WpMag

Minggu, 08 September 2013

KEHIDUPAN NEGERI DIATAS AWAN

KEHIDUPAN NEGERI DIATAS AWAN



Kegiatan KKN memang banyak memberikan manfaat terutama pada mahasiswa. Kita diajarkan bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat dan merasakan kondisi hidup ditengah masyarakat. Pada awal KKN kita dihadapkan pada kondisi masyarakat yang beragam. Terdapat perbedaan yang terbungkus dalam bingkai saling menghargai. Kemudian saya diajarkan bagaimana bersikap terhadap masyarakat.

Saya mencoba untuk mendalami apa yang ada di desa ini terutama dan apa yang ada di dataran tinggi Dieng ini. Banyak informasi yang saya gali di desa ini. Pada minggu-minggu pertama saya telah mencoba mendesain apa yang harus saya dapatkan dan saya gali dari masyarakat. Beberapa hal itu diantaranya adalah kondisi pertanian, budaya masyarakat, sejarah kehidupan di Dieng, dan anak-anak di Dieng.

Setiap malam sehabis sholat tarawih saya mencoba melakukan sosialisasi dengan masyarakat. Sarana yang tepat untuk sosialisasi dengan masyarakat di bulan Ramadhan adalah di Masjid/mushola dengan cara ikut nimbrung dengan masyarakat ketika tadarusan. Dari situlah saya mendapatkan banyak informasi yang tidak saya dapatkan dari perangkat desa. Mengenai kondisi pertanian saya banyak mendapatkan informasi bagaimana dulunya kentang itu masuk di daerah Dieng, Berdasarkan penuturan salah satu masayrakat bahwasanya dulunya kentang dieng berasal dari jawa barat. Awal mulanya adalah beberapa orang dieng belajar pertanian di daerah Jawa Barat. Pada tahun sekitar 1972 kentang dibawa oleh orang Dieng yang belajar pertanian di daerah Jawa Barat. Kemudian budidaya kentang di Dieng semakin menyebar sampai saat ini. Pada awalnya tanaman kentang tidak memerlukan pestisida dan hanya menggunakan pupuk organik. Bahkan tanaman kentang bisa ditanaman sampai 2 kali. Ketika panen, umbi kentang diambil dan batangngnya di tanaman kembali masih dapat berbuah.

Budaya masyarakat dieng adalah sarung yang melekat di tubuhnya dan anglo yang menemani dalam setiap kali masyarakat berkumpul. Sarung adalah salah satu alat untuk menghangatkan diri dan biasanya digunakan oleh masyarakat ketika sore dan malam hari. Masyarakat Di Dieng selalu menggunakan sarung atau jaket dalam setiap aktifitasnya. Anglo (tungku) adalah alat penghangat yang terbuat dari besi plat yang dibentuk seperti tungku. Anglo digunakan untuk penghangat dan selalu menemani dalam setiap masyarakat berkumpul. Anglo tersebut diberi arang dan nantinya dinyalakan maka disitulah kehidupan dan obrolan masyarakat Dieng berlangsung. Tidak ada satupun rumah di Dieng yang tidak memiliki anglo karena itu merupakan simbol budaya masyarakat. Tidak cukup duduk didepan anglo tanpa ditemani secangkir teh hangat dan sebatang rokok. Sarung (jaket), anglo, teh hangat, sebatang rokok adalah budaya yang sampai saat ini melekat di masyarakat Dieng. Semua itu adalah warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Kehidupan di negeri diatas awan yang memiliki local wisdom yang tak dapat dibeli.

Mengenai sejarah kehidupan di Dieng banyak cerita yang simpang siur. Saya mencoba mencari informasi mengenai hal itu. Saya menemui salah satu warga yang cukup dihargai dimasyarakat. Saya menanyakan bagaimana kehidupan masyarakat di Dieng dahulu. Berdasarkan penuturan beliau bahwasanya yang babat alas di Dieng adalah Tumenggung Kala tirta yang pesinggahannya di Balai kambang. Tumenggung Kala Tirta berasal dari Yogyakarta. Namun makam beliau sampai saat ini belum ditemukan. Pada tahun 1940an Belanda masuk di daerah Dieng dan membuat rumah didaerah tersebut. Orang belanda yang tinggal di Dieng hanya 7 keluarga namun banyak menyengsarakan masyarakat. Masyarakat menjadi miskin dan tanah-tanah dikuasai oleh pihak Belanda. Tepat pada tahun 1948 Belanda dapat di usir oleh masyarakat. Rumah-rumah orang Belanda dibakar, dan meraka semua meninggalkan daerah Dieng.

Kehidupan di Dieng tidak dapat dilepaskan dari kehidupan anak-anak. Anak-anak adalah aset yang sangat berharga dimana nantinya suatu masyarakat sangat ditentukan oleh generasi penerusnya. Mengenai anak Gimbal adalah salah satu mitos yang ada di Dieng. Berdasarkan penuturan salah satu warga bahwa untuk mengambil gambar anak Gimbal harus memberikan sebuah hadiah, bisa uang atau barang. Pemotongan rambut Gimbal di Dieng dilakukan satu tahun sekali. Pemotongan rambut gimbal disertai keinginan si anak itu untuk memotong rambutnya. Tidak hanya itu, permintaan anak gimbal harus dituruti ketika akan dilakukan pemotongan rambut.

Banyak ilmu yang dapat digali di dataran tinggi Dieng ini. Banyak cerita masyarakat yang menjadi pembelajaran bagi kita semua. Inilah kekayaan budaya yang dimiliki oleh negeri tercinta. Hanya kitalah yang dapat menjaganya agar nantinya apa yang kita miliki ini tetap ada dan menjadi milik kita selamanya. Bahwasanya kebudayaan, cerita rakyat, dan kehidupan masyarakat harus dihargai dimanapun itu semua ada. Dengan cara itulah kita mencoba menumbuhkan sikap nasionalis dalam diri kita.

Kehidupan negeri diatas awan tak pernah mati dan hilang walaupun modernitas terus menggerus zaman. Ia akan bermetamorfosa seiring kehidupan yang terus berjalan. Nyala arang diatas anglo, sarung yang melekat ditubuh, secangkir teh hangat dan sebatang rokok akan terus menjadi teman dalam setiap semangat kehidupan masyarakat Dieng.


Salam dari Dieng untuk negeri tercinta. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar