WpMag

Selasa, 18 November 2014

NAK, BBM NAIK LAGI

NAK, BBM NAIK LAGI

http://alfido.com/2014/10/19/hitung-mundur-14-hari-lagi-bbm-naik/
“Nak, ayo bangun”

“Iya Bu” sambil mengucek mata yang masih ngantuk

“BBM naik lagi” lanjut ibunya. Sementara matanya belum seratus persen terbuka. Ketika ia pelan-pelan membuka mata ibunya kembali berucap

“BBM naik lagi”

“Apa?”

Iya Nak, inilah kebijakan yang diambil pemerintah saat ini. Menaikan harga BBM ditengah harga minyak dunia yang terus menurun. Namun tak apalah Nak, kita diijinkan untuk singgah dan hidup di negeri ini saja sudah bersukur. Negeri yang “gemah ripah loh jinawi”. Apa Nak yang mau kau tanam?. Tongkat kayu nantinya akan menjadi tanaman. Apa nak yang ingin kau makan?. Semua sudah tersedia. Tinggal kitanya mau bergerak dan mencarinya atau tidak.

Nak…., sudah berapa kali BBM terus naik. Mulai masa orde baru yang hanya 700 perak sampai masa reformasi dan kini telah berada di angka 8.500 rupiah. Namun Nak, semua itu tak apa. Ini semua tak masalah bagi kita. Lebih baik ada BBM dengan harga yang mahal dari pada pasokannya tak menentu. Jika kita tengok Nak…, di seberang sana. Di pulau penghasil BBM dan tambang batu bara malah mereka sangat kesulitan mendapatkannya. Walaupun sumberdaya alamnya melimpah namun mereka tak menikmatinya. Mulai  batu bara, tambang emas, maupun minyak bumi di sana ada Nak. Namun mereka sedikit sekali merasakan keberadaan sumber daya alam mereka sendiri. Semua disalurkan kesini Nak… ke pulau yang katanya pusat pemerintahan. Apakah ini yang dinamakan pemerataan?. Apakah ini yang dinamakan menjalankan amanat undang-undang. Masihkan engkau ingat Nak. Undang-undang yang mengatakan “bumi, air dan udara dikuasai oleh Negara dan digunkan untuk kesejahteraan rakyat”. Jika masih ingat. Apakah Negara telah melakukannya Nak.

Nak…, walaupun BBM telah naik dan diketok palu oleh Pak Presiden janganlah berkecil hati. Bolehlah sekali-kali engkau menolaknya dengan turun kejalan dan mengutarakan kekecewaan. Namun kamu harus ingat nak… disana ada hak rakyat yang engkau perjuangkan. Ada kebijakan yang menurutmu tidak sesuai dengan kondisi dilapangan. Bahkan ada regulasi yang tidak berjalan dalam koridor undang-undang. Turunlah ke jalan untuk berjuang. Namun kamu harus mematuhi aturan dan tata tertib. Jangan engkau arogan dan anarkis. Seolah engkau adalah satu-satunya pembela rakyat sehingga mengesampingkan orang di sekitar. Membuat kerusuhan dan mengacaukan jalan-jalan. Membakar ban bekas dan menutup jalan. Melempari aparat dengan batu bahkan berkelahi sampai berdarah. Apakah itu yang dinamakan perjuangan Nak?. Apakah itu yang dinamakan membela rakyat Nak. Bukankan itu malah mengganggu ketertiban para pengguna jalan. Ingat Nak, setiap kali kamu keluar rumah disitu ada hak orang lain yang harus kamu hargai. Ada jalan, ada trotoar dan ada lampu merah. Itu bukan milik kita pribadi namun milik semua orang. Milik rakyat yang engkau perjuangkan nasibnya itu. Ingat Nak…..

Nak…., jika engkau tak turun kejalan tak apa-apa. Tak ada yang melarang. Walaupun engkau di cap sebagai orang apatis. Biarlah orang berkata apa, yang terpenting kita terus bergerak maju membuat sebuah perubahan. Bolehlah engkau memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai arti hidup yang sekarang ini banyak ditinggalkan. Mengenai kebudayaan, kearifan, bahkan mengenai sebuah pemahan dalam keikhlasan. Bolehlah engkau keluar dan duduk di warung membicarakan mengenai pembangunan Mal-Mal yang terus berjalan. Gedung pencakar langit yang kian menjulang atau mengenai pasar modern yang berada di sepanjang jalan. Memberikan pemahaman mengenai kebiasaan konsumtif yang tak terfilter sampai sistem ekonomi Negara ini. Entah sistem liberal, kapital, neoliberal atau mungkin sistem ekonomi berdasarkan undang-undang.

Nak…., matahari mulai tersenyum. Embun perlahan mulai turun. Bangunlah Nak. Bangun. Ayo kita hadapi kenaikan BBM ini dengan semangat baru. Mari tersenyum dan memahami setiap kebijakan pemerintah dengan pemahaman yang luas. Jangan kau sempitkan pemahamanmu Nak. Barangkali mereka para pengambil keputusan lebih mengetahui dan memahami masa depan bangsa ini. Setahun dua tahun atau bahkan lima tahun lagi yang akan terjadi di negeri ini. Mereka telah merencanakannya Nak. Biarlah mereka bekerja. Kalaupun mereka melakukan korupsi, kolusi maupun nepotisme. Biarlah Tuhan yang mengingatkan Nak. Mengingatkan dengan caraNya. Bukan kita yang menghakimi sepihak dan memfonisnya. Ada pengadilan dan ada hukum Tuhan. Sudahlah itu bukan ranah kita.

Mari berkerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar