WpMag

Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

KEINDAHAN KOLAM ALAMI DI PANTAI KEDUNG TUMPANG

KEINDAHAN KOLAM ALAMI DI PANTAI KEDUNG TUMPANG

Weekend enaknya kemana?. Banyak orang bingung mau ngapain di akhir pekan. Setelah bekerja satu minggu, lantas diberi kesempatan libur bingung mau digunakan untuk apa. Begitu juga kami, biasanya minggu pagi menikmati secangkir kopi di salah satu kedai kopi terkenal di Tulungagung ayaitu Mak Tin  sambil membicarakan rutinitas yang telah dijalani selama sepekan ini. Namun tak sekedar membicarakan mengenai pekerjaan, kadang bisa sampai mengenai isu politik hukum bahkan ekonomi skala makro.

Namun, agak berbeda ketika salahh satu teman mengalihkan pembicaraan kami. Topik kami pindah untuk agenda setelah kopi pagi. Salah satu dari kami mengajak untuk main ke pantai. Kebetulah Tulungagung merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan dengan samudra Hindia sehingga memiliki beberapa pantai yang cukup terkenal. Setelah berdiskusi, kami memtutuskan untuk mengunjungi pantai yang lagi ngehit di Tulungagung yaitu pantai Kedung Tumpang.


Perjalanan kami dimulai pukul 08.00 menuju arah selatan. Melewati kecamatan Sumbergempot, Campur darat dan kemudian Pucanglaban. Pantai Kedung Tumpang terletak di Kecamatan Pucanglaban. Kecamatan Pucang laban merupakan salahh satu kecamatan yang terletak di deretan pegunungan. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di kecamatan Pucang laban. Jalan yang kami lalui semakin terjal ketika sampai di Kecamatan Pucang laban. Beberapa ruas jalan mulai bergelombang dan berlubang. Membuat kami ekstra hati-hati. Tidak hanya itu, tanjakan dan turunan menyambut kami menuju Pantai Kedung Tumpang.

Sebelum memasuki daerah pantai kami harus melewati jalan tanah dengan debu yang siap terbang ketika kendaraan melintas. Di kiri dan kanan jalan gersang dan sedikit pohon yang tumbuh. Semenatara motor kami terus membelah jalan pegunungan tersebut. Memainkan stang dan rem dengan ekstra hati-hati agar tidak terjatuh.

Sekitar satu jam perjalanan, pukul 09.00 kami tiba di parkiran. Sebelumnya memang kami berempat belum satupun yang pernah ke Pantai Kdung Tumpang. Seketah sampai di parkiran takjub lantaran sudah ratusan motor terparkir rapi. Tidak ada area parkir resmi seperti di tempat wisata lain dengan bangunan sebagai peneduh. Di sini motor-motor tertata di pinggir jalan dan ada beberapa orang yang mengatur dan menjaganya.

Keterangan : Area parkir di lahan terbuka

Memang Pantai Kedung Tumpang tidak seperti pantai Popoh, Sidem atau Sine yang telah terkenal terlebihh dahulu. Pantai Kedung Tumpang mulaii banyak dikunjungi pada tahun  2015 ini. Sehingga akses jalan, area parkir, maupun fasilitas lain belum tersedia dengan maksimal.

Biaya masuk sekaligus parkir di patok 5 ribu rupiah per motor. Cukup murah jika dibandingkan dengan tempat wisata lain. Setelah memarkirkan motor kami segera menuju pantai yang jaraknya sekitar 500 m. Akses jalan menuju pantai cukup sempit dan masih tanah alami. Kamipun harus berhenti ketika berpapasan dengan pengunjung lain. Jalan menuju pantai menukik terun dengan kemiringan mencapai 45 derajat. Kamipun harus ekstra hati-hati.

Keterangan : jalan menuju pantai yang curam

Sekitar 100 meter sebelum samapai di pantai, kami harus melewati jalan menurun dengan tali tambang sebagai pegangan. Hanya ada satu jalan, sehingga pengunjung yang mau balik hharus menunggu pengunjung yang turun menuju pantai agar tidak terjadi kecelakaan. Setelah melewati rintangan yang cukup berat akhirnya kamipun samapai di Pantai Kedung Tumpang.

Di lihat dari topografinya, Pantai Kedung Tumpang sebenarnya lebih mirip dengan deretan jurang. Jurang-jurang tersebut tersesun oleh batu pantai yang mulai terkikis oleh pasang air laut. Di salah satu spotnya. Terlihat curukan batu yang dimana membentu menyerupai kolam alami dengan air berwarna kehhijauan. Banyak masyarakat menyebutnya sebagai kolam alami. Sebelum di pasang papan larangan mandi di kolam tersebut dulunya banyak pengunjung yang berenang di salahh satu spotnya. Karena ombak laut yang tidak dapat di prediksi, masyarakat sekitar dan para pecinta alam mulai memberlakukan larangan berenang.

Keterangan : Ombak menghantam bibir pantai
Keterangan : Warna air laut terlihat hijau di kolam alami

Keterangan : Background kolam alami 

Deburan ombak yang menghantam batu karang, hijaunya air di kolam alami, dan semilir angin yang merontokkan dedaunan menjadi pemandangan di  Pantai Kdung Tumpang. Pantai Kedung tumpang ini akan menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang menarik bagi wisatawan jika dikelola dengan baik. Maka diperlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah untuk mempercepat pembangunan. Namun yang perlu diperhatikan adalah pebangunaan yang berwawasan lingkungan adalah salah satu tongga dasar agar tetap menjaga keseimbangan alam.


Rabu, 14 Oktober 2015

ANNIVERSARY 28TH CB NGANJUK

ANNIVERSARY 28TH CB NGANJUK

Anniversary 28 th CB Nganjuk Anti Tobat akan di helat di lapangan Warujayeng Nganjuk. Anniversary ini mengambil tema The Legend CB Nganjuk. Berbagai Agenda telah disiapkan mulai dari kontes motor, pembukaan stand, santunan anak yatim dan orkes yang akan dihelat di panggung utama.

Ribuan bikers CB Nusantara mulai berbondong-bondong melintasi aspal Nganjuk. Mereka ingin mengikuti dan memeriahkan acara tersebut. Mulai dari motor CB standar sampai CB oplosan. Mulai model CB 100 sampai CB 200. Mulai yang model glatik sampai japstyle bahkan ekstrim.

Rencana untuk menghadiri Anniversary 28 th CB Nganjuk sebenarnya sudah aku agendakan jauhh-jauh hhari. Sekitar bulan september rencana itu telah aku susun. Tepat pada tanggal 10 Oktober 2015 acara dihelat. Aku bersama seorang teman bernama Pendik telah merencakanan untuk menghadiri acara tesebut.

Sore sekitar pukul 15.30 kami pun telah siap untuk melakukan perjalanan ke Nganjuk. Sebenarnya kota kami Tulungagung tak jauh dari Nganjuk, kira-kira membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan. Namun karena merupakan jalur bus dan kendaraan besar kami pun memutuskan untuk berangkat sore. Alasannya selain untuk menghindari padatnya jalan karena akhir pekan juga karena untuk mendapatkan dokumentasi di acara tersebut.

Sekitar pukul 16.30 kami pun tiba di kota Kediri. Kami istirahat sebentar di depan masjid agung Kediri. Merenggangkan otot yang mulai mengencang dan menikmati udara sore di kota tahu. Lalu lalang kendaraaan menghiasi jalanan kota. menambah riuh kesesakan kota yang mulai berkembang pesat tersebut. Duduk di halama masjid, kami pun tak lupa mengabadikan besi tua kami.

Foto : Dokumen pribadi
Setelah 20 menit istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Melintasi perkotaan untuk satu tujuan lapangan Warujayeng Nganjuk.  Waluapun sempat macet sebentar di  daerah kecamatan namun kamipun tiba dengan selamat. Sekitar pukul 17. 30 kami pun tiba di lapangan warujayeng.

Langsung memasuki lapangan untuk bertemu bikers CB Nusantara. Memarkirkan motor dan mencari spot untuk istirahat sejenak. Kamipun segera hunting foto untuk diabadikan dalam perjalanan kali ini. Mulai dari foto pribadi sampai foto motor CB yang terparkir rapi di lapangan.




Sekitar pukul 19.00 acara inti dimulai. Panggung telah siap dihentakkan oleh salah satu orkes lokal Nganjuk. Berbagai lagu dinyanyikan untuk menghibur bikers CB yang telah menyempatkan hadir dalam acara tersebut.



Malam semakin larut, sekitar pukul 23.00 acara pun resmi ditutup. Acara berlangsung dengan tertib dan aman. Tak ada kerusuhan, hanya kemacetan yang terjadi di sekitar lapangan. Maklum, ribuan orang datang untuk menghadiri acara tersebut.  Perjalanan kali ini merupakan mozaik yang terus terangkai untuk sebuah catatan hidup.


ANNIVERSARY 28 th CB NGANJUK

Rabu, 23 September 2015

CATATAN RELAWAN FBM 2015

CATATAN RELAWAN FBM 2015

Hari berikutnya target harus terpenuhi. Semua surat harus selesai tersampaikan dengan baik ke sekolahh-sekolah. Akupun memutuskan untuk mengajak salah satu temen. Sebenarnya dia ini gak tau Sendang, dan dengan cara ini aku bisa mengajak ia  untuk jalan-jalan ke Sendang. Akhirnya dia pun aku sindir “Dolanmu mek adoh endok”. Maksudnya jalan-jalanmu jauh telur yaitu makna sindirian dimana telur yang gak punya kaki aja bisa dikirim kemana-mana bahkan sampai luar pulau. Kamu yang punya kaki dan bisa naik kendaraan aja gak tau mana-mana.

Foto : Dokumen Pribadi
Surat pertaman adalah ke SMP 1 Karangrejo. Disana akupun ngajak ngobrol salah satu staf gurunya.
“Pak, kalau siswa sini biasanya ikut lomba menulis apa saja?” tanyaku

“Ya ikut, tapi menulis yang olimpiade (maksudnya karya tulis ilmiah)”

“Kalau lomba cerpen dan sebagainya”

“Kayaknya belum mas”

“Iya Pak, kebetulan ini memang yang pertama di Tulungagung”

Lanjut, surat aku sampaikan ke SMA 1 Karangrejo, SMP 2 Karangrejo dan SMP Kristen Sendang. Di SMP Kristen Sendang akupun ngajak ngobrol lagi ke beberapa staf TU. Kesimpulannya selama ini memang untuk lomba menulis khususnya cerpen, geguritan, cerkak memang jarang sekali ada dan bahkan mungkin ini yang pertama. Di SMP Sendang wajah-wajah staf Tu nya ramah. Aku pun dipersilahkan duduk dan mengisi daftar tamu yang telah di sodorkan. Mungkin SMP swasta, memang pelayanan yang nomer satu.

Foto : Dokumen Pribadi

Terakhir surat yang harus disampaikan adalah ke SD-SMP 1 Atap. Letaknya cukup jauh. Kira-kira dari kantor Kecamatan Sendang sekitar 7-8 kilometer. Namun karena ini adalah amanat yang harus aku sampaikan, akhirnya akupun sampai di SD-SMP 1 Atap. Dari sebelah sekolah aku bisa menyaksikan kota Tulungagung dari ketinggian. Terlihat rumah, pabrik, jalan raya, menghiasi kota Tulungagung. Ternyata Tulungagung memiliki panorama yang gak kalah indah bila dibandingkan kota lain. Lantas kenapa ini semua tidak digarap oleh pemerintah dengan serius?. Jika menilik Jogja, sebenarnya potensi Tulungagung gak kalah. Seperti contoh daerah hutan pinus Mangunan di Jogja. Hanya modal pohon pinus yang menjulang dan lingkungan yang bersih bisa jadi tempat wisata. Di daerah Kecamatan Sendang pun ada. Beberapa ruas jalan di penuhi pohon pinus yang menjulang dan rindang. Jika ini digarap serius dengan publikasi yang bagus mungkin bisa menjadi alternatif lain untuk wisata alam.

Selasa, 22 September 2015

CATATAN RELAWAN FBM 2015

CATATAN RELAWAN FBM 2015

Siang udara kota Tungagung cukup panas. Jika ditaksir suhunya sekitar 33 0C. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikan hari ini. Pertama mengantar buku ke rumah temen dan kedua mengantarkan surat untuk Festifal Bonorowo Menulis 2015. Ada beberapa surat yang haru diantar ke sekolah-sekolah di Kecamatan Sendang dan Karangrejo. Kedua kecamatan tersebut bersebelahan jadi lebih mudah dan efisien nantinya dalam mengantarkan karena satu jalur.

Rencana awal untuk mengirimkan surat ke SMP 1 Karangrejo kemudian naik ke SMA 1 Karangrejo. Namun karena salah satu temen minta untuk dibawakan buku yang telah ia pesan akhirnya harus memutar arah ke SMP 2 Sendang terlebih dahulu. Akupun memutuskan untuk mengambil jalur berbeda dari rencana awal yaitu melewati desa Babadan, Bungur dan kedoyo. SMP 2 Sendang terletak di Desa Kedoyo. Desa kedoyo ini termasuk di daerah ketinggian sehingga view Tulungagung dapat dinikmati di daerah tersebut.

Setelah mengantarkan surat dari SMP 2 akhirnya aku pun mengantarkan pesananan buku di salah satu teman. Perjalanan berlanjut untuk mengantarkan surat ke beberapa SMP di Sendang. Apa boleh buat, waktu terasa sangat cepat. Sehingga akupun hanya dapat menyelesaikan 2 surat. Jauh dari target awal dimana akan aku selesaikan semua surat ini ke sekolah-sekolah. Ternyata aku menyadari bahwa, aku bukanlah kurir surat yang handal. Patut menjadi catatan bahwasanya, memprediksi masa depan tidak lah dengan kata-kata dan rencana. Namun dengan tindakan nyata.


Rencana awal gumamku hatiku “apalah, surat tak ada 10, paling sehari selesai”. Tapi ada beberapa kendala yang tak dapat aku prediksi. Dan pada titik ini, aku merasakan bahwasanya manusia hanya dapat merencanakan, namun Tuhanlah yang menentukan.

Bersambung.....

Minggu, 06 September 2015

MENIKMATI DEBURAN OMBAK DI PANTAI CORO

MENIKMATI DEBURAN OMBAK DI PANTAI CORO


Apa jadinya jika kita mengadakan jalan-jalan dengan jumlah peserta sekitar 40an anak. Wah, pastinya super persiapan yang matang. Namun, bagi pemuda Kalituri hal itu menjadi biasa. Tak ada persiapan yang matang. Bahkan tak ada konfirmasi berapa anak yang akan ikut. Alhasil, pada hari H sekitar 40an anak kumpul untuk jalan-jalan. Memang pilihannya sudah ditentukan sebelumnya, yaitu Pantai Coro yang terletak disebelah kiri Pantai Popoh.

Bukan remaja Kalituri kalau tak mengadakan kegiatan secara dadakan dan kurang terencana. Sebelumnya dalam menyambut peringatan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia remaja Kalituri kurang persiapan. Namun jangan tanya soal hasilnya, mereka patut diacungi jempol dalam hal kegiatan. Sungguh luar biasa. Peringatan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia berjalan mulus. Jalan-jalan ke Pantai Coro sebenarnya adalah penutupan dari serangkaian kegiatan dalam memperingati 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 8 pagi setelah molor sedikit dari rencana. Melintasi aspal di daerah Gondang perjalan mengambil arah jalur berbeda untuk mempersingkat waktu. Sekitar 20an motor berjalan pelan terlihat seperti ular yang meliuk-liuk melintasi aspal yang kurang bagus.

Sekitar pukul 10 kamipun tiba di Retjo Sewu yang merupakan area parkir untuk menuju Pantai Coro. Setelah menata motor diparkiran kami melanjutkan berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Melintasi bebukitan yang membentang disepanjang pantai. Disebelah kanan terlihat samudra Hindia dengan apik memainkan ombak dipadu birunya laut. Angin semilir menerobos dedaunan jati yang mulai mengering. Sesekali daun jati maupun rantingnya jatuh menimbulkan suara khas.

Tak lama berselang kamipun tiba di Pantai Coro. Langsung mencari spot untuk duduk, namun ada juga yang menggelar tikar. Ada yang duduk dibawahh pohon jambu yang rindang. Semilir angin menambah suasana menjadi sejuk. Beberapa anak malah asik bermain air laut yang mulai surut sembari berfoto selfie. Ombak yang terus berdeburan membuat mereka sesekali lari untuk menghindar. Suara ombak asik terdengar ditelinga. Lantunan lagu yang dimainkan dengan diiringi gitar menjadikan suasana yang sedikit berbeda.

Foto : Dokumen pribadi

Menikmati deburan ombak, semilir angin, senandung lagu yang saling berirama membuat kami lupa akan waktu. Tak terasa sudah hampir 2 jam kami berada di Pantai Coro. Sebelum mengakhiri jalan-jalan di pantai Coro kali ini kamipun berfoto bersama . Dengan mengambil background pantai kamipun mengabadikan perjalanan kali ini dengan sempurna.


Foto : Dokumen pribadi

Minggu, 26 Juli 2015

PERJALANAN KE PANTAI KLAYAR

 PERJALANAN KE PANTAI KLAYAR

Segala sesuatu yang tidak direncakanan dengan matang kadang lebih spesial. Seperti perjalan touring kemarin. Sehari sebelumnya, tepatnya hari selasa waktu ngopi di Warung Kopi Waris tanpa sengaja obrolan berlanjut untuk mengisi waktu luang di lebaran tahun ini. Pertama bingung menentukan tempat, namun ada ide untuk mengunjungi tempat yang tidak jauh dan membutuhkan waktu lama. Akhirnya kesepakatan dibuat utnuk mengunjungi Pantai Klayar di Pacitan. Pertimbangannya adalah disana nanti bisa mampir dirumahh salah satu teman dan cukup memakan waktu sehari.

Setelah Ngopi, segera kami menyiapkan perjalanan besok. Mulai menghubungi teman yang lain dan chek up kendaraan. Rencana besok rabu jam 04.00 WIB kami sudah berangkat. Dan setelah disiapkan matang, pukul 03.30 WIB kamipun telah berkumpul. Mengecek kendaraan, barang bawaan dan tak lupa berdoa untuk keselamatan dijalan sampai pulang.

Pukul 03.45 WIB kamipun bertolak dari Tulungagung untuk menuju Pantai Klayar Pacitan. Jalur yang kami tempuh yaitu Tulungagung-Trenggalek-Ponorogo-Pacitan. Kami memilihi lewat Ponorogo karena jalur yang sering kami lewati adalah jalur Trenggalek Ponorogo. Sedangkan rencana pulang melewati Jalur Lintas Selatan tanpa harus singgah di Ponorogo.

Sekitar pukul 04.30 WIB kami rehat sebentar untuk menjalankan sholat subuh. Touring ya Touring, tapi tetap eling marang kewajiban (hehehe). Tak lama berselang kamipun segera meneruskan perjalanan agar segera sampai di tujuan. Jalan di perbatasan Trenggalek-Ponorogo cukup baik sehingga memudahkan kami memacu kuda besi seoptimal mungkin.

Sekitar pukul 05.50 WIB kami rehat lagi untuk sarapan. Sebenarnya saya pribadi belum begitu lapar, tapi karena salah satu teman sudah merasakan panggilan alam kamipun rehat untuk makan sembari menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok.

Jalan menuju Pacitan yang baik membuat kami semangat memacu kuda besi. Sedikitnya kendaraan roda empat yang melintas memudahkan kami untuk mengoptimalkan memacu kendaraan. Sekitar pukul 07.30 kami telah tida di Kota Pacitan. Rehat sebentar untuk segera menuju rumah salah satu teman. Setiba di rumah teman, kamipun diminta untuk sarapan. Yah, apa booleh buat kalau ditawari makan ya harus diterima rezeki kok ditolak...hehehe.

Setelah sarapan sembari menikmati teh hangat dan sebatang kretek kami pun merancang perjalanan selanjutnya. Kami memutuskan untuk mengunjungi Goa Gong terlebih dahulu kemudian Pantai Klayar. Perjalanan ke Goa Gong tidak membutuhkan waktu lama sekitar 15-20 menit dari rumah teman kami.

Foto : Dukumen pribadi

Memang ini suatu keajaibabn proses alam. Stalaktit dan stalaknit yang terbentuk memenunjukkan begitu hebatnya alam.  Kamipun mengelilingi area Goa Gong. Memukul beberapa batu yang katanya menimbulkan bunyi seperti Gong. Ada beberapa batu yang memang jika dipukul berbunyi seperti gong. Suaranya berdengung merdu. Beberapa sudut goa di beri lampu penerangan yag berwarna warni sehingga menambah keindahan.

Foto : Dokumen Pribadi

Perjalanan yang cukup menyita waktu ketika menuju Pantai Klayar. Banyaknya jalan yang rusak membuat kami untuk berhati-hhati dan sering memainkan rem motor. Ditambah lagi macet diperjalanan akibat adanya mobil yang berpapasan membuat kami untuk banyak-banyak mengelus dada. Sekitar pukul 11.30 WIB kami tiba di Pantai Klayar. Dari atas Pantai klayar terlihat indah sekali. Sepanjang pantai dipenuhi kerumuhan pengunjung yang ingin menghabiskan waktu liburannya.

Foto : Dokumen Pribadi

Kami berjalan untuk mencari spot yang bagus. Namun karena udara disiang cukup panas, kami memutuskan untuk rehat disalah satu warung untuk menikmati secangkir kopi dan nasi tiwul khhas Pacitan. Melihat lalu lalang para pengunjung ditemani desiran angin yang mulai berhembus membuat kami merasa nyaman. Apalagi lantunan ombak yang menepi, ayunan daun pohon kelapa yang melambai menambah keindahhan pantai Klayar.  Setelah istirahat kami pun segera jalan-jalan menyisiri pantai sembari mengabadikan moment indah dalam gedget.



Foto : Dokumen Pribadi

The next time, kami segera berkemas untuk bertolak ke Jogja. Mengambil jalur Pracimantoro-Wonosari-Jogja. Jalanan yang mulai ramai menuju Jogja membuat kami harus hati-hati dalam memacu kendaraan. Hal ini disebabkan banyaknya mobil yang melintas untuk arus balik. Sebelum sampai di Jogja kami rehat sebentar untuk makan di sebuah angkringan khas Jogja. Menikmati nasi kucing, mendoan, dan sate ampela yang gurih. Dipadu dengan secangkir kopi hitam maupun teh hangat yang khas dan hanya ada di Jogja.

Sebelum memasuki Jogja kami memutuskan untuk rehat di Bukit Bintang. Bukit Bintang adalah salah satu tempat favorit anak muda untuk memadu kasih dan menghabiskan waktu malam sembaari menikmati gemerlap lampu kota Jogja. Sekitar satu jam kami menikmati gemerlap lampu kota Jogja segera memutuskan untukk menuju kota. tujuannya adalah Tugu kota Jogja dan Malioboro.
Foto : Dokumen Pribadi

Di Tugu Jogja kami mengabadikan moment bersama sembari menyaksikan lalu lalang para wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun manca sangat mudah ditemui. Menambah keriuhan kota Jogja di malam hari. Melanjutkan perjalan ke Malioboro untuk mencari souvenir dan ke pusat bakpia di Pathuk..

Malam itu kami berisitirahat di kost salah satu teman dan menutup hari dengan sebuah kenangan yang tak terlupakan....

Bersambung.....

Minggu, 19 Juli 2015

SAHABAT SEJATI

SAHABAT SEJATI

Foto : Dokumen pribadi

Sahabat itu, walaupun jarang bertemu namun masih dapat bertegur sapa. Entah dengan cara apa, yang pasti, persahabatan akan terus berlanjut. Jarak bukanlahh halangan untuk sekedar tersenyum di ujung dunia masing-masing. Di sudut-sudut ruangan, di lorong, di rumah kecil atau di kamar yang sempit sekalipun kita dapat menyapanya. Walaupun tak sempat bertegur sapa, setidaknya doa-doa masih bisa terpanjatkan untuk kebaikan bersama. Jikalau belum sempat setidaknya kita tak melukai dan merenggangkan persahabatan kita. Entah bagaimana caranya yang pasti persahabatan akan terus berjalan. Diam kita bukanlah perseteruan, namun lebih kepada menjaga persahabatan. Obrolan kita bukanlah mengenai perdebatan yang tak berguna namun lebih kepada saling mengingatkan. Emosi yang meluap bukanlah bentuk kedengkian namun lebih dari itu, rasa akan memiliki sahabat yang terbaik.

Persahabatan bukan diukur dari intensitas bertatap muka. Bukan juga diukur dari banyaknya percakapan yang lahir dari sana pula. Persahabatan bukan diukur dari senyum yang setiap kali mengembang di setiap perjumpaan. Namun, persahabatan diukur dari merasa nyaman jika dekat dengannya. Walaupun jauh keberadaannya namun kita dapat merasakan kehadirannya. Entah dengan apa cara apa, dengan kenangan-kenangan yang telah terlewati, dengan kata-kata  penyemangat di kala kita terjatuh. Atau mungkin dengan ketidak adaanya yang membuat kita memahami, bahwa persahabatan itu penting.

Dan, kadang kala kita baru menyadari bahwa kita terlalu egois ketika mereka satu persatu pergi. Kadang kala kita terlalu kasar terhadap mereka. Namun, mereka yang tak pergi dan terus ada adalah sahabat sejati kita. Yang jika kita marah, ia malah tersenyum dan menepuk pundak kita sembari mengingatkan. Yang ketika kita menyakitinya namun ia malah diam dan tak membalasnya. Yang ketika kita diam pergi, ia malah mendekat dan membisikkan kenangan-kenangan bersama.

Dan, kita baru sadar bahwa sahabat sejati itu masih ada. Walaupun jarak yang terus memisahkan kita. Waktu yang terus memotong kenangan-kenangan kita. Orang-orang baru yang silih berganti hadir di kehidupan kita. Dan dunia baru yang terus bermetamorfosis bersama waktu. Sahabat sejati masih ada dalam kehidupan kita.

Mari merenung, sudahkan kita menjadi manusia yang dapat memberikan ketentraman di setiap perjumpaan dengan orang lain. Marilah kita menjadi sahabat sejati dalam setiap perjalanan ini. Mengisi kehidupan orang disekitar kita dengan kebaikan dan kebersamaan. Dengan senyuman akan sebuah kedamaian dan ketentraman hati dan jiwa....


Senin, 25 Mei 2015

Menilik Keelokan Pantai Lumbung

Menilik Keelokan Pantai Lumbung

Rasa-rasanya ada yang kurang kalau di Tulungagung hanya explore gunung, waduk, atau tempat wisata lain. Ada satu yang ketinggalan, yaitu kita tak boleh lupa untuk meng explore pantainya. Tulungagung merupakan kabupaten  yang terletak di sebelah selatan dan langsung berbatasan dengan samudra Hindia. Letak geografis inilah yang menjadikan Tulungagung memiliki pantai yang cukup banyak. Beberapa pantai yang telah terkenal di Tulungagung seperti Panti Popoh, Sidem maupun Sine. Namun akhir-akhir ini banyak wisatawan mulai melakukan explore besar-besaran sehingga pantai yang notabene belum terdengar di telinga masyaraakat kini lambat laun mulai diketahui. Ada beberapa pantai yang lagi booming di Tulungagung seperti Banyu Mulok, Patok Gebang, Sanggar dan Lumbung.

Pilihan kami jatuh pada Pantai lumbung yang terletak di Kecamatan Pucanglaban. Tak tanggung-tanggung kami melakukan explore ke Pantai Lumbung dengan 12 orang. Rencana awal, kami akan berangkat pukul 08.00 WIB. Namun terkendala masalah teknis (baca: ngaret) kamipun mulai berangkat pada pukul 10.00 WIB. Dari 12 orang yang pernah ke sana hanya 2 orang, lainnya cuma ikut-ikutan. Terpaksa kami sering salah jalan karena berbeda pendapat dengan yang lain. Mengamalkan pepatah “ Malu bertanya sesat di jalan” kami pun dapat sampai di Kec. Pucanglaban sekitar pukul 11.30 WIB. Eitss, jangan puas dulu. Kami belum sampai di lokasi tujuan. Banyak rintangan yang membuat kami terasa ciut nyali untuk melanjutkan perjalanan. Mulai dari jalan yang penuh lubang, sepinya perumahan, bahkan sampai kondisi kendaraan. Setelah menempuh perjalan cukup melelahkan akhirnya terbayar sudah. Terlihat dari kejauhan samudra Hindia yang membentang luas.
Kondisi jalan menuju Pantai Lumbung

Hem ternyata kondisi sekitar Pantai cukup memprihatinkan. Banyak jalan yang rusak dan bahkan jalan menuju pantai tak beraspal. Untung saja cuaca mendukung sehingga cukup memudahkan kami sampai ke tujuan. Walaupun masih natural namun akses ke pantai Lumbung harus berjalan kaki. Namun ini lebih baik, karena  merupakan tantangan yang tersendiri. Setelah istirahat sebentar di parkiran kami pun segera melanjutkan perjalan untuk menuju Pantai Lumbung. Hanya butuh waktu 5-10 menit kami dapat sampai di Pantai Lumbung. So Beauitifull, sungguh amazing. Langsung kami mengaktifkan camera DSLR maupun camera HP. Kami pun mencari spot yang bagus untuk mengabadikan perjalan di Pantai Lumbung kali ini.
Pantai Lumbung terlihat dari atas

Kenapa di sebut Pantai Lumbung, kami pun belum mengetahui secara pasti. Namun dilihat dari topografinya terdapat sebuah batu besar yang terletak di pinggir pantai. Di atas batu tersebut beberapa tanaman tumbuh lebat. Menambah kecantikan Pantai Lumbung. Memang batu tersebut menjadi background yang tepat untuk mengabadikan moment indah di Pantai Lumbung.
Hamparan pasir putih di sepanjang pantai
Ada yang disayangkan dari kondisi pantai Lumbung. Masih ditemukan banyak sampah yang tercecer di pinggir pantai sehingga mengganggu keelokan pantai. Sampah plastik,bekas kemasan air minum atau bahkan batang dan ranting pohon tercecer di pinggir pantai. Mungkin karena pantainya yang jauh dari kota dan akses jalan yang kurang memadai sehingga tak ada stekholder yang memperhatikannya. Namun yang pasti, ini luar biasa. Perjlanan yang melelahkan dapat terbayar sudah dengan keindahan alam Panyan Lumbung. Memang benar yang dikatakan banyak orang Pantai Lumbung memang masih perawan.
Foto bareng dengan background pantai
Pantai Lumbung dari kejauhan

Tunggu Trip selanjutnya….


Selasa, 22 April 2014

LIR ILIR AYO NGLILIR

LIR ILIR AYO NGLILIR

Perjalanan kemarin banyak mengisahkan cerita manis. Entah kapan hujan turun membasahi bumi, yang pasti pelangi akan muncul ditengah terik matahari setelah hujan. Dan pelangi hati akan muncul setelah kesedihan melanda kita. Hanya kita mampu berdiri dan bangkit lagi atau tidak.
Lucu sebenarnya mengingat sms salah seorang temen. Yang kurang lebih begini kalimatnya.
“Ngopo ganti kartu Cak?, lari dari kenyataan opo mencari kenyataan baru?, awakmu ki galau ne kok mesti bareng-bareng karo aku”.
Walaupun aku masih dilanda masalah namun membaca sms dari temen ku langsung ngakak dalam hati. Hahaha. Sungguh kok bisa-bisanya buat kalimat seperti itu. Mungkin kalimat itu tak akan aku lupakan. Dan sahabat yang selalu menghadapi masa-masa sulit bersamaan tak akan aku lupakan. Sahabat yang selalu mengingatkan masalah yang kita hadapi adalah berat, dan kita memiliki kesamaan dalam setiap masalah…hahaha. Kembali ke topik awal bahwa, aku ingin menceritakan bagaimana rasanya terjatuh dan sulit untuk
Negeri Di Atas Awan 34
bangkit. Kita semakin pesimis, dan rasa keyakinan semakin tipis. Seolah kita tak percaya dengan Tuhan mengenai takdir kita hari ini. Aku pun begitu, menyalahkan diri sendiri, orang-orang terdekat, dan bahkan gak percaya kok begitu teganya Tuhan men takdirkan ku seperti ini. Yah, memang nasib, mau bagaimana lagi ya dijalani aja.
Setelah hampir sepuluh hari meninggalkan Yogya akhrinya aku memutuskan untuk kembali dan mencoba menikmati puing-puing yang berserakan. Mengenai kejadian beberapa minggu aku coba untuk menghapusnya. Jalan-jalan adalah salah satu cara yang ampuh untuk menghilangkan penat yang ada.
“Mas, beneran lupakan semua itu, jangan mas malah mengucilkan diri dari pergaulan. Sudah lah mas, lupakan”
Seorang sahabat memberikan saran setelah aku bercerita panjang lebar. Ada 3 tahap yang harus di jalani yaitu pertama melupakan masa lalu, kedua kembali ke Skripsi, ketiga sukses dan buat orang yang mengecewakan kita akan menyesal. Cukup menarik sekali sarannya. Dan aku fikir-fikir untuk segera merealisasikannya.
“Lir ilir-Lir ilir, tandure wes sumilir, ayo nglilir”

Selasa, 19 Maret 2013

TULUNGAGUNG SENTRA IKAN HIAS


TULUNGAGUNG SENTRA IKAN HIAS


Tulungagung merupakan kabupaten yang terletak di daerah pesisir pantai selatan pulau Jawa. Letak tulungagung sekitar 150km dari ibukota provinsi yaitu Surabaya. Bagi pelaku usaha di bidang perikanan pasti snagat kenal dengan kota Tulungagung. Hal ini dikarenakan Tulungagung merupakan salah satu sentral perikanan khususnya perikanan air tawar. Beberapa komuditas ikan yang dikembangkan oleh masyarakat Tulungagung seperti ikan lele, Gurame, dan ikan hias.

Ikan hias merepakan komuditas unggulan dari kabupaten Tulungagung. Beberapa ikan hias yang laris di pasaran seperti ikan berta (cupang), mas koki, Sumatra, guppy, dll. Saya sendiri pernah berkenjung ke salah satu pembudidaya ikan di daerah bendil jati wetan. Banyak masyarakat yang membudidayakan ikan cupang, Sumatra, mas koki, dll. Banyaknya masyarakat yang membudidayakan ikan ini tidak terlepas dari mudahnya memelihara ikan hias, lahan yang dibutukan relatif sempit, kemudahan mendapatkan pakan, dan keuntungan yang cukup menjanjikan.

Kemudahan memelihara ikan hias ini tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang mendukung. Tidak hanya itu, kebutuhan air yang tidak terlalu banyak dapat dipenuhi dari air sumur. Ikan hias seperti cupang malah tidak membutuhkan banyak air. Yang repenting adalah pemberian pakan. Pergantian air pun cukup minim dilakukan.

Budidaya ikan hias hanya membutuhkan lahan yang sempit. Berbeda dengan budidaya ikan konsumsi yang membutuhkan lahan besar. Budidaya ikan hias dapat dilakukan dipekarangan rumah, ataupun dilahan tegalan. Biasanya lebar kolam tidak lebih dari 5x5 m. namun untuk amsalah luas kolam tergantung ebutuhan.

Khusus ikan hias pada fase benih biasanya membutuhkan pakan alami. Melimpahnya pakan alami berupa cacing sutra di Tulungagung memberikan kemudahan bagi pembudidaya untuk mendapatkan pakan. Beberapa sungai menjadi sumber pakan alami untuk kebutuhan ikan hias.

Keuntungan yang diddapat dari budidaya ikan hias ini lumayan menjanjikan. Hal ini jika dilakukan secara besar dan berkelanjutan. Untuk ikan cupang halfmon biasanya petani menjualnya dengan harga 2 ribu, sedangkan cupang serit 1 ribu. Bayangkan jika petani memelihara ribuan ikan, tinggal mengalikan keuntungannya.

Senin, 10 Desember 2012

SRI GETUK


SRI GETUK


Listrik padam….
Apa yang dapat kita lakukan ketika listrik padam. Barang kali kita akan menghujam pemerintah, memaki-makinya dengan sumpah serapah. Kenapa listrik mati, kan kita sudah bayar pajak, kenapa listrik mati, kan kita sudah memenuhi kewajiban. Dan PLN pun akan tersenyum dan menjawab, “Maaf, ada perbaikan di gardu induk, atau maaf ini untuk penghematan”. Ya, sudahlah kalau itu jawabannya. Kita hanya dapat pasrah, dan beberapa waktu tidak bisa menikmati kemajuan teknologi.
Dan, ketika beberapa waktu lalu listrik pun padam. Di kontrakan hanya ada begundal-begundal yang kehilangan setengah nyawanya. Aku yang dari pulang dari kampus dari memberi makan para “pemalas-pemalas” yaitu sidat itu melihat tingkah laku begundal itu ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak.
“Cung, kamu kenapa?”
“mati lampu cung, koyok wong edan”
“Dolan wae lek no”
“Neng Srigetuk piye Cung?”
“Siap Cung”
“Hubungi Ibnu Komar Cung”
Dan tak berapa lama kami para manusia-manusia suwung telah berada di jalan Wonosari untuk meluncur ke Air Terjun Srigetuk yang katanya indah itu. Perjalanan ke Sri getuk cukup menarik apalagi pemandangan disekitar jalan wonosari yang indah itu. Ingin aku berhenti dan menikmati Susana bukit-bukit yang menawarkan pesona keindahan itu. Dan tak lupa ditengah perjalanan aku mengabadikan setiap moment yang ada. Ini lo Cung, gaya rider kawakan Plat AG.

