WpMag

Senin, 11 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN AKUAKULTUR PAYAU


LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN AKUAKULTUR PAYAU



OLEH :
Robin
09/283398/PN/11661
                                     

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012

I.                   PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Perairan payau atau brackish water merupakan perairan campuran antara air asin (laut) dan air tawar. Biaasanya perairan payau memiliki kandungan salinitas yang berfluktuatif tergantung dari suplay air asin dari laut. Namun pada umumnya Salinitas air payau relatif rendah (10-20 ppt) dan kadang-kadang bisa lebih rendah atau bahkan lebih tinggi (Anonim, 2009). Hal inilah yang menyebabkan perairan payau memiliki karakteristik yang unik dan bahkan sulit untuk diperkirakan.
Menurut DKP (2004), diperkirakan potensi sumberdaya perikanan budidaya air payau adalah sebesar 913.000 ribu Ha, namun pemanfaatannya baru 45,42%. Menurut Kusnendar (2003), potensi lahan untuk pengembangan tambak di Indonesia diperkirakan sebesar 913.000 Ha, dan saat ini baru dimanfaatkan sekitar 350.000 Ha tambak yang terdiri dari: 10% (43.000 Ha) tambak intensif, 15% (67.700 Ha) tambak semi intensif, dan sisanya 75% (328.510 Ha) tambak ektensif yang dikelola secara tradisional (dengan sedikit input teknologi) dengan komoditas utama ikan bandeng dan udang windu.

Menurut DKP (2004) pembangunan perikanan budidaya pada periode 2000-2003 memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan areal, produksi, ekspor, konsumsi dan jumlah pembudidaya ikan. Perkembangan areal budidaya bertambah dari 549.176 Ha dan 80.919 unit pada tahun 1999 menjadi 730.090 Ha dan 315.000 unit pada tahun 2003. Selain dari itu, konsumsi ikan per kapita per tahun dan jumlah pembudidaya meningkat masing-masing dari 21,22 kg/kap/tahun pada tahun 1999 menjadi 24,67 kg/kap/tahun pada tahun 2003 serta dari 1,88 juta orang dari tahun 1999 menjadi 2,26 juta orang pada tahun 2003. Sementara itu, periode 1999-2003 volume ekspor hasil perikanan budidaya mengalami peningkatan rata-rata sebesar 9,76 % per tahun, dari 154.771 ton (1999) menjadi 219.851 ton (2003). Hal inilah menjadi peluang yang sangat besar dalam pengembangan budidaya payau untuk kedepannya. Dengan melihat potensi yang ada maka sangatlah besar pelung budidaya payau dimasa yang akan datang.
Budidaya air payau merupakan salah satu subsektor perikanan budidaya yang sebagian besar komoditasnya memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan merupakan komoditas ekspor seperti udang dan ikan kerapu. Pengembangan perikanan budidaya air payau dengan media tambak telah dikembangkan hampir disetiap provinsi di Indonesia. Beberapa komoditas yang saat ini menjadi andalan para pembudidaya Indonesia dalam berbudidaya antara lain, yaitu: Bandeng, Belanak,  Kakap, Kepiting, Kerapu, Mujair, Nila, Rajungan, Rebon, Rumput laut, Sidat, Tawes, Udang putih, Udang rostris, Udang api-api, Udang windu, Udang vannamei (Anonim,2010). Kini di Indonesia komuditas yang paling banyak dikembangkan dan merupakan andalan penggerak ekonomi adalah udang baik itu udang windu, udang putih maupun udang vanamei. Hal ini dikarenakan nilai jualnya yang cukup tinggi sehingga para pembudidaya lebih suka untuk membudidayakan udang sebagai komuditas unggulan. Selain permintaan akan ekspor udang yang cukup tinggi menjadi alasan yang besar bagi pemerintah untuk meningkatkan produksi udang di Indonesia. peran pemerintah terlihat dengan adanya hatvhery-hatchry pembenihan di berbagai balai budidaya seperti Balai budidaya Situbondo maupun Jepara.
B. Tujuan
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang teknik budidaya air payau.
2. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji permasalahan-permasalahan yang sering timbul pada kegiatan budidaya air payau.

C. Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang teknik budidaya air payau secara nyata di lapangan.
2. Mahasiswa dapat dan mampu mengkaji permasalahan-permasalahan yang timbul pada kegiatan budidaya air payau sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang muncul.
3. Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Manajemen Akuakultur Payau Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
D. Waktu dan Tempat
1. Waktu :  26 Mei 2012
Tempat : PT. “Indokor Bangun Desa” Dusun Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul

II.  TINJAUAN PUSTAKA
Wilayah pesisir memiliki beraneka ragam sumberdaya yang memungkinkan pemafaatannya secara berganda. Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir, perlu dikelola dengan mempertimbangkan hubungan antara setiap sumberdaya dalam ekosistem wilayah pesisir atau memperhatikan ekosistem tersebut secara menyeluruh. Pada kawasan pesisir pemanfaatan lahan telah dilakukan untuk berbagai kepentingan salah satunya adalah pertambakan.
Tambak adalah suatu ekosistem buatan manusia, merupakan lahan dekat pantai yang dibendung dengan pematang-pematang keliling sehingga membentuk sebuah kolam berair payau. Menurut Murahman (1996) tambak merupakan sumber daya buatan berbentuk petakan tambak berisi air payau yang digunakan untuk memelihara ikan. Sedangkan Anggoro (1983) menyatakan bahwa tambak merupakan suatu ekosistem perairan di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh teknis budidaya, tata guna lahan dan dinamika hidrologi perairan di sekitarnya.
Produksi hayati perairan tambak sangat ditentukan oleh kesuburan tambak dimana  merupakan modal dasar bagi kelangsungan perekonomian serta penopang kelancaran proses-proses sub sistem pada ekosistem perairan tambak secara keseluruhan. Pada produktivitas tambak ditentukan oleh sarana produksi dan kualitas habitat, dimana habitat tambak selalu mengalami perubahan sesuai dengan keseimbangan dinamik faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Tseng, 1987; Zaidi, 1992).
Salah satu syarat dalam budidaya payau adalah pemilihan lokasi. Hal ini dikarenakan pemilihan lokasi merupakan langkah awal dalam budidaya. Pemilihan lokasi didasarkan pada evaluasi kesesuaian fisik serta evaluasi sosial ekonomi amsyarakat. Evaluasi kesesuaian fisik meliputi tekstur tanah, pH tanah, bahan organic tanah, salinitas, suhu, kecerahan, derajat keasaman (pH) air, oksigen terlarut (DO), ammonia (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), BOD (Biological Oxygen Demand), Plankton, Iklim, Sumber Air, Pasang Surut, serta Topografi dan Elevasi (Supratno T, 2006). Evaluasi sosial ekonomi masyarakat ditujukan untuk mengetahui ekonomi mayarakat pesisir. Hal ini di tujukan agar nantinya kegiatan tambak tidak berbenturan dengan kepentingan masyarakat sekitar. Untuk mendapatkan data mengenai kondisi masyarakat pesisir dapat dilakukan dengan membuat survey langsung terhadap masyarakat  dan mencari data sekunder seperti data monografi dari instansi terkait seperti desa, kecamatan, maupun dinas kelautan dan perikanan daerah.
III.             PEMBAHASAN

A.    Keadaan Umum Lokasi

PT. Indokor Bangun Desa merupakan suatu anak perusahaan yang dimiliki oleh PT. Indokor Indonesia. PT. Indokor Bangun Desa dibagun tahun 1999 dan selesai serta dapat berfungsi pada tahun 2000. PT Indokor Bangun Desa sebelumnya telah membuat kolam percobaan di daerah pantai Glagah, Kulonprogo. Lokasi tambak PT. Indokor Bangun Desa terletak di tepi laut dan berjarak ± 35 km dari kota Jogja ke arah selatan, yaitu tepatnya di Dusun Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan pantai Samudera Indonesia, sebelah barat dan utara berbatasan dengan Dusun Kuwaru, sebelah timur berbatasan dengan Dusun Cangkringan. PT Indokor Bangun desa pada  awalnya hanya terdapat dua divisi, yaitu divisi tambak dan divisi hatchery kini memiliki empat divisi, yaitu divisi laboratorium, divisi produksi, divisi mekanik,  dan divisi logistik yang masing-masing dipimpin oleh seorang manajer.

Gambar. Logo PT. Indokoor Bangun Desa
PT Indokor Bangun Desa dalam pengembangan budidaya udang menggunakan lahan pasir yang merupakan daerah Sultan Ground (SG). Sebelumnya PT Indokor memiliki divisi Hatchery, namun seiring berjalannya waktu divisi hatchery tidak berkembang dan saat ini terbengkalai. Hal ini dikarenakan kondisi air kurang mendukung untuk kegiatan hatchery. Faktor yang mempengaruhi kondisi air yang kurang mendukung tersebut dimungkinkan oleh pencemaran logam berat akibat tenggelamnya kapal kalla Lines yang membawa aspal di perairan selatan. Maka dari itu perairan di daerah selatan sebenarnya memiliki kandungan logam berat yang cukup tinggi.
Manajer  Keuangan

Manajer  Personalia
Manajer  Produksi
Devisi  Hatchery
Devisi Mekanik dan Pengairan

Devisi Produksi

Devisi Logistik

Gambar. Struktur Organisasi PT. Indokoor Bangun Desa
 








Perusahaan melakukan rekayasa konstruksi tambak dalam mengolah tanah berpasir untuk menjadi petak tambak sehingga air tidak meresap ke dalam pasir. Pembuatan konstruksi tambak juga memperhatikan sifat korosif air laut, sehingga teknik konstruksi yang digunakan dalam membuat petak tambak yaitu konstruksi Biocrete. Konstruksi tersebut memadukan antara semen dan bambu. Bambu digunakan sebagai kerangka yang kemudian di beri semen sehingga menjadi beton dan digunakan sebagai dinding tambak. Bagian dasar tambak dan lapisan dinding tambak menggunakan plastik PE (Polyethilen) sehingga tidak terjadi peresapan air laut dan darat. Plastik PE dengan ukuran 0,1 cm ini dapat betahan sampai 5 tahun.
PT Indokor Bangun Desa memiliki 4 divisi dimana masing-masing divisi memiliki sarana dan prasarana. Divisi laboratorium disini berperan sebagai pengontrol jika terjadi serangan wabah penyakit ataupun yang lain. Divisi produksi memiliki sarana berupa petak tambak dengan ukuran 60X60 meter. Petak tambak ini dilengkapi dengan kincir dan berbagai alat anco. Divisi Mekanik disini memiliki berbagai sarana seperti pompa air yang diletakkan di pinggir pantai, genset sebagai pengganti listrik jika mati,dll. Divisi mekanik ini berperan sebagia penyuplai air maupun listrik dalam kegiatan budidaya. Divisi logistic berperan menyuplai pakan yang didatangkan dari PT Central Proteina Prima (Sidoarjo).
Sumber air dari kegiatan budidaya di PT Indokor Bangun Desa mengandalkan sumber air dar laut. Pengmabilan air dilakukan dengan cara pengeboran pipa di daerah pesisir yang mencapai 10-60 meter. Terdapat 5 pompa yang sekarang beroperasi untuk menyuplai kegiatan budidaya udang. Air laut tersebut dialirkan dengan menggunakan pipa yang berukuran besar. Untuk mendapatkan air dengan salinitas payau maka dilakukan pencampuran air laut dengan air tawar. Air tawar didapatkan dari pengeboran pipa di daerah pantai dengan kedalaman sekitar 60 meter.

B.       Teknik dan Manajemen Komuditas Budidaya

1.      Latar Bekang Budidaya
Pardigma kegiatan perikanan saat ini mulai bergeser dari kegiatan penangkapan pada kegiatan budidaya. Hal ini didasari semakin menipisnya sumberdaya alam yang ada khususnya di Indonesia. Banyaknya daerah Fishing Ground yang mulai menipis mengakibatkan tangkapan menjadi rendah dan hal inilah yang memberikan titik awal kegiatan budidaya. Selain itu, Menurut DKP (2004), diperkirakan potensi sumberdaya perikanan budidaya air payau adalah sebesar 913.000 ribu Ha, namun pemanfaatannya baru 45,42%. Menurut Kusnendar et al (2001), potensi lahan untuk pengembangan tambak di Indonesia diperkirakan sebesar 913.000 Ha, dan saat ini baru dimanfaatkan sekitar 350.000 Ha tambak yang terdiri dari: 10% (43.000 Ha) tambak intensif, 15% (67.700 Ha) tambak semi intensif, dan sisanya 75% (328.510 Ha) tambak ektensif yang dikelola secara tradisional (dengan sedikit input teknologi) dengan komoditas utama ikan bandeng dan udang windu. Melihat potensi yang ada maka pengembangan budidaya payau sangat diharapkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya pesisir dan meningkatkan pendapatan negara khususnya dari kegiatan ekspor ikan.
Permintaan udang daik dalam negeri maupu luar negeri semakin meningkat tiap tahunnya. Nilai ekspor produksi udang Indoensia pada tahun 2009 adalah 1.007.481.000 US dolar dan meningkat ditahu 2010 mencapai 1.056.399.000 US dolar (Sidatik, 2011). Melihat permintaan pasar yang cukup tinggi ini maka kegiatan budidaya khususnya udang akan memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan.


2.        Biologi dan Komuditas
a.      Biologi Udang Vanamei
Klasifikasi udang vannamei adalah:
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Crustacea
Subkelas          : Malacostraca
Seri                  : Eumalacostraca
Superordo       : Eucarida
Ordo                : Decapoda
Subordo          : Dendrobranchiata
Infraordo         : Penaidea
Superfamili      : Penaeoidea
Famili              : Penaidae
Genus              : Penaeus
Subgenus         : Litopenaeus
Spesies            : L.vannamei (Wybandan Sweeney, 1991)

b.      Morfologi
            Secara umum tubuh udang penaeid dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (Cephalothorax) dan bagian tubuh sampai ekor (Abdomen). Bagian cephalothorax terlindung oleh kulit chitin yang disebut carapace. Bagian ujung cephalotorax meruncing dan bergerigi yang disebut rostrume. Udang putih (Litopenaeus vannamei) memiliki 2 gigi di bagian ventral rostrum sedangkan di bagian dorsalnya memiliki 8 sampai 9 gigi (Wyban dan Sweene, 1991).
            Udang Vanamei memiliki tubuh yang beruas-ruas dan tiap ruasnya terdapat sepasang anggota badan yang umumnya bercabang dua atau biramus. L. vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan. L. vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 – 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban dan Sweene, 1991).

c.       Siklus Hidup
Seperti kelompok crustacea lainnya udang Vanamei memiliki siklus hidup yang sama yaitu :
1.      Nauplius
Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan kuning telur.
2. Zoea
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.).
3. Mysis
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4. Post Larva
Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larv bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.

Gambar Siklus hidup udang Penaeid (Stewart, 2005)




3.      Teknik dan Manajemen Budidaya
a.      Persiapan Tambak
Kegiatan budidaya tidak lepas dari persiapan baik itu persiapan lahan maupun persiapan sarana-prasarana. Persiapan lahan sangat pernting karena merupakan langkah awal dari kegiatan budiaya dan merupakan titik kunci kesuksesan budidaya. Hal ini dikarenakan lahan merupakan salah satu factor pembatas kegiatan budidaya. Jika lahan yang digunakan tidak sesua dengan kehidupan udang maka kegiatan budidaya akan terhambat. Maka dari itu kegiatan budidaya pembesaran udang Vanamei di PT Indokor Bangun desa selalu melakukan persiapan yang matang dalam kegiatan budidaya.
Kegiatan budidaya pembesaran udang Vanemei di PT Indokor Bangun Desa sedikit berbeda dengan kegiatan budidaya udang pada umumnya. Hal ini dikarenakan kegiatan budidaya dilakukan didaerah lahan berpasir. Maka dari itu dibuatlah rekayasa sistem budidaya Biocrite. Konstruksi biocrite diterapkan agar tanah lahan pasir (yang sebelumnya tidak mampu menahan air) menjadi mampu dan berfungsi dalam menahan air. Sistem biocrite ini menggunakan plastic poly Etheline (PE) dan dinding biocrite. Biocrite (Bio: hidup, crete: beton) adalah lapisan beton yang berkerangka ayu.
Persiapan tambak pada budidaya pembesaran udang Vanamei  dilahan pasir pantai dilakukan melalui beberapa tahap:
·      Evaluasi kondisi plastik dasar tambak dan pematangnya
Kontruksi dasar tmbak biocrite yang menggunakan plastik maka diperlukan pengecekan setiap akan dilakukan kegiatan budidaya. Tujuannya untuk memastikan bahwasanya palstik yang digunakan tidak mengalami kebocoran. Jika plastik PE yang digunakan mengalami kebocoran maka akan sangat mempengaruhi debit ari di tambak dan akibatnya akan berpengaruh pada kondisi udang. Jika debit air sangat rendah maka fluktuasi suhu perairan akan sangat tinggi. Akibatnya akan berpengaruh pada kadar DO perairan. Maka dari itu diperlukan pengecekan ulang setiap akan melakukan pengisian air tambak. Jika terjadi kebocoran plastic maka diperlukan penembelan.
Selain kebocoran plastik persiapan lainnya adalah perbaikan pematang. Sifat pasir yang tidak kuat akan membuat pematang cepat mengalami kerusakan. Selain itu kerusakan pematang dapat disebabkan oleh tekanan air yang menginterusi sepanjang pematang. Biasanya kerusakan pematang sering terjadi pada musim penghujan. Diperlukan cara yang tepat untuk memperbaiki pematang agar dapat berfungsi dengan baik dan tidak mudah rusak. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membongkar beton bagian pematang yang longsong dan melakukan checking plastik PE dasar beton (Triyatmo, 2010). Diperlukan pemadatan pasir pematang sehingga harapannya dapat mengurangi celah yang mengakibatkan air hujan mengumpul pada pematang. Pasir pematang yang padat ini akan memperkuat pematang kolam.
·      Pengeringan dan pencucian dasar tambak
Pengeringan dan pencucian dasar tambak sangat penting untuk dilakukan sebelum lahan tambak diisi oleh air. Pengeringan ini ditujukan agar dasar tambak menjadi bersih baik dari kotoran pakan maupun dari bibit penyakit yang mungkin tertinggal. Dilakukan pencucian tambak khususnya plastik PE agar dapat bertahan lama dan bersih. Pencucian biasanya mengandalkan air hujan, namun jika tidak terjadi hujan maka hanya dilakukan pembersihan sampah didasar tambak.
·      Penyiapan tetumbuhan dasar tambak
Tambak lahan tanah pasir yang dibiarkan beberapa minggu akan cepat ditumbuhi oleh rumput. Maka dari itu diperlukan pembersihan rumput maupun tumbuhan liar.
·      Perataan tanah dasar tambak
Setelah kegiatan budidaya biasanya keadaan tanah dasar akan mengalami kerusakan karena adanya erosi yang disebabkan oleh air tambak maka dari itu diperlukan perbaikan tanah dasar tambak. Jika dalam kegiatan tambak konvensional dasarnya menggunakan tanah biasa sehingga diperlukan pengelolaan tanah yang cukup lama, maka dalam tambak biocrite kegiatan itu dilakukan dan hanya melakukan perataan tanah dasar. Bagian-bagian plastik dasar yang tersingkap harus ditutup dengan plastik lalu diratakan.
·      Pembenahan dan persiapan central drainase
Pembenahan dan persiapan central drainase sangat diperlukan agar nantinya kegiatan budidaya tidak terhambat. Jika central drainase rusak maka akan sangat menganggu dalam pembuangan limbah dasar. Yang sangat dikawatirkan jika terjadi akumulasi limbah dasar dan bahkan pengadukan limbah. Maka dari untuk menanggulangi terjadinya akumulasi limbah dasar diperlukan perbaikan central drainase. Bahan-bahan yang diperlukan dalam perbaikan central drainase adalah paralon 20 buah yang diletakkan didalam maupun diluar.
·      Pemasangan Skat Balk
Skatbalk dipasang untuk menutup pintu air. Skatbalk terdiri dari dua bagian dalam dan skat bagian luar.
·      Pemasangan kincir air
Kincir sangat penting dalam kegiatan budidaya udang. Pemberian kincir dtujukan untuk menyuplay DO perairan sehingg dapat dimanfaatkan oleh udang dalam kegiatan metabolism. Selain itu kincir dapat berfungsi dalam pengadukan air sehingga air teraduk sempurna. Sebaiknya kincir dipasang sebelum air mulai dialirkan kedalam tambak.
·      Pengisian air pada petak tambak
Pengsian air pada petak tambak yang berukuran 60x60 meter persegi diperlukan waktu 2 hari satu malam. Namun dalam pengisian air tambak sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang dihasilkan dari reservoir air laut.
·      Pemupukan, pengapuran, pemberian fermentasi, dll.
Pemupukan dilakukan 2-3 hari sebelum penebaran. Biasanya pupuk yang digunakan adalah pupuk komersil seperti urea, TSP, dan KCL. Pemupukan sangat diperlukan dikarenakan struktur tambak biocrite dasarnya dari pasir dimana sangat miskin unsur hara.

b.        Penyediaan dan Penebaran Benur
Kegiatan hatchery yang tidak dapat berjalaan lagi mengakibatkan suplay benur berasal dari daerah lain. Biasanya benur  udang didapatkan dari perusahaan pembenihan biru laut Katulistiwa Lampung maupun dari Jawa Timur. Selain itu benur udang biasanya juga didapatkan dari para penyuplay pakan. Kelebihan dari kerjasama pengadaan benur dengan penyuplay pakan adalah adanya pengawasan dari penyuppali pakan. Jika nantinya benur-benur yang didatangkan terjadi permasalahan maka penyuplay pakan akan mendatangkan tim ahlinya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ukuran benih yang biasanya didatangkan adalah PL 10-20 dengan berat 0,01-0,02 gram. Pengangkutan benur dilakukan dengan suhu 23 derajat C dengan kadar DO 20 ppm. Diperlukan aklimatisasi di kolam aklimatisasi. Kolam aklimatisasi ini ditujukan untuk mengetahui kualitas benur baik atau tidak. Biasanya aklimatisasi dilakukan selama kurang lebih 5 hari.
Diperlukan persiapan air media untuk aklimatisasi dengan perlakuan antara lain
1.      Pemberian EDTA 10 ppm
2.      Pemberian Enzim 1 ppm
3.      Pemberian nutriflake 3 ppm
4.      Pengukuran salinitas.
Salinitas yang digunakan dalam aklimatisasi adalah sebesar 15-20 ppt. maka dari air laut harus dicampur dengan air tawar untuk mendapatkan salinitas yang di iningkan. Dalam bak aklimatisasi diberi pakan 2 kali sehari dan terus ditambah sampai 3 kali sehari. Dilakukan penurunan air sekitar 10 % sehingga 5-7 hari salinitasnya sama dnegan yang ada di tambak.
Setelah proses aklimatisasi selesai maka benur dapat dipanen. Biasanya panen benur dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Tujuannya adalah menghindari suhu perairan maupun suhu lingkungan yang tinggi. Panen benur dilanjutkan dengan penebaran benur ke tambak budidaya. Petak tambak dengan ukuran 60X60 m diisi dengan padat tebar benur sekitar 450.000-500.000. dengan kata lain 150 okor/meter. Ketiak masih benur pakan yang paling cocok adalah pakan alami. Benur yang telah dipanen biasanya berukuran PL-17 hingga PL-28. Penebaran benur dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat cuaca tidak terjadi hujan. Hal ini dikarenan ketika terjadi hujan, maka kualitas air akan berubah secara drastic sehingga berpengaruh terhadap kondisi benur. Langkah-langkah dalam penebaran benur adalah sebagai berikut:

1.      Meletakkan plastik yang berisi benur pada air tambak
2.      Membiarkan selama 5 menit
3.      Membuka plastik kemasan benur tanpa mengeluarkan benur dari kemasan tersebut
4.      Membiarkan selama 5 menit sambil disirami dengan air tambak
5.      Mengangkat plastic kemasan secara cepat dengan posisi mulut kemasan berada dibawah.
Langkah-langkah tersebut ditujukan untuk meminimalisir terjadinya kematian benur. Walaupun sudah dilakukan aklimatisasi di bak aklimatisasi namun dalam penebaran masih diperlukan aklimatisasi tambahan.

c.    Manajemen Pakan
Pakan salah satu kebutuhan wajib yang harus dipenuhi dalam kebiatan budidaya. Dewasa ini peran pakan sangat central dan bahkan menjadi factor penentu kesuksesan budidaya. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan budidaya bisa mencapai 80 % dari total biaya keseluruhan. Melihat pentingnya peran pakan dalam kegiatan budidaya maka diperlukan manajemen yang baik dalam pengelolaan pakan dan pemberian pakan pada kultivan yang dibudidayakan.
            Crustaceae merupakan biota air yang memiliki kebiasaan hidup didasar. Sehingga dalam pemberiaan pakan diperlukan metode tersendiri. Selain itu dalam kegiatan pemberian pakan udang cukup sulit untuk mengetahui apakah pakan yang diberikan cukup atau kurang atau bahkan berlebih. Disinilah peran sampling diperlukan.
            Penerapan smetode FIFO (First in First Out) dilakukan di PT Indokor Bangun desa guna meminimalisir kadaluarsa pakan. Biasnaya pakan dapat kada luarsa hanya beberapa bulan setelah masuk ke konsumen. Maka dari itu penerapa system FIFO ini akan sangat membantu dalam meminimalisir kerugian. Pakan yang digunakan di PT Indokor Bangun Desa adalah dari  PT Central Proteina Prima yaitu merek Irawan dengan berbagai macam tipe seperti tipe 681, 682, 683, dll. Tipe 681 biasanya digunakan setelah masa PL. Sedangkan tipe 683 biasanya digunakan untuk udang ukuran 8-12gram. Pakan-pakan tersebut disuplay dari Sidoarjo tergantung dengan jumlah yang diperlukan untuk dipesan. Biasanya pakan yang dikirim setiap  2 minggu adalah sebesar 18 ton.
            Pemberian pakan dilakukan secara bertahap sesuai dengan umur udang. Periode pemberian pakan mulai dari 3 kali/hari sampai dengan 5 kali/hari. Waktu yang biasa digunakan dalam pemberian pakan adalah pukul 06.00 , 10.00 , 14.00 , 18.30 , dan 22.30. dalam mengestimasi kebutuhan pakan udang maka diperlukan sampling. Biasanya sampling dilakukan setiap 1 minggu sekali. Sampling dilakukan dengan menggunakan anco. Anco yang telah disiaapkan diberi pakan udang. Kemudian anco ditenggelamkan beberapa saat (tidak sampai dasar). Setelah itu dilakukan pengangkatan anco. Dilakukan penilian kebutuhan pakan dengan member skor. Jika pakan di anco tidak tersisa mak dilakukan penambahan pakan untuk setiap harinya sebesar 10 %. Jika pakan sisa sedikit maka tidak dilakukan penambahan pakan. Namun jika pakan sisa banyak, maka dapat dikatakan pemberian pakan berlebih sehingga perlu untuk dikurangi.

d.        Manajemen Kualitas Air
Air merupakan salah satu kebutuhan wajib dalam kegiatan budidaya ikan. Mengingat peran air yang sangat penting maka diperlukan pengeolaan kualitas air yang tepat. Dalam kegiatan budidaya payau maka diperlukan pengelolaan perbaikan kualitas air untuk mendukung kegiatan budidaya. Disini terdapat beberapa pengelolaan kualitas air seperti :
1.      Penggunaan Kincir dan Central Drainase.
Kincir digunakan untuk meningkatkan DO perairan tambak. Hal dikarenak budidaya udang memerlukan kandungan DO terlarut perairan yang besar, sehingga diperlukan kincir untuk memdukungnya. Dalam setiap petak tambak terdapat 4 samapai 8 buah kincir tergantung ukuran dan umur udang. Jika udang masih berukuran kecil biasanya kincir yang digunakan tidak banyak hanya 4 buah. Namun seiring berjalannya waktu, kincir ditingkatkan jumlahnya guna menyuplai kebutuhan DO yang semakin meningkat. Selain itu penggunaan kincir tidak dinyalakan sehari penuh. Khusus udang yang masih kecil kincir digunakan hanya beberapa jam dalam sehari. Biasanya pada pagi hari dan ketika siang hari kincir akan dimatikan. Hal ini didasarkan sifat perairan ketika pagi dimana kadar DO pada titik terendah sehingga perlu ditingkatkan dengan menggunakan kincir. Namun ketika siang hari kincir dimatikan karena perairan sudah mulai normal dimana kadar DO akan meningkat lagi.
Peran kincir tidak hanya untuk meingkatkan DO di perairan. Namun kincir dapat berperan sebagai pengaduk perairan sehingga memindahkan limbah pakan kebagian central drainage sehingga mudah dibuang dan kualitas air dapat tetap terjaga. Di PT Indokor bangun Desa gerakan masing-masing kincir dibuat satu arah. Sehingga air yang teraduk dapat merata dan tidak terjadi tabrakan gerakan air. Tujuan lain adalah untuk meminimalisir titik mati perairan yang biasanya terdapat disudut tambak.
Central drainage biasanya dikontrol setiap hari khususnya 4 jam setelah pemberian pakan. Bagian ini dibuka jika limbah sudah banyak terkumpul dibagian tengah.
2.      Pergantian Air
pergantian air diperlukan jika terjadi beberapa masalah dalam budidaya. Pergantian air dilakukan ketika terjadi blooming plankton dan akumulasi sisa pakan ada bagian drainage. Biasnaya pergantian air yang dilakukan sebesar 10% /hari. Pergantian air disesuaikan dengan debit air yang mengalir dari reservoir. Air yang keluar dibuang sesuai dengan air yang baru dimasukkan.

3.      Flushing
Flushing merupakan pergantian air namun berbeda dengan yang lainnya. Flushing yang dimaksud adalah pergantian air dengan cara membuang air kedalam tambak diiringi dengan pengisian air kedalam tambak sehingga air dalam tambak dalam kondisi mengalir.
4.      Pemberian Probiotik
Probiotik digunakan dalam kegiatan budiayda udang ditujukan untuk memperbaiki kualitas air perairan. Probiotik yang digunakan adalah probiotik bio bacteri. Probiotik tersebut mampu memperbaiki kualitas air budidaya dan menghambat pathogen dalam air sehingga mampu meningkatkan produksi budidaya.

e.       Hama dan Penyakit
Banyak sekali jenis penyakit yang dapat menyerang udang mulai dari White spot sindrom virus (WSSV), VNN, dll. Biasanya penyakit-penyakit tersebut menyerang udang karena kondisi lingkugan yang buruk dan juga dikarenakan penyakit bawaan. Udang yang terserang penyakit ataupun sait dapat dideteksi dengan cara langsung (tanpa proses laboratorium). Misalnya tingkah laku udang ketika air digerak dengan memutar kearah tertentu. Udang yang sehat akan melawan putaran air, sedangkan udang yang sakit akan mengikuti putaran air. Selain itu udang yang sakit biasanya pergerakannya tidak lincah. Namun untuk meneteksi apakah udang tersebut sakit atau tidak akan lebih akurat dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan metode PCR. Metode PCR ini dikenal sangat bagus untuk mendeteksi ikan atau udang yang terserang virus.
Hama merupakan salah satu kendala yang sering muncul dan mengganggu kegiatan budidaya. Beberapa hama yang seringkali mengganggu kegiatan budidaya khususnya budidaya payau adalah burung “cangak awu”. Biasanya burung-burung tersebut memakan ikan atau udang di kolam budidaya. Cara menanggulangi terjadinya seranga hama dapat menggunakan jarring yang diletakkan di atas area tambak.
Sejauh ini dalam kegiatan budidaya pembesaran udang vanamei di PT Indokor Bangun Desa belum mengalami serangan baik itu penyakit (virus, bakteri, parasit) maupun dari hama (burung). Maka dari itu kegiatan pengendaliaan penyakit sampai saat ini belum dilakukan secara intensif. Terlihat dimana semua tambak tidak diberi jarring. Hal ini dikarenakan tidak ada seranga hama dari burung pengganggu.

f.       Manajemen Pembesaran Udang
Manajemen pembesaran udang disini berkaitan dengan manajemen pemeberian pakan. Pembesaran udang merupakan kegiatan utama yang dilakukan di PT Indokor Bangun Desa. Kegiatan pembesaran udang sangat dipengaruhi oleh kegiatan pemberian pakan dan pengelolaan lingkungan. Kedua factor tersebut sangat berpengaruh. Jika pemberian pakan tepat dan sesuai yang diperkirakan serta pengendalian lingkungan (kualitas air dan penyakit) dapat dilakukan dengan baik maka kegiatan budidaya dapat berhasil.
Data pertumbuhan udang sangat diperlukan guna mengetahui kebutuhan pakan yang diperlukan dan mengetahui pertumbuhan udang itu sendiri. Maka dair itu diperlukan sampling pertumbuhan. Sampling biasnaya dilakukan setiap seminggu sekali setelah udang dipelihara selama 30-40 hari ditambak pembesaran. Hasil sampling ini digunakan untuk menduga populasi dan menentukan jumlah pakan yang diberikan pada tahap pemeliharaan selanjutnya.
Setelah data dari sampling didapat maka dapat mengetahui kebutuna pakan yang diperlukan untuk diberikan kepada udang. Dan juga melakukan pengontrolan kualitas lingkungan ketika kondisi perairan mulai memburuk.

g.      Panen dan Pasca Panen
Panen merupakan tahap akhir dari kegiatan budidaya. Satu bulan sebelum dilakuakan panen pemberian pakan dilakukuan 5 kali/ hari. Panen udang vanamei dilakukan setelah  90-120 hari pemeliharaan. Namun di PT Indokor panen dilakukan tergantung permintaan pasar akan size dan permintaan pemilik perusahaan. Satu minggu sebelum dilakukan penen dilakukan penebaran kapur sebanyak 100 kg per petak tambak untuk mengantisipasi aktifitas moulting udang.
Kegiatan panen memerlukan waktu hingga 6 jam. Panen dilakukan mulai menjelang sore hingga malam. Tujuannya adalah menghindari fluktuasi suhu yang cukup tinggi jika dilakukan di siang hari. Panen diawali dengan mempersiapkan jarring penangkapan dan membuka central drainage. Setelah debit air mulai rendah maka udang digiring kejaring untuk ditengkap. Dalam kegiatan pemanenan kincir harus tetap dinyalakan. Tujuannya agar suplai DO tetap dalam kondisi normal. Setelah tertangkap di jarring maka udang langsung dimasukkan kedalam drum yang telah berisi es.
Hasil panen yang telah di masukkan kedalam drum dan di beri es ini langsung dicuci. Setelah dicuci bersih udang diletakkan kedalam keranjang dan siap untuk ditimbang beratnya. Udang yang telah ditimbang dilakukan sortasi untuk memilah udang berdasakan ukurannya. Katagori udang hasil seleksi terdiri dari kategori besar dan bagus (BB), kulit moulting (KM), kelompok kecil (KK), dan under size (US).

IV.             PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Manajemen budidaya pembesaran udang di PT Indokor Bangun Desa menggunakan sistem Biocrite dalam konstruksi tambak.
2.      Permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan budidaya di PT Indokor adalah pengelolaan salinitas
B.     Saran
1.      Sebaiknya dalam kegiatan kunjungan tidak hanya melakukan interview namun juga dilakukan praktek secara langsung seperti pemberian pakan, sampling, dll.











DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, S. 1983. Permasalahan Kesuburan Perairan Bagi Peningkatan Produksi kan di Tambak. Paper Kolokium. Jurusan Ilmu Perairan. Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor
Anonim. 2009. Manajemen Akuakultur Payau. http//: marineandfisheries.htm. diakses tanggal 10 Juni 2012
Anonim. 2010. Komoditas Budidaya Air Payau Indonesia. http//: Andhi Fish Jogja.com. diakses tanggal 10 Juni 2012
Chua,T. E and S.K. Teng. 1978. Effect of frequency on the growth of estuary grouper Epinephelus tauvina cultureed in floating net cages. Aquaculture. 14: 31-47.

DKP.2004. Potensi Perairan Indonesia. Ditjen BudidayaKementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Sidatik. 2011. Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2010. Kementerian Kelatan dan Perikanan. Jakarta

Supratno, T. 2006. Evaluasi Lahan Tambak Wilayah Pesisir Jepara Untuk Pemanfaatan Budiaya Ikan Kerapu. Tesis Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai. Unversiatas Diponegoro. Semarang

Supratno, KP, T dan Kusnendar, E. 2001. Teknologi dan Kelayakan Usaha Budidaya Kerapu Tikus di Tambak. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Prosiding Lokakarya Nasional 2001 Pengembangan Agribisnis Kerapu. BPPT, Jakarta.

Triyatmo, B. 2010. Teknik Budidyaa Udang dalam Tambak Biocrite (studi Lapangan Di Tambak Udang Pantai Selatan Yogyakarta). Jurusan Perikanan Fakultas Petanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Tseng, W.Y. 1987. Shrimp Marineculture. Practical Manual. Dept. of Fisheries. Potmoresby.

Wyban, J.A. dan Sweeney, J. N. 1991. Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawai. USA.
Zaidi, A. 1992. Pengelolaan Kualitas Habitat Tambak Dalam Menunjang Proses Produksi Budidaya Udang Windu (P.monodon Fab) Di Proyek Pandu TIR Karawang. Thesis S-2 IPB, Bogor.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar