WpMag

Selasa, 15 September 2015

MUSIM PANEN TEMBAKAU


MUSIM PANEN TEMBAKAU

Foto : Dokumen pribadi

Musim panen tembakau telah tiba. Para petani tembakau tengah siap menghadapi musim panen yang dimulai bulan september ini. Banyak para petani yang tengah panen tembakau. Entah dijual daun yang masih basah atau dirajang sendiri tergantung masing-masing. Biasanya para petani yang memilih menjual daun basah karena terkendala beberapa hal seperti biaya untuk pengeringan yang mahal, tenaga, serta waktu yang cukup lama.

Tembakau Kalituri adalah jenis tembakau yang biasa masyarakat tanam di daerah Kabupaten Tulungagung. Asal-usul nama tembakau Kalituri sampai saat ini simpang siur. Belum ada riset pasti mengenai asal-usul penamaan jenis tembakau Kalituri. Namun disalah satu sentral tembakau di Tulungagung terdapat sebuah kempung dengan nama Kalituri. Entah nama jenis tembakau Kalituri ada hubungannya dengan nama sentral tembakau tersebut, sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti.

Tembakau Kalituri memiliki karakter yang berbeda bila dibandingkan dengan tembakau Temanggung,paiton atau srintil.  Tembakau Kalituri memiliki daun yang lebar dan tebal. Hal ini dikarenakan pada usia dewasa (2 bulan) ujung tanaman di pangkas agar tidak tumbuh tinggi. Tujuannya distribusi makanam pada tanaman digunakan untuk melebarkan dan menebalkan daun.

Proses pemangkasan ujung tanaman ini, masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama “Munggel”. Setiap 1-2 minggu sekali antara sela daun dengan batang  terdapat tunas yang mulai tumbuh besar. Maka tahap berikutnya yaitu pembersihan tunas tersebut agar makanan yang digunakan tanaman dapat dengan maksimal dimanfaatkan untuk pelebaran dan penebalan daun. Hal ini dikarenakan tembakau adalah salah satu tanaman yang dimanfaatkan daunnya bukan batang atau bunganya.  Proses pemangkasan tunas biasanya 2-3 kali tergantung kondisi tanaman. Proses ini masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama “wiwil”.

Mendapatkan tembakau kering diperlukan waktu sekitar 5-6 hari. Setelah daun di panen, diperlukan waktu 2 hari disimpan agar tembakau matang dengan ciri warna daun menguning keemasan. Daun yang telah menguning kemuadian di hilangkan batang daunnya dan selanjutnya dilinting sebesar paha orang dewasa. Besoknya, daun yang telah dilinting tersebut dirajang halus dan selanjutnya di tata pada papan bambu (jawa : Idek). Dibutuhkan waktu 2 hari untuk mengeringkan daun tembakau yang telah dirajang.


Proses terakhir adalah pengemasan tembakau. Tembakau yang telah benar-benar kering kemudian di lipat memnetuk persegi panjang. Tumpukan tembakau yang elah dilipat tersebut kemudian diikat dengan menggunakan tali rafia. Setelah tertata rapi ikatan tembakau tersebut dimasukkan kedalam plastik. Tujuannya agar tembakau yang telahh kering dapat awet dan tidak mudah terkontaminasi baik oleh udara, hewan, maupun yang lainnya. 

Foto : Dokumen pribadi

Jumat, 11 September 2015

KEWASPADAAN DAN KESADARAN MODERN

 KEWASPADAAN DAN KESADARAN MODERN

Manusia adalah mahkluk yang unik. Ia memiliki akal yang membuatnya untuk terus berkembang. Saat kecil manusia belajar tengkurap-merangkak-berdiri sampai berjalan. Semua adalah proses alamiah yang dialami manusia. Saat usianya menginjak 6 tahun ia mulai masuk sekolah dan diajarkan cara membaca dan berhitung. Kian hari usianya bertambah dan bertambah pula apa yang dipelajarinya. Diusia belasan ia mulai mengenal mengenai rasa ke lawan jenis. Ia mulai mencari jati dirinya. Semakin dewasa ia akan mulai dihadapkan oleh lingkungan yang menyambutnya untuk menghadapi hiruk pikuk dunia.

Pada titik tertentu, manusia dewasa perlu kesadaraan modern dalam menyambut kehidupan dunia yang semakin kompleks. Belajar mawas diri apa yang tengah terjadi dengan berbagai konspirasi sistem yang telah membelenggu dunia. Sistem kapitalis telah membelenggu negara-negara dibelahan dunia. Menimbulkan effect pola hidup hedon yang kadang kita tak menyadarinya. Segala produk telah dihasilkan oleh perusahhaan multinasional bahkan internasional. Semua diiklankan di Televisi nasional. Disajikan secara apik sehingga membuat kita terperdaya.

Inilah pola hedon yang telah merasuk dalam pikiran kita. Memaksa kita tak berdaya untuk memuaskan diri. Merasa kurang dengan segala yang ada. Apa yang baru dan berasal dari negara maju diangga perlu ditiru. Perlu dibeli untuk menjaga gengsi dengan rekan kerja, tetangga bahkan orang-orang kecil sekalipun.

Pruduk kesehatan, kebugaran, kecantikan bahkan sampai alat yang menunjang kehidupan manusia terasa tak asing ditelinga kita. Semua produk tersebut hilir mudik menghiasi iklan layar kaca. Kita tak berdaya dan berfikir “kapan bisa memilikinya”. Ah rasanya terlalu bernafsu untuk memilikinya. Tapi, kondisi lingkungan dan pola fikir kita akhirnya tak berdaya juga. Mau tak mau kita membelinya. Bahkan produk yang tak penting sekalipun akhirnya kita beli.

Sementara di kota tumbuh subur baliho yang menutupi sebagian sudut kota. Dulu kota yang hijau dihiasi pepohonan kini mulai tergantikan dengan baliho yang menjulang besar. Lagi-lagi iklan produk kecantikkan, teknologi terkini sampai transportasi tidak luput dipasang disana. Akhir-akhir ini, ada beberapa pengecualian, ada beberapa orang yang wajahnya terpasang di sana. Demi mendapatkan simpati dari masyarakat mereka rela merogoh kocek puluhan juta.

Sudut-sudut kota mulai ditumbuhi restoran yang menawarkan makanan siap saji. Mereka menyajikan menu makanan untuk memenuhi kebutuhan akan hidup masyarakat kota yang kian dikejar waktu. Dicetuskannya fastfood yang akan membantu bagi masyarakat yang tak ada waktu untuk memasak dirumah. Jika dilihat dari nilai gizinya sebenarnya jauh dari kata cukup. Hanya ayam goreng dengan nasi dan sambal. Sementara asupan serat berasal dari mana?. Ah tak pantas kita mempermasalahkannya, nyatanya kita juga sering masuk dan menikmati makanan disana.

Itulah sekelumit kehidupan manusia modern dengan berbagai keindahan semu yang ditawarkan negara-negara maju. Nampaknya kita perlu menumbuhkan kesadaraan berfikir dan kedewasaan dalam mengambil sikap untuk menghadapi kehidupan modern yang terus menggerus zaman. Kewaaspadaan modern perlu ditingkatkan agar kita tak mudah terbujuk dengan rayuaan modernesitas, hidup hedons dan sistem kapitalis.



























































































































































Minggu, 06 September 2015

MENIKMATI DEBURAN OMBAK DI PANTAI CORO

MENIKMATI DEBURAN OMBAK DI PANTAI CORO


Apa jadinya jika kita mengadakan jalan-jalan dengan jumlah peserta sekitar 40an anak. Wah, pastinya super persiapan yang matang. Namun, bagi pemuda Kalituri hal itu menjadi biasa. Tak ada persiapan yang matang. Bahkan tak ada konfirmasi berapa anak yang akan ikut. Alhasil, pada hari H sekitar 40an anak kumpul untuk jalan-jalan. Memang pilihannya sudah ditentukan sebelumnya, yaitu Pantai Coro yang terletak disebelah kiri Pantai Popoh.

Bukan remaja Kalituri kalau tak mengadakan kegiatan secara dadakan dan kurang terencana. Sebelumnya dalam menyambut peringatan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia remaja Kalituri kurang persiapan. Namun jangan tanya soal hasilnya, mereka patut diacungi jempol dalam hal kegiatan. Sungguh luar biasa. Peringatan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia berjalan mulus. Jalan-jalan ke Pantai Coro sebenarnya adalah penutupan dari serangkaian kegiatan dalam memperingati 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 8 pagi setelah molor sedikit dari rencana. Melintasi aspal di daerah Gondang perjalan mengambil arah jalur berbeda untuk mempersingkat waktu. Sekitar 20an motor berjalan pelan terlihat seperti ular yang meliuk-liuk melintasi aspal yang kurang bagus.

Sekitar pukul 10 kamipun tiba di Retjo Sewu yang merupakan area parkir untuk menuju Pantai Coro. Setelah menata motor diparkiran kami melanjutkan berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Melintasi bebukitan yang membentang disepanjang pantai. Disebelah kanan terlihat samudra Hindia dengan apik memainkan ombak dipadu birunya laut. Angin semilir menerobos dedaunan jati yang mulai mengering. Sesekali daun jati maupun rantingnya jatuh menimbulkan suara khas.

Tak lama berselang kamipun tiba di Pantai Coro. Langsung mencari spot untuk duduk, namun ada juga yang menggelar tikar. Ada yang duduk dibawahh pohon jambu yang rindang. Semilir angin menambah suasana menjadi sejuk. Beberapa anak malah asik bermain air laut yang mulai surut sembari berfoto selfie. Ombak yang terus berdeburan membuat mereka sesekali lari untuk menghindar. Suara ombak asik terdengar ditelinga. Lantunan lagu yang dimainkan dengan diiringi gitar menjadikan suasana yang sedikit berbeda.

Foto : Dokumen pribadi

Menikmati deburan ombak, semilir angin, senandung lagu yang saling berirama membuat kami lupa akan waktu. Tak terasa sudah hampir 2 jam kami berada di Pantai Coro. Sebelum mengakhiri jalan-jalan di pantai Coro kali ini kamipun berfoto bersama . Dengan mengambil background pantai kamipun mengabadikan perjalanan kali ini dengan sempurna.


Foto : Dokumen pribadi