WpMag

Minggu, 17 Juli 2011

BUKIT BINTANG YANG MENAWAN

kBUKIT BINTANG YANG MENAWAN

Matahari yang dari siang tadi menari-nari kini mulai lelah dan mulai meninggalkan peraduannya. Cahaya merah kekuningan tersibak dengan jelas di sebelah barat terhalang oleh bukit. Udara dingin kini mulai terasa walupun Cuma sedikit. Lalu lalang kendaraan menghiasi jalan-jalan menuju kota diatas bukit. Ya, Wonosari sebuah kota kabupaten yang berada di atas bukit. Wonosari merupakan ibukota kabupaten Gunung kidul. Terlepas dari Wonosari yang letaknya tak begitu jauh dari aku duduk sekarang. Kini aku duduk di sebuah pinggir jalan daerah Bukit Bintang. Entah siapa yang menamakan pertama kali daerah itu Bukit Bintang. Tapi memang benar jika daerah itu disebut bukit bintang karena ditempat saya berdiri inilah aku bisa melihat kota Yogya dari ketinggian. Lampu-lampu kota seolah seperti bintang yang menghiasi langit luas. Pandanganku sangat luas untuk menikmati Yogya dari ketinggian. Sungguh indah sekali.
“Heh, kok ngelamun terus?”
“Nggak, aku gak ngelamun,” jawabku
“Ni jagung bakar,”
“Terimakasih,”
Jagung bakar rasa pedas manis yang diberikan Slenco cukup enak. Lumayan untuk mengisi perut yang dari pagi hanya diisi nasi pecel. Namun mulai terasa rasa pedas yang menggila. Entah ini sambel, cabenya berapa kok pedas banget,
“Slen, ini kok pedas banget,”tanyaku sambil mulut yang kepedasen mengunyah jagung
“Ah, kamu ini gitu aja ngeluh,”
“Beneran pedas,”
“Biasa aja aja rasanya, perasaanmu aja yang membuat jagung itu pedas. “
“Beneran lo,”
Mending itu pedas karena cabe, coba kamu tengok para petinggi kita yang selalu sabrar dikritik, walaupun kritikannya sangat pedas.
“Ah, kamu ini. Ini tadi berapa harganya,”tanyaku
“Ah nyante aja.”
“Beneran berapa?”
‘3 ribu.”
“Mahal banget ya,”
Iya, mahal sih. Katanya negeri ini gemah ripah loh jinawi. Dan kata koes plus di negeri kita ini tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Tapi kok harga semua barang mahal-mahal, apalgi bahan pokok. Padahal sumberdaya alam negeri ini melimpah. Memangnya kemana aja hasil dari itu semua. Keluar negeri, atau mungkin keperut sendiri?
Aku masih saja duduk disini, dipinggir jalan disebalah penjual jagung bakar. Menikmati keindahan jogja. Pikiranku melayang jauh turun kebawah bersama keindahan lampu-lampu kota jogja. Melihat jauh mendekat kehidupan masyarakat jogja dan kearifan lokalnya. Masih jauh dan kini aku berada didalam hati para rakyat jogja.
Eh, kamu kok terus ngelamun,
“Gak apa-apa, “jawabku
Sudah, jangan dipikirin terus. biarlah mereka bersenang-senang dengan kekuasaannya. Biarlah mereka menikmati kursi yang didudukinya. Memang nasib kita begini. Tak perlu ditangisi, apalagi disesali. Itulah kebijakan mereka. Aku tahu kamu memikirakan masalah keistimewaan jogja. Biarlah, mereka lupa akan sejarah berdirinya negara ini. Nanti mereka akan tahu, bahwa Indonesia ada karna Jogja. Jika mereka berpura-pura lupa tentang sejarah, biarlah. Jangan kau hiraukan. Namun yang pasti, inilah jogja dengan keistimewaannya. Inilah jogja dengan kebudayannya, inilah jogja dengan kearifan lokalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar