WpMag

Kamis, 20 November 2014

RAKYAT… OH RAKYAT

RAKYAT… OH RAKYAT

Kini masyarakat dihadapkan pada suatu sistem ekonomi yang begitu kejam. Kenapa dikatakan kejam, karena sistem ekonomi ini yang membuat suatu jurang pemisah antara kelas atas ( bourjuis) dengan kelas bawah (proletar). Bagaimana tidak sistem ini telah menyeret masyarakat pada pilihan terberat. Menindas dan memberangus segala bentuk kearian. Meninggalkan kebudayaan dan melupakan warisan leluhur yang harus dijaga. Atas nama kemajuan dan modernisasi semua dibabat habis untuk kepentingan kelas atas.

Apa yang tersisa?. Nothing. Hanya sebuah cerita dan dongeng mengenai kehidupan masyarakat lalu. Entah besok entah lusa anak cucu kita tak dapat menikmatinya tak dapat menyaksikannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas hobbes “siapa yang kuat dialah yang berkuasa” nampaknya ini telah terjadi di Negara ini. Mereka para pemilik modal, para pembuat regulasi, para pengambil keputusan telah kong kalikong untuk membuat suatu perubahan atas nama modernisasi dan kemajuan. Mereka bermain sangat lihai dalam menindas rakyat. Pembuat regulasi yang menyusun aturan, pemerintah mengambil keputusan dan pemilik modal yang bertindak dalam penindasan. Entah sampai kapan ini semua terjadi.

Rakyat sungguh orang yang sabar. Rakyat sungguh legowo dipimpin mereka. Rakyat sungguh orang yang ikhlas dalam menghadapi mereka. Tak ada jerit tangis, walaupun dalam hati penuh caci maki. Tak ada kata menyerah meskipun terus kalah. Tak ada kata berhenti walau harga semakin melambung tinggi.

Terus berbuat, terus bekerja, terus gerak melawan setiap penindasan. Melawan dengan penerimaan, penerimaan yang ikhlas. Apakah ini warisan nenek moyang yang terus ada. Sifat ikhlas dan legowo karena dizalimi penguasa. Selama tiga setengah abad dikurung dan dijajah namun mereka terus tabah. Terus melawan dengan peneriman yang teguh. Terus berjuang melawan penindasan.

Kini penindasan bukan dari bangsa lain namun dari bangsa sendiri. Dari anak cucu sendiri. Dari satu ras satu kebudayaan sendiri. Sungguh perjuangan yang sangat berat. Musuh dalam selimut yang begitu lihai dalam siasat dan strategi perang. Sekali lagi atas nama kemajuan dan modernisasi mereka telah berada dalam tulang rusuk. Menggerogoti negeri yang makmur dan menyedot sumberdaya yang melimpah untuk kepentingang perut mereka. Seperti lintah yang menghisap darah manusia. Mereka menghisap sumberdaya alam dan mengambil alih kearifan yang ada.

Dapat kita saksikan pembangunan yang terus digenjot. Gedung-gedung pencakar langit, perkantoran, mal-mal, dan jalan yang terus diperlebar. Semua terlihat megah dan indah. Namun semua itu telah mengorbankan banyak sekali kepentingan rakyat. Sungguh banyak sekali. Pasar tradisional yang kian tersisih, kebudayaan lokal yang kian tersinggkirkan dan pola hidup masyarakat yang tak karuan. Mereka menjadi semakin konsumtif karena sebuah perubahan zaman. Mencontoh Negara maju yang telah dulu memperlihatkan kemegahan sistem ekonomi ini. Sangat disayangkan kita mengidap cara mencontoh yang kurang selektif. Memasukkan setiap yang kita lihat menjadi sebuah kebenaran yang harus dilakukan.

Kini sumua telah terjadi. Tak ada yang harus disesali dengan apa yang ada saat ini. Hanya bordoa agar diberikan kelapangan dalam penerimaan, diberi keikhlasan dalam setiap penindasan. Dan diberi kemudahan dalam setiap perjuang. Ya. Perjuangan untuk hidup dalam sebuah kesederhanaan. Untuk hidup dalam sebuah kerarifan. Tak ada ambisi, yang ada hanyalah penyelarasan dengan alam.


Mari sama-sama menengadahkan tangan dan berdoa untuk penerimaan dan keikhlasan dalam setiap jalan. 

Selasa, 18 November 2014

NAK, BBM NAIK LAGI

NAK, BBM NAIK LAGI

http://alfido.com/2014/10/19/hitung-mundur-14-hari-lagi-bbm-naik/
“Nak, ayo bangun”

“Iya Bu” sambil mengucek mata yang masih ngantuk

“BBM naik lagi” lanjut ibunya. Sementara matanya belum seratus persen terbuka. Ketika ia pelan-pelan membuka mata ibunya kembali berucap

“BBM naik lagi”

“Apa?”

Iya Nak, inilah kebijakan yang diambil pemerintah saat ini. Menaikan harga BBM ditengah harga minyak dunia yang terus menurun. Namun tak apalah Nak, kita diijinkan untuk singgah dan hidup di negeri ini saja sudah bersukur. Negeri yang “gemah ripah loh jinawi”. Apa Nak yang mau kau tanam?. Tongkat kayu nantinya akan menjadi tanaman. Apa nak yang ingin kau makan?. Semua sudah tersedia. Tinggal kitanya mau bergerak dan mencarinya atau tidak.

Nak…., sudah berapa kali BBM terus naik. Mulai masa orde baru yang hanya 700 perak sampai masa reformasi dan kini telah berada di angka 8.500 rupiah. Namun Nak, semua itu tak apa. Ini semua tak masalah bagi kita. Lebih baik ada BBM dengan harga yang mahal dari pada pasokannya tak menentu. Jika kita tengok Nak…, di seberang sana. Di pulau penghasil BBM dan tambang batu bara malah mereka sangat kesulitan mendapatkannya. Walaupun sumberdaya alamnya melimpah namun mereka tak menikmatinya. Mulai  batu bara, tambang emas, maupun minyak bumi di sana ada Nak. Namun mereka sedikit sekali merasakan keberadaan sumber daya alam mereka sendiri. Semua disalurkan kesini Nak… ke pulau yang katanya pusat pemerintahan. Apakah ini yang dinamakan pemerataan?. Apakah ini yang dinamakan menjalankan amanat undang-undang. Masihkan engkau ingat Nak. Undang-undang yang mengatakan “bumi, air dan udara dikuasai oleh Negara dan digunkan untuk kesejahteraan rakyat”. Jika masih ingat. Apakah Negara telah melakukannya Nak.

Nak…, walaupun BBM telah naik dan diketok palu oleh Pak Presiden janganlah berkecil hati. Bolehlah sekali-kali engkau menolaknya dengan turun kejalan dan mengutarakan kekecewaan. Namun kamu harus ingat nak… disana ada hak rakyat yang engkau perjuangkan. Ada kebijakan yang menurutmu tidak sesuai dengan kondisi dilapangan. Bahkan ada regulasi yang tidak berjalan dalam koridor undang-undang. Turunlah ke jalan untuk berjuang. Namun kamu harus mematuhi aturan dan tata tertib. Jangan engkau arogan dan anarkis. Seolah engkau adalah satu-satunya pembela rakyat sehingga mengesampingkan orang di sekitar. Membuat kerusuhan dan mengacaukan jalan-jalan. Membakar ban bekas dan menutup jalan. Melempari aparat dengan batu bahkan berkelahi sampai berdarah. Apakah itu yang dinamakan perjuangan Nak?. Apakah itu yang dinamakan membela rakyat Nak. Bukankan itu malah mengganggu ketertiban para pengguna jalan. Ingat Nak, setiap kali kamu keluar rumah disitu ada hak orang lain yang harus kamu hargai. Ada jalan, ada trotoar dan ada lampu merah. Itu bukan milik kita pribadi namun milik semua orang. Milik rakyat yang engkau perjuangkan nasibnya itu. Ingat Nak…..

