WpMag

Senin, 10 Desember 2012

SRI GETUK


SRI GETUK


Listrik padam….
Apa yang dapat kita lakukan ketika listrik padam. Barang kali kita akan menghujam pemerintah, memaki-makinya dengan sumpah serapah. Kenapa listrik mati, kan kita sudah bayar pajak, kenapa listrik mati, kan kita sudah memenuhi kewajiban. Dan PLN pun akan tersenyum dan menjawab, “Maaf, ada perbaikan di gardu induk, atau maaf ini untuk penghematan”. Ya, sudahlah kalau itu jawabannya. Kita hanya dapat pasrah, dan beberapa waktu tidak bisa menikmati kemajuan teknologi.
Dan, ketika beberapa waktu lalu listrik pun padam. Di kontrakan hanya ada begundal-begundal yang kehilangan setengah nyawanya. Aku yang dari pulang dari kampus dari memberi makan para “pemalas-pemalas” yaitu sidat itu melihat tingkah laku begundal itu ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak.
“Cung, kamu kenapa?”
“mati lampu cung, koyok wong edan”
“Dolan wae lek no”
“Neng Srigetuk piye Cung?”
“Siap Cung”
“Hubungi Ibnu Komar Cung”
Dan tak berapa lama kami para manusia-manusia suwung telah berada di jalan Wonosari untuk meluncur ke Air Terjun Srigetuk yang katanya indah itu. Perjalanan ke Sri getuk cukup menarik apalagi pemandangan disekitar jalan wonosari yang indah itu. Ingin aku berhenti dan menikmati Susana bukit-bukit yang menawarkan pesona keindahan itu. Dan tak lupa ditengah perjalanan aku mengabadikan setiap moment yang ada. Ini lo Cung, gaya rider kawakan Plat AG.

Eh ternyata, dan ternyata cukup terlampiaskan hasrat untuk menikmati keindahan air terjun Srigetuk. Sampai disana  kerumunan manusia mencoba menikmati akhir pecan di daerah pedesaan. Aku sudah menyangka mereka adalah kaum bourjuis atupun sekalipun marheins yang mencoba menikmati akhir pecan di tengah system kapitalis yang menekan kehidupan mereka. Loh, gok nyambung ya Cung. Maklum, kadung sudah terlanjur di dekte Sistem kapitalis, hingga selalu inget mau nulis apa ujung-ujung nya kapitalis. Hehehe
Kami tak pernah kesini, dan melihat pemandangan bukut-bukit dipadu pesawahan yang disitu ditanami padi mengingatkanku pada rumah. Maklum anak petani, kalau melihat padi yah ingat rumah. Hehehe. Kerumunan orang antri di pinggir sungai untuk menyebrang kea air terjun sri getuk. Kami pun juga ikut-ikutan untuk antri. Ternyata tiketnya 10 ribu, untuk dua kali perjalanan alias pulang pergi. Eh salah pergi pulang. Hehehe.

Kami pun tak ketinggalan untuk mengabadikan moment ini, dan tak lupan moment yang tak penting pun juga harus diabadikan agar selalu ingat kejadian yang gak mutu itu. Sampai di air terjun aku lihat puluhan orang tengah mandi di bawah air terjun. Ada yang berada tepat dibawah percikan air yang jatuh sekitar 20 meter itu. Kepalanya terbentur-bentur oleh air. Dalam hatiku, memangnya dirumah gak ada air, lantas kau mandi disini. Ngapain jauh-jauh, la wong di pom bensin aja sudah ada air dan kamar mandi. Hehehe.

    
Maklum, kamipun akhirnya dijerat oleh keindahan air terjun, dan kita pun tak tahan. Tak tahan untuk mandi dan menikmati sensasi air yang jatuh dari atas itu. Dengan buka kaos dan langsung jebur aku dapat menikmati dinginnya air di daerah pegunungan. Sekali lagi, setiap moment indah harus diabadikan agar suatu hari nanti semua itu menjadi kenangan dan sejarah yang mungkin membangkitkan semangat hidup kita….
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar