WpMag

Sabtu, 05 Februari 2011

PERAN WANITA NELAYAN DALAM PEMBANGUNAN PERIKANAN

Indonesia adalah negara yang memiliki pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, dengan panjang pantai kurang lebih 81.000 km. Dari 67.439 desa di Indonesia, kurang lebih 9.261 desa merupakan desa pesisir (Kusnadi, 2003) . Desa pesisir ini identik dengan masyarakatnya yang miskin dan menggantungkan hidupnya dari sektor perikanan. Sektor perikanan merupakan potensi sumberdaya alam yang penting dan sangat dibutruhkan oleh masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir ini terdiri dari nelayan juragan (pemilik modal), nelayan kecil, nelayan buruh, pedagang pengepul, dll. Nelayan buruh merupakan nelayan yang tidak memiliki alat-alat produksi dalam kegiatan perikanan, seperti alat tangkap, perahu, dll. Nelayan buruh selalu dalam keterpurukan dan kesulitan dalam kehidupannya. Nelayan buruh selalu tertindas atas ketidak adilan dalam sistem bagi hasil dengan pemilik modal (juragan). Walaupun hasil yang didapat dalam melaut besar namun setelah dibagi  dengan pemilik modal hasilnya tidak seberapa. Kegiatan melaut yang sangat tergantung pada kondisi alam menambah keterpurukan kehidupan para nelayan. Alam yang sangat berbahaya dan tidak dapat ditaklukkan membuat para nelayan ini mencari banyak akal untuk menghadapai demi sesuap nasi. Disisi lain pendidikan para nelayan yang kurang telah menambah daftar kemiskinan masyarakat nelayan.
            Nelayan sangat menggantungkan hidupnya pada alam, jadi dalam mencari penghidupan nelayan dipaksa bisa membaca setiap bahasa isyarat dari alam. Musinm ikan tidak berlangsung sepanjang tahun, namun hanya beberapa bulan saja. Hal inilah yang membuat para nelayan harus selalu berfikir keraas bagaimana mendapatkan hasil yang lebih untuk digunakan diwaktu tidak melaut. Contohnya di perairan Madura , musim ikan (osom joko') hanya berlangsung antara bulan Desember-Maret dalam setiap tahunnya. Hanya sekitar empat bulan efektif bisa digunakan oleh para nelayan untuk bekerja. Di waktu tidak bekerja nelayan hanya bisa melakukan berbagai kegiatan dalam mengisi waktu luang yang ada. Kegiatan yang biasa yang dilakukan para nelayan ini ketika tidak musim ikan biasanya adalah memperbaiki jarring, perahu, dll. Musim ikan akan tiba dengan berbagai tanda yang di isyaratkan oleh alam seperti turunnya hujan dari 3-10 hari secara berturut-turut yang oleh para nelayan biasa disebut tracap. Pada musim kemarau tingkat penghasilan nelayan sangat minim dan sering tidak memperoleh hasil tangkapan sama sekali. Masa-,masa ini oleh para nelayan disebut laep atau paceklik. Musim paceklik ini berlangsung sekitar delapan bulan dan akumulasi simpanan penghasilan yang diperoleh pada musim ikan , tidak akan pernah mencukupi untuk mengatasi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari rumah tangga nelayan (Kusnadi, 2003).
Wanita merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan pesisir hal ini disebabkan karena  posisi wanita  sangat strategis dalam kegiatan berbasis perikanan dan kelautan. Sebagai contohnya wanita sangat berperan sebagai pedagang pengecer, pengumpul ikan, pedagang besar, buruh upahan, maupun tenaga pengolah hasil perikanan. Namun demikian, dalam berbagai aspek kajian ataupun program-program pembangunan pesisir mereka tidak banyak tersentuh. Ketika banyak orang berbicara tentang nelayan yang terlintas dalam pikiran kita adalah kaum pria yang sebagian atau seluruh hidupnya berjuang menghadapi gelombang besar atau angin kencang untuk memperoleh hasil tangkapan ikan di tengah samodra yang luas. Pikiran demikianlah yang mendorong lahirnya program pembangunan perikanan yang bias gender seperti nampak pada berbagai program pemberdayaan masyarakat pesisir. Kondisi demikian telah dianggap sebagai hal yang lumrah karena dalam budaya Indonesia, wanita identik dengan sosok nyang lemah, dan juga disebut sebagai ”kanca wingking” yang hanya berkutat pada berbagai urusan rumah tangga bahkan seperti dikatakan Djohan (1994) geraknyapun dibatasi dalam lingkup rumah tangga. Sehingga artikulasi peran wanita nelayan dalam kehidupan sosial dan budaya di pesisir menjadi kurang atau tidak tampak


Keterbatasan ekonomi keluargalah yang menuntut wanita nelayan termasuk anak-anak mereka bekerja di daerah pesisir. Dalam kegiatan perikanan laut wanita nelayan berperan sangat strategis terutama pada ranah pasca panen dan pemasaran hasil perikanan. Di beberapa wilayah pesisir peranan nelayan wanita sangat penting, juga sering menyentuh wilayah yang dianggap sebagai dunia kerja kaum laki-laki yaitu penangkapan ikan seperti yang banyak ditemukan dalam kegiatan penangkapan kepiting di daerah mangrove Teluk Bintuni Papua. Di daerah pesisir pantai Prigi banyak juga ditemukan wanita nelayan bukan lagi sebagai pengolah, ataupun penjual hasil perikanan namun lebih dari itu, para wanita nelayan ini menjadi buruh nelayan yang bekerja menarik jaring dari pinggir pantai. Tidak pandang tua ataupun muda, kondisi sedang sakit ataupun sehat, sedang berhalangan ataaupun tidak, para wanita nelayan ini bekerja keras demi sesuap nasi untuk membantu penghasilan sang suami. Walupun tak dipungkiri di pantai Prigi juga masih ada beberapa wanita nelayan yang bekerja mengolah ikan ataupun menjual hasil tangkapan suaminya. Para wanita nelayan yang menjual ikan ini dapat kita temui disepanjang jalan menuju pantai Pasir Putih  dan Karanggongso. Mereka biasanya dapat ditemui di hari-hari libur ketika banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai Pasir Putih ataupun Pantai Karanggongso. Tujuan mereka adalah menjual hasil tangklapan suaminya kepada para pengunjung yang sedang menikmati berliburnya di pantai.
Nelayan wanita merupakan sosok yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi perikanan di Indonesia. Masyarakat nelayang yang sering mendapatkan pandangan sebagai masyarakat miskin tak dapat dipungkiri bahwa inilah yang terjadi di negeri ini. Namun dengan adanya peran nelayan wanita telah membukakan jalan untuk menjadi masyarakkat pesisir yang sejahtera dan cukup dalam ekonomi. Dulu ketika peran wanita tidak sepenuhnya diakui membuat perekonomian suatu keluarga akan lemah. Kini di era global ini telah membuka peluang bagi semua wanita, khususnya wanita nelayan untuk berperan aktif dalam pembangunan perekonomian perikanan menjadi lebih baik. Peran wanita nelayan dalam pembangunan perekonomian masyarakat pesisir kini telah terlihat sangat nyata. Wanita nelayan di Pantai Prigi contohnya merupakan bagian dari peran produktif sosok wanita nelayan. Kini peran produktif ini, bagi wanita nelayan bahkan sering mengalahkan peran reproduktif atau domestiknya. Berdasarkan hasil kajian Widaningroem dkk. (1998) di pantai selatan Yogyakarta menunjukkan bahwa walaupun peran reproduktif yang dilakukan oleh wanita seperti membersihkan rumah, mencuci, dan menyiapkan makanan mencapai angka 80% dari alokasi waktu setiap harinya, ketika mereka melakukan aktivitas produktif di pesisir, peran tersebut ditinggalkan sementara dan diserahkan kepada kepada anak atau ibu/nenek mereka. Kontribusi wanita nelayan ini terhadap pendapatan keluargapun, dapat mencapai separuh dari pendapatan suami.
Semakin pentingnya pembangunan perekonomian di Indonesia khususnya perekonomian masyarakat pesisir, maka dibutuhkan suatu peran aktif dari semua lapisan masyarakat dan pemerintah. Pearan wanita nelayan yang sangat penting dalam pembangunan sektor perikanan menjadikan modal yang sangat berharga dalam menuju kesejahteraan yang selalu diharapkan oleh semua masyarakat pesisir. Kini dibutuhkan suatu kebijakan pemesrintah yang berpihak pada nelayan khususnya nelayan wanita. Hal ini sangat diperlukan mengingat strategisnya peran wanita nelayan. Kerjasama yang sinergi dan saling memahami sangat diperlukan untuk menjadikan kehidupan nelayan yang lebih baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar