WpMag

Sabtu, 05 Mei 2012

SENJA DI UJUNG SANA


SENJA DI UJUNG SANA


“nanti sore ada waktu gak?”
“emmm…kosong, emangnya ada apa?”
“ada suatu hal yang ingin aku katakan padamu?”
“mengenai apa?…oh ya kebetulan aku juga mau nyampein kabar padamu”
“ya sudah nanti ya, aku tunggu di senja ujung sana
Terdengar suara tutt…tut…dari gagang telpon menandakan bahwa berbincangan singkat itu telah berakhir. Rozik sangat senang, seakan pintu itu akan terbuka lebar. Hatinya berbuncah-buncah karena ia akan mengungkapkan apa yang ia  rasakan selama ini. Apalagi ia akan mengungkapkannya di senja ujung sana. Sebuah tempat yang mempertemukan ia dengan Naim. Sebuah tempat bersejarah dalam hidup mereka. Sebuah tempat dimana, ikatan persahabatan itu dimulai. Dan kini berubah menjadi tempat yang akan mengikat mereka menjadi sebuah hubungan lebih dari itu.
Walaupun sebenarnya Naim telah mengungkapkan rasa cintanya terlebih dulu beberapa bulan silam. Namun Rozik saat itu belum bisa melupakan pacarnya yang telah pergi. Rozik belum bisa melupakan. Kenangan bersama Rusmi. Bercumbu mesra di balkon kafe, berpegang erat di pinggir danau Sentanu telah membawa Rozik sulit melupakan Rusmi.
Naas ketika senja belum sepenuhnya pulang. Ketika mentari memendarkan jingga diujung langit Rusmi telah pergi untuk selamanya. Bus yang ia tumpangin, dihantam oleh container yang tanpa ampun membabi buta seluruh penumpang. Ia telah memakan dengan lahab seisi penumpang. Sopir, kernet, kondektur, dan seluruh penumpang tak dapat menyelamatkan diri. Hanya mereka yang diizinkan oleh Tuhan untuk menikmati sisa hiduplah yang dapat selamat. Hanya mereka yang diberi tambahan nyawalah yang dapat selamat. Sedangkan Rusmi, telah dibawa oleh malaikat kealam sana. Ia pergi tanpa meninggalkan pesan. Ia pergi dengan sendiri, ditemani air mata dari kerabat dan sahabat dekatnya. Hanya peluh air mata disenja itu yang mengantarkannya untuk pulang selamanya.
Semenjak itulah Rozik merasa hidupnya tak berguna lagi. Ia merasa bahwa, cinta itu teramat kejam. Mengantarkan pacarnya Rusmi untuk meninggalkannya sendiri. Berhari-hari dan bahkan beberapa minggu Rozik tak bisa makan. Ia hanya termenung di kamar, sesekali keluar untuk mencari hawa segar. Senja di ujung sana, adalah tempat yang biasa Rozik habiskan untuk mengenang pacarnya itu. Senja adalah teman sepi yang menghiasi hidupnya. Senja adalah lagu melo yang ada dan selalu merengkuh erat di tubuhnya. Senja inilah yang membukakan harapan baru. Disinilah Rozik bertemu dengan seorang yang membangkitkan semangatnya untuk dapat bertahan dalam keterpurukan. Ialah Naim seorang gadis dengan rambut panjang, hem kotak-kotak warna biru, dan gelang yang melilit tangan kirinya. Gadis dengan wajah yang lumayan, tidak kurang dan tidak lebih. Gadis dengan senyum simpul sedikit malu. Gadis dengan semangat menggebu-gebu.
“apa engkau terus begini, dimakan sang waktu”
“memangnya kenapa?”
“apa engkau ingin menjadi teman kesendirian, apa kau ingin menjadi teman senja yang akan hilang, apa kau ingin menjadi teman waktu yang terus berjalan. Lihatlah…lihat disana masa depan menatap kita. Masa depan menunggu kita..masa depan telah mengulurkan tangannya pada kita untuk meraihnya dan menggenggamnya erat. Apa engkau akan menjadi teman senja yang akan hilang ini”
Rozik terdiam ketika Naim memberikan nasihatnya. Seakan ia merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini, meratapi nasib adalah kebodohan yang paling bodoh sepanjang masa. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Naim adalah benar. Bahwa kita tak boleh meratapi nasib. Bahwa waktu terus berjalan dan akan mengantarkan manusia meraih segala impiannya.
“maaf, bukan maksudku mengguruimu, namun aku ingin melihatmu tersenyum lagi”
Semenjak itulah Naim selalu datang membangkitkan sendi-sendi tubuh Rozik. Semenjak itu pula Rozik dapat bediri tegak menghadapi hidup yang kadang kejam. Namun, Rozik tak sepenuhnya dapat melupakan kenangan dengan Rusmi. Kenangan bercumbu di senja ujung sana, kenangan berpegang erat, pelukan, ciuman mesra tak dapat ia lupakan. Hanyadisenja ujung sanja lah yang menjadi saksi hubungan meraka. Namun disenja itu pula, Naim ingin mengungkapkan semua yang ada dihatinya selama ini. rasa yang terpendam sengat dalam hingga ia bingung untuk melahirkannya. Namun dengan sekuat tenaga ia akhirnya meluapkan rasa itu dan mencoba merangkainya dengan hati-hati. Agar Rozik dapat membuka pintu hatinya untuk Naim isi dengan cinta. Sebagai pengganti kekosongan yang Rusmi tinggalkan karena telah dipanggil Sang Maha Pencipta.
“Zik, tahu kah kau….beberapa hari yang lalu ibu menelponku. Ibu memintaku untuk segera mencari pasangan. Karena ibu ingin segera aku menikah dengan seseorang”
“terus, kamu jawab apa?” tanya Rozik dengan nada datar
“aku jawab sebentar bu, mungkin tak lama Naim akan mengabari ibu”
“Begini Zik, sebenarnya, jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku menunggu engkau untuk membukakan pintu hati untukku. Namun sampai detik ini rasanya engkau belum membukanya. Aku ingin membukanya Zik. Aku ingin engkau menerimaku sebagai pacarmu. Aku ingin kita dapat berjalan berdua sebagai pasangan”
Rozik sangat terkaget dan ia tak menduga Naim mengungkapkan rasa cintanya. Sekali lagidisenja ujung sana, menjadi saksi ungkapan cinta Naim padanya. Tubuhnya kaku, bibirnya sulit untuk digerakkan. Ia bingung mau menjawab apa.
“maaf…Im,untuk sementara aku belum bisa menerimamu”
“kenapa, apa engkau masih mencintai Rusmi yang telah pergi itu?”dengan nada sedikit tinggi
“iya…Im, kamu tahu Rusmi adalah pacarku yang sangat aku cintai. Rasanya aku sulit untuk melupakannya. Sekali lagi maafkan aku”
Senja itulah yang mengantarkan Naim untuk menelan pil pahit ditolak oleh seorang lelaki. Senja itulah yang sedikit menutup hubungan mereka. Senja itulah yang mengantarkan mereka untuk berjalan berbeda. Senja itulah yang merenggangkan hubungan mereka.
Senja mengantarkan hawa hangat yang begitu terasa. Senja begitu elok melukis langit dunia dengan warna jingga. Senja mengantarkan burung-burung pulang keperaduannya. Senja mengantarkan manusia untuk pulang kerumahnya. Namun kini senja mengatarkan dua insan manusia untuk membuka sedikit harapan masa depan. Di bibir danau Sentani itulah tersisa dua insan yang menemani senja. Pantulan senja terlihat sangat jelas di atas air danau yang luas. Dibawah pohon yang tak begitu ridang itu Rozik ingin mengungkapkan rasa cintanya. Selama berbulan-bulan ia berusaha membuka hatinya untuk Naim. Dan saat inilah ditemani senja ia akan membukanya. Senja akan menjadi saksi awal perjalanan mereka.
“Im, engkau ingat dua bulan yang lalu. Disini pula engkau mengungkapkan rasa itu padaku”
“iya..aku ingat”
“engkau ingat delapan bulan yang lalu. Disini pula engkau membuka dan membangkitkanku dari tidur dalam lamunan pacarku.”
“iya…aku ingat”
“Im, dengan saksi senja diujung sana, ingin rasanya aku ungkapkan rasa ini. Rasa yang pernah engkau ungkapkan padaku. Aku ingin menjadi kekasihmu”
Naim terkaget dan mukanya memerah. Bukan karena pantulan senja, namun karena rasa yang datang tiba-tiba. Ia bingung. Padahal sebenarnya ia ingin mengantarkan undangan pernikahannya dengan pria lain. Karena Naim selama ini di kejar-kejar orang tuanya untuk segera nikah. Semenjak Rozik menolak cintanya ia pindah kelain hati. Walaupun tak sepenuhnya hatinya pindah. Masih ada kepingan cinta pada Rozik. Namun surat undangan itu telah tersebar kemana-mana. Ia terdiam. Rozik juga terdiam. Mereka terdiam ditemani senja yang juga diam. Lamat-lamat senja hilang digantikan malam. Mengantarkan mereka berdua lenyap dari peradapan senja itu. Senja diujung sana. Senja yang menjadi saksi hubungan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar