WpMag

Jumat, 15 Juli 2011

KICAU KENARI DI PAGI HARI

KICAU KENARI DI PAGI HARI

Sudah jam 7 pagi tapi masih juga ngatuk. Suara burung kenari yang riuh membangunkanku dari tidur. Ya, dua ekor burung kenari yang ku pelihara ini, telah membangunkan tidurku. Memisahkanku dengan dunia mimpi. Mengembalikanku kedalam dunia nyata ini. Pas membuka mata, ia sudah berada disampingku. Sosok yang menjengkelkan, yang selalu hadir dalam hidupku. Ingin rasanya ia ku buang dari kehidupanku. Kulempar di sungai amazon ku tendang di air terjun niagara biar jatuh tak kembali.
“Dah, bangun”. Tanya ia
I”ya, gara-gara kamu sih, dateng kesini”.
“Loh, bangun-bangun kok aku langsung disalahin.”
“Melihat mukamu itu yang serbasalah.”
Jangan gitu dong, jangan menuduhku yang selalu salah. Entar kamu tak tuntut lo. Kita kan hidup di Indonesia. Kita ini dilindungi undang-undang, jadi jika kamu mengatakan yang jelek-jelek kepadaku nanti bisa kutuntut dengan alasan perbuatan tidak menyenangkan.hehehe
“Hari gini kamu kok sudah disini, mau ngapain?”tanyaku
“Nggak, aku Cuma mau main kok.”
“Oww gitu ya…..”
“Oh ya, kemarin Brasil menang lo,?”tanya ia
“Aku dah tahu, menang 4:2 kan,”
Iya, tapi ada yang seru. Itulah mental para juara, dua kali seri pertandingan penentu menang dengan skor telak. Beda dengan sepak bola kita. Pokoknya kalau main dikandang kalah ya tawuran. Jika kalah, wasit yang disalahkan. Jika kalah stadion dibakar dan dirusak. Lucu ya,
“Iya sih lucu”. tambahku
“Kamu tahu gak, kemarin ketua PSSI baru lo?”
“Iya, aku dah tahu..wong aku setiap hari nonton Tv”
Ada yang lucu lagi, ketika banyak calon ketua umum merebutkan PSSI 1, namun pada hari H mereka pada mengundurkan diri. Entah banyak alasan yang ia sampaikan. Katanya ada yang gak kuat dengan politik uangnya. Kenapa sih dinegeri ini semua selalu kental dengan money politic. Pilihan kepala desa, bupati semua kental dengan politik uang.
“Ah, kamu ini sok tahu aja.mending dari pada ngomongin PSSI yang minim prestasi ngomonngin perekonomian Indonesia aja.”
“Pagi-pagi ngomongin perekonomian, wong perut aja belum di isi.”
“Ditahan aja, makan itu obat maag, kalau dah kena maag…hehhehe. “tambahku
Wah, kalau ku tahan terus aku gak kuat. Sama seperti para rakyat kecil menahan beban harga sembako yang terus melonjak. Apalagi ini mau bulan ramadhan, pastilah harganya melambung tinggi. Katanya sih perekonomian Indonesia naik siknifikan, sampai 6 persen. Namun itu hanyalah perekonomian makro. Nilai tukar rupiah terhadap dolar pun terus menguat. Namun apakah itu berpengaruh dengan kehidupan para rakyat kecil, kayaknya enggak. Rakyat tetap saja merasa kesulitan. Harga bahan pokok tetap saja tinggi. Katanya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tapi kok untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya saja harus impor. Dimana sih pemerintah saat ini.
Suara burung kenari terdengar dengan riuh. 2 ekor kenari berkicau bersautan. Seolah bertanding merebutkan juara. Ya, kenari jenis holland ini telah aku pelihara 6 bulan yang lalu.
“Kenarimu bagus sekali,”seru ia
“Iyalah, siapa dulu pemiliknya.” Jawabku
“Tapi cuma burungnya aja, orangnya nggak.”
“Ah kamu ini. Gimana suaranya baguskan, bagaimana kalau di ikutkan lomba?”tanyaku
“Bagus itu, tapi lomba dalam persidangan.”
“Maksudmu gimana sih.”aku bingung
“Ya lomba dalam persidangan”
“Aku semakin bingung nih.”
Kamu bingung to. Ya itu, diikutkan lomba dalam sidang. Kita lihat saja ketika banyak sidang ataupun konggres di negeri ini selalu ramai dengan intrupsi para peserta. Selalu riuh suara para peserta bersautan menyampaikan pendapatnya. Itukan tak ubahnya burung kenarimu yang kini sedang kicau.

ES DAWET BUKAN DAPET

 ES DAWET BUKAN DAPET


Aku sangat malu sekali hari ini. Soalnya kenapa?karena aku begitu lancang mengatakan “IYA”. Kata yang begitu sakral jika diucapkan pada waktu itu. Memang kata iya memiliki banyak arti dan juga kesan. Memiliki banyak arti jika digabungkan dengan kata lain atau dimasukkan dalam kalimat lain. kata “IYA” juga memiliki multikesan, dimana tergantung yang menggunakannya. Kejadiannya ketika sore hari, kira-kira pukul 3 sore. Mathari mulai merambat turun. Panas siang hari mulai berkurang dan kamipun merencanakan untuk pulang. Ketika mau pamitan kepada pak Susilo yang merupakan kepala balai, disitulah kejadian itu terjadi. Disaksikan oleh banyak orang sampai lancang mengatkan kata ‘IYA”. Awalnya kami hanya bercakap-cakap biasa.
“Gimana magangnya?” Beliau membuka pertanyaan
“Wah, asik pak.”
“Kok Cuma 1 minggu, gak kurang.”
“Sudah pak, karena teman-teman pada ikut panitia semnaskan.”
“Ow, gitu….”
“Oh….ya pak, apa dikasih sertifikat,”
“Ow, kalau mau bikin juga bisa.”
Kemudian pak susilo masuk keruangan. Entah ngapain, tak lama berselang beliau keluar dan mengatakan,
“Mau dawet,”
“IYA pak,” aku begitu lancang mengeluarkan kata itu.
“Oh, ya kalau gitu minta saja di warung sebelah sana”…sambil menunjuk warung diseberang jalan.
aku terdiam, bingung. Loh kok disuruh ngambil sendiri.
“Cepat, minta 10 bungkus,.”.
Ah, aku sangat kaget malu,….ingin rasanya mukaku tak tutup Tumbu.
“Oh, gak jadi pak, tak kira tadi “dapet” bukan “dawet”. Maksudnya pingin dapet sertifikat”.
“Ya udah, pokoknya kesana minta dawet 10 bungkus.”
Akhirnya aku keluar ruangan dan menuju kewarung kecil seberang jalan itu. Akau sangat malu sekali. Entah rasa maluku ini seperti putri malu, yang jika disentuh,….
“Rasain, makanya kalu orang bicara dengerin yang bener.”
“Gak apa-apa, “
“Kamu malu kan,”
“Iya,” hehehe.
“Mending kamu tahu malu, lihat mereka yang berada di atas. Berkata sana-sini gak jelas. Mending juga kamu dengerin. Coba lihat mereka, disana, ketika sidang malah tidur, mainan Hp, ah entah apa aja.”
“Tumben kali ini kamu bela aku”
“Gak juga, kamu sama aja seperti mereka, gak jauh beda, “ra duwe isin”
“Ah, kamu itu……sekali-kali bilang dong aku bener”.
“Gak, pokoknya aku akan mengatakan tidak jika itu salah dan mengatakan iya jika itu benar.”
Mukamu, sok-sok an. Emangnya kamu ini siapa, wong ragenah. Tak jejeli sandal lambemu mbuh. Umpatku dalam hati.
“Mending di jejali sandal mulutku, daripada dijejali berita-berita yang gak karuan.”
tapi, aku bingung kok orang ini tau isi hatiku.
“gak karuan gimana?”
“Ya gak karuan,”
“Maksudnya,”
“Gak obyektif lah,”
“Owww, gitu ya.”
Iya, Lihat saja,banyak berita yang menyudutkan pemerintah. Menyorot kebobrokan pemeritah. Meliput masalah-masalah pemerintah. Namun apa mereka juga gak melihat prestasi yang diraih pemerintah. Lihat saja, ketika nelayan kita banyak yang miskin. Kita membabi buta mencaci pemerintah untuk secepatnya mengentaskan kemiskinan. Namun, kita lupa bahwa itu semua butuh proses. Dan proses itu sedang berjalan. Kita tengok ekspor rumput laut kita yang menduduki peringkat satu dunia. Apa itu kurang. Kita itu sebenarnya sedang berada dalam proses kepada itu semua.
“Kemarin kamu mihak rakyat dan menggujat pemerintah sekarang kamu mihak kepada pemerintah?sebenarnya kamu itu gimana sih, gak punya pendirian.?”
“Owww, tidak, aku punya pendirian. Pendirianku ya ini obyektif, melihat sesuatu”.
Orang ini, selalu mengatakan yang jelek-jelek kepadaku. Selalu menggujatku, entah apakah itu karena salahku, atau salah orang lain. aku selalu menjadi pihak yang salah.
“Ya, kamu pantes kalu menjadi orang salah. Wong mukamu itu sudah seperti orang salah.”
“Ah, kamu ini bisa aja”. Lagi-lagi dia tau isi hatiku. Ingin rasanya aku pukul dia hingga tersungkur.

Minggu, 10 Juli 2011

SURAT MENYRURAT

SURAT MENYRURAT

Pagi yang dingin membuat aku tak berani beranjak dari tempat tidur. Sarung yang kukenakan untuk selimut masih menempel ditubuhku. Jam pun berbunyi. Kulihat ternyata sudah menunjukkan angka 8. Oh ya aku ada urusan. Waktu mau bangun, ia sudah berada didepanku. Setan yang tadi malam mengangguku hingga aku pusing. Ingin rasanya aku menendangnya dengan tendangan tanpa bayangan, biar melesat dari hadapanku.
“Loh, jam segini kok sudah bangun?”tanya dia.
“Iya,aku mau ada urusan dikampus”.
“Urusan apa?”
“Mau tu aja kamu.”
“Aku ikut ya.”
“Gak usah.”
Langsung aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Eh, ternyata, air nya mati. Jam segini air mati. Wah PDAM nya gimana ni. Aku harus segera kekampus. Gak cepat datang, nanti takutnya, gak selesai-selesai urusan. Akhirnya kuputuskan untuk tak mandi. Cuci muka saja harus pakai air minum. Biar gak begitu kelihatan kusemprotkan parfum keseluruh tubuh.
Aku ikut ya,
Gak usah.
Langsung aku tancap motor menuju kekampus. Melewati jalan-jalan yang penuh sesak orang. Krucuk...krucuk. perut ini mulai keroncongan. Tapi, kubiarkan karena harus segera tiba dikampus. Tak berapa lama tiba dikampus. Terlihat suasana yang sepi, sedikit lalu lalang orang. Mungkin karena ujian semester telah selesai. Para mahasiswa yang masih, kekanak-kanakan itu pastilah pulang kerumah. Akupun segera menuju akademik fakultas
Buk, apa surat magang saya sudah jadi?
Atas nama siapa mas?
Atas nama slenco.
Oww, mas slenco. Coba tak cari dulu.
Beliau kemudian membuka lembar demi lembar surat yang ia pegang. Membuka lagi beberapa kertas yang berada didepan mejanya. Terus mencari dan melihat dengan teliti nama SLENCO.
Wah, kok gak ada ya mas, kayaknya masih di atas.
Waduh, gimana to buk. Dalam hati pikirku, kalau cari jangan pakai kaca mata buk, pakai tu mikroskop biar mudah terlihat. Masak namaku gak kelihatan.
Jadinya jam berapa buk?
Wah aku gak tahu mas., coba sebntar lagi kesini. Semoga dah jadi.
Emangnya kurang apanya buk?
Cuma kurang tandatangan dari wakil dekan.
Ya, udah terimakasih buk.
Aku berjalan meninggalkan akademik. Wah, kampret dah seminggu surat masak belum jadi-jadi. Lalu jadinyakapan magang. Kini tinggal 1 minggu tingal di jogja.siapa sih wakil dekannya, kok, surat sudah seminggu gak ditandatangani.
Heh, ngapain kamu ngumpat wakil dekan?
Loh, slendro datang.
Enggak aku ngumpat dia.
Ya udah biarin aja lah. Inikan negara mereka, patutlah jika mereka bertindak sewenang-wenang. Kita kan Cuma pendatang, Cuma imigran yang mencari suaka. La wong, petinggi kita aja malsuin surat aja biasa. Masalah tandatangan itu sudah hal yang lumprah. Apalagi kita hidup di era modern. Apa sih yang gak bisa dilakukan. Tinggal sret semua jadi. Surat yang tadinya belum ditandatangani sebentar lagi juga ditandatangini.
Ya gak gitu, aku di jogja tinggal 1 minggu, masak magang Cuma 1 minggu.
Kan gak apa-apa. Yang penting dapat ilmunya.
Tapi, takutku suratmu tadi gak sampai ke wakil dekan malah terselip dan dikirim ke KPK. Mampus kamu. Kekayaanmu akan segera di audit. Kamu akan segera dipanggil KPK untuk dimintai keterangan.
Ngawur kamu. Ngapain kamu disini?.
Ngikuti kamu.
Kubiarkan manusia aneh ini membuntutiku dibelakang. Tak kuhiraukan, semenjak kejadian tadi malam , aku seolah masih marah sama dia. Orang paling aneh didunia. Aku berjalan, melihat dipapan pengumuman. Melihat sepintas beberapa pengumuman.
“Hati-hati NII mulai merambah ke kampus”. Aku kaget, terkejut, dan takut jangan-jangan orang ini, salah satu anggota NII. Dia kan sejak kemarin ngikuti aku terus. Ngomongnya nglantur, ngawur dan sok tahu. Tapi, yang aku heran lagi, ia kok gak berbicara tentang agama ya. Gak ngomongin masalah Jihad, masalah kafir, atau surga. Ia juga gak ngejak atau ngerayu aku untuk masuk NII. Wah, tapi aku harus hati-hati, bisa-bisa ini strategi awalnya ia mendekatiku. Terus kalau sudah berada dalam cengkeramannya ia masukkan doktrinnya. Wah aku harus hati-hati ini.
Setelah melihat-lihat pengumuman sebentar, aku mberjalan menuju perpus. Soalnya dari pada harus pulang lagi, nanti juga balik ngambil surat magang. Ia kulihat masih berada dibelakangku, membuntutiku. Ia kadang-kadang ngomong sendiri, dan bahkan ngajak ngobrol aku. Aku yang dari tadi gak mot sama dia, kubiarkan ia ngoceh di belakngku. Seperti burung kutilang yang ngoceh tak karuan. Memang tingakh ornag ini snagat aneh sekali. Aku sampai diperpus, kuambil koran kompa yang berada menggantung tak jauh dari ku. Kuambil tempat duduk dan kubaca berita yang ada satu-per satu. Terlihat ada berita muktamar partai persatuan pembangunan. Penasaran aku dengan judulnya, kubaca.
“Halah, Cuma politik saja, mending kamu baca lowongan kerjaan, atau kontrakan. Kan kamu belum dapet kontrakan”.
“Biarin, aku pengen baca masalah politik”.
Emangnya kamu pingin jadi seperti mereka? Ngomong didepan media. Berbicara yang manis-manis. Ngomongin masalah pertumbuhan ekonomi yang kini mencapai 6 persen. Alah omongan mereka aja, kita yang rakyat jelata masih berkutat dalam kemiskinan. Omong kosong jika pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6 persen itukan Cuma sektor lain, sektor riil kita malah semakin terpuruk. Kita sekarang malah dihadapkan oleh krisis pangan. Beras saja kita masih impor. Garam saja kita juga masih impor. Apakah kurang, lautan dinegara ini untuk dijadikan garam. Apakah lautan yang luasnya dua pet tiga dari daratan Indonesia ini kurang. Kemarin aku denger, menteri kita gerah, maslah impor ikan kembung dan bahkan ikan lele. Wah lucu ya jika didengar. Panjang pantai kita yang mencapai 83 ribu km masih kurang untuk menyuplai ikan dalam negeri. Emangnya seberapa besar sih kebutuhan orang Indonesia akan ikan.
Aku, semakin kesal saja sama orang ini. Ingin kutampar saja mukanya dan mulunya kusumbat dengan koran ini. Kubiarkan ia ngoceh di sampingku. Kubalik lagi koran didepanku, mencari bacaa yang menarik. Terlihat judul, konsumsi ikan di jogja paling rendah.
“Wah, itu apa-apaan.”
Ia, mulai kometar lagi.ingin ku pukul kepalanya denagn batu.
Masak konsumsi ikan di jogja paling rendah. Apa mereka gak tau kalau kita sering makan ikan. Emangnya yang disurvei mereka itu tempat mana saja. Jangan-jangan tmpat prostitusi sekalian jajan disana. Parah nih. Ah, ngawur juga aku, berprasangka buruk pada mereka. Maaf ya pak. Ia yang dari tadi melihatku membaca koran, kembali komentar, melihat rubrik olah raga.
Wah, brazil imbang ya lawan venezuela, kemarin argentina juga imbang lawan bolivia di ajang copa amerika. Kayaknya kini peta kekuatan sepak bola dunia sudah mulai merata. Kini negara-negara underdok mulai bangkit dari penindasaan para penguasa bola. Kita lihat saja di Asean, filipina, vietnam dan bahkan malaysia lolos kebabak berikkutnya pra olimpiade. Tapi, kenapa ya, kita masih berkutat di oraganisasi Induk PSSI. Kita masih berkutat ngurusin siapa yang bakal memimpin PSSI kedepan. Kita sibuk dengan mereka, semntara para pemain tak diurusi. Hingga timnas kekurangan dana untuk melakukan ujicoba. Apakah yang mau main itu para petinggi PSSI, apakah ia bisa main bola?. Sukur aja, kemarin timnas dapat sokongan dana dari beberapa BUMN. Apa jadinya jika tak dapat sokongan dana dari BUMN. Pasti firman utina dan kawan-kawan nganggur dirumah bercengkerama dengan kelluarga. Tapi, yang aku bingung, kenapa dana untuk timnas habis. Kenapa ya. Apa dipakai untuk penanganan itmnas junior di Uruguay, apa dipakai sewa hotel untuk konggres PSSI. Woh, iya wajarlah jika dipakai konggres, soalnya kan konggres kemarin gak jadi. Akibatnya kemungkinan pengeluaran membengkak dan dana timnas disunat untuk keperluan konggres. Lucu ya?
Wong edang ini masih saja ngoceh disampingku dengan intonasi yang aneh. Gremeng. Wong kamu lo tahu opo?
“Loh, kamu ngumpat aku to?”tanya nya
“Enggak,”
“Aku tahu semua lo masalah PSSI”.
“Emangnya seberapa dalam pengetahuanmu tentang PSSI?” Aku mulai terpancing.
PSSI itu lahir puluhan tahun yang lalu. Lahir dikota solo diprakarsai oelh pahalwan kulit bundar tanah air. Namun kini setelah berusia entah berapa puluh tahun lamanya malah semakin terpuruk saja. Kini mereka masih berkutat dalam lembah kepengurusan.
“Lo, kamu itu kalau diajak bicara ngomongnya ngawur gitu”.
Aku gak ngawur, ini kenyataan. Orang-oran yang sekrang duduk disana itu sudah berpolitik, aentah politik apa aja. Sudah banyak uang mengalir disela-sela konggres. Sudah banyak uang mengalir di wasit, dipetandingan, ah masih banyak lagi.padahal FIFA melarang ada berbagai interfensi pihak luar. FIFA menginginkan organisasi sepak bola di bawah FIFA bersikap jujur dan terlepas dari pihak manapun.

catatan 5 juli 2011