Eh ternyata, dan ternyata cukup terlampiaskan hasrat untuk menikmati keindahan air terjun Srigetuk. Sampai disana  kerumunan manusia mencoba menikmati akhir pecan di daerah pedesaan. Aku sudah menyangka mereka adalah kaum bourjuis atupun sekalipun marheins yang mencoba menikmati akhir pecan di tengah system kapitalis yang menekan kehidupan mereka. Loh, gok nyambung ya Cung. Maklum, kadung sudah terlanjur di dekte Sistem kapitalis, hingga selalu inget mau nulis apa ujung-ujung nya kapitalis. Hehehe
Kami tak pernah kesini, dan melihat pemandangan bukut-bukit dipadu pesawahan yang disitu ditanami padi mengingatkanku pada rumah. Maklum anak petani, kalau melihat padi yah ingat rumah. Hehehe. Kerumunan orang antri di pinggir sungai untuk menyebrang kea air terjun sri getuk. Kami pun juga ikut-ikutan untuk antri. Ternyata tiketnya 10 ribu, untuk dua kali perjalanan alias pulang pergi. Eh salah pergi pulang. Hehehe.

Kami pun tak ketinggalan untuk mengabadikan moment ini, dan tak lupan moment yang tak penting pun juga harus diabadikan agar selalu ingat kejadian yang gak mutu itu. Sampai di air terjun aku lihat puluhan orang tengah mandi di bawah air terjun. Ada yang berada tepat dibawah percikan air yang jatuh sekitar 20 meter itu. Kepalanya terbentur-bentur oleh air. Dalam hatiku, memangnya dirumah gak ada air, lantas kau mandi disini. Ngapain jauh-jauh, la wong di pom bensin aja sudah ada air dan kamar mandi. Hehehe.

    
Maklum, kamipun akhirnya dijerat oleh keindahan air terjun, dan kita pun tak tahan. Tak tahan untuk mandi dan menikmati sensasi air yang jatuh dari atas itu. Dengan buka kaos dan langsung jebur aku dapat menikmati dinginnya air di daerah pegunungan. Sekali lagi, setiap moment indah harus diabadikan agar suatu hari nanti semua itu menjadi kenangan dan sejarah yang mungkin membangkitkan semangat hidup kita….
  

Selasa, 23 Oktober 2012

BERSIH GUMUK PASIR

BERSIH GUMUK PASIR 


Udara pagi jogja terasa sejuk sekali. Aku jarang sekali menemukan kesejukan selain di pagi ini karena setiap habis solat subuh biasanya langsung au lanjtkan untuk meneruskan mimpi yang tertunda. Namun hari ini, setelah solat subuh, aku ada janjian sama teman untuk pergi ke Bantul. Bersama dua ornag teman kampus kami pun langsung menuju Bantul tepatnya di lab Geospasial .

Setelah sekitar 30 menit sampailah aku di Lab geospasial. Kami di sini untuk ikut berpartisipasi bersih gumuk pasir. Kami tak tahu apa saja kegiatan yang akan dilakukan, yang pasti karena acaranya gratis jadi kami pun ikut-ikutan. Ternyata apa yang kami lakukan tak sia-sia karena sampai disana langsung kami di kasih t shirt dan segera biminta untuk bersih-bersih gumuk pasir.  Bukannya bersih-bersih malah kebanyakan para peserta berfoto ria di gumuk pasir. Sungguh keindahan yang disajikan oleh alam begitu besar.bentanagn gumuk pasir cukup indah untuk dijadikan background.
Pemandangan gumuk pasir di pagi hari

Tidak hanya itu saja, gayung bersambut habis bersih-bersih yang tak membutuhkan banyak tenaga tersebut kami diberi sarapan berupa gudeg, “uenak e rek”. Gratis lagi…gratis lagi….hehehe. tidak cukup itu, ada meja pingpong, langsung akmi buka untuk main pingpong.
memasuki Lab Geospasial

Pada dasarnya yang ditunggu-tunggu ini lo, kuliah umum. Lantas siapa yang ngisi kuliah, beliau Dr. Asep Karsidi, MSc kepala Badan Geospasial nasional. Banyak ilmu aku dapat, banyak pengetahuan baru yang aku dapa dan insyaAlloh bermanfaat suatu saat nanti.
Sore hari ada acara yang cukup menarik yaitu nanam mangrove. Asyk…jadi tahu mengenai cara nanam mangrove. Salah satu bentuk konservasi daerah pesisir guna menanggulangi abrasi pantai. Penanaman mangrove di lakukan di pantai Baros daerah kab. Bantul...
foto bersama di daerah konservasi mangrove
  

