WpMag

Jumat, 06 Januari 2012

SURAT UNTUK SAHABAT


SURAT UNTUK SAHABAT
Ketika kutulis surat ini, dadaku terasa sesak dipenuhi rasa kagumku padamu. Mataku menerawang jauh kedepan membayangkan dirimu. Ingatanku lepas dari raga dan sekarang berada didepanmu. Sahabatku, mungkin aku hanyalah puing yang berserakan, mungkin aku hanyalah debu yang berterbangan, mungkin aku hanyalah kotoran yang terabaikan. Setelah mengenal engkau beberapa lama ini, aku merasa memiliki rasa kagum padamu. Entah ini rasa kagum atau rasa cinta itupun samar-samar, perbedaannya pun tipis sekali. Seorang yang mencintai, pastilah mengagumi, namun orang yang mengagumi belum tentu mencintai. Lantas bagaimana bisa kagum. Ah hanyalah kata, hakikatnya ada didalam diri setiap manusia
Sahabatku, ku tulis surat ini dalam suasana kesendirian, dalam keheningan malam, dalam dekapan gelap sunyi, sepi, sendiri. Namun, aku langsung terperanjat, teringat ibu yang dirumah. Ibu yang selalu bangun pagi dan bekerja untuk anak-anaknya. Pikiranku pun melayang, sampai ke bapak. Bapak yang dipagi hari pergi kesawah untuk beraktifitas. Sungguh, aku teringat beliau berdua. Ah, tidak itu saja, pikiranku langsung terpenuhi oleh ingatanku pada kakak-kakakku. Merekalah yang menjadikan aku sekarang bisa disini. Bisa menuntut ilmu bersama teman-teman dari penjuru nusantara.
Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, ibu pernah berpesan padaku “ nak kamu belum boleh pacaran, entar kalau sudah dewasa”. Kata-kata itu, terngiang di kepalaku hiangga detik ini. Ketika SMA aku memncoba menaksir seorang wanita, tapi memang takdir membawaku harus menelan kepahitan ditolak olehnya. Tapi, dari situlah aku mulai belajar mengenai persahabatan. Dari situpula aku mulai mengerti apa yang dinamakan sahabat. Kata yang pernah ia tulis di pesannya padaku kini selalu kuingat “ cintailah seseorang alakadarnya, barangkali orang yang kamu cinta menjadi orang yang kamu benci, bencilah orang alakadarnya, barangkali orang yang kamu benci menjai orang yang kamu cintai”. Kata-kata itu, masih melekat didalam memori otaku.
Sahabatku, biarlah rasa kagumku kepadamu tetap jadi penghibur kesendirianku ini. Biarlah, engkau mengisi relung hatiku yang terdalam, hingga engakau berada dilubuk hatiku yang sulit untuk dilepaskan. Namun aku tahu, aku hanyalah gembel yang tak berdaya. Tak pantaslah aku mendongakkan kepala untuk melihatmu. Jikalau engkau melihatku selama ini aku tak berani bicara terus terang padamu, itu adalah bagian dari sifatku yang hinggap selama ini.bagian dari pembentuk pribadiku.
Sahabatku, engkau berada nan jauh disana. Dalam buaian orang-orang tercinta. Dalam dekapan mereka yang menyayangimu. Mungkin aku hanyalah mainan ataupun boneka yang dapat menghiburmu. Namun, itupun tak mengapa, bagiku aku dapat melihatmu tersenyum adalah anugrah terbesar.
Sahabatku, maafkanlah aku jika selama ini aku lancang mengagumimu. Maaf, jika selama ini, aku selalu merepotkanmu dan membikin engkau malu olehku. Itulah aku, anak petani kere yang tak punya apa-apa. Bahkan bajus aja yang melekat ditubuhku, adalah pinjaman dari Tuhan. Seorang manusia lahir tanpa membawa apapun di dunia, dan layaklah jika pulang tak membawa apa-apa kecuali amalnya. Ah, aku begitu nyeleweng munulis surat ini. Seolah aku menjadi uztad yang pandai dalam ilmu agama.
Sahabatku, cukuplah isi tulisan ini untukmu. Karena, aku tahu mungkin muak dengan apa yang aku tuliskan ini. Mungkin juga engkau tertawa terbahak-bahak dengan surat ini, atau mungkin engkau menjadi iba karena adanya surat ini. Maaf, jika adanya surat ini, mengganggu kenyamanmu dalam menjalani hiup.
Salam hangat dari sahabatmu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar