WpMag

Jumat, 23 Desember 2011

BAGIAN 2

BAGIAN 2


Bagian (2) ini hanya sebuah ilusi imajiner dan hanya fiktif yang agak ngawur...namun tetep ada realitanya.....jangan marah dan gak boleh emosi..bagi mereka yang merasa dirugikan....maaf teramat besar kepada temanku TEH IMAH....hehehehe

Sore itu matahari cukup terang dan angin bertiup semilir mengantarkan kabar kedamaian. Burung-burung berkicau di ranting pepohonan. Ada juga yang berterbangan untuk pulang dari merantau seharian. Pulang membawa sebuah harapan hidup bagi anak-anaknya yang telah menunggu dari siang. Sebuah pengorbanan yang tiada tara dari seorang ibu pada anak-anaknya. Seperti halnya ketika ibuku dulu mengajariku akan arti sebuah kehidupan. Mengajariku akan arti sebuah perjuangan, persahabatan, kedamaiaan. Aku masih ingat akan pesan yang beliau sampaikan ketika aku masih kecil dulu. Mungkin aku masih duduk dibangku SD, aku juga agak lupa. Pesan yang singkat namun membekas sampai sekarang.
“nak ingatlah, dan camkanlah….bahwasanya galangan kalah karo golongan”
Aku tak begitu mengerti makna apa yang beliau sampaikan pada waktu itu. Namun lambat laun, semua terkuak dan aku merasakannnya, bahwasanya ketika kita memeliki suatu idealisme, prinsip, visi misi namun lingkungan tak pernah mendukung maka itu semua sulit untuk di capai. Tanpa kerja keras,semua takkan tercapai.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikum ssalam, Wr,Wb.” jawabku
Terdengar suara salam dari ujung pintu. Aku sangat hafal suara yang datang ini. Iya, ialah istriku, seorang belahan jiwaku, bagian dari penuntun jalanku. Istri yang selalu disampingku menemani setiap langkah kakiku. Ingin rasanya aku membuatkan puisi yang bisa menggugah hatinya, bisa bangga punya suami seperti aku, ingin aku menulis puisi ini dan kubacakan dihadapnnya.

Duhai belahan jiwaku….
Engkau terlahir dari tulang rusukku….
Engkau sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari denyut nadiku….
Maka dengarkanlah aku…
Lihatlah aku….
Engkau yang selalu setia…seirama…
Rasakanlah lagu cinta yang menggema…bersahaja…
dengarkanlah lekuk indah para pujangga…yang membacakan syair cinta…
menyanyikan syair rindu yang tak ternilai oleh dunia….

Ia segera masuk dan mengecup tangan kasarku ini. Tangan yang selalu dipenuhi oleh lumpur sawah. Tangan yang selalu merasakan pahitnya kebijakan para penguasa. Hanya dapat berbuat sebisanya dan menerima ini semua.
“Mas, sedang apa kok megang foto itu segala?”
“ini buk, bapak lagi bercerita akan teman-temannya di waktu masa muda dulu.”sahut adek
“Betul apa yang dikatakan adek.”
“Oh gitu ya.”
Naluri anak kecilnya mulai muncul lagi. Adek meminta pamit, ketika teman-temannya datang mengajak bermain di rumah sebelah. Akhirnya dirumah yang mungil kecil, tinggalan orang tua dulu menjadi sebuah wahana syurga yang terlahir dari keluarga yang biasa. Ia pun ingin tahu akan isi foto-foto itu. Walaupun sebenarnya ia pernah kuceritakan mengenai beberapa teman akrabku dulu di bangku kuliah, namun ia selalu ingin mendengarkan cerita lagi.
“Kalau yang ini siapa mas?”
“Oh itu ya,.itu namanya teh Imah. Ia orang Ciamis, makanya kamipun memanggilnya teh. Aku punya cerita yang menarik mengenai dia. Pernah suatu ketika dalam suatu kuliah ia tertidur pulas. Mungkin karena tadi malam begadang jaga pos ronda, atau mungkin karena banyak solat lail. Aku juga gak tahu, aku belum sempat nanyain masalah itu. Tapi sangat menarik ketika ia tertidur pulas, kepalanya naik turun dan berputar-putar kayak helikopter oling. Terus berputar sampai 360 derajat. Sungguh luar biasa. Kamipun sekelas sekuat tenaga menahan tawa, takut kalau dimarahi dosen. Pak dosen pun hanya diam dan tak memperdulikan dia. Walaupun sebenarnya beliau tahu. Mungkin beliau gak negur lantaran dulu pernah melakukan begitu, tidur didalam kelas…..hehehe(maaf pak).
“Oh ya, dek, aku juga teringat ketika masih menuntut ilmu di madrasah. Ketika itu guruku menuliskan sebuah pelajaran. Namun ia ngantuk dan menguap. Seketika itu beliau langsung menghadap ke santrinya dan berkata.
“Ada yang punya korek?”
Kamipun bingung, sebenarnya pak guru ini mau ngapain kok cari korek api.
“Ada pak”, seketika temenku memberikan korek apinya.
“Lebih baik ngerokok dari pada tidur, kalau kita tidur kita tak tahu dan tak dapat ilmu. Namun ketika rokok dapat membantu untuk membuang rasa ngantuk sehingga dapat menuntut ilmu, itukan lebih baik.”
Seketika temenku mengeluarkan satu pak rokok yang ia simpan disaku bajunya. Langsung diberikannya kepada kami semua. Seketika ruang kelas bak dapur dengan penuh asap rokok. Pak guru pun hanya terdiam dan meneruskan mengajarkan pelajaran. Sembari menerangkan dan mendengarkan kamipun menikmati rokok yang berada di sela-sela jari tangan…..
Akhirnya istrikupun tertawa mendengarkan ceritaku. Senyum manis keluar dari bibir indahnya. Bibirnya merah merekah bak mawar dipagi yang terkena cahaya. Sungguh indah nan anggun wajah istriku. Menampakkan aura bidadari syurga. Mengempakkan sayap membawaku terbang dialam sana.
Bersambung……
Yogyakarta, 19 november 2011....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar