WpMag

Sabtu, 30 Juni 2012

NOVEL PERTAMA


NOVEL PERTAMA

Alhamdulillah telah terbit novel pertamaku yang berjudul "Berlayar". bagi semua pembaca, teman, sahabat, dan semuanya yang ingin membeli/ memesan silahkan kontak ke e mail ku ya : robinkalituri@gmail.com atau robinkalituri@yahoo.co.id
tidak hanya itu aku sangat berharap ada masukan dari kawan-kawan semua mengenai novel ini.....terimakasih dalam jabat tangan erat persahabatan kita.....Robin





ROBIN



BERLAYAR



Penerbit
KMIP PUBLISHER



BERLAYAR
Oleh: Robin
Copyright © 2012 by Robin
Editor
Premedia Putra
Penerbit
(KMIP PUBLISER)
(Website:www.kmip.faperta.ugm.ac.id)
(Email:)

Desain Cover:
Prameidia Putra

Diterbitkan melalui:

Ucapan Terimakasih:
Ucapan syukur dan terima kasih aku haturkan kepada Allah SWT yang selalu memberikan rahmat serta nikmatnya. Kepada kedua orang tuaku: Sukiran dan Mukilah yang selalu mendoakan baik siang maupun malam. Kepada Alm KH. Abdul Aziz yang selalu membimbing dan selalu aku takzimi. Kepada kakak-kakakku: Rofik, Rokani, Rohmat yang selalu memotivasi dalam tolabul ilmi di Jogja. Kepada guruku dan dosen-dosenku: Prof Rustadi, Dr Triyanto, Suadi Phd dll,  yang mengenalkanku pada sebuah peradaban manusia. Kepada sahabat-sahabatku ikan angkatan 09’: Putra, Suhar, Senu, Ali, Aziz, Nuri, Tyas, Ima, Rofi, Windi, dan yang tak dapat aku sebutkan semua. Sahabatku geng kontrakan Cepit: Bang Edi, Singgih, Gembong yang usil dan aneh-aneh. Kepada seluruh orang yang aku kenal dan memberikan inspirasi.








DAFTAR ISI
ATLET LARI………………………………………………………………………..…………..…..7
TARI…………………………………………………………………………………………..……….17
LARUNG SESAJI………………………………………………………………………………….21
BALAP PERAHU………………………………………………………………………..…..…….27
BALAI KOTA………………………………………………………………………..……..……….41
TRAGEDI PAGI HARI…………………………………………………………………………….51
PENERANG JALAN…………………………………………………………..…………….……55
KABAR DARI PASAR……………………………………………………..………...…….…..63
MERANCANG ASA………..…………………………………………………..………..……..67
UAN……………………………………………………………….…..…………………….…..……75
RESTU IBU………………………………………………………………………….……..……….79
NASIB LASMI…………………………………………………..………………………………..73
JOGJA WE ARE COMING………………………………………………………..…….………87
BERMALAM DI SPBU…………………………………………………………….….….……..91
DOKUMEN BERHARGA……………………………………………………………..….…..109
PERTOLONGAN…………………………………………………………………………..…….121
PEPERANGAN ……………………………………………………………………………….…129
MIMPI ITU DATANG……………………………………………………………………..…….134
JALAN YANG IA PILIH…………………………………………………………………….….139
EMBUN PAGI PERTAMA…………………………………………………………………….145





“Orang berilmu dan beradab tidaklah diam dikampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang, merantaulah kau akan mendapat pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah manisnya hidup akan terasa setelah berjuang.”
(Imam Syafi’i)


“Perjalanan manusia seperti perahu layar yang mengarungi lautan. Kadang kala tertiup angin, tersapu arus, dan diterpa gelombang. Namun itulah yang mengantarkannya kepada pulau tujuan”