Nak…., jika engkau tak turun kejalan tak apa-apa. Tak ada yang melarang. Walaupun engkau di cap sebagai orang apatis. Biarlah orang berkata apa, yang terpenting kita terus bergerak maju membuat sebuah perubahan. Bolehlah engkau memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai arti hidup yang sekarang ini banyak ditinggalkan. Mengenai kebudayaan, kearifan, bahkan mengenai sebuah pemahan dalam keikhlasan. Bolehlah engkau keluar dan duduk di warung membicarakan mengenai pembangunan Mal-Mal yang terus berjalan. Gedung pencakar langit yang kian menjulang atau mengenai pasar modern yang berada di sepanjang jalan. Memberikan pemahaman mengenai kebiasaan konsumtif yang tak terfilter sampai sistem ekonomi Negara ini. Entah sistem liberal, kapital, neoliberal atau mungkin sistem ekonomi berdasarkan undang-undang.

Nak…., matahari mulai tersenyum. Embun perlahan mulai turun. Bangunlah Nak. Bangun. Ayo kita hadapi kenaikan BBM ini dengan semangat baru. Mari tersenyum dan memahami setiap kebijakan pemerintah dengan pemahaman yang luas. Jangan kau sempitkan pemahamanmu Nak. Barangkali mereka para pengambil keputusan lebih mengetahui dan memahami masa depan bangsa ini. Setahun dua tahun atau bahkan lima tahun lagi yang akan terjadi di negeri ini. Mereka telah merencanakannya Nak. Biarlah mereka bekerja. Kalaupun mereka melakukan korupsi, kolusi maupun nepotisme. Biarlah Tuhan yang mengingatkan Nak. Mengingatkan dengan caraNya. Bukan kita yang menghakimi sepihak dan memfonisnya. Ada pengadilan dan ada hukum Tuhan. Sudahlah itu bukan ranah kita.

Mari berkerja.

Minggu, 09 November 2014

MEA DI DEPAN MATA

 MEA DI DEPAN MATA


Formasi menteri sudah diumumkan. Kini pemerintahan telah sepenuhnya siap untuk berjalan sebagaimana mestinya. Para pembantu presiden kini telah berada di posnya masing-masing. Berkutat dengan permasalahan yang tengah dihadapi oleh negara saat ini. Banyak pekerjaan rumah yang menumpuk untuk segera diselesaikan. Infrastruktur, perekonomian, pasar bebas dan yang berada didepan mata adalah penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Masyarakat ekonomi asean telah lama dirintis oleh Negara-negara di ASEAN. Masyarakat ekonomi asean sendiri akan dibuka pada akhir tahun 2015. Penerepan pasar bebeas untuk daerah Asean akan menjadi tantangan bagi semua pihak. Bagi para pedagang pasar, para pekerja kantoran dan pemerintah. Bagaimanapun persaingan tak dapat dielakkan karena barang dan jasa di daerah ASEAN akan dengan mudah keluar masuk kedalam Negara kita.

Nanti kita bias menjumpai produk-produk Negara tetangga beredar secara leluasa di pasar-pasar tradisional maupun modern. Akan sering kita jumpai orang-orang asing masuk dan keluar dari Indonesia. Semua tak dapat dielakkan dan harus kita hadapi dengan berani. Sudah layaknya kita harus berjalan dan terus berjalan untuk menyongsong MEA. Jika tidak mempersiapkan saat ini, maka akan berakibat fatal pasar-pasar tradisional akan dibanjiri oleh produk asing. Produsksi dalam negeri akan kalah bersaing. Jika ini terus berlanjut maka kita menjadi ladang untuk pemasaran produk negara-negara ASEAN dan menjadi konsumtif.


Maka dari itu diperlukan peningkatan daya saing produksi dalam negeri dengan cara peningkatan sumber daya manusia, penerapan teknologi modern dan ramah lingkungan. Dengan dua aspek penting tersebut kita akan dapat berkembang dan terus maju dalam menyongsong MEA tahun 2015 mendatang.