WpMag

Sabtu, 07 Juli 2012

REUNI BABAK 1


REUNI
BABAK 1

Sebelumnya aku sampaikan beribu maaf jika dalam tulisan ini menyinggung perasaan teman-teman semua…..salam hangat persahabatan kita :D

Kringggggg…kringggg…..kringggggg……..

Terdengar suara HP yang berbunyi nyaring. Seakan dapat memekakkan telinga siapa saja. Suaranya seperti deru kendaraan. Menderum-derum tiada henti. Kuambil dari ujung tempat tidurku. Ku buka.

“ah, aku lupa, ini kan”

Segera aku bangun dari tempatku tidur dan melihat kalender yang terpasang tepat disamping kanan pintu kamarku. Kulihat lekat-lekat hari ini. Terlihat tanggal yang tertera di kalender, 29 Februari. Oh ini kan tanggal yang kita rencanakan dulu.

Segera aku SMS satu persatu dari mereka. Apakah pada ingat hari ini. Hari yang telah direncanakan bahwa kami akan mengadakan reuni. Segara aku pun menyiapkan semuanya untuk melaju ke Jogja. Walaupun hari ini ada keperluan sedikit, namun harus aku tinggalkan karena ini adalah janji yang telah lama. Aku ingat janji adalah hutang, maka dari itu harus ditepati.

Kereta melaju dengan kencang meninggalkan kotaku yang rindang. Terus berjalan melewati belantara perumahan, pesawahan, ramainya kota dan rindangnya pegunungan. Aku telusuri sudut-sudut pandangan ini. Aku teringat beberapa tahun lalu ketika masih pertama naik kereta. Aku teringat beberapa tahun lalu ketika bertemu seorang sahabat di gerbong kereta ini. oh waktu itu terasa cepat sekali. Hingga meninggalkan kenangan-kenangan indah yang tak terlupakan.

Seorang tua duduk didepanku. Terlihat rambutnya yang mulai dipenuhi uban. Hitam putih tak jelas. Aku melihat wajah nan keriput itu. Ia terlalap tidur ditemani mimpi yang menyambutnya. Pikiranku pun melayang sekitar 5 tahun silam ketika berada dalam suatu ruang dan dimensi watu yang lain.

Disudut kelas, seorang anak manusia. Seorang terpelajar tertidur pulas dengan mimpinya. Ditengah samudra ilmu yang di ajarkan oleh seorang dosen ia malah menikmati samudra mimpinya. Menyelam entah kemana ia pergi. Meninggalkan kami yang tengah bergelut dengan logika, kaidah ilmiah, dan teori-teori yang kemudian aku kenal dengan ilmu perikanan. Aku bergelut, mereka bergelut, dan yang satu ini juga bergelut. Namun ia bergelut dengan mimpinya. Oh, apa yang kau lakukan kawan.

Ia masih tertidur pulas. Dan tak lama berselang seorang dosen yang aku tak berani menyebutkan namanya, menerangkan dengan suara agak kencang. Seakan ia dipanggil seseorang, ia pun terbangun dan mengacungkan tangannya.

“apa maksudmu dek?” tanya seorang dosen padanya

“bapak mengabsen saya kan?” jawabnya dengan wajah sedikit bingung

Pecah riuh kelas itu. semua tertawa terbahak-bahak. Mencekik ruang kelas. Terlihat mukanya memerah memendarkan darah yang mulai naik keatas. ia bingung. ia malu. Ia salah tingkah.

“bapak tidak mengabsenmu”

Terdengar derit dari lokomotif. Kereta mulai berjalan pelan diatas rel yang telah ada. Seperti perjalanan manusia diatas dunia ini. Hanya mereka yang mengikuti koridor-koridor yang benarlah yang sukses. Aku lihat diluar sana. Ratusan orang mulai memadati stasiun. Ada yang berjalan kearah utara ada juga yang berjalan kearah selatan. Ada juga yang tergesa-gesa kesana kemari. Kuamati wanita itu, ia berjalan kearah utara, tak lama berselang kembali lagi keselatan. Tas ia bawa lumayan besar. Kasihan juga kalau terus melihatnya.

Aku teringat pada sahabatku. Yang sering tergesa-gesa, yang sering bingung sendiri dan tak tahu sebabnya. Disudut kampus itu, perkuliahan sudah selesai. Kini tinggal praktikum yang harus dilakukan. Dibawah, iya dikolam bawah, sekitar 20 mahasiswa tengah sibuk bermain-main dengan ikan. Ada yang mengukur panjang dan beratnya (seperti petugas posyandu… :D). ada yang mengukur pH, DO, Alkalinitas (seperti anak kecil yang sedang bermain air yang diberi pewarna), ada yang menguras bak (seperti petugas PDAM saja). Namun ditengah kesibukan itu, seorang terpelar kebingungan lantaran HP nya hilang. Sekali lagi aku gak berani nyebutin namanya, entar ada yang tersinggung. Ia bingung bukan kepalang. Ia berjalan kesana kemari seperti setrika saja. Atau mungkin seperti orang yang sedang ngukur jalan. Kubiarkan ia, karena memang aku gak tahu.

“sudah lah, tenangkan dirimu sebentar”

“aduh, HP ilang kok disuruh tenang” sembari berjalan kesana kemari. Tak karuan

“iya tenanglah sebentar, duduk disini dulu. Terus ingat-ingat tadi kamu taruh dimana?”

Kereta pun melaju kembali meninggalkan stasiun Solo yang tengah dipadati para manusia-manusia penempuh kehidupan. Kereta terus melaju menuju Jogja. Meninggalkan perempuan yang kebingungan tadi. Dan mengingatkanku akan seorang sahabat yang sering bingung sendiri. Walaupun aku sendiri juga sering seperti itu.

Inilah manusia dengan kisahnya. Selalu memberikan inspirasi, kesan, dan pelajaran yang dapat dipetik. Manusia terus berjalan dalam lubang-lubang kegelapan ia nyalakan lilin kedamaian untuk meneranginya. Dalam kerasnya batu cobaan ia mencoba untuk memecahkannya dengan berbagai cara.

“seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer : Bumi Manusia)

NB : cerita diatas adalah fiktif belaka dan imajinasi manusia biasa. Manusia yang penuh kilaf dan salah ini mencoba untuk mengukir imajinasi dari adanya intuisi untuk sebuah hari esok yang berarti.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya

Jumat, 06 Juli 2012

MEMBANGUN MIMPI


MEMBANGUN MIMPI 


Bumi gelap dan hilang ditelan malam
Bulan datang dengan sinaar benderang
Manusia hilang dalam kedamaiaan
Namun disudut malam
Aku melihat keindahan
Manusia dengan caranya
Menghiasi malam merajut mimpi dalam kegelapan
Ditengah jutaan nyawa yang tenggelam
Aku lihat mereka…dan aku masih melihat mereka
Membangun mimpi untuk suatu asa

KEKUATAN CINTA


KEKUATAN CINTA


Sungguh cinta itu adalah suatu rahasia
Cinta adalah suatu teka-teki….
Cinta adalah suatu yang membingungkan
Kadang cinta seperti anjing yang menjilat tuannya…
Tak tahu adab tak tahu malu….
Seperti orang kehilangan ingatan….
Busuk cinta itu diluarnya namun abadi didalamnya…
Merubah yang nyata jadi tidak nyata..
Dan yang tidak nyata menjadi nyata…
Sungguh bajingan cinta itu….
Menyiksaku kedalam jerembab jurang kubangan….
Melumpuriku dengan kekuatannya….
Hingga aku terlena dan sungguh terlena…..
Mati dalam cengkeramnanya…
Hilang ditelannya…
Musnah dan hancur oleh cabikannya….
Sungguh cinta membutakan….
Melumatkanku dari sepinya keadaan….
Ramainya dunia….indahnya dunia…
Hilang berkeping-keping karenanya….
Matilah kau…dan matilah kau….cinta…..
Ah, engkau ternya masih hidup…
Abadi…
Dalam sanubari….
Yogyakarta, 28 juni 2012