Jumat, 15 Juni 2012

KENANGAN DI PANTAI PASIR PUTIH


KENANGAN DI PANTAI PASIR PUTIH


Persahabatan memang selalu memberi warna dalam hidup kita. Suka-duka, senang-susah, selalu terjadi ditengah jalinan persahabatan. Seolah ia adalah pengisi ruang hidup kita. Disini aku takkan membahas mengenai apa arti sahabat bagi kita kawan, namun disini aku akan membagi mengenai sebuah perjalanan liburan dengan sahabat. Sekitar 2 tahun yang lalu kejadian ini terjadi. disuatu tempat yang mungkin akan menjadi kenangan dalam persahabatan kami.
Pagi itu, kami berkumpul dirumah sahabat yang bernama Juan. Kenapa kami memilih berkumpul disana?. Karena rumah Juan cukup mudah dan terletak sangat strategis. Strategis disini, adalah letak rumahnya berada dekat sekolah kami dulu (SMA 1 Boyolangu). Dan tak hanya itu, dirumah Juan lah biasanya kami kumpul bersama, melepas keenatan dalam aktifitas sekolah. Namun dipagi itu tujuan kami berkumpul di rumah Juan adalah untuk malakukan jalan-jalan ke sebuah pantaidi kabupaten Trenggalek. Kami akan jalan-jalan ke pantai Pasir Putih.
Panta pasir Putih merupakan sebuah pantai yang terletak dikabupaten Trenggalek. Di sebelah kanan pantai pasir putih terdapat pantai Prigi yang juga merupakan Pelabuhan Nusantara. Disebelah kiri pantai pasir putih terdapat pantai Karang Gongso dimana merupakan pantai dengan hamparan pasir coklatnya. Kenapa disebut pantai Pasir Putih?. Apakah pasirnya memang putih?. Jika jawabannya itu, memang benar. Antai Paasir Putih memiliki hamparan pasir pantai yang berwarna putih. Panjang pantai pasir putih sekitar 400 meter. Dasar pantai pasir putih merupakan karang, sehingga jika surut datang terlihat hamparan batu karang yang luas.
Sekitar pukul setengah Sembilan semuanya telah berkumpul. Setelah melakukan prepaire kami langsung melakukan perjalanan menuju Pantai Pasir putih. Kira-kira kami akan menempuh perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai di pantai Pasir Putih. sekitar 15 orang yang mengikuti jalan-jalan kepantai Pasir Putih dan kesemuanya merupakan teman satu kelas semasa SMA dulu. Karena ini merupakan iburan semester di awal kuliah, kami menyempatkan untuk berkumpul bersama, melepas rasa kangen tidak lama berjumpa.
Sepanjang perjalanan tidak jauh beda dengan 6 bulan yang lalu, kota ku Tulungagung terasa tidak begitu berubah banyak. Dipinggiran kota menuju kabupaten Trenggalek hamparan sawah luas menghiasi setiap sudut mata memandang. Inilah kota yang nyaman, inilah Tulungagung Guyub Rukun. Oh ya, aku sampai lupa, mengenai perjalanan ku.
Liku-liku jalan menghiasi perjlanan kami menuju pantai pasir Putih. kami pun melewati berbagai bukit yang merupakan jalan utama untuk dapat sampai sana. Setelah sekitar satu jam akhirnya kami sampai juga disana. Langsung kami turun dar motor, dan melihat pemandangan yang indah didepan mata. Seblum turun untuk menikmati air pantai kami sempatkan untuk berfoto di bawah pohon yang cukup rindang.
13395761831826127777
Tak hanya itu, kamipun segera untuk ganti pakaian untuk mandi di pantai. Air pantai yang masih bersih ditambah lagi pasir putih yang terhampar luas disepanjang pantai menambah kenyamanan dalam bermain di pantai pasir putih. berikut ini adlah foto-foto kami ketika bersama-sama menikmati indahnya pantai pasir putih.
13395763611917307751
foto Pribadi : Bergandengan bersama dalam jalinan sahabat
1339576589211017670
Foto Pribadi : menikmati kebersamaan bersama teman
1339576657823295291
foto Pribadi: berfose di dermaga
Salam hangat untuk kita sahabatku semua. “kapan kita melakkukan perjalanan kesana lagi?”

MENIKMATI CAKALANG BAKAR DI PANTAI DEPOK


MENIKMATI CAKALANG BAKAR DI PANTAI DEPOK


Mungkin kita terlalu sering mendengar pantai Parang Tritis di Yogyakarta. Siapa sih yang gak tahu pantai parang Tritis?. Bagi warga Yogyakarta atau bahkan orang Indonesia yang pernah nonton TV pastilah tahu mengenai pantai parang Tritis. Di Film-film yang bersetting Yogyakarta, biasanya pantai parang Tritis lah tempat untuk sutting film. Namun tak jauh dari pantai parang Tritis disebelah barat terdapat pantai yang cukup indah dan rama dikunjungi khususnya di akhir pekan. Pantai Depok namanya, pantai denga hamparan pasir hitam yang cukup luas dan indah.
Sekitar dua bulan yang lalu, di hari Jum’at aku dan teman-teman kampus malakukan perjalanan menuju pantai Depok yang terletak di Kabupaten Bantul. Sebagai mahasiswa, dimana jika akhir pekan kegiatannya kalau gak ngampus ya jalan-jalan. Tanpa persiapan kami langsung melakukan perjalnan menuju pantai Depok. Sekitar 1 jam perjlanan kami dapat sampai di pantai depok. Dengan menggunakan motor sekitar pukul 16.00 kami berangkat. Tujuannya agar nantinya dapat menikmati sunset di pantai depok.
Memang cuaca cukup bersahabat sore itu cukup bersahabat. Walaupun sebelumnya mendung sempat menghiasi sudut kota jogja, namun ketika sore mendung telah hilang dan kini terlihat indah. setelah melakukan perjalanan sekitar satu jam akhirnya kamipun sampai juga di pantai Depok. Jalan raya menuju pantai sangat bagus, aspalnya tidak ada yang bergelombang atau bahkan rusak.
Namun setelah samapai disana, sunset terlihat disut barat yang kurang bersahabat, nampaknya mendung menutupinya kembali, namun sesekali terlihat indah ketika mendung tersibak keluar.  Tak lupa kamipun mengabadikan moment-moment indah di pantai Depok ini.
13397432521181403539
1339743313420105636
13397433691684119271
Setelah menikmati deburan ombak yang besar dan sunset yang indah kamipun segera menuju masjid yang berada di daerah wisata tersebut. Rencananya setelah magrib kami akan makan malam bersama di pantai tersebut. Walaupun duit pas-pasan, namun menikmati makan bersama sahabat adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Disebuah warung dipinggir pantai Deepok itulah kami menikamti makan bersama. Tak tanggung-tanggung dan untuk jadi kenangan kami memesan ikan Cakalang. Maklum lah sebagai mahasisnya yang dapat dibilang “kere” makan ikan cakalang adalah suatu yang jarang kami lakukan. Dalam hatiku, wah ini pasti mahal. Kami memesan sekitar dua kilo Cakalang Bakar untuk 7 orang. Ditemani dengan the hangat sebagai teman didinginnya malam di pantai Depok kami sempatkan untuk beroto bersama.
Akhirnya cakalang bakar yang Cukup besar telah datang. kamipun menikmatiny dengan sangat lahap, maklum mahasiswa. Namun tetap dalam pikiranku, berapa nanti duit yang bakal keluar. Kucoba untuk tak memperdulikan itu semua, tujuaku satu untuk menikmati cakalang bakar khas Pantai Depok yang belum pernah aku rasakan.
1339743422135670348
1339743480734323897
Akhirnya apa yang aku tunggu terjadilah. Namun tan seperti yang kami bayangkan. Kami hanya meogoh kocek 14 ribu masing-masing orang. Cakalang Bakar, Nasi sepuasnya, dan teh hangat. Cukup murahkan. Jika nantinya para pembaca ingin ke Pantai Depok luangkanlah waktu untuk menikmati cakalang bakar dengan harga merakyat.
13397435221680446679