TARI
Wajahnya mengingatkanku pada bintang film yang pernah aku lihat di televisi balai desa dulu. Oh iya, dia mirip sekali dengan Paramita Rusadi. Seorang artis multi-tallent yang memiliki wajah catik, suara merdu dan pandai ber-akting. Seorang artis yang hanya bisa kulihat di televisi. Rambutnya bak deru ombak yang bergelombang, hitam legam seperti warna kopiah bapakku. Hidungnya terlihat runcing namun mancung. Kulitnya bersih dan putih sangat perfect. Jika tersenyum terlihat dekik pipinya. Sosoknya bagaikan bidadari yang diutus di bumi untuk menyegarkan pikiranku dengan membawakan sumber air oasis di padang pasir. Sedikit yang aku tahu dari para nelayan, ia adalah anak juragan yang menguasai perahu nelayan di kampungku. Jika memang benar ia anak juragan, maka bagaikan punguk merindukan bulan. Bagaikan bumi dan langit terlalu jauh untuk mengharapkannya. Jika aku diijinkan, maka aku rela menjadi pembantunya. Oh bidadari surga.
Pertama kali melihatnya, hati ini langsung bergetar menyenandungkan lagu cinta yang tumbuh. Waw, apakah ini cinta pada pandangan pertama? Salah satu jenis cinta yang menurutku sangat tidak rasional, karena itu hanya ada di film dan juga sinetron. Namun kini setelah melihatnya, ideologi  yang aku anut mengenai cinta pada pandangan pertama yang hanya di Film atu sinetron mulai menipis, dan aku bahkan mulai amnesia dengan ideologiku yang satu itu.
Entah cinta atau nafsu, itu juga samar-samar. Disore yang cerah dia sedang asik bermain di pantai ditemani seseorang, yang mungkin sahabatnya. Sesekali kulihat ia sedang bermain pasir dan tak lama kemudian ia berenang ditepian pantai. Aku malu, maka aku hanya dapat meliriknya dari kejauhan. Pandanganku tetap tertuju pada lautan luas dan perahu nelayan yang akan bersandar.
Ombak lautan masih tertata apik menyenandungkan lagu perjuangan kepada para nelayan dan buruh tarik jaring yang telah siap untuk beradu nasib. Kepada para ibu-ibu yang dirumah untuk menunggu suaminya datang. Kepada para tengkulak yang menunggu ikan hasil tangkapan nelayan bersandar. Sementara mentari mulai pulang dari peraduannya. Tergantikan oleh jingga yang elok di ujung laut sana. Ia pulang mengantarkan cerita kepada manusia. Bahwa hidup selalu berjalan dan terus berubah sepanjang masa. Tak ada yang tetap dan konstan. Yang ada adalah perubahan yang terus berjalan.
***
Terdengar suara yang asing ditengah-tengah kami yang duduk di tepian pantai. Suara yang tak pernah aku dengar sepanjang masa. Namun seakan ada sesuatu yang menggetarkanku. Entah itu apa aku masih bingung. Seketika kamipun menengok  datangnya sumber suara tadi. Ternyata seorang gadis yang aku lihat beberapa hari yang lalu.
“boleh ikut duduk disini” tanyanya dengan mengedarkan senyum kepada kami dengan bibir yang mengulum manis
“boleh…boleh silahkan” jawab Lasmi dengan penuh keramahan
Semua terpukau olehnya, seperti anak kecil yang sedang melihat topeng monyet di pasar Ngemplak. Mata kami mendelik seakan mau keluar dari kelopak mata. Memperhatikan setiap gerak wajahnya. Menyejukkan setiap perkataannya. Seakan aku jatuh cinta padanya. Sebagai anak nelayan yang setiap hari hanya duduk dipantai menunggu kapal datang, kini malah bidadari yang datang. Sungguh hanya dapat memandanginya.
“Perkenalkan nama ku Sadli,” serabut Sadli dengan melontarkan tangan kanannya ke gadis tadi
“nama ku Tari”
Aku dan Gemol juga tak mau kalah, untuk memperkenalkan diri. Dengan wajah yang sedikit tegang dan tangan yang bergetar akhirnya kuberanikan tangan ini ku gerakkan untuk menjabat tangannya. Rasa canggung yang menyeruap aku tahan sekuat tenaga. Ketika tangan kami mulai mendekat, seolah-olah waktu mulai melambat bak slow motion di film Matrix. Ketika kedua tangan kami bersatu disitulah pertama kalinya dalam hidup, aku merasa dunia mulai berhenti berputar, yang terdengar hanya detak jantungku yang sangat kencang dan yang terlihat hanya senyumnya yang manis dengan cekung pipinya yang khas. Oh Tuhan rasanya aku mau pingsan. Namun dari belakang Gemol menepuk pundakku dan menyadarkanku dari lamunan konyol ini.
“hoi, gentian dong…!” seru Gemol dengan membisikkan ditelingaku
 “Iya…iya sabar, sirik aja sih!” jawabku sembari melepaskan jabatan tangan ini.
Lasmi yang berada disamping kami hanya, diam dan kemudian berdehem. Inilah pertama kalinya aku berkenalan dengan seorang gadis. Sejak itulah kami mengenal Tari dan sering main bersama di pinggir pantai sambil menunggu kapal nelayan bersandar.
***
PENERANG JALAN

Pesan yang disampaikan kak Ridwan tempo hari lalu selalu membayangiku. Seakan ia selalu membisikkan di telingaku. Pada waktu makan, mau tidur, dirumah, belajar seakan aku selalu dibisiki oleh kata-kata itu. Beasiswa satu kata yang selalu aku ingat dan selalu menggangguku. Bulan terasa sangat terang, bintang menemani disana dengan penuh kesetiaan, malam semakin larut, bulan mulai bergerak ketimur. Tak terasa, hawa dingin menyeruap masuk sela-sela jendela kamar. Cahaya bulan yang terang seakan menemani dan menerangiku dalam lamunan ini. Iya dalam lamunan untuk dapat meraih beasiswa di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Bisa di UI, ITB atau bahkan UGM.
Deru ombak terdengar mengalunkan lagu melodi memecah sepi, dipinggir pantai terlihat plankton yang berkerlap-kerlip seperti kunang-kunang yang terang. Beberapa kapal motor nelayan terdengar dari kejauhan. Menandakan bahwa waktu melaut sudah datang. Jika para nelayan mulai berangkat melaut, sudah dapat dipastikan ini menginjak pukul 1 dini hari. Namun aku belum merasakan ngantuk.
Lambat laun suara deru ombak semakin meredup. Hawa dingin semakin meruap. Menyelimuti sepinya pagi ini. Sesekali suara jangkrik terdengar di pojok rumah. Lamat-lamat kelopak mataku semakin menggerayut tak kuasa lagi. Hingga lambat laun tak terdengar lagi suara deru ombak, jangkrik yang bernyanyi riang dan perahu nelayan.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar