WpMag

Rabu, 09 Februari 2011

Kebudayaan Tulungagung

1. Upacara Jamasan Kyai Upas

Kyai Upas adalah nam pusaka Kabupaten Tulungagung secara turun temurun diakui sebagai lambang kebesaran. Pusaka ini setiap tahun pada hari Jum’at Legi di bulan Suri (Muharam) dimandikan secara sakral.
Upacar ini dimulai dengan arak-arakan dari Pendopo Kabupaten, menuju Pendopo Kanjengan. Sesampainya di Kanjengan di sambut dengan gamelan monggang. Upacara jamasan dengan profesi tertentu dengan beraneka ragam sesaji. Setelah jamasan diadakan beberapa hiburan diantaranya tembang mocopat, wayang kulit dan kesenian tradisional lainnya.

2. Suru Wekasan

Suro Wekasan adalah upacara “laku” yang dilaksanakan masyarakat Wajak yaitu laku menelusuri Candi Dadi berdoa untuk keselamatan diri, keselamatan lingkungan, sampai keselamatan bangsa dan negara. Keistmewaan upasara ini adalah dilakukan oleh berbagai pemeluk agama yang dianut masyarakat Wajak (Islam, Kristen, Budha)untuk berdoa menurut agama serta keyakinan masing-masing dikomplek Candi Dadi. Upacara ini dilakukan setiap akhir bulan suro.

3. Tematen Kucing

Upacara ini dilaksanakan di air terjun Cuban Rondo yang di yakini dapat melancarkan aliran mata air di Cuban Rondo untuk irigasi penduduk Pelem dan sekitarnya. Proses ini dilakukan dengan subyek dua ekor kucing (Tirta Sari dan Joko Wono) dikawinkan dengan prosesi lazimnya manusia menjadi temanten. Mbah Sangkrah orang yang pertama melaksanakan ritual ini dilanjutkan M bah Sutomeja sampai sekarang.

4. Labuh Sembonyo

Labuh Sembonyo yang diyakini masyarakat sebagai wahana “asok glondhong pengareng-areng” terhadap Ratu Kidul penguasa laut selatan Labuh Sembonyo diselenggarakan etiap bulan Suro minggu kedua di Pantai Popoh.

5. Ulur-ulur

Ulur-ulur merupakan upacara adat yang di selenggarakan di telaga Buret setiap tahun pada hari Jum’at Legi bulan Suro. Kegiatan pokok adalah memandikan arca Dewi Sri Sedono dan tabur bunga di Telaga Buret petilasan Eyang Jigang Joyo dalam mitos sebagai seorang tokoh perintis pemanfaatan air telaga Buret untuk pertanian di Desa Sawo, Gedangan, Ngentrong dan Gamping. Pada upacara tersebut ada kegiatan “Ngelampet” yaitu membendung air telaga yang dilaksanaka dengan gotong-royong untuk irigasi. Cultur ini masih melekat dimasyarakat Sawo dan sekitarnya sampai sekarang berupa kegiatan gugur gunung dan bersih desa.

sumber: © http://wisatatulungagung.indonesiatravel.biz/wisata-dan-budaya/macam-wisata-budaya/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar