WpMag

Kamis, 11 Juni 2015

INTROSPEKSI DIRI

INTROSPEKSI DIRI

Kita mungkin teralu bangga dengan gelar mahasiswa, dan semakin bangga lagi ketika telah menjadi seorang sarjana. Merasa jumawa dengan gelar yang telah dimiliki. Sudah pantaskah kita disebut mahasiswa, atau lebih dari itu sudah layakkah kita disebut seorang sarjana. Mengapa kadang kita ingin menceritakan banyak hal mengenai dunia kampus kepada semua orang. Memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang dilontarkan pada kita. Seolah kita telah ahli dibidangnya. Patutkah itu semua disematkan pada diri kita.

Marilah kita intropeksi diri, merenungkan apakah sudah layak diri kita disebut demikian. Setiap kali berkumpul dengan masyarakat kita menceritakan dunia kampus yang menurut kita “Wah” itu. Kita menjawab pertanyaan dengan diksi yang tinggi sehingga sulit dipahami oleh mereka. Apakah itu cermin dari seorang terpelajar?.

Teringat dengan apa yang dituliskan Pram dalam Novelnya Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Sudahkah kita berlaku adil pada diri kita. Berlaku jujur tentang diri kita. Atau mungkin kita sedang menghias topeng-topeng pencitraan biar semua manusia kagum pada kita. Apakah pantas kita melakukan itu semua.


Kita sendirilah yang tahu mengenai diri kita. Sudah saatnya kita berlaku adil dan jujur terhadap diri kita. Sudah waktunya kita membangun diri, tanpa harus menghias topeng pencitraan dengan bumbu retorika. Apa yang telah kita bangun dalam landasan keadilan dan kejujuran dalam diri, akan terpancar dan semua orang bisa merasakannya. Tak usah kita mengharapkan pujian atas apa yang kita lakukan, dengan rendah diri. Kita tak memiliki daya untuk melakukan setiap kebajikan kecuali dengan pertolongan Tuhan.

Rabu, 10 Juni 2015

MALAM


MALAM


Malam selalu menyajikan kisahnya. Malam, waktu siang telah terlewati. Malam dengan gelap dan cahaya bulan. Seringkali malam inilah yang melantunkan lagu kedamaian. Bait demi bait tersajikan untuk mengisi kesendirian. Bising kendaraan mulai lenyap, suara hewan malam berdengung dan cahaya bulan menjadi saksi akan suatu perjumpaan.

Sering kali ada cerita dibalik malam. Ada canda tawa terbit dibalik gelap malam. Menghapuskan setiap kesedihan yang datang. Menggantikan dengan suka cita dan kedamaian. Entah apakah malam, atau engkau yang datang, yang pasti selalu ada semangat baru untuk hari esok.

Engkau yang duduk disana sembari menikmati secangkir coklat panas dan aku masih asik disini menanti perbincangan. Akhirnya, obrolanpun datang. Selalu ada cara untuk memulainya. Mengenai kesibukan hari ini, sampai hal remeh temeh yang tak penting. Namun itulah yang memcairkan suasana. Setelah seharian sibuk dengan kegiatan masing-masing kita bercanda dalam ruang berbeda.

Obrolan kadang sampai dini hari dan aku tak menyadari bahwa kau telah hilang. Ditelan pagi yang telah datang. Aku masih duduk, menyaksikan bulan tengah tersenyum pada dunia. Kubiarkan mata ini untuk menyaksikannya. Tubuh ini tak memperdulikan walau waktu terus berjalan. Menikmati malam, merajut kedamaian.


Biarkanlah malam ini selau datang. Dan kutunggu engkau di sudut ruangan. Menyaksikan bulan, mendengarkan hewan malam dan menunggu obrolan itu datang.

Selasa, 09 Juni 2015

JALAN YANG AKU PILIH

JALAN YANG AKU PILIH

Kita memang jarang bertatap muka. Ah, rasanya sangat jarang sekali kita bertutur kata. Ya, memang ada sesuatu yang harus kita jaga. Ada kaidah-kaidah yang harus dijalankan. Ada aturan yang membuat kita untuk sementara tersekat. Namun, tak mengapa itu semua demi kebaikan.

Walaupun engkau tak tahu apa yang sedang kurasakan, namun aku yakin akan sebuah pilihan. Iya, memantapkan hati untuk tetap teguh dalam pendirian. Sembari memperbaiki diri untuk memantaskan jika suatu saat kita dipertemukan. Setidaknya inilah jalan yang kupilih. Terkadang jalan ini sangat menjenuhkan. Banyak rintangan maupun godaan untuk lepas dari pendirian. Namun, ada sesuatu yang membuat untuk tetap bertahan.

Engkau yang aku tak tahu apa juga memiliki rasa yang sama. Biarkanlah rasa ini ada dan bersemayam hingga suatu saat Tuhan yang akan membukakan. Aku takut jika terlalu dini untuk kunggkapkan, barangkali Tuhan tak merestui. Aku takut, Tuhan tak berkenan lantaran cara ku yang terlalu norak dan gegabah dalam mengambil keputusan. Ingin mendahului kehendak Tuhan sehingga menerobos batasan-batasan. Biarkanlahh doa-doa ini terpanjatkan untuk sebuah kebaikan. Biarkanlah diri ini untuk terus memantaskan, walaupun getir perih terus kurasakan.

Engkau yang masih mengejar mimpi. Teruslah berjuang tanpa kenal berhenti. Mimpimu pantas untuk diperjuangkan. Tak usah kau hiraukan manusia yang rendah nan kecil ini. Manusia yang terpinggirkan dan tak dianggap oleh khalayak. Aku akan berusaha meneguk setiap air kesabaran. Aku akan berusaha terus hingga aku tak tahu betapa rindu ini menenggelamkan.

Engkau yang duduk dan membaca buku untuk merampungkan studi. Engkau yang masih merangkai kata demi kata untuk mendapatkan gelar sarjana. Engkau yang terus berjalan dalam sebuah mimpi yang membentang. Jangan kau lihat diriku. Jangan kau tengok aku. Aku hanyalah debu pengganggu matamu untuk meraih mimpi. Aku hanyalah penghalang setiap jalanmu dalam merampungkan studi. Teruslah berjalan.
Pertemanan kita, biarlah begini adanya. Aku yang terus berusaha memperbaiki dan memantaskan diri engkau yang terus meraih mimpi. Kita terus berjalan walaupun dalam tempat yang berbeda. Anggaplah aku penghibur penatmu dikala rutinitas kampus melanda. Biarkanlah aku selalu melontarkan guyonan yang dapat membuat kita tertawa. Dan kita terus berjalan tanpa kenal lelah.

Semoga cara ini adalah cara terbaik yang direstui Tuhan. Biarkanlah waktu yang menjawab perjalanan kita.