WpMag

Rabu, 02 Mei 2012

RINDU


 RINDU


Memang rasa rindu itu kadang datang tiba-tiba. Disaat kita lagi sibuk dengan rutinitas, disaat kita sedang menghadapi masalah, disaat kita sedang diam tak ada kerjaan. Ia datang tak diundang dan ia pun bisa pergi tanpa permisi. Kawan maukah kau dengar bisikanku dari sini. Cobalah dengar, cobalah rasakan. Bahwa aku merindukanmu. Aku merindukanmu kawan. Entah rindu ini sebagai suatu hubungan pertemanan atau lebih dari itu. yang pasti aku merindukanmu. Aku merindukan senyummu yang manis itu, aku merindukan guyonan yang menyegarkan itu, aku merindukan suara yang bersahaja itu, aku merindukan wajah anggun itu. aku merindukanmu kawan.
Kawan engkau sekarang sedang apa?. Apa engkau sekarang juga merasakan apa yang kurasa. Jika engkau merasakan apa yang kurasa, mari kawan kita balik lembaran-lemabaran itu. mari kawan kita buka lagi mozaik perjalanan kita. Ingatkah kawan ketika aku kenal engkau pertama kali. Sore itu senja terlihat memendarkan jingga di ujung barat sana. Sementara burung-burung mulai berkelebatan pulang kesarangnya. Namun kita masih saja asik ngobrol kesana kemari. Kita baru awal kenal kawan. Ketika itu rasa ini biasa dan aku sangat membenci engkau kawan. Aku tak tahu asalmu dari mana. Namun ketika engkau bertutur kata dengan intonasi yang menyengakkanku aku sangat marah dalam hati. Bisa-bisanya engkau mengatakan itu. jujur aku marah kawan. Raut mukaku masam padamu. Karena aku merasakan bahwa apa yang kau katakan sangat menusuk hatiku. Namun ketika senja mulai ditelan petang dan obrolan pertama kita mulai berakhir. Engkau mengatakan “maaf jika aku menyakitimu, memang aku begitu, ngomong seadanya”. Rasa kesalku padamu langsung mualai menurun satu persatu. Namun aku masih merasakan itu. aku masih menyimpannya ketika pulang setelah pertemuan yang singkat itu.
Tak lama berselang beberapa hari kemudian kita bertemu untuk membahas planning kita bersama dengan teman-teman yang lain. Aku lihat engkau kawan, aku amati wajahmu lama, aku lihat senyummu beberapa menit, aku lihat matamu beberapa detik. Aku merasakan suatu getaran yang dulu pernah aku rasakan. Aku merasakan rasa yang dulu aku miliki. Oh inilah rasa itu kawan. Terus menerus ketika kita saling ngobrol, rasa kesal, benci, beberapa hari yang lalu mulai hilang ditelan rasa kagumku padamu. Aku ingat kawan ketika aku nglucu dan engkau tertawa terkekeh-kekeh sambil menutup bibirmu yang anggun itu. aku inget kawan ketika 
engkau memegang perut ketika tak kuat menahan tawamu itu. engkau bingung ketika aku membuatmu terpingkal-pingkal. Mungkin engkau akan berkata dalam hati “ nih anak bisa-bisanya nglucu seperti itu”. tapi itulah aku kawan.
Dari sekian mozaik yang pernah kita lalui bersama. Aku ingat kawan ketika engkau memintaku menemani untuk menghadap seseorang. Aku ingat itu kawan. Aku merasakan bahwa apakah rasa ini juga engkau miliki kawan. Rasa yang begitu sacral dan menusukku secara tiba-tiba ini. ah sejenak aku buang kawan.
Kini aku tak tahu engkau dimana kawan. Engkau tak pernah muncul lagi. Mungkin engkau terlalu sibuk menjalani rutinitasmu. Hingga engkau melupakan semua itu. perjalanan yang kita lalui.  Tak apalah di pagi yang masih dingin ini aku titipkan rasa rinduku pada embun yang akan hilang itu. aku titipkan rasa rinduku pada burung yang berterbangan itu.
Salam rinduku padamu…………….

Selasa, 24 April 2012

KEBERSAMAAN


KEBERSAMAAN

Persahabatan kita seperti formasi pes-Capre yang menyusun daerah pesisir. Kadang kita terhempas gelombang pasang bersama-sama. Kadang kita tertiup  oleh angin sore. Kadang kita tertempa oleh sinar matahari. Kadang juga kita diselimuti dinginnya malam dengan penuh ketegaan. Meringis kesakitan. Menjalar tak karuan. Rasa yang entah tak dapat dikatakan dengan kata-kata.

Tapi kawan, jangan takut. Karena kita bersama. Jangan menyerah kawan kebersamaan inilah yang dapat membangkitkan kita dari hempasan gelombang pasang. Jika engkau menyerah duluan, lihatlah kawan. Tengoklah kebelakang sebentar. Tengok kawan tetang perjuangan kita. Tengok kawan tentang kebersamaan kita. Dan apa yang kita rasakan ketika bersama-sama. Apa kita lupa dengan kebersamaan itu.

Lihat kawan dibawah laut sana. Kebersamaan kita seperti ikan nemo yang berenang bersama-sama. “Schooling” kata dosen kita. Bergerak bersama, menghindari mangsa dan mencari makan. Jangan menyerah kawan. Apa yang engkau rasakan sekarang. Mari bukalah hatimu. Bukalah. Serahkan pada sahabatmu semua. Apa engkau lupa engkau tidak sendiri kawan.

Sabtu, 14 April 2012

WAKTU

Aku kadang dikejar oleh sang waktu. Namun aku kadang mengejar sang waktu. Sebenarnya apa yang salah. Dan siapa yang salah. Aku merenung, terdiam dalam bulir-bulir kesepian. Disudut ruang yang disekat waktu. Aku merenung, kenapa waktu teramat cemat. Atau aku sendiri yang membuat cepat. Aku teringat mengenai teori relatifitas Einstins. ah, terasa cepat waktu.
Aku masih diam dalam gelapnya malam. Tanpa teman, hanya dingin yang menyeruap masuk ke sendi-sendi rusukku. bersemayam dengan mesra bersama sel darahku. Oh waktu, engkau kemana, terlalu cepat engkau berjalan. Janganlah berjalan,berhentilah. Itu adalah hukum alam, waktu akan terus berjalan dan mengantarkan manusia menuju mimpi-mimpinya. Sementara aku, aku masih saja duduk diam, merenung,dan berimajinasi dengan mimpi-mimpi itu.