WpMag

Senin, 02 September 2013

MERAJUT ASA MENJALIN KEBERSAMAAN

 MERAJUT ASA MENJALIN KEBERSAMAAN



Persahabatan kita telah mengukir kan sebuah sejarah kehidupan. Kita adalah berbeda, namun kita mencoba untuk merangkai perbedaan ini menjadi sebuah jalinan persahabatan yang kuat. Aku tak pernah menyangka kita dipertemukan atas bingkai KKN. Aku tak pernah berfikir akan bertemu dengan engkau semua.

Awal mula pertemuan kita, aku berfikir bagaimana nanti menjalani hidup dengan 20 orang yang berbeda dan ada 20 pemikiran yang berbeda. Aku sulit membayangkannya. Pada pertemuan awal itu, aku hanya berharap semoga pemikiran ku dan pemikiranmu dapat dipertemukan sehingga menghasilkan gagasan yang terbaik.

Perjalanan kita dimulai pada tanggal 2 Juli 2013. Aku sangat berat meningggal kan Jogja untuk jangka waktu 2 bulan ini karena Jogja begitu berkesan dalam diriku. Namun aku harus merelakannya demi sebuah KKN yang notabene masuk dalam SKS wajib. Jika tidak wajib, aku tidak akan mengambilnya. Aku masih ingat kawan ketika aku naik truck sendirian, dan kalian naik mobil avanza dan mini bus. Aku masih ingat kawan, kita belum begitu akrab saat itu. Apalagi akrab, kenal namanya saja belum.

Ingatkah kawan ketika minggu pertama setiap malam kita mengadakan rapat. Ditemani sebuah anglo, papan tulis, dan suara-suara kita. Kita menghabiskan malam untuk sebuah susunan program. Kita mencoba untuk merangkaikan ide dan gagasan untuk sebuah tujuan yang satu. Melihat kondisi masyarakat, kita semakin terbenam dengan problema mereka. Nyali kita semakin menciut dan takut. Bahkan kita ingin berjalan mundur dan melupakan asa yang telah kita bangun dari awal.  Namun kawan, niatan yang tulus, kita mencoba bangkit dan merubah anggapan itu semua. Kita berdiri dan mencoba berjalan walaupun tertatih-tatih.

Kawan masih ingat kah engkau, kita menghabiskan waktu itu untuk menyelesaikan program, jalan-jalan dan bersantai di pondokan. Ingatkah kawan setiap hari kita ada yang masakin.  Tiga kali sehari, cukuplah untuk hidup sehat dan teratur. Walaupun menu makan kita biasa namun bukan masalah karena kebersamaan yang kita cari. Bahkan kita tidak perlu mencuci piring sendiri, karena telah terjadwal rapi. Dari semua kita tak pernah mengeluhkan jadwal masak dan cuci piring. Kita mencoba bersikap legowo menerimannya. Itulah yang membuatku betah bersama kalian.

Di malam kita habiskan untuk membuka lapak. Curhat mengenai diri kita masing-masing. Kita tak memiliki sekat dan tak ada yang perlu di sembunyikan karena kita mencoba untuk terbuka. Di temani anglo, sekali lagi kawan, kita mencurahkan setiap beban pada diri kita. Kita bagi semua masalah kita, sehingga terasa ringan untuk dihadapi. Mengenai hubungan dengan keluarga, pacar, bahkan masyarakat kita curahkan dimalam-malam itu. Aku tak pernah menyangka bisa bercerita dimalam itu, karena bagiku ceritaku untuk orang-orang terdekatku. Dan engkau harus tahu kawan, engkaulah orang-orang terdekatku. Dan engkaulah pembangkit semangatku.

Apakah engkau ingat kawan ketika kita berdiri diatas bukit Si kunir. Melihat pemandangan yang luas. Melihat panorama alam dan kita tak menyadari bahwa kita telah berdiri di negeri diatas awan. Negeri yang mempersatukan kita. Negeri yang menyajikan kisah-kisah setiap perjalanan kita. Sungguh ini nyata kawan, negeri diatas awan tak pernah hilang karena kisahnya telah terukir pada diri kita.

Dan akhirnya kita berada pada ujung waktu. Tanggal 30 Agustus kita meninggalkan negeri di atas awan. Persahabatan yang telah kita bangun tak akan pecah begitu saja walaupun di Jogja kita akan jarang bertemu. Namun kisah yang telah terukir ini, tidak akan luntur dan hilang oleh waktu dan akan tetap bersamayam dalam diri kita. Suatu saat kita akan dipertemukan dalam waktu dan tempat yang berbeda.

Kawan aku mengajak pada engkau semua bahwa jaga dan jagalah persahabatan kita. Jangan kita mengedepankan ego kita. Dan perjuangkan persahabatan yang telah kita bentuk agar tidak hancur. Sehingga kita dapat melanjutkan mozaik-mozaik sejarah yang akan kita susun bersama.

Dalam puing-puing yang berserakan
Gesekan-gesekan yang berterbangan
Mozaik-mozaik yang tak karuan
Aku dan engkau mencoba
Mencari jalan, merajaut asa, menjalin kebersamaan


Yogyakarta, 3 September 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar