WpMag

Kamis, 22 Desember 2011

SAHABAT


SAHABAT

Foto itu ku pandangi terus lekat-lekat. Foto dengan bingkai kayu yang mulai keropos oleh nener dan kaca yang kusam karena tak pernah dibersihkan. Aku pun terus memandangi isi foto itu. Lambat laun, raup wajah berubah dan mata mulai berkaca-kaca. Air mata menetes dan mengalir di pipi yang mulai mengkerut dimakan usia. Sudah tua memang, tapi aku masih semangat menjalani hidup ini. Namun ketika melihat foto yang tersimpan didalam lemari tua membuat hatiku sontak tercengang.
Foto yang selalu mengingatkanku dari sebuah ikatan persahabatan yang terjalin erat dimasa muda. Iya, aku ingat kebersamaan yang telah berlalu ketika menuntut ilmu demi sebuah cita. Menuntut ilmu dikampus biru penuh cerita yang lucu, menyenangkan dan terkesan sepanjang masa. Dari sebelah pojok kanan aku melihat sosok yang selalu ceria dengan canda tawanya. Ia adalah seorang yang cerdas dan penuh kosa-kata yang menarik jika didengar. Wisnu Adi Susila namanya, terlahir sebagai orang jawa, namun tingkah lakunya gak jawani…hehehe. Aku teringat akan rayuan gombal kepada temanku . Wisnu selalu merayu, kepada teman-teman yang lain. Namun yang paling ia sering rayu adalah, Tyas. Pernah suatu hari ia merayu tyas dengan rayuan gombalnya. Aku masih ingat jelas akan kata-kata yang ia lontarkan kepada tyas.
“yas, yuk dinner?”
“He, ngomong apa kamu?”
“nanti tak traktir sate hati, tulus dari hatiku yang terdalam,”
Kuusap air mata yang terus jatuh membasahi pipi, ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak seperti dulu. Namun aku tak bisa, hanya senyum yang keluar dari bibirku. Terus kupandangi dan kulihat satu persatu foto itu. Mencoba untuk menulusuri mozaik-mozaik yang tertinggal di otakku, merangkainya dan berjalan serta menikmatinya. “Aku teringat akan sosok ini,”gumamku dalam hati. Tangan kugerakkan dan mununjuk fotonya. Ia selalu berada digaris depan dalam setiap kegiatan. Ia lah Suhar, teman yang kadangkala menjengkelkan, namun juga mengasikkan. Jika aku bertemu dia sekarang ingin kuhajar ia dengan gemgaman tangan kananku. Ia yang selalu memojokkanku di kampus. Selalu membuatku mati kutu. Namun, tak apalah, itulah sebuah persahabatan, ada suka, ada duka.
Tiba-tiba peri kecilku datang menghampiriku dan segera memeluk tubuhku erat-erat.
“Pak, bapak kok nangis, ada apa?”
“gak ada apa-apa kok, dek.”
“Tapi kok nangis, emangnya bapak lagi sedih.?”tanyanya dengan penuh penasaran
“Gak, bapak lagi senang, melihat masa muda bapak dulu, ketika dibangku kuliah.”
Kurangkul ia dan kutarik tubuh mungilnya. Kuletakkan ia di atas kedua kakiku.
“Dek jika suatu saat engkau seusia mereka, maka engkau akan tahu arti persahabatan.”
“Hehe…”
Aku mengerti, ia sekarang tak tahu apa nama sahabat itu. Iya, peri kecil berusia 5 tahun itu pastilah belum mengerti arti sebuah sahabat. Namun suatu saat ia akan tahu, dan menjalaninya. Ia akan merasakan apa yang pernah aku rasakan.
“dek, lihatlah ia,”semabari telunjuk jariku menunjuk sebuah foto yang terus ku pegang.
“emangnya siap iya pak”
“Ia adalah teman bapak dulu”. Ialah yang selalu mengcopycan materi kuliah dulu atau lebih tepatnya tukang foto kopi. Namanya mbak Windi dek, ia selalu ceria dengan senyumnya. Jika suatu hari bapak ketemu ia, akan kukenalkan engkau dengannya. Ia periang suka bermain dengan anak kecil, apalagi dengan adek yang suka bermain. Namun ia tak suka melihat anak kecil menagis. Makannya adek jangan suka nangis ya?
“iya, pak adek gak akan nangis lagi, tapi bener ya, adek kenalin sama ia.
“Iya dek,”
Telunjuk jari terus ku gerakkan dan melihat satu persatu foto itu. Terhenti disuatu titik yang membuatku meng orak arik memori otakku, mengingat kejadian-kejadian yang penuh lucu. Iya aku teringat. Ia lah yang selalu bercanda dengan gaya bahasa yang fulgar. Yang paling kuingat dari dia adalah obrolan yang khusus bagi orang dewasa dan lebih tepatnya bagi para pria. Makanya tak berani aku menceritakan ia pada peri kecilku. Hehehe
“Ini siapa pak?”sembari memegang tangan yang menunjuk difoto itu.
“ia adalah satu-satunya teman yang selalu membuatku tertawa dulu dek”
“Namanya siapa pak?”
“Eka satrya”
“Kok wajahnya mirip bintang film itu pak.”
“Ah, adek bisa-bisa saja”.
(bersambung)
NB:bagi temen2 yang merasa dirugikan dari cerita ini, aku minta maaf....ini cuman sebuah coretan yang gak mutu yang tersimpan dimemori otakku....salam persahabatan...cerita ini hanya fiktif, jika ada kesamaan cerita dan tokohnya itu hanya sebuah ketidak sengajaan...hehehehe....maaf teramat buat para tokoh yang kusebutkan.....suhar, wisnu, tyas, dan windi.....
Yogyakarta, 18 november 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar