WpMag

Jumat, 05 Oktober 2012

INILAH JALANKU


INILAH JALANKU




Selasa 2 oktober, rinai hujan membasahi dedaunan. Suaranya  gemericik air samar-samar terdengar. Kadang kala jatuh menghantam tanah, kadang pula masih bersandar diatas dedaunan. Aku mencium bau khas tanah yang sedari berbulan-bulan tak tersentuh air hujan. Baunya sangat khas dan aku merasakannya. Ingatanku melayang beberapa tahun lalu ketika aku melihatnya. iya beberapa tahun lalu, tepatnya aku agak lupa, namun suasana itu seperti saat ini. Dedaunan basah diguyur hujan. Bau khas tanah tercium dari kejauhan, dan suara burung sesekali terdengar mengisi keramaian.

Suasana itu akan selalu aku ingat. Kejadian-kejadian itu sungguh melekat. Rasanya semakin dekat walaupun sebenarnya jauh. Seorang laki-laki biasa yang merindukan bulan diatas sana. Ketika malam menjelang ia datang dengan sinarnya, dan aku disini terpaku melihatnya. Benderang indah dan ditemani bintang kejora. Aku terpaku melihatnya. dan kini aku melihatnya dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Pernah seorang berilmu berkata “ cintailah seseorang tanpa kau harus melihat ia akan mencintaimu. Karena hakikatnya cinta adalah memberikan semua yang kita miliki kepada yang kita cintai”. Biarlah kata-kata itu mengalir dalam aliran darahku. Merasuk menjelma sebagai sifatku, karakterku, dan inilah aku. Seorang pecinta ulung. Mencintai seorang tanpa ia harus tau. Mungkin orang akan mengatakan aku bodoh, aku salah. Biarlah orang berkata apa. inilah jalanku.

Ketika waktu itu tiba dan cercaan itu masih terdengar, aku merasakannya. Keikhlasan adalah kunci, “narimo ing pandum lan qonaah”. Sudah lah apa yang perlu disesali, tak ada. Jalan-jalan ini berlku, menghiasi setia langkah hidupku. Ketika ku melihat ia sedang berduaan dengan orang lain betapa rasa hati ini. Sungguh ada getaran yang aku kadang tak menyadarinya. Namun itu sangat terasa, apakah itu yang dinamakan dengan cemburu. Atau itu yang dinamakan dengan cinta. Kini aku mulai merenung mengartikan dan mengeja semua getaran itu. Dan aku mulai belajar dari apa yang terjadi dengan getaran itu. Cinta dan cemburu adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Ia seperti daya tarik dan memiliki kekuatan tersendiri dalam diri kita. Dan aku membiarkan keduanya hinggap dalam sanubariku. Kini ia menjelma dan menghiasi batiniahku.

Cinta engkau begitu menggoda. Menusuk kalbuku, merunyahkan hatiku, merongrong diriku hingga aku terjatuh. Cemburu engkau seperti tali yang terkalung dileherku, ketika ku berlari tercekiklah leherku dan aku sulit bernafas. Itulah hatiku ketika engkau datang dengan kekuatanmu. Aku tercekik, hatiku tercekik olehmu. Oh cemburu. Ada satu lagi yang belum aku bahas sedari tadi, rindu. Oh rindu…engkau seperti selimut yang menutup tubuhku. Kehangatanmu selalu aku damba, karna engkau penyejuk hidupku. Rindu….oh …rindu…..

Kutarik sedalam-dalam nafasku. Melayang bebas membayangkanmu. Melihatmu bercengkerama dengan orang lain membuatku cemburu. Kulepaskan tarikan nafasku dan kuhembuskan semua yang ad diparu-paruku. Seakan lega dada ini, dan kau terlihat tersenyum dalam sanubariku. Aku melihat engkau. Dan ku tatap engkau dengan senyum yang menghiasi bibir indahmu. Oh, bidadari penghuni alam jagad raya.

Inilah jejak langkah jalinan kata yang mencoba mengekspresikan hakikat cinta. Walaupun jauh dari sempurna dan kadang hanyalah coretan tinta tak berarti namun mencoba memberi makna dalam setiap goresannya. Aku yang sedari dulu merindukanmu, mendambakanmu, mencoba untuk tetap bertahan dalam cinta. Bertahan dalam keistiqomahan cinta ini. Biarlah, tak perlu kau tahu. Dan suatu saat nanti jika waktu itu tiba kau juga akan tahu betapa besar cintaku. Hehehe…ah terlalu lebay aku. Namun yang pasti inilah cintaku…..

Suatu saat nanti takdirlah yang akan menjawab semua ini. Aku diam bukan karena aku tak beriktiar, namun untuk sementara waktu biarlah ini berjalan, dan inilah jalanku. Dan suatu hari nanti tibalah waktu itu, ketika orang-orang didekatku membuka pintu itu aku akan mencoba memasukinya. Dan inilah jalanku…….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar