WpMag

Minggu, 10 Juli 2011

SURAT MENYRURAT

SURAT MENYRURAT

Pagi yang dingin membuat aku tak berani beranjak dari tempat tidur. Sarung yang kukenakan untuk selimut masih menempel ditubuhku. Jam pun berbunyi. Kulihat ternyata sudah menunjukkan angka 8. Oh ya aku ada urusan. Waktu mau bangun, ia sudah berada didepanku. Setan yang tadi malam mengangguku hingga aku pusing. Ingin rasanya aku menendangnya dengan tendangan tanpa bayangan, biar melesat dari hadapanku.
“Loh, jam segini kok sudah bangun?”tanya dia.
“Iya,aku mau ada urusan dikampus”.
“Urusan apa?”
“Mau tu aja kamu.”
“Aku ikut ya.”
“Gak usah.”
Langsung aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Eh, ternyata, air nya mati. Jam segini air mati. Wah PDAM nya gimana ni. Aku harus segera kekampus. Gak cepat datang, nanti takutnya, gak selesai-selesai urusan. Akhirnya kuputuskan untuk tak mandi. Cuci muka saja harus pakai air minum. Biar gak begitu kelihatan kusemprotkan parfum keseluruh tubuh.
Aku ikut ya,
Gak usah.
Langsung aku tancap motor menuju kekampus. Melewati jalan-jalan yang penuh sesak orang. Krucuk...krucuk. perut ini mulai keroncongan. Tapi, kubiarkan karena harus segera tiba dikampus. Tak berapa lama tiba dikampus. Terlihat suasana yang sepi, sedikit lalu lalang orang. Mungkin karena ujian semester telah selesai. Para mahasiswa yang masih, kekanak-kanakan itu pastilah pulang kerumah. Akupun segera menuju akademik fakultas
Buk, apa surat magang saya sudah jadi?
Atas nama siapa mas?
Atas nama slenco.
Oww, mas slenco. Coba tak cari dulu.
Beliau kemudian membuka lembar demi lembar surat yang ia pegang. Membuka lagi beberapa kertas yang berada didepan mejanya. Terus mencari dan melihat dengan teliti nama SLENCO.
Wah, kok gak ada ya mas, kayaknya masih di atas.
Waduh, gimana to buk. Dalam hati pikirku, kalau cari jangan pakai kaca mata buk, pakai tu mikroskop biar mudah terlihat. Masak namaku gak kelihatan.
Jadinya jam berapa buk?
Wah aku gak tahu mas., coba sebntar lagi kesini. Semoga dah jadi.
Emangnya kurang apanya buk?
Cuma kurang tandatangan dari wakil dekan.
Ya, udah terimakasih buk.
Aku berjalan meninggalkan akademik. Wah, kampret dah seminggu surat masak belum jadi-jadi. Lalu jadinyakapan magang. Kini tinggal 1 minggu tingal di jogja.siapa sih wakil dekannya, kok, surat sudah seminggu gak ditandatangani.
Heh, ngapain kamu ngumpat wakil dekan?
Loh, slendro datang.
Enggak aku ngumpat dia.
Ya udah biarin aja lah. Inikan negara mereka, patutlah jika mereka bertindak sewenang-wenang. Kita kan Cuma pendatang, Cuma imigran yang mencari suaka. La wong, petinggi kita aja malsuin surat aja biasa. Masalah tandatangan itu sudah hal yang lumprah. Apalagi kita hidup di era modern. Apa sih yang gak bisa dilakukan. Tinggal sret semua jadi. Surat yang tadinya belum ditandatangani sebentar lagi juga ditandatangini.
Ya gak gitu, aku di jogja tinggal 1 minggu, masak magang Cuma 1 minggu.
Kan gak apa-apa. Yang penting dapat ilmunya.
Tapi, takutku suratmu tadi gak sampai ke wakil dekan malah terselip dan dikirim ke KPK. Mampus kamu. Kekayaanmu akan segera di audit. Kamu akan segera dipanggil KPK untuk dimintai keterangan.
Ngawur kamu. Ngapain kamu disini?.
Ngikuti kamu.
Kubiarkan manusia aneh ini membuntutiku dibelakang. Tak kuhiraukan, semenjak kejadian tadi malam , aku seolah masih marah sama dia. Orang paling aneh didunia. Aku berjalan, melihat dipapan pengumuman. Melihat sepintas beberapa pengumuman.
“Hati-hati NII mulai merambah ke kampus”. Aku kaget, terkejut, dan takut jangan-jangan orang ini, salah satu anggota NII. Dia kan sejak kemarin ngikuti aku terus. Ngomongnya nglantur, ngawur dan sok tahu. Tapi, yang aku heran lagi, ia kok gak berbicara tentang agama ya. Gak ngomongin masalah Jihad, masalah kafir, atau surga. Ia juga gak ngejak atau ngerayu aku untuk masuk NII. Wah, tapi aku harus hati-hati, bisa-bisa ini strategi awalnya ia mendekatiku. Terus kalau sudah berada dalam cengkeramannya ia masukkan doktrinnya. Wah aku harus hati-hati ini.
Setelah melihat-lihat pengumuman sebentar, aku mberjalan menuju perpus. Soalnya dari pada harus pulang lagi, nanti juga balik ngambil surat magang. Ia kulihat masih berada dibelakangku, membuntutiku. Ia kadang-kadang ngomong sendiri, dan bahkan ngajak ngobrol aku. Aku yang dari tadi gak mot sama dia, kubiarkan ia ngoceh di belakngku. Seperti burung kutilang yang ngoceh tak karuan. Memang tingakh ornag ini snagat aneh sekali. Aku sampai diperpus, kuambil koran kompa yang berada menggantung tak jauh dari ku. Kuambil tempat duduk dan kubaca berita yang ada satu-per satu. Terlihat ada berita muktamar partai persatuan pembangunan. Penasaran aku dengan judulnya, kubaca.
