WpMag

Kamis, 11 Oktober 2012

LARUNG SESAJI


LARUNG SESAJI

Semua orang berkumpul dibibir pantai. Tua muda, kecil-besar, wanita dan pria semua berkumpul. Hari ini memang berbeda dengan hari yang lain.  Hari ini tak ada aktifitas yang berjalan. Melaut, bertani, pasar, semua mati. Khusus hari ini semua tak dibolehkan untuk bekerja. Jika mereka bekerja, pastilah tahu akibatnya. Hukum adat tak ada yang berani melanggar. Apalagi kalau yang bilang sesepuh adat, petuahnya bagaikan sabda yang harus dijalankan.
Semua orang menunggu di bibir pantai. Mereka semua menunggu acara adat larung sesaji. Larung sesaji merupakan acara adat yang rutin diadakan dikampung kami tiap tahunnya. Ini adalah bentuk curahan syukur kepada Sang Pencipta berkat rizki yang diberikan selama satu tahun penuh. Larung sesaji ini diawali dengan penyembelihan kerbau kemarin yang diadakan di Balai Desa. Kerbau yang disembelih diambil kepalanya untuk di larung ke laut. Sedangkan daging dan tulang serta kulit dibagikan kepada masyarakat kampung. Ini persis seperti hari raya Qurban. Semua kebagian daging. Mungkin inilah hari raya ketiga di kampung kami. Larung sesaji diadakan setiap tanggal satu Sura atau Muharam dan merupakan peringatan tahun baru Jawa atau Islam. Entah kapan larung sesaji ini ada. Namun kata sesepuh adat, larung sesaji telah lama ada sebelum zaman kemerdekaan.
Mbah Sarip demikianlah beliau biasa dipanggil. Orang tua yang kesehariannya juga sebagai nelayan. Seorang sesepuh adat yang sangat disegani di kampung kami, dimana semua petuahnya pasti dilaksanakan oleh semua masyarakat. Kata beliau, Larung sesaji telah ada sebelum beliau lahir. Dulu larung sesaji berasal dari masa kerajaan Majapahit. Kejayaan Majapahit telah sampai ditanah ini. Ketika itu Larung sesaji merupakan cara tolak balak  dan wujud syukur yang di tujukan kepada Sang Pencipta. Seiring berjalannya waktu, larung sesaji  terus ada dan tetap menjadi nilai budaya adat kampung kami.
Dari sudut lain pantai, terlihat segerombolan orang menyangga tumpeng yang berisikan kepala kerbau. Di belakangnya diiringi oleh anak kecil, bapak-bapak, ibu-ibu dan semua masyarakat. Sementara aku bersama dengan Gemol, Sadli dan Lasmi ikut berjalan dibelakang para pemain reog yang menari diiringi musik gamelan. Tumpeng berisi kepala kerbau tersebut akan dilarungkan kelaut namun sebelumnya dibacakan doa di pinggir pantai oleh mbah Sarip. Tumpeng pun telah tiba tepat di bibir pantai. Semua warga duduk dan terdiam mendengarkan petuah yang diucapkan oleh mbah Sarip termasuk musik gamelan yang tadi ikut mengarak tumpeng kepala kerbau. Sementara ombak laut menunggu kepala kerbau itu untuk dibawa ke laut selatan. Dengan sabar mereka menunggu. Sedangkan Mbah Sarip masih saja komat-kamit didepan tumpeng berisi kepala kerbau tersebut. Bahasa yang diucapkannya pun tak jelas. Aku bingung, begitu juga yang lain.  
“Bay, ngomong apa itu mbah Sarip?”Tanya Gemol..sambil menggaruk-garuk rambutnya yang menjadi kebiasaan sedari kecil.
“Nggak tahu kayaknya bahasa Sansekerta”  jawabku dengan sedikit berspekulasi
Ngawur kamu itu bahasa Jawa kuno” jawab Sadli dengan argumen yang ia kemukakan.
“Iya, itu Jawa kuno alias bahasa Kawi” tambah Lasmi seakan mengamini perkataan Sadli tadi
“Bahasa Kawi?apa itu?” tanyaku dengan penuh kebingungan
“Bahasa yang biasa dipakai untuk pementasan pewayangan” tambah Lasmi
Dengan komat-kamit seakan mau menjadi dalang dalam pementasan wayang, mbah Sarip terlihat khusuk. Sesekali beliau mendongakkan kepala sambil menengadahkan tangannya. Dan tak lupa, beliau juga meniup kemenyan yang berada didepannya. Persis orang penggambuh yang mau mengobati tukang “Jaranan”. Dengan pakaian hitam dan kaos dalam putih, beliau memang pantas menjadi seorang sesepuh adat. Tak lama berselang beliau menengadahkan tangan dan meminta semua hadirin untuk mengikuti beliau. Berbagai bacaan beliau ucapkan. Entah itu bahasa Kawi, bahasa Sansekerta ataupun bahasa Jawa aku tak tahu artinya. Yang aku lakukan hanya mengamini setiap jeda dalam perkataannya.
“Amin….amiiiin….aaaaaaminnnnnnnnn” semua terlihat kidmat mengucapkan kata amin mengiringi doa yang beliau panjatkan.
Selesai berdoa, tumpeng pun diangkat untuk dilarungkan ke laut. Beberapa kapal nelayan siap menjadi pengawal dalam melarungkan tumpeng berkepala kerbau itu. Sementara kami masih saja dirundung penasaran mengenai bahasa yang digunakan mbah Sarip dalam berdoa tersebut. Perdebatan kecil muncul mengiringi kepergian kepala kerbau kepantai Selatan. Walaupun tumpeng kepala kerbau telah berada diujung laut dan  perahu nelayan mulai berangsut kembali ke pantai. Kami masih saja memperdebatkan masalah bahasa yang digunakan Mbah Sarip tadi. Akhirnya Lasmi yang selalu berada dipihak netral memberikan solusi.
“Ya sudah, ayo kita bersama-sama tanya Mbah Sarip langsung”
“Ide bagus itu, dari pada debat terus tak berujung” tambahku
Kamipun segera mencari Mbah Sarip. Lolongan mata kami tak menemukan sosok ceking berbaju hitam tadi. Wajah keriputnya tak terlihat di keramaian orang-orang. Sesekali ku dongakkan kepala untuk mencari beliau. Dan ternyata beliau berleha-leha di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Dengan ditemani sebatang rokok yang berada disela-sela jari tangannya beliau sangat menikmati udara sejuk sore ini. Segera kami berjalan menuju tempat beliau. Rasa penasaran dicampur rasa ingin tahu menyeruak seketika untuk segera mendapatkan jawabannya.
“Mbah, mau tanya boleh?”
“Tanya apa nak?” sembari melentikkan batang rokok agar abunya lepas
“Ini mbah, kami mau tanya isi petuah dan bahasa yang mbah gunakan tadi apa?” tanya Lasmi dengan penuh penasaran
 “Iya mbah artinya apa soalnya bahasanya agak nyleneh”tambah Sadli
“Itu bahasa Kawi”
“Bahasa Kawi mbah”  jelasku dengan muka terkaget
“Iya nak, bahasa Kawi merupakan bahasa yang biasa masyarakat dulu gunakan untuk komunikasi. Jauh sebelum bahasa Jawa dipakai, masyarakat lebih suaka bahasa Kawi. Katanya sih bahasanya lebih halus. Jika dipakai untuk memberi petuah dan doa lebih sopan. Apalagi doa, isinya kan ungkapan kepada Tuhan mengenai diri kita masak bahasanya nggak halus “Payo isin”. Kita saja kalau ketemu orang yang lebih tua bahasanya kan pasti yang sopan. Masak menghadap Sang Pencipta bahasanya nggak sopan?” jawab Mbah Sarip dengan penuh kebijaksanaan
“O, begitu to mbah, kalau isinya itu apa mbah?” tanya Sadli sembari menganggukkan kepalanya
“Isi dari bacaan tadi adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena limpahan Rizki yang diberikan sepanjang tahun. Begitu besar rizki yang diberikan ini harus disyukuri. Karena dengan syukur maka Tuhan akan memberi rizki yang banyak untuk tahun depan. Selain itu terdapat ungkapan doa keselamatan semoga segala aktifitas yang dialakukan oleh masyarakat di ridhoi oleh Sang Pencipta. Tak hanya itu saja beberapa petuah mbah ucapkan sebagai pedoman masyarakat dalam menjalani segala aktifitas. Diharapakan dengan berbagai doa dan petuah tersebut akan memudahkan masyarakat dalam menjalani aktifitas ditahun yang baru ini.”
“Terimakasih mbah” seru Lasmi
“Iya nak, sama-sama, siapa disini yang mau menggantikan mbah besok?” sembari melepaskan asap rokok keudara dengan entengnya
“Gemol mbah” seru Sadli,
 “tidak mbah, Sadli” jawab Gemol
“Ubay mbah”tambah Sadli lagi
“Tidak mbah, tidak bisa aku mbah”
“Ya sudah, hanya bercanda” sembari menerbitkan senyuman kepada kami
Kamipun  berpamitan pada Mbah Sarip. Dengan ucapan beribu terimakasih, karena perdebatan kami telah mendapatkan jawaban. Sekarang tak ada lagi perdebatan, karena semua telah terkuak. Mengenai isi dari semua yang diucapkan oleh Mbah Sarip dan bahasa yang digunakan tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar