WpMag

Senin, 25 Mei 2015

APA YANG SALAH DENGAN NEGERI INI

APA YANG SALAH DENGAN NEGERI INI

Entah apa yang terjadi di negeri ini. Semua dinilai dengan angka dan serba kuantitatif. Apakah gerangan masa depan pendidikan Indonesia. Sungguh berjalan di tempat pendidikan di negeri ini. Banyak sarjana lulusan perguruan tinggi ternama namun masih nganggur. Sedangkan di pelosok negeri banyak sekolah yang mulai ditinggalkan muridnya lantaran tak ada guru yang mengajar. Mereka (baca : Guru) enggan untuk mengajar lantaran terkendala akses yang terlau berat dan jaminan dari pemerintah yang tak dapat diandalkan. Kini sarjana mulai mencari pekerjaan disektor lain yang menjanjikan. Menjadi pegawai kantoran, PNS atau bahkan pegawai pabrik multinasional yang gajinya lebih menjanjikan.

Sedangkan tuntutan dari orang tua kepada mereka (baca : sarjana) sangat tinggi. Bahwa investasi yang digelontorkan selama menjalani studi harus dapat kembali. Mereka menginginkan anak-anaknya untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan. Gaji tinggi adalah incaran bagi orang tua mereka. Mereka tak ingin anak-anaknya yang telah lulus dari universitas ternama sekalipun menganggur karena tak dapat pekerjaan.

Akhir-akhir ini kita disajikan dengan banyaknnya pencari pekerjaan yang mengincar abdi Negara. Setiap tahunnya puluhan ribu pelamar mendaftar ke berbagai instansi pemerintah demi sebuah kursi yang katanya menjamin kehidupan dihari tua. Pegawai negeri adalah salah satu profesi yang tengah diburu oleh para freshgraduate. Entah bagaimanapun caranya para sarjana muda ini dapat masuk ke instansi pemerintahan. Ada yang belajar berbulan-bulan, mengambil les private yang menjanjikan atau bahkan mencari jalan belakang.

Harapan yang tinggi untuk diterima di instansi pemerintahan telah gagal. Namun masih ada jalan lain. Banyak dari mereka yang masih semangat untuk mendapatkan kursi. Alih-alihh menjadi PNS yang digaji tinggi mereka memilih menjadi pegawai honorer di instansi pemerintahan yang gajinya tak pasti. Banyak instansi membuka lowongan bagi freshgraduate untuk mendaftar. Memang tak ada yang gratis di negeri ini. Lowongan pekerja honorer pun kini menjadi bahan bancakan para pemilik kursi. Mereka terang-terangan melakukan lobi dan jual beli kursi yang bernilai tinggi.

Kini pegawai negeri seolah profesi yang sangat menjanjikan hingga mereka para freshgraduate pun rela merogoh kocek dalam-dalam untuk dapat bekerja di instansi. Sungguh sebenarnya ini adalah gengsi yang tengah dihadapi. Lulus dari universitas ternama akan malu jika tak dapat pekerjaan yang dipandang bergengsi bagi masyarkat.

Ada yang perlu dirubah dari mainsheet masyarakat negeri ini. Pendidikan yang mengedepankan penilaian pribadi hingga paradigma masyarakat mengenai sarjana akhir-akhir ini. Sebenarnya jika kita merenungkan lebih dalam bahwa yang kita kejar selama ini adalah gengsi yang tertutup dengan topeng modernisasi. Kita harus sadar dan mawas diri. Bangun dari sebuah peradaban yang mengatasnamakan modernisasi. Kembali menancapkan local wisdom yang diwarisi dari nenek moyang negeri ini. Mengenai arti penerimaan dan keluasan hati. Mengenai arti keihlasan dalam diri. Dan bahwa pekerjaan apapun jika dilakukan dengan sepuh hati akan mendatangkan kebahagiaan yang tak ternilai.

Hanya karena uang atau gengsi itu adalah sebuah penyakit. Kini sudah saatnya kita bangkit dan mengatakan bahwa kebahagian bukan diukur dari banyaknya materi, namun kebahagian diukur dari keterbukaan dan keikhlasan dalam setiap penerimaan ini.

Salam satu hati untuk kehidupan yang lebih baik……

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar