WpMag

Jumat, 03 Juni 2011

Rendahnya Konsumsi Ikan Yogyakarta

Rendahnya Konsumsi Ikan Yogyakarta


Sudah menjadi isu yang lama dan bertahun-tahun bahwasanya Yogyakarta adalah provinsi yang tingkat konsumsi ikannya terbilang rendah. Entah mengapa provinsi yang merupakan tujuan berbagai kalangan untuk menuntut ilmu ini memiliki tingkat konsumsi ikan yang rendah. Kota yang biasa disebut kota pelajar ini terdengar miris karena sebenarya dihuni oleh mereka yang memiliki pendidikan yang cukup. Bukan itu saja, letaknya yang strategis dan didukung oleh sumberdaya alam yang melimpah khususnya perikanan tak berimbang dengan konsumsi ikannya. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi???. Apakah ada faktor kuat hingga sumberdaya alam tak diimbangi dengan pemanfaatan yang baik???.
Mengutip salah satu media elektronik akhir-akhir ini, menyebutkan bahwasanya konsumsi ikan masyarakat Yogya paling rendah secara nasional. Rata-rata tiap orang hanya mengkonsumsi 9,7 kilogram (kg) per/kapita/tahun. Angka itu masih sangat jauh di bawah angka nasional yang mencapai 29,8 kg/kapita/tahun. Hasil ini rasanya membuat kita sejenak berfikir, apa yang terjadi di masyarakat. Sumberdaya alam yang melimpah di pantai selatan dan banyaknya pembudidaya ikan di daerah sleman maupun kabupaten lain kayaknya tak berdampak pada konsumsi ikan masyarakat.
Mengutip dari direktorat jenderal pemasaran dan pengolahan hasil perikanan, menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat konsumsi ikan di Indonesia, antara lain (1) kurangnya pemahaman masyarakat tentang gizi dan manfaat protein ikan bagi kesehatan dan kecerdasan; (2) rendahnya suplai ikan, khususnya ke daerah-daerah pedalaman akibat kurang lancarnya distribusi pemasaran ikan; (3) belum berkembangnya teknologi pengolahan/pengawetan ikan sebagai bentuk keanekaragaman dalam memenuhi tuntutan selera konsumen; dan (4) sarana pemasaran dan distribusi masih terbatas baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Jika melihat penjelasan diatas tampaknya point pertama bukanlah menjadikan alasan msyarakat yogya tingkat konsumsinya rendah. Hal ini mengingat letak geografis provinsi yogya yang berada di Jawa dan merupakan tempat para pelajar dari pelosok negeri menimba ilmu. Apakah mungkin tingkat pemahaman mereka tentang manfaat dan kandungan gizi pada ikan rendah???. Jika dilihat dari hasil yang didapat, bahwasanya Maluku yang letak geografisnya jauh dari pusat negara dan tingkat pendidikannya tentu saja lebih rendah dari yogya memiliki tingkat konsumsi ikan mencapai 51 kg per kapita per tahun. Jika itu dijadikan perbandingan mengapa masyarakat jogya tingkat konsumsinya rendah maka tidaklah mungkin.
Faktor kedua yang menyebutkan kurang lancarnya distribusi pemasaran kedaerah bukanlah menjadi alasan yang kuat. Hal ini mengingat sumberdaya perikanan yang ada di yogya sangat melimpah dan cukup mudah diakses. Sumberdaya yang sangat melimpah dan letaknya yang tidak jauh maka sepatutnya menjadi faktor pendukung konsumsi ikan. Infrasturturnya pun telah memadai. Di pantai selatan sudah ada pelabuhan dan juga pelelangan ikan. Di berbagai daerah juga banyak pembudidaya ikan, maka bukanlah alasan ini yang menyebabkan rendahnya tingkat konsumsi ikan rendah.
Mungkin point ketiga ini memberikan alasan yang cukup logis, bahwasanya kurang adanya pengolahan/ pengawetan sebagai keragaman produk perikanan. Secara nasional memang benar, dimana keragaman produk turunan dari ikan sangat menim, sehingga masyarakat kurang begitu minat untuk mengkonsumsinya. Sedangklan point terakhir yang menyebutkan pemasaran dan distribusi yang terbatas baik kuantitas maupun kualitasnya ini bukan alasan yang sangat mendukung rendahnya konsumsi ikan. Mengingat daerah yogya yang luas daerahnya kecil dan aksesnya yang cukup baik malah akan mendukung distribusi. Masalah kuantitas hasil produksi ikan di jogaja memang tidak begitu tinggi, hanya mengandalkan hasil dari budidaya maupun panengkapan di pantai selatan. Karena tidak mencukupi, maka pasokan ikan konsumsi dari luar daerah selalu ada. Selain itu infrastruktur yang sangat memadai akan mendukung distribusi ikan yang akan masuk ke yogya. Seperti ikan lele yang berada di pasar-pasar yogya, kebanyakan dipasok dari pembudidaya luar daerah seperti Boyolali, Tulungagung, dll. Khusus dari Boyolali pasokan ikan lele yang masuk ke yogya tiap hari diperkirakan 7 ton. Jumlah ini terbilang tinggi, belum lagi pasokan dari pembudidaya lain. Jadi ini bukanlah hal yang menjadi pendukung rendahnya tingkat konsumsi.
Kalau beberapa point diatas bukanlah yang menyebabkan rendahnya tingkat konsumsi ikan di Yogya, lalu apa yang menyebabkannya. Mungkin ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan sulit untuk dirubah yaitu kebiasaan masyarakat dan minimnya produk olahan hasil perikanan . Kebiasaan masyarakat atau yang biasa disebut budaya masyarkat menjadikan salah satu faktor penting dalam rendaahnya konsumsi ikan di yogya. Masyarakat yogya yang memiliki kebiasaan makan dengan lauk tempe atau yang berasal dari kedelai menjadikan ikan bukanlah menu yang favorit. Kebiasaan yang turun temurun ini memang bagus, karena kandunagn gizi tempe juga baik dimana memiliki protein yang tinggi. Namun jika dibandingkan dengan ikan, kandungan proteinnya atupun gizi yang lain jauh berbeda. Kita tahu ikan memiliki kandungan protein yang tinggi, selain itu Omega 3 yang sangat baik untuk membantu dalam mencerdaskan otak.
Jika memang faktor kebiasaan dan pola pikir masyarakat yogya yang menganggap ikan bukanlah makanan yang favorit lantas bagaimana mengatasinya. Ini adalah masalah pola pikir, jadi sulit untuk mengubahnya. Maka yang sangat diperlukan adalah proses perubahan pola pikir masyarakat secara berkelanjutan dan dari semua kalangan mulai orang tua, anak muda, dan bahkan anak-anak. Penyulahan tentang pentingnya manfaat ikan untuk tubuh serta kandungan gizi yang tinggi untuk kecerdasan maka harus segera dilakukan. Penyululuhan yang intensif akan pentingnya makan ikan sangat diperlukan guna merubah pola pikir masyarakat. Tak hanya itu saja dibidang pendidikan sebaiknya diberikan materi tambahan ataupun pengetahuan tentang manfaat mengkonsumsi ikan. Dengan penjelasan di berbagai forum untuk semua kalangan maka akan sangat diharapkan dapat meningkatkan minat mengkonsumsi ikan.
Berbagai penyuluhan dan penjelasan kepada masyarakat dapat dilakukan oleh dinas terkait seperti dinas perikanan. Namun alangkah baiknya jika orang-orang yang berkepentingan dan berkompeten mampu digandeng berjalan bersama untuk mewujudkan itu semua. Bisa akademisi, lembaga sosial, ataupun dinas-dinas terkait. Dengan kerjasama semua pihak maka diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat sehingga dapat meningkatkan konsumsi ikan. Selain itu bagi para akademisi seperti mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengabdian kepada masyarakat. Mereka dapat mengetahui dan peka terhadap apa yang terjadi di lingkungan. Sehingga peran mahasiswa tidak hanya menuntut ilmu di kampus dan mendapatkan nilai baik, namun jauh dari itu mereka dapat berperan aktif dalam sosial kemasyarakatan. Hal yang sangat penting, mereka juga dapat mengetahui keadaan masyarakat secara langsung, tidak hanya mendengarkan ataupun melihat dari media.
Bukan kebiasaan masyarakat saja yang harus dirubah, namun pengolahan hasil perikanan menjadi suatu produk turunan yang beragam akan sangat baik. Pengolahan hasil perikanan menjad produk baru maka akan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakata. Apa lagi jika produk yang dibuat sesuai dengan culture (kebudayaan) masyarakat yogya. Bukan tidak mungkin mereka akan sangat tertarik untuk mengkonsumsinya. Disini yang sangat diharapkan adalah peran para pemilik rumah makan ataupun produk jajan olahan memberikan variasi pruduk hasil perikanan yang menarik dan enak utnuk dikonumsi semua kalangan. Pemerintah khususnya dinas perikanan alangkah baiknya jika memberikan dorongan dan pelatihan untuk meningkatkan produktifitas dan kreativitas para produsen untuk mengembangkan hasil olahan ikan. Dengan begitu maka akan didapatkan output yang baik dari semua pihak.
Kini yang terpenting dinas perikanan sebagai induk yang memiliki kewenangan dan bertanggung jawab penuh dapat mengkoordinasikan semua pihak. Sehingga apa yang tengah terjadi di masyarakat dapat segera terselesaikan.

Peran Mahasiswa dengan Pemerintah dalam Pembangunan Daerah Bencana

Peran Mahasiswa dengan Pemerintah dalam Pembangunan Daerah Bencana

Benar sekali kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Mungki peribahasa itu tepat dengan yang kini tengah dihadapi oleh para saudara kita di negeri ini. Kini kita telah memasuki tahun 2011, tahun dimana kita dihadapkan oleh berbagai macam pekerjaan rumah. Di tahun kemarin, banyak sekali musibah menimpa negeri ini. Air bah yang meluluh lantahkan Wasior, tsunami di Mentawai, dan yang masih hangat meletusnya kembali gunung Merapi. Banyak korban berjatuhan, mulai anak-anak, orang dewasa, sampai lansia, serta ternak-ternak mereka.
Bencana yang menimpa negeri ini telah banyak menelan korban. Di wasior air bah telah meluluh lantahkan daerah tersebut dengan menelan banyak korban. Selain banyak korban, banyak juga bangunan dan fasilitas umum yang rusak, akibatnya kegiatan masyarakat berhenti total. Wasior belum berakhir, datang bencana yang hampir bersamaan yaitu tsunami di Mentawai dan meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta. Tsunami setinggi 3 meter menyapu Kepulauan Mentawai pada Senin 25 oktober 2010. Korbanya pun tak sedikit, 108 orang di kabarkan tewas dan 502 orang dinyatakan hilang. Terakhir yang paling hangat adalah meletusnya kembali gunung Merapi. Setelah 2006 meletus dengan menelan puluhan korban, di tahun 2010 Merapi kembali meletus. Korbannya pun tak sedikit sekitar 80 orang meninggal dan banyak yang luka-luka akibat diterjang awan panas.
Banyak orang kini kehilangan sanak keluarganya, kehilangan harta benda juga rumah mereka. Kini mereka berada dalam kehidupan yang memprihatinkan, dengan memanfaatkan bentuan dari pemerintah dan para dermawan di negeri ini. Tak hayal perekonomian di daerah bencana pun menjadi terganggu. Rusaknya berbagai sumberdaya alam dan fasilitas umum mengakibatkan kebutuhan mereka sulit untuk terpenuhi. Disamping itu akses untuk menuju daerah bencana yang sulit dijangkau disebabkan medannya yang tidak mendukung. Seperti daerah Mentawi, pemerintah sulit menjangkau karena selain medannya yang berat juga cuaca yang tidak mendukung pada saat itu.
Perekonomian yang semrawut dan terganggu oleh bencana mengakibatkan harga kebutuhan pokok didaerah bencana menjadi melonjak tajam. Hal ini bisa dikarenakan banyaknya lahan yang gagal panen, serta sulitnya daerah bencana tersebut untuk diakses. Sehingga barang-barang dari luar daerah tidak dapat masuk dan kebutuhan akan barang tersebut menjadi meningkat. Tak hayal harganya pun menjadi melonjak tajam bahkan bisa sampai dua kali lipat harga semula.
Peran Pemerintah
Pembangunan kembali daerah yang terkena bencana merupakan suatu kewajiban bagi suatu negara, guna mengembalikan roda perekonomian di daerah bencana. Negara diharapkan mampu dalam mewujudkan Pembangunan infrastruktur, perekonomian, serta mental mereka. Pembangunan infrastruktur ini diharapkan akan dapat mempercepat pembangunan perekonomian. Hubungan ini sangat jelas, ketika suatu daerah dengan infrastruktur yang memadai, maka perekonomian akan menjadi meningkat. Karena hal ini akan memberikan kepercayaan bagi investor dalam berinfestasi. Kita tengok saja didaerah dengan infrastruktur yang memadai, seperti Jakarta, Surabaya, Medan menunjukkan perekonomian mereka cukup baik. Upah minimum buruh di daerah-daerah maju cukup tinggi. Walaupun masih ada rakyat di daerah maju kini bergulat dalam lumpur kemiskinan. Peningkatan perekonomian dalam suatu daerah menunjukkan bahwa daerah tersebut telah berkembang dengan baik.
Pembangunan infrastruktur dan perekonomian tidak cukup untuk membangun suatu masyarakat korban bencana. Kini yang terpenting adalah pembangunan mental kepercayaan diri masyarakat yang terkena bencana. Tak dipungkiri lagi jika bencana ini menyisakan banyak kesedihan bagi mereka yang ditinggal orang-orang terdekat. Harta benda mereka hilang, rumah tak ada, inilah yang mengakibatkan mereka mulai mengalami krisis kepercayaan diri. Mereka mulai putus asa, karena tak punya apa-apa. Kini bagaimana kita dapat membangun mental mereka sehingga mampu bangkit dari keterpurukan akibat bencana ini. Pemerintah harus tanggap dengan itu semua.
Peran lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam membangun peekonomian daerah bencana adalah dengan memberikan modal tanpa bunga. Hal ini akan sangat membantu untuk memulai usaha mereka yang hancur. Disamping itu pemerintah dapat merealisasikan program peningkatan wirausahawan, dimana pelaku wiraswasta dinegeri ini cukup kecil. Peningkatan pelaku usaha ditingkat daerah diharapkan mampu mendongkrak perekonomian daerah tersebut. Pemberian pinjaman ini akan sia-sia ketika pemerintah tidak memberikan pendampingan dan pengawasam dalam setiap usaha yang masyarakat bangun. Pendampingan dan pengawasan ini akan dapat mengontrol dan meluruskan suatu masalah yang tengah dihadapi masyarakat dalam memulai usahanya. Seperti korban erupsi merapi, pemerintah diharapkan dapat memberikan modal tanpa bunga untuk memulai usaha mereka. Mayorita spenduduka daerah lereng merapi yang bermata pencaharian sebagi petani , seharusnya pemerintah mengucurkan dana untuk memulai pertanian mereka. Selain itu pemerintah juga harus memberikan pengawasan dan pendampingan sehingga kegiatan pertanian yang sebelumnya macet dapat berjalan kembali.
Peran Mahasiswa
Sebagai seorang mahasiswa kita sedapat mungkin menuangkan ide kreatif, inovatif untuk membangun daerah-daerah yang terkena bencana. Sumua itu merupakan keharusan dan wujudkan peran serta mahasiswa untuk membantu saudara kita yang menjadi korban bencana. Kewajiban ini telah tertulis dalam undang-undang pendidikan nasional No. 23 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengedalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari undang-undang tersebut kita dapat memaknai bahwasanya tujuan pendidikan agar peserta didik dapat memberikan manfaat dalam suatu masyarakat. Ditengah masyarakat yang kini mengalami musibah kita harus dapat memberikan sumbangsih kita sesuai bidang yang kita dalami di perguruan tinggi.
Menurut Ridarmin S.Kom, M.Kom, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu sebagai penyampai kebenaran (agent of social control), sebagai agen perubahan (agent of change), dan sebagai generasi penerus masa depan (iron stock). Mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan kebenaran-benaran ketika kejahatan dan kebohongan merajalela. Kebohongan para pejabat pemerintah harus dapat dibongkar dan menunjukkan kebenaran yang sejatinya.
Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agent of change, dimana dapat memberikan perubahan bagi bangsa ini. Tak sekedar demonstrasi, turun kejalan, meneriakkan kebenaran, namun kini yang terpenting mampu memberikan kontribusi yang nyata ketika saudara setanah air mendapatkan musibah. Memang perlu demonstrasi untuk menggugat pemerintah, menagih janji-janji madunya kepada rakyat, namun banyak di sudut negeri ini saudara kita yang membutuhkan bantuan. Perubahan yang mampu mengantarkan mereka bangkit dari kerterpurukan akibat bencana.
Sebagai generasi penerus masa depan mahasiswa diharapkan mampu mewujudkan cita-cita bangsa dan meneruskan perjuangan para pahlawan. Salah satu cita-cita bangsa ini adalah menjadi bangsa yang makmur bebas dari segala bentuk penjajahan. Ditengah bencana yang melanda negeri ini mahasiswa diharapkan mampu peran aktif dalam pembangunan kembali daerah yang terkena bencana. Pembangunan ini dapat disesuaikan dengan bidang masing-masing
Bantuan secara materil sangat diperlukan namun harus dibarengi dengan bantuan imateril. Bantuan materil ini akan meringankan beban hidup para korban benca dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun dilain pihak bantuan materil yang terus-menerus malah berdampak buruk bagi masyarakat itu sendiri. Rakyat menjadi manja dan tidak mau berbuat untuk kembali membangun perekonomian mereka karena sudah dicukupi oleh negara. Bantuan imateril dapat berupa pendidikan bagi saudara kita, yang mungkin mereka tidak dapat mengakses pendidikan karena rusaknya fasilitas umum. Pendampingan dalam menghadapi musibah ini sangat perlu dilakukan oleh mahasiswa guna memberikan suport bagi mereka.
Peran Pemerintah dan Mahasiswa
Sebenarnya akibat bencana dapat diselesaikan secara cepat deengan menggabungkan peran pemeirntah dengan mahasiswa. Pemerintah berperan dalam penyediaan fasilitas sesuai keperluan yang akan direncanakan sedangkan mahasiswa dapat menuangkan ide kreatif, inovatif sesuai bidangnya.
Peran pemerintah dengan mhasiswa dalam menganani daerah bencana dapat berjalan sinergi. Pemerintah diharapkan memberikan fasilitas dalam pembangunan daerah bencana. Pemberian fasilitas ini bisa berupa pendanaan dalam membangun daerah bencana. Mahasiswa dapat berperan dengan memberikan konsep pembangunan sesuai dengan ilmu yang didapatkannya di perguruan tinggi. Konsep-konsep ini akan dapat memudahkan pemerintah dalam membangun daerah bencana.
Khusunya untuk bidang perikanan mahasiwa dapat memberikan gambaran bagaimana pembangunan sentral perikanan di daerah bencana dengan memanfaatkan lahan yang tersedia. Sedangkan pemerintah dan mahasiswa turun tangan langsung di lapangan sehingga apa yang kita harapkan dapat segera terwujud dan bukan sebuah angan-angan di kepala belaka.

Kamis, 02 Juni 2011

Di Akhir Penantian Ini

Aku tetap duduk disini, termenung menunggu dia. Sudah hampir 3 jam aku tak beranjak dari sini, tempat duduk yang menemaniku setiap hari menunggu kedatangnnya. Sudah dua tahun dia meninggalkanku, tanpa alasan yang jelas, dan tanpa sebab yang pasti. Aku tetap disini, menunggu dia datang, dia pulang dan akan aku berikan sejuta senyuman jika dia telah datang. Kini aku merasa kesepian sejak dia pergi meninggalkanku sendiri. Kini dirumah aku hanya sendiri dan tak ada yang menemani. Hanya kicaun burung yang terdengar di pagi hari. Lalu lalang kendaraan yang melintas depan rumah mendambah ramai suasana setiap hari.
Entah kenapa dia pergi meninggalkanku, hingga aku berada disini sendiri. Hanya sedikit kata yang kuingat keluar dari bibir manisnya ketika akan meninggalkanku sendiri.”Cinta butuh materi ‘mas’, dan aku tidak dapat hidup hanya dengan cintamu saja. Karena nanti aku akan mati ditelan rasa cinta yang kau berikan”. Aku mencoba memikirkan kata-kata yang diucapkannya itu. Apakah memang uang pensiuanan ini tidak cukup untuk bertahan hidup dengannya?, atau memang dia malu kini aku sakit-sakitan?. Atau mungkin juga aku tak dapat memberikan keturunan kepadanya???. Mungkin aku tak dapat memberikan yang terbaik baginya, hanya dapat memberikan cinta ini. Ketika penyakit ini mulai menggerogoti tubuhku, memang aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya dapat berjalan disekitar rumah dengan bantuan tongkat. Untuk keluar rumah dan bertemu teman-teman saja aku harus dibantu olehnya, yang kini telah pergi entah kemana. Sehingga kini aku tak dapat bekerja seperti biasa. Kini aku hanya mengandalakan uang pensiunan untuk dapat hidup. Sudah 3 tahun aku pensiun, bukannya aku sudah waktunya pensiun, namun penyakit inilah yang mengantarkanku untuk pensiun dini.
Waktu terus berjalan, berlarian seolah tak mau ketinggalan. Detik demi detik, menit demi menit turus berlarian saling silih berganti. Terasa cepat hidup ini untuk dijalani. Kemarin rasanya aku bersamanya duduk disini, diteras dengan ditemani secangkir teh untuk menikmati sore hari. Ya, kemarin aku duduk bersamanya dengan obrolan dan canda tawa. Bercerita tentang masa muda, tentang waktu pertama kali kenalan dan bahkan bercerita tentang masa depan.
Ketika kita pertama kali kenal pada waktu duduk kelas 2 SMA. Kami sering ngobrol bareng, ngerjain PR, dan bahkan pernah bolos bareng. Sering bertemu di sekolah membuat kita lebih akrab dan mengantarkanku untuk menjalin ikatan seperti anak muda biasanya, yaitu pacaran. Perjalan cinta ini terus berlanjut, hingga di bangku kuliah dan bahkan sampai pelaminan. Rasa cinta yang lahir dan tumbuh bertahun-tahun tak menjamin hubungan kita lebih harmonis, malah kini hancur berantakan. Tak ada yang tersisa, hanya rasa cintaku padanya yang masih ada, dan tetap untuk menunggunya. Apakah dia juga merasakan, atau mungkin dia sudah menghapus dan membuang rasa cinta di hatinya.
Aku juga teringat ketika kita masih pacaran dulu, dalam komunikasi kita sering memakai surat, sehingga terlihat romantis. Ketika kita belum jadian, aku sering mengirim surat padanya yang berisi kata-kata indah dan beberapa puisi. Ternyata surat yang aku berikan dulu, masih tersimpan dengan baik hingga kita menjalin hubungan suami istri. Kadang aku merasa malu, membaca surat-surat yang aku tulis dulu, karena isinya lucu, dan bahkan bisa membuat aku ketawa lagi. Kini surat-surat itu masih tersimpan dengan baik sebagai kenang-kenangan perjalanan hidup kami. Dan kini hanya beberapa surat inilah yang menemaniku dan menghiburku akan kerinduanku padanya, yang kini telah tiada entah dimana.
Suara adzan membangunkanku dari lamunan panjang sore ini, namun dia belum pula datang. Aku menengok ke kanan dan kekiri barang kali di terliahat. Namun tak kulihat dia, hanya lalu lalang kendaraan yang aku temukan. Sesekali terlihat orang yangberjalan, namun bukan dia, hanya orang yang numpang lewat ataupun yang maumelaksanakan solat maghrib di masjid. Aku mencoba untuk menghirup udara panjang, sedikit ku menyimpan tenaga untuk berdiri. Aku mulai beranjak dan berjalan tertatih-tatih masuk kerumah untuk persiapan sholat. Rasa sakit terus menggerogoti tubuh ini, hingga terasa kaki ini sulit untuk digerakkan. Terus terasa hingga aku mulai tak tahan. Rasanya mungkin kaki ini seperti lepas dari tubuh. Basuhan air wudhu mendinginkan kepala yang berjam-jam melamun di tengah kesunyian. Kepala ini mulai terasa segar dan aku mulai memiliki kekuatan baru. Namun itu hanya sekedar membiusku sebentar. Rasa sakit di kaki ini tak dapat lagi dibohongi. Aku terus berjalan menyusuri ruangan rumah kecil ini. Terlihat foto pernikahanku dengannya didinding menempel lekat seolah tak mau lepas. Terlihat senyum merah yang keluar dari bibirnya merekah bak mawar. Ini adalah foto yang sangat aku sukai dan foto ini merupakan saksi bisu ikatan cinta yang suci. Namun ikatan cinta itu kini telah putus ditelan sang waktu yang sangat kejam.
Aku lepaskan semua urusan dunia,sejenak aku bersimpuh di hadapan Tuhan. Rasa sakit, kesepian, dan bahkan rasa rinduku dengannya aku tinggalkan dijejak-jejak kaki dunia. Aku mencoba merangkai dan berjalan ditempat yang berbeda. Tempatnya para penempuh jalan kedamaian. Terus berjalan dengan secercah harapan. Dengan lantunan ayat Al Qur’an mengantarkanku dialog dengan Tuhan. Keluh kesah hidup akan aku utarakan dalam munajat pada Tuhan malam ini. Ingin rasanya aku melupakan segala kejadian dan waktu yang telah diberikan oleh Tuhan. Ingin rasanya aku kembali seperti masa-masa kecil dimana hidup tanpa ada beban dan tanggung jawab. Sembari itu aku mencoba bermunajat dihadapan Allah
Tuhan mungkin hambamu ini terasa lancang dalam meminta, doa adalah perintah dari Engkau, maka aku beranikan diri untuk melakukannya
Tuhan, jikalau takdir ini memang terbaik untuk ku , maka kuatkanlah hatiku untuk menjalaninya
Tuhan jika memang dia takkan kembali lagi kehadapanku, maka gantikan yang terbaik darinya
Tuhan tetapkanlah istiqomah hambamu dalam jalan kebenaran
Amin
Sejenak aku duduk diatas sajadah yang mulai kusam ini. Menahan Rasa sakit yang turus datang dan semakin kuat, entah berapa berat rasa ini. Sepertinya kaki ini tak kuat untuk menahannya. Jantung terasa berdetak lebih kencang. Darah mengalir dengan sedikit oksigen yang dapat kuambil dari udara. Penyakit kambuhan ini mulai datang dengan sambutan yang menyesakkan dada. Terlalu banyak pikiran atau mungkin sudah waktunya untuk merasakan ini semua. Jantung bergerak semakin cepat, lebih cepat dari gerak detikan jam dinding.
Assalamualaikum, terdengar salam ditelinga ini. Namun tubuh yang mulai kaku ini tak kuasa untuk berdiri. Jantung berdetak lebih kencang, bibir mulai tak dapat digerakkan. Assamualaikum, sepertinya suara itu tak asing ditelingaku. Memoriku membaca suara siapa itu, dan dengan rasa sakit yang terus memuncak, aku tak dapat mengingatnya siapakah gerangan yang mengucapkan salam??. Salam kembali terdengar dengan nada yang agak pelan, aku mencoba untuk diam dan mengingat suara yang datang. Kayaknya ini suara yang pernah aku dengar di alam mimpi, entah kapan aku sudah lupa. Namun bibir tak dapat lagi berucap, mulut terasa terkunci rapat. Jawaban salam hanya dapat terucap dihatiku. Tubuhku mulai melemah, jantung ini mulai berdetak lebih pelan, alunan dzikir melantun di hati untuk selalu mengingat Illahi.
Mata mulai berkunang-kunang, rasa ngantuk, atau rasa sakit tak dapat dibedakan. Kalimat salam pun masih terdengar kembali, Assalamualaikum??.. ingin rasanya aku menjawab dengan suara yang kencang, agar dia tahu aku ada dirumah. Namun mulutku sudah tak dapat digerakkan, hanya getaran kecil yang terus datang dibibir ini. Kalimat salam terus melayang ditelinga namun lebih kecil lagi. Mata mulai terpejam dan disertai jantung yang berhenti. Aku tak merasakan apa-apa, hanya dapat menjawab salam di alam mimpi ini.
Rasanya sangat berbeda tak seperti biasanya
Terus melayang dalam dimensi yang lain
Aku hanya merasakan suasana yang berbeda
Oh Tuhan, aku datang kehadapaMu………..