WpMag

Jumat, 14 Oktober 2011

MAKALAH PRAKTIKUM DASAR-DASAR PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN (DPKP) KUNJUNGAN DI KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN CUPANG “DORA”




MAKALAH
PRAKTIKUM DASAR-DASAR PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN (DPKP)
KUNJUNGAN DI KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN CUPANG “DORA”










 Disusun oleh :

                    Robin                                       (11661)
        Muhammad Firdaus Ismail  (11812 )
        Eka Satria                               (11890)
       
                                   



                                   

LABORATORIUM DASAR-DASAR PENYULUHAN DAN
KOMUNIKASI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Cupang merupakan ikan yang amat banyak penggemarnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ukurannya yang kecil merupakan kelebihan dari cupang sehingga memudahkan dalam pemeliharaannya karena tidak butuh wadah yang besar. Selain itu,warna ikan yang beraneka ragam mulai merah, hitam, hijau, ungu, dan bahkan ada yang putih, cukup memikat banyak kalangan. Ada lagi yang membuat ikan cupang banyak peminatnya, yaitu bentuk siripnya yang unik dan warna sirip yang indah. Bentuk sirip cupang ada yang setengah lingkaran yang biasa disebut cupang jenis halfmoon ada lagi yang siripnya pendek yang disebut cupang plakat.
Membudidayakan atau mengembangkan ikan cupang tidaklah memerlukan lahan yang luas, cukup menyediakan areal sekitar 5 meter persegi.  Budidaya ikan cupang dapat dilakukan diatas dak rumah dan dipekarangan yang relatif sempit, dengan menggunakan wadah bekas ataupun kolam bak semen atau akuarium. Ikan ini relatif mudah dipelihara dan dibudidayakan, karena tidak memerlukan pakan khusus. Pakan ikan untuk benih biasanya digunakan pakan alami berupa kutu air atau Daphnia sp. yang dapat ditemukan di selokan yang airnya tergenang. Untuk induk cupang digunakan pakan dari jentik-jentik nyamuk (cuk). Untuk pertumbuhan anak ikan bisa diberi kutu air dan diselingi dengan cacing rambut, akan lebih mempercepat pertumbuhan anak ikan.
Mudahnya membudidayakan ikan cupang dan tidak membutuhkan modal yang begitu banyak, menjadikan ikan ini sebagai salah satu komuditas ikan hias yang banyak dibudidayakan. Sehingga saat ini banyak dijumpai kelompok-kelompok  tani pembudidaya ikan cupang.








BAB II
PEMBAHASAN UMUM
A.           Keadaan Umum KPI “DORA”
Salah satu Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) yang diwawancarai dalam praktikum DPKP pada acara 3 yang berjudul pembuatan alat peraga penyuluhan adalah Kelompok Pembudidaya Ikan “DORA”. Nama kelompok tani ini memang sedikit aneh. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan nama kelompok tani ini tidak sengaja. Kelompok tani “DORA” adalah sebuah kelompok tani ikan hias yang spesifik membudidayakan jenis cupang. Kelompok tani “DORA” berdiri sejak tahun 1994 yang diprarkasai oleh salah satu warga yang bernama Bambang Sumantri. Latar belakang pendirian kelompok tani ini adalah melihat kondisi masyarakat di daerah tersebut yang hobi memelihara ikan, khususnya ikan hias Cupang. Dari sekedar hobi yang disukai oleh cukup banyak warga, mas Bambang berinisiatif memberikan suatu wadah kebersamaan berupa kelompok tani “DORA”. Dengan adanya kelompok tani ini, diharapakan masyarakat tidak hanya sekedar hobi, namun dapat dijadikan menjadi sebuah pekerjaan yang sangat prospek. 
Banyak agenda dan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tani “DORA” meliputi budidaya ikan hias cupang, kumpul-kumpul dengan pecinta ikan hias, sampai mendirikan koperasi untuk kemajuan kegiatan budidaya. Dalam perjalanannya kegiatan dari kelompok tani “DORA” tak terlepas dari peran aktif Dinas Perikanan dan Kelautan. Seperti adanya koperasi simpan pinjam, merupakan bantuan dari pemerintah untuk memberikan sokongan dana guna keberlanjutan usaha dan pengembangan usaha. Selain sokongan dana untuk koperasi Dinas Perikanan dan Kelautan juga memberikan dana untuk pembangunan kolam dan mendatangkan indukan berkualitas. Kelompok tani “DORA” telah tercatat secara resmi di Dinas Kelautan dan Perikanan.


Banyak hal yang didapatkan oleh anggota kelompok tani “DORA” diantaranya memberikan pekerjaan khususnya para anak muda. Dalam proses pengembangbiakan banyak dihasilkan varietas-varietas unggul yang sangat menguntungkan. Dengan adanya varietas unggul ini, harga jual ikan akan naik sesuai kualitasnya.
B.            Pelaksanaan Wawancara
Tanggal     : 25 September 2011
Tempat      :  Kelompok tani “DORA” , Kec Kasihan Kab Bantul
Waktu       : 15.00 – 16.30 WIB
C.           Permasalah Petani
Membudidayakan ikan cupang memang bukan hal yang sulit.  Akan tetapi, dalam praktiknya dilapangan, budidaya ikan cupang banyak ditemukan beberapa kendala. Demikian halnya yang dihadapi oleh kelompok tani “DORA” . Kelompok tani tersebut juga mengalami kendala dalam pembudidayaan ikan cupang, diantaranya :
1.      Banyaknya hama, misalnya : tikus, kucing, katak, dll,
2.      Adanya hujan (air asam),
3.      Adanya penyakit yang terkadang menyerang ikan seperti White Spot,
4.      Fluktuasi suhu yang bisa menyebabkan ikan mati mendadak.
Masalah – masalah yang dihadapi kelompok tani “DORA” tersebut juga banyak dialami oleh kelompok tani lainnya. Akan tetapi, yang paling krusial dari masalah-masalah tersebut adalah fluktuasi suhu. Hal ini dikarenakan, fluktuasi suhu dapat menyebabkan kematian pada ikan secara mendadak dan dalam jumlah yang banyak.
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungannya (Sugandy, 2002). Ikan memiliki derajat toleransi terhadap suhu dengan kisaran tertentu yang sangat berperan bagi pertumbuhan, inkubasi telur, konversi pakan dan resistensi terhadap penyakit. Ikan akan mengalami stres manakala terpapar pada suhu diluar kisaran yang dapat ditoleransi. Kisaran suhu antar spesies ikan satu dengan lainnya berbeda-beda.
Kisaran suhu air optimal untuk ikan cupang adalah 24-27 o C (Lesmana,2009). Jika suhu air diatas normal (>28 oC) dapat berakibat gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stress yang ditandai dengan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Bahkan, kenaikan suhu secara mendadak dapat menyebabkan ikan mati. Sementara itu, pada suhu rendah (<24 0C) akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya system imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stress pernafasan pada ikan berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat mengakibatkan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen. Bahkan, bisa berakibat kematian pada ikan.
Perubahan suhu yang drastis terjadi pada musim seperti ini (musim kemarau). Pada siang hari suhu bisa sangat tinggi karena panas, sedangkan pada malam hari suhu bisa sangat rendah karena dingin. Perubahan suhu yang sangat mendadak ini berpengaruh terhadap perubahan suhu air dalam kolam budidaya ikan, Karena permukaan air pada kolam sangat peka terhadap perubahan suhu. Menurut Kordi (2010), perubahan suhu yang mendadak sebesar 5oC dapat menyebabkan stress pada ikan bahkan kematian.

D.          Solusi yang Ditawarkan
Salah satu solusi untuk mengatur suhu agar tetap pada kisaran yang optimal adalah dengan pengelolaan air yang tepat. Cara pengelolaan air aalah dengan melakukan pergantian air sebanyak 1/3 bagian dari tinggi air di kolam , tujuan pergantian air ini adalah untuk menjaga kualitas air kolam dan ikan pada kondisi optimal. Selain itu penguarangan air bertujuan untuk menghilangkan sisa pakan dan kotoran yang mengendap didasar kolam.
 Ketika telur ikan telah menetas dan menjadi larva, disinilah suhu air yang stabil sangat diperlukan. Perubahan suhu yang dratis akan mengakibatkan ikan mengalami goncangan. Ikan akan mengalami stress sehingga kerja organ tubuhnya terganggu. Akibat yang sangat fatal adalah ikan akan mengalami kematian ketika perubahan suhu yang sangat ekstrim. Suhu air pada kolam dapat dipertahankan dengan cara memberikan penutup pada kolam atau akuarium. Penutup tersebut bisa berupa paranet. Caranya adalah dengan memasang paranet pada atap kolam, hal ini bertujuan agar kolam sedikit teduh dan air hujan tidak terlalu banyak masuk kedalam kolam sehingga suhu kolam tetap terjaga. Namun sebaiknya, jika ikan dalam usia larva ditempatkan diruang yang teduh dan tertutup. Tujuannya untuk menjaga suhu air agar stabil. Selain itu pada ruang yang tertutup, akan menghindarkan ikan dari serangan hama yang biasanya menyerang seperti, katak, tikus, atau bahkan kucing.

E.             Kelebihan dan Kelemahan Alat Peraga Poster
Kelebihan poster antara lain
·         Poster dapat dipasang di mana saja terutama di tempat-tempat strategis
·         Poster memiliki gambar yang simpel dan syarat akan makna, sehingga orang yang sepintas melihat langsung dapat mengetahui isinya
·         Poster dapat disimpan dan dapat digunakan lagi pada kesempatan lain
·         Poster dapat mmbantu masyarakat mengenai masalah yang dihadapi dengan lebih cepat karena terdapat gambar
Kekurangan poster antara lain
·         Diperlukan keahlian dalam bahasa dan ilustrasi agar pembaca dapat memahami maksud dari pesan yang ada pada poster dengan mudah.
·         Poster dapat menimbulkan kesalahan tafsir oleh pembaca karena gambar dan tulisannya sangat simpel









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Pemberian solusi dalam penyuluhan di Kelompok Pembudidayan Ikan “DORA” dengan menggunakan alat bantu poster sebenarnya cukup efektif.
·         Pendidikan anggota Kelompok Pembudidaya Ikan “DORA” cukup baik, sehingga dengan menggunakan poster cukup membantu dalam pemahaman permasalahan yang dihadapi dan solusi.


B.     Saran
·         Praktikum pembuatan alat peraga ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, namun alangkah baiknya jika dilakukan secara berkelanjutan.
·         Jika ada waktu luang sebaiknya praktikan dan asisten bersma-sama mengunjungi kelompok tani tersebut untuk mengetahui perkembangannya.


DAFTAR PUSTAKA
Ghufran M dan K.  Kordi. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Penerbit Lily Publisher. Yogyakarta
Lesmna S dan Daelami D. 2009. Panduan Lengkap Ikan Hias Air Tawar Populer. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta
Sugandy dan Irwan. 2002. Budidaya Cupag Hias. Penerbit Agro Media Pustaka. Jakarta






Lampiran Gambar


Rabu, 05 Oktober 2011

EFIKASI VAKSIN DAN KEMANGKUSAN TETRASIKLIN UNTUK PENANGGULANGAN IKAN MAS: PADA PENDEDERAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)



EFIKASI VAKSIN DAN KEMANGKUSAN TETRASIKLIN UNTUK PENANGGULANGAN IKAN MAS: PADA PENDEDERAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Bakteri Aeromonas hydropyla merupakan bakteri yang bersifat oportunistik tetapi sangat patogenik terhadap ikan. Bakteri Aeromonas Hydrophila sering menyerang ikan air tawar seperti karper dan lele. Proses terjadinya penjangkitan wabah penyakit ini biasanya timbul secara beerkala dan banyak para pembudidaya ikan mengalami kerugian besar akibat adanya bakteri yang menyerang ikannya. Banyak cara dilakukan untuk menanggulangi bakteri maupun wabah penyakit lain yaitu dengan penggunaan obat-obatan. Namun ada cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan vaksinasi.
Penelitian ini dilakukdan untuk mengetahui efek dari penggunaan vaksinasi dan tetrasiklin untuk melawan bakteri Aeromonas Hydrophila. Hasil yang didapatkan bahwasanya penggunaan vaksinasi dan tetrasiklin sangat baik untuk bibit ikan yang masih kecil dan mencegah bakteri Aeromonas Hydrophila. Hasil yang didapat dari tiga perlakuan yang dilakukan penggunaan vaksin untuk mencegah Bakteri Aeromonas Hydrophila paling baik dibandingkan dengan penggunaan tetrasaklin ataupun control. Tingkat kelulusan hidup larva ikan yang diberi vaksin adalah 23,00-68,42 %, sedangkan dengan tetrasiklin sebesar 22,30-62,43 %, dan kontrol 12,70-53,57 %.
Hasil penelitian tersebut cukup baik, namun terdapat beberapa hasil yang kurang baik yaitu mengenai pertumbuhan ikan. Hasil penelitian ini, didapatkan pertumbuhan ikan dengan vaksinasi paling rendah dibandingkan dengan penambahan tetrasiklin maupun control. Hasil yang terbaik adalah dengan kontrol. Selain itu hasil dalam penelitian ini banyak ikan yang mati karena factor lingkungan seperti kualitas air dan beberapa hama yang menyerang ikan seperti regol.
Sebaiknya sebelum melakukan penelitian dilakukan pengkajian mengenai lingkungan. Sehingga tidak ada faktor luar yang mengganggu hasil penelitian seperti yang terjadi dengan adanya hewan regol yang menyerang banyak ikan.

sumber : jurnal Perikanan UGM

Minggu, 02 Oktober 2011

MAKALAH GENETIKA DAN POPULASI


MAKALAH GENETIKA DAN POPULASI

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Bentuk tubuh memanjang, pipi kesamping dan warna putih kehitaman. Jenis ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio) dan telah dibudidayakan di lebih dari 85 negara. Saat ini, ikan ini telah tersebar ke Negara beriklim tropis dan subtropics, sedangkan pada wilayah beriklim dingin tidak dapat hidup dengan baik.
Nila disukai oleh kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur..
Bibit Nila didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Peneliti perikanan Air Tawar (Balitkanwar) dari Taiwan pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, ikan ini kemudian disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia.
Peluang pasar Ikan Nila cukup besar baik di pasar lokal maupun ekspor. Kebutuhan pasar dalam negeri untuk ikan nila umumnya berukuran dibawah 500 gram/ekor, dengan harga berkisar antara Rp 11.000-15.000,00/kg untuk wilayah Jawa dan Sumatera , sedangkan untuk wilayah timur Indonesia mencapai Rp. 20.000-30.000,00/kg. Kebutuhan pasar ekspor umumnya dalam bentuk fillet dengan harga berkisar Rp.30.000-40.000,00/kg dengan Negara tujuan ekspor yaitu Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, dan Hongkong. Untuk mendapatkan 1 kg fillet Nila, dibutuhkan 3 ekor ikan nila segar. Oleh karena itu upaya pengembangan usaha budidaya Nila masih terbuka untuk dikembangkan dalam berbagai skala usaha. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fille (600 g) dan surimi.
Peluang pasar yang tinggi menimbulkan adanya usaha untuk dapat memperoleh ikan nila yang berkualitas. Tidak hanya terbatas pada usaha pemeliharaan dan pembesaran namun usaha tersebut juga meliputi persilangan untuk mendapatkan varietas ikan nila yang memiliki kualitas unggul.

BAB II
PEMBAHASAN
Deskripsi umum
Klafikasi Ikan Nila adalah sebagai berikut:
Kelas               : Osteichthyes
Sub-kelas         : Acanthoptherigii
Ordo                : Percomorphi
Sub-ordo         : Percoidea
Family             : Cichlidae
Genus              : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis niloticus

Nila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bentuk badan pipih kesamping memanjang;
2. Mempunyai garis vertikal sepanjang tubuh 9-11 buah;
3. Garis-garis pada sirip ekor berwana merah sejumlah 6-12 buah;
4. Pada sirip pungung terdapat garis-garis miring; dan
5. Mata tampak menonjol dan besar, tepi mata berwarna putih.
Nila merupakan ikan sungai atau danau yang cocok dipelihara di perairan tawar yang tenang, kolam dapat berkembang pesat pada perairan payau misalnya tambak. Kebiasaan makan nila diperairan alami adalah plankton, tumbuhan air yang lunak serta cacing. Benih nila suka mengkonsumsi zooplankton seperti Rotatoria, Copepoda dan Cladocera; sedangkan termasuk alga yang menempel. Pada perairan umum anakan nila sering terlihat mencari makan di bagian dangkal. Sedangkan Nila dewasa di tempat yang lebih dalam. Nila dewasa mampu mengumpulkan makanan berbentuk plankton dengan bantuan lender (mucus) dalam mulut. Nila terlihat memulai memijah sejak umur 4 bulan atau panjang badan berkisar 9.5 cm. Pembiakan terjadi setiap tahun tanpa adanya musim tertentu dengan interval waktu kematangan telur sekitar 2 bulan. Induk betina matang kelamin dapat menghasilkan telur antara 250-1.100 butir. Nila tergolong sebagai Mouth Breeder atau pengeram dalam mulut. Telur-telur yang telah dibuahi akan menetas dalam jangka 35 hari di dalam mulut induk betina. Nila jantan mempunyai naluri membuat sarang berbentuk lubang di dasar perairan yang lunak sebelum mengajak pasangannya untuk memijah. Nila betina mengerami telur di dalam mulutnya dan senantiasa mengasuh anaknya yang masih lemah. Selama 10-13 hari, larva di asup oleh induk betina. Jika induk melihat ada ancaman, maka anakan akan dihisap masuk oleh mulut betina, dan  dikeluarkan lagi bila situasi telah aman. Begitu berulang hingga benih berumur kurang lebih 2 minggu.
Upaya peningkatan produksi ikan nila terus dilakukan dengan berbagai cara seperti mendatangkan beberapa strain unggul baru dari luar,perbaikan teknologi perbenihan dan budidaya, serta perbaikan genetik. Perbaikan genetik dapat dilakukan salah satunya dengan cara pemuliaan .Pemuliaan ikan merupakan kegiatan untuk menghasilkan ikan unggul melalui perbaikan  sifat yang terukur.
Syarat hidup ikan nila dalam berbagai stadia:
Kualitas air media pemeliharaan anakan diatur pada suhu 25 – 30 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 0,6 – 1 m dalam kolam pemeliharaan dengan kapasitas luasan berkisar 500 m2. Padat tebar larva berkisar 150 ekor per m2 dengan waktu pemeliharaan 10 hari. Ukuran panen 1 – 3 cm dengan bobot 1 gram.
Pemeliharaan benih dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 30 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Ukuran benih tebar 1 – 3 cm, bobot 1 gram dengan padat tebar larva 50 – 75 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 20 hari dengan ukuran panen 3 – 5 cm dan bobot 2,5 gram.
 Pendederan dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 50 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Ukuran benih tebar 3 – 5 cm dengan bobot 2,5 gram. Padat tebar larva 50 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 30 hari, dengan ukuran panen 5 – 8 cm dan bobot 5 gr. Kedalaman perairan kolam untuk pendederan nila di kolam tanah adalah 50 – 70 cm. Pakan benih berupa pakan buatan dengan kadar protein berkisar 30%

Perbaikan mutu genetik untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pada ikan nila dapat dilakukan dengan berbagai cara.
1.      Dengan melakukan introduksi jenis unggul dari luar sebagai material dasar/genetik untuk memperbaiki keragaan ikan lokal dan menggunakannya (Gustiano et al.,2006). Kerugian yang muncul akibat introduksi dapat menyebabkan pencemaran  genetik melalui interaksi antara jenis asli dan pendatang akibat adanya penyisipan gen (introgresi) pada ikan asli. Pencemaran genetik dapat berlanjut sampai mengakibatkan terjadinya penggantian/kepunahan spesies asli dengan spesies pendatang atau penurunan mutu genetik dari ikan introduksi. Contoh adalah kasus pada nila introduksi GIFT dari Filipina yang memberikan dampak besar  terhadap jenis yang telah lama ada di Indonesia.
2.      Dengan melakukan persilangan/hibridisasi untuk mendapatkan sifat unggul yang lebih baik dari populasi asal. Pada dasarnya, hibridisasi adalah memanfaatan sifat dominan dan heterozigot pada banyak lokus (Tave,1993) atau interaksi dari alela pada lokus (Kapusknski, 1986). Persilangan umumnya dilakukan antar populasi yang memiliki keunggulan spesifik . Kegiatan persilangan pada nila di Indonesia banyak dilakukan oleh para pembudidaya untuk mendapatkan jenis yang memiliki pertumbuhan lebih cepat atau tampilan tertentu. Produk hibrida banyak ditemui di masyarakat . namun demikian,apabila persilangan dilakukan secara tak terkendali akan mengakibatkan hilangnya sifat/karakter spesifik dari populasi asal. Untuk menghindari  hal yang tidak dikehendaki sebaiknya hasil persilangan/hibrida hanya digunakan sebagai produk akhir saja untuk konsumsi.
3.      Dengan memanfaatkan keunggulan jenis kelamin jantan (Dunham et al.,2001). Pada nila telah diketahui umum bahwa jenis jantan memiliki pertumbuhan dua kali lipat dibandingkan dengan betina (Tave, 1995; Gustiano et al.,2006) pembentukan jenis jantan dapat dilakukan sebagai berikut : 1) pemberian hormon melalui pakan atau perendaman (Zairin, 2003), 2) rekayasa genom/androgenesis dengan cara merusak sifat betina dan ditindaklanjuti dengan diploisasi secara buatan (Myer et al.,1995 ; Sugama,2006), 3) pembentukan pejantan super (YY supermale) (Scott et al., 1989 ; Mair et al., 1995 ; Arifin et al., 2004).
4.      Dengan melakukan seleksi terhadap karakter penting. Seleksi merupakan suatu teknik untuk memperbaiki sifat yang terukur (quantitative trait). Prinsip dasar dari seleksi adalah mengekploitasi  sifat ‘additive’ dari alela-alela pada semua lokus yang mengontrol  sifat terukur untuk memperbaiki suatu populasi (Kirpichnikov, 1980; Falconer,1989;Gjedrem,2005). Secara mendasar seleksi dapat dibedakan menjadi seleksi individu/massa dan famili. Pada seleksi individu hubungan kekrabatan diabaikan dan diuji banding dilakukan di antara individu. Individu-individu diurutkan berdasarkan kriteria/ukuran dan yang terbaik akan diambil sebagai calon induk . sedangkan pada seleksi  famili ,hubungan famili merupakan faktor yang penting dan rata-rata famili dibandingkan untuk mengambil keputusan selanjutnya . dalam seleksi famili pengambilan keputusan dapat dikelompokkan menjadi ‘’antar famili/ between family atau dalam famili/within familiy”. Gabungan antara antar dan dalam family disebut kombinasi antar dan dalam famili. Jenis seleksi lainnya (tandem,independent culling, dan selection index) merupakan variasi dari kedua bentuk seleksi tersebut (Kapuskinsi,1986 ; Tave,1995 ; Gjedrem,2005).
Dengan DNA recombinant/ “gene transfer” / “transgenic” . teknik ini merupakan persilangan pada tingkatan molekuler. Untuk melakukan transfer gen dibutuhkan ‘DNA construct’ yang terdiri atas ‘transgene’ dan ‘promoter’  sebagai bahan dasar yang akan ditransfer ke ikan target . pembentukan ikan transgenik melalui transfer ‘DNA construct’ dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu : 1) microinjection, 2)electroporation, 3) spermediated transfer , 4) biolistics, 5) viral vectors, dan 6) lipofection (Beaumont & Hoare, 2003). Transgenik pada nila pertama kali dilakukan oleh Rahman 7 MacClean (1999). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa jenis transgenik memiliki pertumbuhan 300% lebih besar dibandingkan dengan nontransgenik. Martinez et al. (1999) juga melaporkan keunggulan pertumbuhan ikan transgenik dengan perbedaan yang sangat nyata.
            Berbagai keunggulan yang dimiliki ikan nila memungkinkan ikan tersebut untuk diteliti dan dikembangkan sehingga menghasilkan jenis ikan yang unggul. Berikut adalah beberapa hasil pengembangan pemuliaan ikan nila yang telah berhasil dilakukan.
1.      Nila JICA
Description: http://www.bbatjambi.co.id/gambarikan/nila-jica.gifIkan nila JICA merupakan hasil pengembangan riset oleh Balai Besar Budidaya Air Tawar Jambi,   dengan merekayasa genetic ikan nila. Ikan nila untuk riset didatangkan dari lembaga riset Kagoshima Fisheries Research Station di Jepang. Oleh karena penelitian ikan ini dibantu sepenuhnya oleh JICA (Japan for International Cooperation Agency) sebuah lembaga donor Pemerintah Jepang maka ikan nila hasil penelitian ini dinamakan Nila JICA. Ikan nila hasil pengembangan BBAT Jambi ini sangat disukai oleh pembudidaya karena pertumbuhannya yang cepat dan disukai oleh masyarakat.
2.      Nila Nirwana
Description: http://w10.itrademarket.com/pdimage/30/s_1690130_cimg0553.jpgIkan nila Nirwana merupakan ikan hasil pengembangan dari Balai Pengembangan Benih Ikan Wanayasa yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat. Nirwana merupakan singkatan dari Nila Ras Wanayasa. Kelebihan ini nila jenis ini dibandingkan dengan nila biasa, yaitu :
Ø  Pertumbuhannya yang cepat. Dalam waktu enam bulan dapat mencapai bobot 1 kilogram
Ø   Bentuk tubuh lebih lebar dan kepala lebih pendek
Ø  Struktur daging lebih tebal
3.      Nila Jatimbulan
Description: http://www.trubus-online.co.id/trindo7/images/stories/media058/JAN_HAL_66-67-9.jpgIkan nila jenis ini merupakan hasil perekayasaan yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis PBAT Umbulan yang terletak di Pasuruan Jawa Timur. Keunggulan ikan nila jenis ini adalah pertumbuhannya yang lebih cepat dibandingkan dengan nila biasa dan struktur dagingnya yang lebih kenyal.

4.    Nila Larasati   
Description: http://cdn-u.kaskus.us/54/twjuqhde.jpgLarasati adalah singkatan dari Nila Merah Strain Janti. Larasati merupakan nila hasil perekayasaan yang dilakukan PBIAT Janti, Klaten. Ikan ini merupakan persilangan antara nila hitam dengan nila merah. Keunggulan ikan nila larasati ini adalah 1) Pertumbuhannya seperti nila merah sedangkan reaksi pakannya seperti nila hitam; 2) Pemeliharaan lebih cepat; 3) Dagingnya lebih banyak; dan 4) Kematian lebih sedikit.



5.      Description: http://bhaswaradharmacakti.blog.com/files/2009/08/nila-bogor-21-300x225.jpgNila BEST
Nila BEST merupakan hasil riset yang dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar di Bogor Jawa barat. BEST adalah singkatan dari Bogor Enhanced Strain Tilapia.
Karakteristik ikan nila BEST ini adalah :
Ø  Tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem
Ø  Pertumbuhan lebih cepat
Ø  Memiliki telur 3 – 5 kali lebih banyak dibandingkan ikan nila lainnya
Ø  Larva yang dihasilkan relatif lebih besar
Ø  Tahan terhadap penyakit
Ø  Tingkat hidup di atas 90%

6.      Description: http://2.bp.blogspot.com/_9sDRuQpAbDY/RyLlBJAJHpI/AAAAAAAAACg/ImTIIkH9Q-E/s320/nila.bmpNila Gesit
Nila Gesit adalah ikan nila hasil pemuliaan yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat. Gesit juga merupakan singkatan, yaitu Genetically Supermale Indonesia Tilapia.
Karakteristik Ikan nila Gesit, yaitu :
Ø  Benih yang dihasilkan 90% adalah nila jantan
Ø  Pertumbuhan 30% lebih cepat
Ø  Suhu optimum pertumbuhan adalah 25 derajat celcius
Ø  Kebal terhadap penyakit
Ø  Lebih aman dikonsumsi dibandingkan dengan ikan nila yang menggunakan hormon.














BAB III
PENUTUP
Ikan Nila merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang banyak diminati oleh masyarakat. Bagi para konsumen ikan ini selain dagingnya yang enak dan tidak memiliki duri-duri kecil di dagingnya, ikan ini memiliki kandungan nutrisi yang baik terutama kandungan protein yang tinggi serta harganya pun relatif terjangkau. Sedangkan bagi para pembudidaya, ikan ini jadi pilihan dengan alasan ikan ini relatif kebal terhadap lingkungan yang ekstrim dan masa pembesaran yang relatif singkat.
Melihat besarnya permintaan dan tingginya konsumsi masyarakat terhadap ikan, para peniliti banyak melakukan penelitian dan kajian mengenai ikan nila ini. Salah satunya adalah perbaikan genetika ikan (pemuliaan ikan) sehingga produktivitas maupun kualitas ikan nila pun menjadi meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Usaha, 2010. Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Dkp Sulawesi tengah. Petunjuk Teknis Pembenihan dan Pembesaran Ikan NILA (Oreochromis
niloticus). www.dkp.sulteg.go.id.

Sugiarto, 1988. Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. Penerbit CV.Simplex.