WpMag

Kamis, 12 Desember 2013

DI UJUNG PERJALANAN KITA


DI UJUNG PERJALANAN KITA

Sebuah kedai kopi di pinggiran Yogya adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan sebagian hari-harinya. Ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok yang melilit dijarinya ia terus berimajinasi. Laptop didepannya terus menyala, dan ketukan jari pada keyboard menjadi saksi kehidupannya. Kota besar selalu  menyajikan kehidupan yang keras. Penindasan, pengkianatan adalah hal yang biasa dan banyak dijumpai.
Ia terus memainkan jari jemarinya diatas keyboard. Memulai huruf demi huruf, merangkai kata demi kata untuk menjadi sebuah kalimat utuh. Sejenak ia lepaskan tangan yang terus mengetuk keyboard. Ia ambil sebatang rokok dan mencoba menikmatinya. Merasakan karbon monoksida itu masuk dalam paru-paru dan jantungnya. Menggetarkan jantung dan terus bereaksi dengan darah yang mengalir ditubuhnya. Seakan inspirasi untuk menulis terus datang ketika kopi dan rokok dipadukan untuk menjadi teman.  
***
Malam hanya dingin yang dirasakannya. Tak ada angin dan terlihat bulan terang benderang. Ia masih dalam kondisi yang capek karena tadi sore baru datang. Kemarin ia habiskan waktu di Yogya untuk mengurus kuliahnya. Jam 21.00,ia duduk santai bersama teman-temannya. Hawa dingin menyeruap lewat jendela yang tidak tertutup rapat. Menusuk ke kulit dan menaikkan bulu roma. Tak ada kegiatan, hanya obrolan seperti biasa. Ia hubungi pacarnya yang ada di Yogya untuk sekedar menanyakan kabar. Karena beberapa minggu ini pacarnya sulit untuk dihubungi. Entah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau kegiatan lain yang menyita waktunya. Ia selalu berfikir positif ketika pacarnya sulit untuk dihubungi.
“Yang, lagi ngapain?, kok beberapa hari ini sulit dihubungi, apa sibuk?”
Tak lama berselang, Hp nya bergetar menandakan ada pesan masuk. Ia ambil Hp yang tergeletak disamping tempatnya duduk.
“Mas, sebaiknya kita sendiri-sendiri dulu ya, aku takut kamu terlalu memikirkanku ketika aku tak bisa dihubungi”
Seketika hatinya bergemuruh, jantungnya berdetak kencang dan ia tak dapat berbicara apa-apa. Sulit rasanya membalas sms dari pacarnya. Ia hanya termenung dan tak mampu untuk memainkan jari jemarinya. Ia tarik nafas dalam-dalam dan mencoba membalas sms dari pacarnya.
“Maaf yang, apa sudah dipikirkan matang-matang”
“Iya mas, dari pada aku sulit untuk dihubungi dan kamu kepikiran aku terus”
Dan malam itu menjadi malam kelabu. Ia mencoba untuk menenangkan diri dengan mendengarkan lagu di laptopnya. Malam semakin larut mengantarkan pada peraduan yang terasa menyakitkan.
***
Ia masih khusu’ memainkan jarinya diatas keyboard. Seorang pelayanan mengantarkan pesanannya. Dengan senyum ramah pelayan tersebut meminta izin untuk meletakkan kopi yang telah ia pesan. Ia pun menjawab dengan anggukan. Di depan warung terdapat sebuah sekolah yang telah berdiri puluhan tahun yang lalu. Tempat para siswa di gembleng untuk menjadi seorang yang terdidik. Menjadi generasi penurus bangsa.
Semenjak pacarnya memutuskan hubungan secara sepihak ia banyak menghabiskan waktu di warung kopi milik sahabatnya itu. Sekedar mengingat masa lalu bersama pacarnya atau untuk menghabiskan waktu pagi. Memang ia belum pernah merasakan pacaran sebelumnya. Dia adalah pacar pertama yang telah mengisi hatinya. Dan ketika memutuskan untuk pacaran ia pun telah berjanji dalam hati bahwa ini adalah pacaran yang pertama dan terakhir.
Memang ia sendiri menyadari bahwa ia bukan ahli dalam pacaran. Bahkan ia tidak pernah “menembak” pacarnya waktu itu. Memang ia seorang yang pemalu dan cintanya selalu menggebu-gebu. Ketika pertama bertemu pacarnya ia telah menaruh hati pada pujaan hati. Ia habiskan waktu untuk sekedar sms menanyakan kabar. Memang ia seorang yang sangat perhatian pada pacarnya.
Sayang seribu sayang pacarnya memiliki tipikal yang acuh. Tidak suka diperhatikan. Mungkin jarang kita temui seorang cewek yang tidak suka diperhatikan. Namun pujaan hatinya tersebut salah satu dari sekian cewek yang tidak suka diperhatikan.
Awal-awal pacaaran ia banyak menghabiskan waktu untuk keluar bersama. Bahkan ia seringkali main kerumah pacarnya. Sekedar untuk bertemu dan ngobrol. Membahas hal-hal sepele yang mungkin tidak penting bagi kita. Namun bagi dia itu adalah obat yang mujarab ketika kerinduan mendera.
“Yang aku mau ngomong” ia berkata didepan kekasihnya
“Ngomong apa yang?”
“Kamu serius kan sama aku?”
Pacarnya pun diam sejenak dan tidak menjawab.
“Kamu serius kan sama aku?”
“Ya, di jalani saja” jawabnya santai
“Oh ya yang, kalau sama aku jangan mengharap ingin kaya atau ingin punya mobil, rumah mewah dan lain-lain”
Kekasihnya pun terkaget, dan balik bertanya
“Emangnya kenapa yang?”
“Karena aku bukanlah tipikal orang yang ingin punya semua itu. Aku ingin menjalani hidup itu tanpa banyak memikirkan hal-hal yang nantinya tidak kita bawa mati. Apalah arti kita punya uang banyak, rumah megah, dan mobil kalau hubungan kita dengan Tuhan jauh. Dan Tuhan murka dengan ketamakan kita”
Kekasihnya pun diam dan tak menjawab apa-apa.
***
Hubungan mereka telah menginjak usia 7 bulan, dan tak ada pertengkaran yang serius. Memang karena dia seseorang yang cukup sabar. Ketika ada perbedaan dia mencoba mengatakannya dengan cara yang baik. Dan ketika marah pun ia selalu mendahulukan kata maaf.
“Maaf yang, saya kurang suka dengan caramu itu”
“Emangnya kenapa?”
“Ya kurang suka saja, kalau bisa mbok yang lain saja”
Itulah caranya dalam menyikapi perbedaan. Kalaupun marah sampai puncak ia hanya bicara nrocos terus menerus, namun dengan nada yang tidak terlalu tinggi. Mungkin kita yang berada didekatnya mengira bahwa ia tidak marah.
Kadang kala ia berfikir dan merenung mengenai sikap pacarnya yang cenderung acuh. Sedangkan dia, dia seorang yang ingin diperhatikan terus. Mungkin inilah salah satu perbedaan yang mencolok. Namun ada lagi yang menjadi pertimbangan dari pacarnya. Karena ia belum bekerja dan hanya memiliki hobi menulis yang sampai sekarang tak menghasilkan uang. Mungkin inilah yang menjadi pertimbangan pacarnya untuk memutuskan hubungan.
Ia belum bekerja dan setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam didepan laptop. Hobinya menulis itu dimulai ketika ia masuk bangku kuliah. Karena kesibukan di waktu kuliah ia tak bisa membagi waktu untuk sekedar bekerja part time. Akhirnya sisa waktunya ia habiskan untuk menulis dan menulis. Tulisannya tak pernah laku di media, hanya sekali masuk nominasi essay nasional. 
Walaupun sikapnya terhadap pacar sangat lembut namun ia sebenarnya tegas dan tidak mau diatur. Ketika ia berpendirian A maka ia akan terus berjalan pada garis A karena baginya itu adalah jalan yang ia yakini benar. Ketika itu ia ditawari pacarnya untuk menjadi guru private untuk anak SMA, ia pun mengiyakan walaupun dalam hatinya menolak. Ia mencoba memahami perhatian yang diberikan pacarnya. Dan memang ia tak berbakat pada bidang itu. Akhirnya hanya sekali ngajar ia meminta untuk mundur.
Walaupun pacarnya acuh, namun kadang kala perhatian dan berharap ia memiliki pekerjaan. Mungkin bagi pacarnya, bagaimana nantinya hidup dengan orang yang tidak jelas pekerjaannya. Mau diberi makan apa keluarganya nanti. Atau mau tidur dimana nantinya dan anak-anaknya apakah tidak membutuhkan pendidikan.
***
Kita tak pernah tau takdir Tuhan yang sangat rahasia itu. Kita didudukkan pada takdir yang kadang kala tidak sesuai dengan harapan kita. Mengenai arti sebuah cinta dan pengorbanan kadang tidak sesuai dengan yang ada dalam lubuk hati kita. Tuhan berbicara pada kita (manusia) mengenai arti sabar dan ikhlas. Dan di penghujung waktu kita akan tahu sebenarnya Tuhan merencanakan apa terhadap manusia.
Ia pun melepaskan tangannya yang sedari tadi berada diatas laptop. Memainkan jari jemari tiada hentinya itu. Mengambil tas yang berada disampingnya dan membukanya. Aku tak tahu apa yang hendak dia ambil. Tak lama berselang sebuah benda mungil kecil ia keluarkan dari tas tersebut. Ternyata sebuah flashdisk berwarna biru. Aku masih menatap gerak geriknya. Ia tancapkan flashdisk tersebut di laptop yang masih menyala dari dini hari tadi.
“San, tolong print nin file yang namanya ‘di ujung perjalanan kita’”
“Baik mas “
“Setelah kamu print masukkan ke amplop ini dan kirim ke kantor pos” sembari memberikan amplop berwarna coklat ukuran besar
“Siap mas” sembari ku tersenyum. Namun ia menampilkan muka yang muram.
“Ini uangnya” sambil mengeluarkan uang sepuluh ribuan
Dan akhirnya kisah percintaannya terabadikan pada sebuah catatan kecil yang sedari dini hari dirampungkannya di depan laptop. Mengenai mimpi-mimpi hidup bersama, mengaruhi bahtera rumah tangga adalah mimpi yang belum tercapai sampai kini. Dan ia masih saja duduk di depan latop dan memainkan jari jemarinya.
Aku berjalan keluar mengambil motor untuk segera menuntuskan amanah yang diberikannya. Ia telah banyak memberikan arti dalam hidupku. Bahwa cinta adalah anugrah Tuhan dan cinta pada manusia akan lenyap seiring berjalannya waktu. Tuhan lah tempat kembali dan segala tempat untuk mencintai. Karena Cinta Tuhan tak akan mati walaupun maut kan menjemput di hari ini. Tuhan begitu dekat karena cintaNya yang abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar