WpMag

Selasa, 29 April 2014

ADA

ADA

Aku berdiri di ujung  perbatasan…
Selangkah, dua langkah telah berada pada dimensi lain…..
 Tiga langkah aku telah hiilang dan tak tersisa lagi…
Aku telah hadir kembali….
Dalam tautan waktu berbeda…
Dalam negeri lain…
Seperti pengembara…
Tak pernah diam…
Diam telah menjadi kawan selama berabad-abad….
Dalam suatu ruang….
Ditambah suara tak karuan…
Aku masih diam…
Diam….
Kini hilang….
Tak tersisa….
Hanya satu kata….
Ada…..


Selasa, 22 April 2014

LIR ILIR AYO NGLILIR

LIR ILIR AYO NGLILIR

Perjalanan kemarin banyak mengisahkan cerita manis. Entah kapan hujan turun membasahi bumi, yang pasti pelangi akan muncul ditengah terik matahari setelah hujan. Dan pelangi hati akan muncul setelah kesedihan melanda kita. Hanya kita mampu berdiri dan bangkit lagi atau tidak.
Lucu sebenarnya mengingat sms salah seorang temen. Yang kurang lebih begini kalimatnya.
“Ngopo ganti kartu Cak?, lari dari kenyataan opo mencari kenyataan baru?, awakmu ki galau ne kok mesti bareng-bareng karo aku”.
Walaupun aku masih dilanda masalah namun membaca sms dari temen ku langsung ngakak dalam hati. Hahaha. Sungguh kok bisa-bisanya buat kalimat seperti itu. Mungkin kalimat itu tak akan aku lupakan. Dan sahabat yang selalu menghadapi masa-masa sulit bersamaan tak akan aku lupakan. Sahabat yang selalu mengingatkan masalah yang kita hadapi adalah berat, dan kita memiliki kesamaan dalam setiap masalah…hahaha. Kembali ke topik awal bahwa, aku ingin menceritakan bagaimana rasanya terjatuh dan sulit untuk
Negeri Di Atas Awan 34
bangkit. Kita semakin pesimis, dan rasa keyakinan semakin tipis. Seolah kita tak percaya dengan Tuhan mengenai takdir kita hari ini. Aku pun begitu, menyalahkan diri sendiri, orang-orang terdekat, dan bahkan gak percaya kok begitu teganya Tuhan men takdirkan ku seperti ini. Yah, memang nasib, mau bagaimana lagi ya dijalani aja.
Setelah hampir sepuluh hari meninggalkan Yogya akhrinya aku memutuskan untuk kembali dan mencoba menikmati puing-puing yang berserakan. Mengenai kejadian beberapa minggu aku coba untuk menghapusnya. Jalan-jalan adalah salah satu cara yang ampuh untuk menghilangkan penat yang ada.
“Mas, beneran lupakan semua itu, jangan mas malah mengucilkan diri dari pergaulan. Sudah lah mas, lupakan”
Seorang sahabat memberikan saran setelah aku bercerita panjang lebar. Ada 3 tahap yang harus di jalani yaitu pertama melupakan masa lalu, kedua kembali ke Skripsi, ketiga sukses dan buat orang yang mengecewakan kita akan menyesal. Cukup menarik sekali sarannya. Dan aku fikir-fikir untuk segera merealisasikannya.
“Lir ilir-Lir ilir, tandure wes sumilir, ayo nglilir”

Jumat, 24 Januari 2014

MAINANKU HILANG



MAINANKU HILANG

Kini mainanku hilang. Mainan nan lucu dan menggemaskan. Mainan sebagai penghibur kesendirian. Mainan sebagai penyegar batin yang gundah. Mainan sebagai pengisi waktu luang. Maiananku hilang ditelan zaman. Mainanku hilang ditelan peradaban. Maiananku hilang di makan rakusnya modernisitas. Mainanku hilanng.
Mainanku hilang tergantikan plastik yang terbungkus rapi. Mainanku hilang tergantikan mesin yang berjalan sendiri. Mainanku hilang tergantikan layar dua dimensi. Oh mainanku hilang. Aku tersedu disudut ruangan. Aku menangis mencari maianan. Aku merintih sendiri tak ada teman. Mainanku hilang.
Kekean, kasti,dakon hilang entah kemana. Ia hilang ditelan rakusnya peradaban. Ia hilang seiring waktu yang terus berjalan. Cublek-cublek suweng kini tak terdengar lagi. Entah kemana maiananku pergi. Disudut-sudut kampung, di emperan rumah dulu masih tersisa mainanku. Di waktu sore, di akhir pekan dulu masih ketemui mainanku. Kini mainanku hilang.
Oh, apakah ini yang dinamakan modernisitas. Oh apakah ini yang dinamakan kemajuan. Oh apakah ini yang dinamakan perkembangan. Semua menelan dan menghilangkan yang telah ada. Mencoba membunuhnya perlahan-lahan. Hingga kini telah hilang dan tergantikan yang baru. Bolehkah aku meminta, untuk sekedar memainkan maiananku yang dulu hilang. Bolehkah aku bernyanyi untuk memainkan mainanku dikala sendiri.
Cublek-cublek suweng
Suweng e teng kelender
Mambu ketundung goder
Tak senggo lela-lelo
Sopo gowo delek ake
Sir-sir pong delek kopong
Sir-sir pong delek kopong.