WpMag

Kamis, 12 Desember 2013

SAHABAT


SAHABAT

Candamu mungukir indah di kalbuku
Senyummu menggantung indah dimataku
Cahaya wajahmu melekat erat
Engakaulah yang menyapaku ketika orang lain berpaling dan berjalan sendiri-sendiri. Ketika para manusia terus mengejar mimpinya, dan engaku masih disampingku. Engkaulah yang mengangkat tubuhku ketika terjatuh dan tak kuat berdiri. Engkau yang menuntunku berjalan tertatih-tatih sedangkan para manusia mencoba lari dengan cara mereka masing-masing. Mereka pun berkata, “tak akan kau sampai mengejarku”. Kubiarkan mereka tertawa dengan puasnya. Mereka tak tahu bahwa kita juga berjalan namun dengan mengambil jalan lain.
Sahabat, bersamamu adalah jalinan yang tak dapat terpisahkan. Bersamamu ku dapat mengarungi hidup dengan penuh semangat. Bersamamu pula kita menggantungkan mimpi diatas langit. Mencoba menariknya perlahan. Bahkan kita mencoba untuk terbang dan menikmati setiap langkah menggapai asa. Aku, kau adalah jalinan sahabat yang tak pernah lekang oleh waktu.
Waktu terus berlalu, mengisahkan setiap perjalanan kita. Mengabadikan setiap moment yang telah terlewati bersama engaku. Suatu saat nanti aku ingin kita bertemu dan bercerita mengenai kisah kita. Mengenai kisah kita di negeri diatas awan. Menganai canda dan tawa yang  telah lahir disana. Mengenai air mata yang menetes membasahi pipi kita. Ketika arang terbakar diatas anglo, secangkir teh tersaji didepan mata, kita curahkan semuanya. Aku ingin mengenang kebersamaan kita.
Sahabat, suatu saat ketika kita sudah berkeluarga kita akan merasakan detik, menit, dan jam yang telah kita lewati bersama. Aku ingin mengajak engkau berjalan mundur sejenak menelusuri gua-gua kehidupan yang pernah kita lewati bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar