh meratapi nasib. Bahwa waktu terus berjalan dan akan mengantarkan manusia meraih segala impiannya.
“maaf, bukan maksudku mengguruimu, namun aku ingin melihatmu tersenyum lagi”
Semenjak itulah Naim selalu datang membangkitkan sendi-sendi tubuh Rozik. Semenjak itu pula Rozik dapat bediri tegak menghadapi hidup yang kadang kejam. Namun, Rozik tak sepenuhnya dapat melupakan kenangan dengan Rusmi. Kenangan bercumbu di senja ujung sana, kenangan berpegang erat, pelukan, ciuman mesra tak dapat ia lupakan. Hanyadisenja ujung sanja lah yang menjadi saksi hubungan meraka. Namun disenja itu pula, Naim ingin mengungkapkan semua yang ada dihatinya selama ini. rasa yang terpendam sengat dalam hingga ia bingung untuk melahirkannya. Namun dengan sekuat tenaga ia akhirnya meluapkan rasa itu dan mencoba merangkainya dengan hati-hati. Agar Rozik dapat membuka pintu hatinya untuk Naim isi dengan cinta. Sebagai pengganti kekosongan yang Rusmi tinggalkan karena telah dipanggil Sang Maha Pencipta.
“Zik, tahu kah kau….beberapa hari yang lalu ibu menelponku. Ibu memintaku untuk segera mencari pasangan. Karena ibu ingin segera aku menikah dengan seseorang”
“terus, kamu jawab apa?” tanya Rozik dengan nada datar
“aku jawab sebentar bu, mungkin tak lama Naim akan mengabari ibu”
“Begini Zik, sebenarnya, jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku menunggu engkau untuk membukakan pintu hati untukku. Namun sampai detik ini rasanya engkau belum membukanya. Aku ingin membukanya Zik. Aku ingin engkau menerimaku sebagai pacarmu. Aku ingin kita dapat berjalan berdua sebagai pasangan”
Rozik sangat terkaget dan ia tak menduga Naim mengungkapkan rasa cintanya. Sekali lagidisenja ujung sana, menjadi saksi ungkapan cinta Naim padanya. Tubuhnya kaku, bibirnya sulit untuk digerakkan. Ia bingung mau menjawab apa.
“maaf…Im,untuk sementara aku belum bisa menerimamu”
“kenapa, apa engkau masih mencintai Rusmi yang telah pergi itu?”dengan nada sedikit tinggi
“iya…Im, kamu tahu Rusmi adalah pacarku yang sangat aku cintai. Rasanya aku sulit untuk melupakannya. Sekali lagi maafkan aku”
Senja itulah yang mengantarkan Naim untuk menelan pil pahit ditolak oleh seorang lelaki. Senja itulah yang sedikit menutup hubungan mereka. Senja itulah yang mengantarkan mereka untuk berjalan berbeda. Senja itulah yang merenggangkan hubungan mereka.
Senja mengantarkan hawa hangat yang begitu terasa. Senja begitu elok melukis langit dunia dengan warna jingga. Senja mengantarkan burung-burung pulang keperaduannya. Senja mengantarkan manusia untuk pulang kerumahnya. Namun kini senja mengatarkan dua insan manusia untuk membuka sedikit harapan masa depan. Di bibir danau Sentani itulah tersisa dua insan yang menemani senja. Pantulan senja terlihat sangat jelas di atas air danau yang luas. Dibawah pohon yang tak begitu ridang itu Rozik ingin mengungkapkan rasa cintanya. Selama berbulan-bulan ia berusaha membuka hatinya untuk Naim. Dan saat inilah ditemani senja ia akan membukanya. Senja akan menjadi saksi awal perjalanan mereka.
“Im, engkau ingat dua bulan yang lalu. Disini pula engkau mengungkapkan rasa itu padaku”
“iya..aku ingat”
“engkau ingat delapan bulan yang lalu. Disini pula engkau membuka dan membangkitkanku dari tidur dalam lamunan pacarku.”
“iya…aku ingat”
“Im, dengan saksi senja diujung sana, ingin rasanya aku ungkapkan rasa ini. Rasa yang pernah engkau ungkapkan padaku. Aku ingin menjadi kekasihmu”
Naim terkaget dan mukanya memerah. Bukan karena pantulan senja, namun karena rasa yang datang tiba-tiba. Ia bingung. Padahal sebenarnya ia ingin mengantarkan undangan pernikahannya dengan pria lain. Karena Naim selama ini di kejar-kejar orang tuanya untuk segera nikah. Semenjak Rozik menolak cintanya ia pindah kelain hati. Walaupun tak sepenuhnya hatinya pindah. Masih ada kepingan cinta pada Rozik. Namun surat undangan itu telah tersebar kemana-mana. Ia terdiam. Rozik juga terdiam. Mereka terdiam ditemani senja yang juga diam. Lamat-lamat senja hilang digantikan malam. Mengantarkan mereka berdua lenyap dari peradapan senja itu. Senja diujung sana. Senja yang menjadi saksi hubungan mereka.

Sabtu, 14 April 2012

WAKTU

Aku kadang dikejar oleh sang waktu. Namun aku kadang mengejar sang waktu. Sebenarnya apa yang salah. Dan siapa yang salah. Aku merenung, terdiam dalam bulir-bulir kesepian. Disudut ruang yang disekat waktu. Aku merenung, kenapa waktu teramat cemat. Atau aku sendiri yang membuat cepat. Aku teringat mengenai teori relatifitas Einstins. ah, terasa cepat waktu.
Aku masih diam dalam gelapnya malam. Tanpa teman, hanya dingin yang menyeruap masuk ke sendi-sendi rusukku. bersemayam dengan mesra bersama sel darahku. Oh waktu, engkau kemana, terlalu cepat engkau berjalan. Janganlah berjalan,berhentilah. Itu adalah hukum alam, waktu akan terus berjalan dan mengantarkan manusia menuju mimpi-mimpinya. Sementara aku, aku masih saja duduk diam, merenung,dan berimajinasi dengan mimpi-mimpi itu.

Senin, 27 Februari 2012

PERHATIKAN SIKAP DAN TINDAKAN KITA


18-19 februari 2012
PERHATIKAN SIKAP DAN TINDAKAN KITA

Ternyata sms yang tidak sengaja atau iseng itu kadang salah arti oleh si penerima. Terkadang itu (sms) menjadi penyebab keruhnya suasana. Disadari atau tidak, aku baru sadar bahwa itu aku alami. Malem minggu, iseng gak ada kerjaan, akhirnya aku mengirim sebuah sms pada seorang temen ku. Seketika ia tak membalas.awalnya, ah memang aku Cuma iseng sms. Gak aku pikirin.
Pagi hari, tak sengaja ada sms dari seseorang. Seketika kubuka HP mungilku. Hp yang lusuh termakan usia itu, selalu menemaniku disetiap waktu. Hp bergetar, langsung kubuka. Ternyata sms dari temanku yang tadi malem aku sms. Oh ya lupa aku, nama temanku ini sebut saja Dwi. Cewek yang baru aku kenal ini berasal dari luar jawa. Tubuhnya kecil gak, besar juga gak. Biasa saja. Ia berkerudung dan kini memasuki semester akhir di universitas negeri yang ternama di Indonesia. Kubaca sms yang ia kirim
“aku gak ngerti, maksudnya apa?”
Kuanggap itu biasa, langsung aku bales sms nya
“gak kok, cuman iseng tadi malem, gak ada kerjaan jadi aku sms itu pada teman-teman”
Akhirnya terjadilah dialog lewat sms. Sebuah dialog, aku juga gak begitu mengerti maksudnya. Tapi lambat laun menceritakan runtut permasalahannya. Setelah aku pikir2 ternyata sms ku tadi malem kayaknya menyinggung Dwi. Segera aku minta maaf,
“maaf ya, atas ketidak sengajaan sms ku tadi malem”
Ia tak menjawab sms ku, dan hanya diam. Setelah aku piker lagi, kayaknya masalah yang ia hadapi cukup berat. Aku hanya diam, daripada aku meneruskan sms dengannya malah memperkeruh suasana. Kubiarkan semua ini. Biarlah, semoga ia diberi kesabaran dalam menjalani masalah ini.
Akhirnya aku merenung, ku buka lembaran demi lembaran memori diotakku. Ku telusuri, sejenak diam, kemudian bicara dalam hati.
“Diam itu kadang kala lebih baik, dan tak berteman itu juga lebih baik, untuk menjauhkan segala sesuatu selain ALLOH. Uzlah adalah jalan untuk menuju lebih dekat padaNya”. Sebuah mozaik yang aku temukan dalam sebuah kitab karya ulama besar Imam Al Ghazali yatu “Minhajul Abidin” mengingatkanku atas segala tindakanku. Isinya kurang lebih gitu, aku juga agak lupa. Yang aku inget itu, ya masalah Uzlah….hehehe
Ku tarik kesimpulan perenunganku. Namun aku sadar sebagai mahkluk social, aku tak bisa hanya diam. Mungkin pelajaran yang aku dapatkan adalah, bahwasanya kadang kala kita harus diam dan hati-hati dalam bertindak. Barang kali apa yang kita anggap benar dalam tindakan kita, malah merugikan orang lain.