WpMag

Senin, 07 Mei 2012

CERITA ANAK PETANI


CERITA ANAK PETANI

Aku hanyalah anak petani gurem. Lahir jauh dari peradaban kota. Disebuah kampung kecil yang masyarakat sebut kampung Kalituri. Disinilah aku dilahirkan. Ditengah-tengah hiruk-pikuk para petani yang berjuang untuk mencapai kesejahteraan. Daun tembakau, bulir-bulir padi, biji-biji jagung menjadi roda penggerak perekonomian masyarakat. Namun beberapa waktu lalu, terdengar kabar pembatasan produksi tembakau. Sungguh berita tersebut sangat menyayat masyarakat. Soalnya dari sekian tanaman yang dibudidayakan tembakaulah yang mampu memberikan nafas lebih dari tanaman yang lain. Dengan tembakaulah masyarakat dapat bertahan hidup lebih lama. Walaupun lahan pertanian dikampun kami tak begitu besar, namun menjadi harapan satu-satunya masyarakat.
Aku tak ingin membahas isu yang terjadi tempo hari lalu. Isu mengenai tembakau itu. Aku ingin menengok kebelakang. Mengenang masa kecilku dulu. Mengenang masa-masa bermain dengan lumpur dan tanaman itu. Sepuluh tahun yang lalu atau lebih aku masih kecil. Aku masih duduk di bangku SD. Aku belum mengenal mengenai bertani. Walaupun bapakku seorang petani. Walaupun kakek dan seluruh keluarga besarku seorang petani. Namun lembat laun seiring berjalannya waktu aku mulai terjun. Aku mulai turun. Aku mulai merasakan hidup sebagai petani.
Awalnya aku hanya ikut membantu orang tua. Ketika itu usiaku baru menginjak SD. Bukan membantu sih, tapi lebih tepatnya mengganggu pekerjaan orang tua. Namun waktu berganti, hari berganti, minggu, bulan dan tahun berganti. Aku benar-benar terjun sebagai petani. Ketika duduk dibangku SMP aku mulai membantu lebih intensif pekerjaan orang tua. Sebagai petani gurum. Terlepas dari kegiatan sekolah disore ataupun hari libur aku biasa habiskan untuk membantu orang tua. Ketika musim tanam tiba. Aku membantu untuk Daud ( memanen benih padi yang telah ditanam untuk dibesarkan). Aku juga ikut menanam benih padi. Disaat padi mulai tumbuh aku ikut menyiangi atau orang kampung menyebutnya maton. Disaat musim panen tiba aku ikut derep (panen padi).
Terus beranjak usia, aku beranikan diri untuk mencoba menerjunkan sepenuhnya untuk bertani. Aku sisikan waktu lebih dimasa SMA untuk mengurus ladang. Ketika itu aku kelas dua SMA. Dimusim tembakau aku niatkan untuk mencoba belajar menanam tembakau dari kecil sampai panen. Walaupun lahan yang aku coba tanami tidak begitu besar. Sekitar 25 RU. Dengan bantuan orang tua dan masukan dari berbagai orang didekatku sangat membantuku dalam bertani tembakau. Aku merasakan menjadi petani sebenarnya. Aku merasakan begitu nikmatnya bertani. Ketika pagi menyingsing bersamaan surya yang mengepakkan cahayanya aku telah berada di ladang kecil itu. Ditemani sebuah cangkul, arit, dan beberapa alat pertanian lain aku habiskan masa remaja ku itu. Aku menemukan kenikmatan itu. Aku menemukan kenikamatan ketika makan. Disaat keringat mulai bercucur deras di tubuhku. Disaat sinar mentari menghantam wajahku. Disitulah kenikmatan nasi bercampus sayur dan sebuah lauk tempe. Disaat siang yang menyala, disaat sore yang hangat aku merasakan semilirnya angin surga menerpaku. Aku merasakan kedamaain seorang petani. Aku merasakannya itu. Mungkin inilah yang membuat para petani betah menjalani rutinitas hidupnya. Terlepas dari penghasilan dan kebutuhan hidupnya. Terdapat kepuasan yang tak ternilai.
Andai saja mereka saudara-saudaraku para petani yang selalu setiap menghidupi rakyat negeri kehidupannya lebih sejahtera. Maka itu adalah puncak kepuasan dari sebuah perjalanan hidup petani. Itulah puncak segalanya hidup mereka. Walaupun kini mereka masih berkutat dengan berbagai kendala mulai mahalnya harga pupuk, rendahnya harga hasil panen, minimnya peran pemerintah tak membuat mereka patah arang. Semoga saja mereka saudaraku semua tetap bertahan menjadi petani dan semoga kesejahteraan akan segera datang sebagai puncak kenikmatan hidup sebagai petani.

Yogyakarta, 7 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar