WpMag

Jumat, 24 Januari 2014

KAMPUNG KEDUA


KAMPUNG KEDUA

Jika ditanya tempat mana yang nyaman maka aku akan menjawabnya kota ku sendiri. Kemudian, jika ada yang menanyakan tempat mana lagi, aku akan menjawab Yogyakarta. Kenapa Yogyakarta? Jawabannya simpel disinilah aku bertahun-tahun tinggal. Dan jika kampung mana yang nyaman untuk ditinggali. Aku akan menjawab kalituri. Kemudian jika mereka bertanya lagi kampung mana yang nyaman untuk ditinggali aku akan menjawab kampung cepit.
Ya, di kampung Cepit inilah aku suduah dua setengah tahun tinggal. Dikampung inilah aku banyak belajar menganai kehidupan. Dikampung inilah banyak kenangan yang tertinggal. Kampung yang ramah warganya, kampung yang menyajikan kearifan masyarakatnya, kampung yang menggambarkan betapa modernisitas terus menggerus dan ia tetap dalam haluan-haluan yang kondisional.
Disinilah aku bertemu dengan sahabat sesama perantau. Disini pula aku banyak belajar dan berinteraksi dengan masyarakat. Obrolan ringan di angkringan, canda tawa di meja ping pong, seteguk kopi di kamar kost adalah teman dalam setiap hari. Obrolan ringan di angkringan mengantarkanku akan interaksi dan sosialisasi pada masyarakat. Canda tawa di meja pingpong adalah hiburan yang menghiasi hari. Seteguk kopi di kamar kost adalah penyamat hari-hari.
Banyak cerita dan ilmu aku dapatkan dari kampung ini. Fonomena yang terus terjadi dimana Islam puritan berkembang sangat pesat telah membawaku untuk membentengi diri. Salah satunya adalah tinggal di kampung ini. Aku menemukan kampung yang tak jauh beda dengan kampung ku sendiri. Aku menemukan bagaimana menyikapi perbedaan antar sesame disini.
Yang pasti, di kampung ini aku menemukan sahabat dan keluarga baru. Sahabat yang mengisi hari-hariku dan keluarga yang sangat hangat bagiku. Sering dapat makan atau jajan jika ada hajatan atau bahkan jika tetangga mendapatkan rezeki. Rasanya ini seperti di kampung sendiri. Suasana yang tak jauh beda masyarakat dan kehidupannya.
Inilah kampung yang akan selalu aku ingat. Inilah kampung yang mengantarkanku menggapai setiap asa. Kampung Cepit inilah aku akan mengisi hari-hari diakhir studi di Yogyakarta. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar