WpMag

Selasa, 27 Maret 2012

KERAMAHAN MASYARAKAT LERENG MERAPI


KERAMAHAN MASYARAKAT LERENG MERAPI
13322338541534246873
foto pribadi: tempat aliran lahar dingin
Hampir setahun lalu pasca erupsi gunung merapi aku dan beberapa teman yang tergabung dalam keluarga mahasiswa ilmu perikanan (KMIP) UGM menyambangi lokasi daerah bencana tersebut. Kami kesana dalam rangka ikut serta dalam melakukan rehabilitasi pasca merapi. Bekerja sama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) yang memiliki program untuk rehabilitasi pasca bencana merapi. Program tersebut adalah pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya ikan khususnya ikan lele. Hal ini merujuk pada tingkat kebutuhan ikan  lele di Yogya yang sangat tinggi dan suplay ikan lele yang belum mampu dicukupi oleh pasar local. Maka dari itu program dinas kelautan dan perikanan (DKP) tersebut cukup tepat.
Kegiatan ini berbentuk pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat dalam budidaya lele yang baik dan bertanggung jawab. Kami bersama DKP serta masyarakat bergotong royong dalam membangun beberapa kolam di daerah lereng merapi yang baru di sapu oleh lahar dingin. Yang membuatku terkesan dalam kegiatan tersebut adalah sikap dan keramahan masyarakat dalam menyambut kami. Mereka sangat antusias dengan adanya kegiatan ini, terbukti dalam setiap rangkaian kegiatan mayarakat banyak yang datang dan ikut serta. Tidak hanya itu, masyarakat sangat terbuka menyambut kami. Seakan tidak ada batas atau sekat diantara kami. Walaupun kami kenal hanya sebentar, namun sangat terkesan.
Siang itu ketika kami dan masyarakat membuat kolam bersama-sama suasana sangat menyenangkan. Semua gotong royong dalam setiap kegiatan. Seperti mencangkul tanah, mengisi pasir kekarung dan bahkan memasang kolam terpal. Tak ada kata lelah dan sedih karena bencana merapi. Mereka seakan melupakan bencana merapi yang tempo hari meluluh lantahkan desa mereka. Yang ada hanya semangat yang membara untuk bangkit dari semua ini. Tak penting teurs menerus meratapi nasib yang menimpa kita.
Aku teringat ketika kami akan melakukan pengamatan data kualitas air di beberapa kolam tersebut. Tujuan dari pengamatan kualitas air khususnya suhu adalah untuk mengetahui fluktuasi suhu pada kolam dalam setiap waktu. Karena pengukuran tersebut harus dilakukan setiap jam, maka kami memutuskan untuk menginap disalah satu rumah warga. Lagi-lagi bagaiman keramahan mayrakat ditunjukan dengan sikap dan cara menghormati tamu. Kami diberikan tempat yang cukup nyaman dan makanan serta snack yang lebih dari cukup. Aku melihat inilah sebenarnya mereka dengan keramahannya. Inilah mereka dengan keaarifan lokalnya. Dan inilah mereka dengan budayanya.
Hikamah dan pelajaran yang dapat kami ambil adalah bahwasanya bencana yang datang bukanlah sesuatu yang bisa meruntuhkan segalanya. Tergantung bagaimana menyikapinya. Melihat masyarakat lereng merapi menyikapi bencana dengan tidak terus menerus meratapi hal tersbut menjadi bukti bagaiman kerja keras dapat merubah segalanya. Serta keramahan dan kearifan masyarakat merapi merupakan suatu identitas tersendiri yang dimilikinya.
foto: disela-sela pengukuran suhu perairan kolam
13322339651773149112

catatan jejak-jejak perjalanan hidup yang mulai hilang dan terlupakan


catatan jejak-jejak perjalanan hidup yang mulai hilang dan terlupakan

Terasa sungguh terasa, waktu terasa sangat cepat. Hingga aku, kau, kita telah digilas sang waktu. Meninggalkan semuanya. Melenyapkan perjalanan yang pernah ada. Harapan (asa) yang pernah kita bangun. Iya kita bangun dalam jalinan persahabatan. Semua itu, dan itu semua menjadi sebuah perjalanan yang (mungkin) kita kenang. Itulah hidup, itulah waktu, itulah masa yang tak dapat diputar lagi barang sedetik pun.
Jika aku diberikan suatu kewenangan, ingin aku putar waktu itu. ingin aku putar waktu itu, mengenang persahabatan kita. Ingin aku kembali pada masa-masa ketika kita masih labil menjadi mahasiswa. Ketika kita baru pertama kali masuk kuliah. Ketika kita belum kenal satu sama lain. Waktu terus berjalan, dan persahabatan mulai terbangun. Ingat ketika kita belajar memahami satu sama lain. Dan semua berjalan mengalir begitu saja.
Tibalah ketika kita dihadapkan pada suatu masa yang membuat persahabatn kita semakin erat. Aku rasa bukan sahabat lagi. Aku merasa itu adalah jalinan keluarga. Dan aku merenung, mengenai itu. aku temukan bahwa yang mampu membuat kita semakin erat adalah praktikum. Ingatkah kawan bagaimana ketika kita menjalani rutinitas praktikum. Namun dalam setiap jalinan pastilah ada riak yang kadang mengusiknya. Namun itulah yang menjadikan kita semakin erat.
“Sudah…sudah…lupakan semua itu, karena waktu tak kan kembali. Apa gunanya mengingat itu semua. Hanya membuang waktu…..sudah tinggalkan itu semua, hanya memuat engkau tulul amal….”
“ah kenapa sih kau ini, datang tak diundang mengusik kenikmatan lamunanku”
“apa gunanya kau mengingat itu semua, apa akan kembali waktu itu”
“tidak”
Seketika aku terbangun dari lamuananku. Ternyata suara itu aku tak tahu datangnya. Tak ada jejak-jejaknya. Aku bingung sebenarnya suara dari mana itu semua.
Dari mana engkau datang
Aku tak tahu
Kemana engkau menghilang
Aku tak tahu
Kemana gerangan pergi
Aku tak tahu
Aku diam…diam…diam….dan diam….
Hilang…hilang…hilang…dan hilang….
catatan jejak-jejak perjalanan hidup yang mulai hilang dan terlupakan

Jumat, 23 Maret 2012

BELAJAR DARI TUKANG BECAK DI NEW YORK DAN YOGYAKARTA

BELAJAR DARI TUKANG BECAK DI NEW YORK DAN YOGYAKARTA 



Menarik ketika melihat salah satu tulisan yang aku temukan di website VOA yangberjudul“Kisah Seorang Penarik Becak di Kota New York”. Ini link berita tersebut : http://www.voanews.com/indonesian/news/Kisah-Seorang-Penarik-Becak-di-Kota-New-York-143601636.html. Dijelaskan dalam tulisan tersebut bahwa ada seorang penarik becak bernama Frankie Legarreta. Seorang penarik becak yang semula bekerja sebagai pegawai kantor. Ternyata rutinitas pegawai kantor menjadikan ia jenuh dan melarikan kejenuhannya kepada pekerjaan menarik becak. Sebenarnya apa sih yang menarik. Dalam hatiku, inilah yang menarik dimana dinegeri kita (Indonesia) ini sangat bertolak belakang.  Biasanya seseorang mendambakan untuk bekerja sebagai pegawai kantor dan tidak ingin menjadi tukang becak. Tukang becak di Indonesia dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Tukang becak merupakan pekerjaan terakhir dimana ketika tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan. Pekerjaan menjadi tukang becak dijajarkan sebagai pekerjaan orang-orang rendah, terpinggirkan dan jauh dari pendapatan ekonomi yang layak. Bekerja sebagai tukang becak di Indonesia hanya dihargai sangat rendah. Penghasilan mereka tak lebih dari untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

Terdapat sisi lain yang menarik antara tukang becak di New York dibandingkan dengan tukang becak di Indonesia. Kalau di New York tukang becak diperuntukkan untuk mengantaskan para wisatawan menikmati kota New York. Sedangkan di Indonesia tukang becak cenderung sebagai penjual jasa untuk mengantarkan seseorang bukan wisatawan. Selain itu, dari tulisan tersebut tukang becak di New York memiliki pengetahuan lebih. Mereka menguasai dan memahami setiap tempat wisata didaerah New York. Sehingga tukang becak disana tak ubahnya seperti guide para wisatawan. Sangat berbeda dengan di Indonesia, tukang becak biasanya cenderung memiliki pengetahuan minim.

Namun, ada sisi lain tukang Becak di negeri kita ini. salah satunya adalah tukang becak di Tanah wisata yaitu Yogyakarta. Disini terdapat seorang tukang becak yang cukup menarik dan nyentrik. Ia adalah kang Harry, seorang tukang becak yang biasanya mangkal di kampung turis Prawirotaman Kota Yogya. Apa yang membuat kang Harry menarik perhatian banyak orang dan bahkan saya sendiri. Karena kang Harry salah satu tukang becak yang telah “melek” teknologi.  Tidak hanya melek teknologi, Alumnus SMA De Brito Yogya tahun 88 ini, fasih bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Melalui pertemanan jejaring sosial di internet, seperti facebook, twitter, Flixster atau Tagged, ini mendapatkan langganan wisatawan asing.

Seandanya tukang becak di negeri ini seperti Frankie Legarreta dan kang Harry mungkin pekerjaan menarik becak tidak dipandang sebelah mata. Tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang rendah. Menarik becak menjadi salah satu mata pencaharian yang menguntungkan.  Maka dari itu, saya berpendapat sebaiknya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan tukang becak. Terdapat beberapa pemikiran saya mengenai tukang becak di Indonesia.

Pertama, sebaiknya pemerintah melakukan pendataan para tukang becak. Dengan pendataan maka dapat diketahui berapa orang yang menggantungkan pekerjaannya sebagia tukang becak. Kedua, pemerintah melakukan pembinaan dan pendampingan dalam meningkatkan sumberdaya manusia (SDM). Sehingga para tukang becak dapat “melek” teknologi dan dapat berkembang. Seperti di kota Yogyakarta yang merupakan kota wisata, para tukang becak sangat penting. Maka dari itu, peningkatan sumberdaya manusia berupa pengenalan teknologi dan kemampuan berbahasa asing sangat diperlukan. Dengan begitu maka tukang becak tidak hanya sebagai penyedia jasa namun juga dapat berperan sebagai guide wisatawan.

Semoga saja tukang becak di negeri ini tidak hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dan harapan saya, para tukang becak dapat berkembang dan kehidupannya sejahtera dengan adanya peningkatan sumbedaya manusia (SDM).