WpMag

Minggu, 07 Juni 2015

ROKOK, NASIBMU KINI

ROKOK, NASIBMU KINI

Rokok merupakan salah satu komuditas yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Rokok merupakan kebutuhan bagi mayoritas kaum pria di Indonesia. Merokok adalah hal yang lumprah di Indonesia. Di berbagai tempat, diberbagai kesempatan kita seringkali menemukan orang-orang yang tengah asik menikmati rokok. Akhir-akhir ini iklan mengenai bahaya rokok semakin digalakkan. Mulai dari desain kemasan rokok yang menyeramkan sampai dengan iklan di TV yang menakutkan. Sudah tepatkah arah kebijkan pemerintah saat ini?. Benarkah tak ada agenda besar mengenai berbagai kebijakan tersebut?.

Marilah kita berfikir jernih mengenai rokok di negeri ini. Memang harus dapat diakui bahwa berdasarkan research yang telah dilakukan oleh para ahli, rokok memiliki dampak negatif untuk kesehatan. Sebenarnya tidak hanya rokok, berbagai produk makanan pun juga memiliki dampak yang tidak baik jika dikonsumsi berlebihan. Seperti contoh, Mono sodium glutamate MSG) akan sangat berbahaya jika dikonsumsi berlebih. Tidak hanya itu, mie instan yang memiliki kandungan “zat lilin” pun jika dikonsumsi berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan. Mengapa produk makanan itu dapat dijual bebas tanpa ada peringatan di kemasannya?. Bukankah bahan-bahan pengawet dan penguat rasa yang ada di produk makanan juga berbahaya jika dikonsumsi berlebihan.

Lebih parah lagi mengenai peringatan bahaya rokok kretek dibandingkan rokok filter. Banyak yang mengatakan rokok kretek lebih berbahaya karena mengandung Nikotin dan Tar yang lebih tinggi dibanding rokok filter. Disini, marilah kita berikir jernih dan banyak mencari referensi, apakah memang semua itu benar?.

Terlalu curiga mungkin, tapi dapat dijadikan sebagai pendapat pribadi bahwasanya ada agenda khusus dibaalik ini semua. Rokok kretek adalah kekayaan Indonesia dan munkin inilah yang menjadi salah satu alasan. Jika masyarakat Indonesia banyak yang merokok kretek maka rokok filter dan “putihan” dari Negara lain akan sulit bersaing. Maka diciptakanlah suatu agenda untuk mempropagandakan bahaya rokok kretek yang lebih besar dibandingkan rokok lain.

Marilah kita berfikir jernih, bahwasanya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Merokok memang merusak kesehatan dan makan pun juga dapat merusak kesehatan jika dilakukan berlebihan. Maka, cara bijak menyikapinya adalah menyeimbangkan segala bentuk konsumsi dan selalu berfikir jernih dalam menyikapi segala hal…


Kamis, 04 Juni 2015

ULTAH SAMA

ULTAH SAMA

Bagaimana rasanya jika ada orang yang memiliki tanggal lahir sama dengan kalian?. Bagaimana rasanya jika tidak hanya tanggal lahir tapi bulan dan tahun pun juga sama. Kadang kita memandang bahwa dunia ini luas, namun kemudian kita mendekonstruksi pemikiran kita mengatakan bahwa dunia itu juga sih. Seperti yang aku alami, dalam satu unit ternyata aku dan dia sama tanggal lahir, bulan, dan tahun. Wooo, luar biasa. LPPM ternyata lucu juga sih, tanpa sengaja mempertemukan dengan seseorang yang memiliki tanggal lahir sama. Hehehe

Dia bernama Rizki, seorang teman dari jurusan teknik fisika yang ternyata memiliki tanggal lahir sama dengan ku. Awalnya aku tak tahu mengenai hal ini, bagiku ngapain mengetahui tanggal lahir ornag kayak gak ada kerjaan??? Hehehe. Ketika itu, pagi telah menjemput kami setelah semalaman  tak bisa tidur karena dinginnya udara di Dieng. Kemarin, kita belum selesai menata barang bawaan di pondokan, sehingga harus melanjutkannya di pagi hari.  Beberapa barang yang berada di ruang tamu acak-acak an kayak kapal pecah. Mungkin satu minggu dibiarkan bisa jadi sarang tikus  dan kita akan dianggap menjadi orang yang sukses melakukan breeding tikus pada waktu KKN. Konyol jika itu terjadi. Hehehe

“Yuk, bin kita beli kardus untuk tempat pakaian” Rizki mengajakku
“Ayo,” tanpa berfikir panjang
Sembari menelusuri jalanan di DIeng untuk mencari took yang menjual kardus, Rizki mengajak ngobrol. Aku pun tak kalah mengimbangi obrolannya. Tanpa disengaja ia bertanya padaku.
“Kamu lahir tanggal 9 ?
“Iya”jawabku
“Bulan januari 90?”
“Iya, emangnya ada apa?”
“Kok tanggal lahir kita sama”
“Beneran? Kok kamu tahu?”
“Ya iyalah aku buka fb mu”
Dalam batinku, kok cowok kepo cowok, opo untunge. Tapi ya sudahlah.


PANCASILA, IDEOLOGI DAN JALAN HIDUP BERBANGSA

PANCASILA, IDEOLOGI DAN JALAN HIDUP BERBANGSA

Hari ini, bangsa kita dihadapkan pada peperangan ideologi. Memang, untuk saat ini ideologi kapitalis masih dominan di negeri ini. Semua lini kehidupan tak terlepas dari peran kapitalisme dalam segala sendi. Kita kehilangan jati diri bangsa. Seiring memudarnya kesadaran mengenai ideologi yang dimiliki oleng bangsa sendiri. Kita terlalu membanggakan ideologi yang katanya sebuah simbol kemajuan zaman.

Sudah saatnya kita merunangkan mengenai Bangsa ini. Kita menyisihkan waktu sebentar untuk sedikit uzlah dari hirup pikuk dunia. Menyelami makna dan memahami setiap apa yang terjadi selama ini. Kapitalis yang notabene merupakan simbol kemajuan zaman harus di dekontruksi. Kapitalis menjadikan kita sebagai bangsa yang pesimis. Kita selalu mengangungkan peradaban barat. Kita merasa bahwa semua yang berasal dari barat baik diterapkan di Negara ini. Simbol kemajuan zaman dan peradaban. Bukankah sudah selayaknya kita merenungkan ini semua. Bukankah peradaban yang dibangun dari ideologi kapitalis telah membentuk kita menjadi manusia hedon. Kita menjadi konsumen yang tak puas dengan segala kemajuan. Selalu ingin mengejar ketertinggalan dari Negara Barat. Kita mulai kehilangan jati diri bangsa.

Marilah sejenak kita merenung. Menggali makana yang ada dan dimiliki oleh bangsa sendiri. Bukankah kejayaan Sriwijaya, Majapahit dan berbagai kerajaan di Nusantara telah menjadi bukti bahwa kita bangsa yang hebat. Sriwijaya dengan Negara maritimnya, Majapahit dengan sistem “persemakmurannya” apakah kurang menjadi bukti bahwa kita adalah bangsa yang besar. Kita dapat menggali lebih dalam mengenai jati diri bangsa dengan sejenak menyelami kehidupan masa lampau.
Bukankah Bung Karno telah merumuskan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pancasila yang telah di gali dari kearifan dan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Mengkerucutkan Pancasila, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa “Gotong Royong” lah inti dari ideologi yang dimiliki bangsa ini. Kita adalah bangsa yang besar. Kita memiliki pijakan yang kuat untuk merubah dunia. Menjadikan Pancasila sebagai pijakan dan cara hidup berbangsa. Pancasila yang merupakan kemaslahatan hidup berbangsa.


Tak ada di dunia ini yang memiliki ideologi seperti bangsa kita. Namun, saat ini Pancasila sedang tertidur lelap. Menikmati dan terlena oleh ideologi yang katanya simbol kemajuan zaman. Marilah kita bangunkan Pancasila yang sudah setengah abad ini tertidur. Membangunkan Pancasila dari dalam diri kita. Merefleksikan Pancasila untuk kehidupan berbangsa. Sehingga, harapan dari para founding father akan sebuah peradaban yang mengedepankan kesejahteraan, kebersamaan dan kemaslahatan dunia dapat tercapai.