“Halah, Cuma politik saja, mending kamu baca lowongan kerjaan, atau kontrakan. Kan kamu belum dapet kontrakan”.
“Biarin, aku pengen baca masalah politik”.
Emangnya kamu pingin jadi seperti mereka? Ngomong didepan media. Berbicara yang manis-manis. Ngomongin masalah pertumbuhan ekonomi yang kini mencapai 6 persen. Alah omongan mereka aja, kita yang rakyat jelata masih berkutat dalam kemiskinan. Omong kosong jika pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6 persen itukan Cuma sektor lain, sektor riil kita malah semakin terpuruk. Kita sekarang malah dihadapkan oleh krisis pangan. Beras saja kita masih impor. Garam saja kita juga masih impor. Apakah kurang, lautan dinegara ini untuk dijadikan garam. Apakah lautan yang luasnya dua pet tiga dari daratan Indonesia ini kurang. Kemarin aku denger, menteri kita gerah, maslah impor ikan kembung dan bahkan ikan lele. Wah lucu ya jika didengar. Panjang pantai kita yang mencapai 83 ribu km masih kurang untuk menyuplai ikan dalam negeri. Emangnya seberapa besar sih kebutuhan orang Indonesia akan ikan.
Aku, semakin kesal saja sama orang ini. Ingin kutampar saja mukanya dan mulunya kusumbat dengan koran ini. Kubiarkan ia ngoceh di sampingku. Kubalik lagi koran didepanku, mencari bacaa yang menarik. Terlihat judul, konsumsi ikan di jogja paling rendah.
“Wah, itu apa-apaan.”
Ia, mulai kometar lagi.ingin ku pukul kepalanya denagn batu.
Masak konsumsi ikan di jogja paling rendah. Apa mereka gak tau kalau kita sering makan ikan. Emangnya yang disurvei mereka itu tempat mana saja. Jangan-jangan tmpat prostitusi sekalian jajan disana. Parah nih. Ah, ngawur juga aku, berprasangka buruk pada mereka. Maaf ya pak. Ia yang dari tadi melihatku membaca koran, kembali komentar, melihat rubrik olah raga.
Wah, brazil imbang ya lawan venezuela, kemarin argentina juga imbang lawan bolivia di ajang copa amerika. Kayaknya kini peta kekuatan sepak bola dunia sudah mulai merata. Kini negara-negara underdok mulai bangkit dari penindasaan para penguasa bola. Kita lihat saja di Asean, filipina, vietnam dan bahkan malaysia lolos kebabak berikkutnya pra olimpiade. Tapi, kenapa ya, kita masih berkutat di oraganisasi Induk PSSI. Kita masih berkutat ngurusin siapa yang bakal memimpin PSSI kedepan. Kita sibuk dengan mereka, semntara para pemain tak diurusi. Hingga timnas kekurangan dana untuk melakukan ujicoba. Apakah yang mau main itu para petinggi PSSI, apakah ia bisa main bola?. Sukur aja, kemarin timnas dapat sokongan dana dari beberapa BUMN. Apa jadinya jika tak dapat sokongan dana dari BUMN. Pasti firman utina dan kawan-kawan nganggur dirumah bercengkerama dengan kelluarga. Tapi, yang aku bingung, kenapa dana untuk timnas habis. Kenapa ya. Apa dipakai untuk penanganan itmnas junior di Uruguay, apa dipakai sewa hotel untuk konggres PSSI. Woh, iya wajarlah jika dipakai konggres, soalnya kan konggres kemarin gak jadi. Akibatnya kemungkinan pengeluaran membengkak dan dana timnas disunat untuk keperluan konggres. Lucu ya?
Wong edang ini masih saja ngoceh disampingku dengan intonasi yang aneh. Gremeng. Wong kamu lo tahu opo?
“Loh, kamu ngumpat aku to?”tanya nya
“Enggak,”
“Aku tahu semua lo masalah PSSI”.
“Emangnya seberapa dalam pengetahuanmu tentang PSSI?” Aku mulai terpancing.
PSSI itu lahir puluhan tahun yang lalu. Lahir dikota solo diprakarsai oelh pahalwan kulit bundar tanah air. Namun kini setelah berusia entah berapa puluh tahun lamanya malah semakin terpuruk saja. Kini mereka masih berkutat dalam lembah kepengurusan.
“Lo, kamu itu kalau diajak bicara ngomongnya ngawur gitu”.
Aku gak ngawur, ini kenyataan. Orang-oran yang sekrang duduk disana itu sudah berpolitik, aentah politik apa aja. Sudah banyak uang mengalir disela-sela konggres. Sudah banyak uang mengalir di wasit, dipetandingan, ah masih banyak lagi.padahal FIFA melarang ada berbagai interfensi pihak luar. FIFA menginginkan organisasi sepak bola di bawah FIFA bersikap jujur dan terlepas dari pihak manapun.

catatan 5 juli 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar