WpMag

Selasa, 04 November 2014

TANTANGAN PETANI

TANTANGAN PETANI



Bertani adalah salah satu pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra. Berbeda dengan mereka yang duduk di ruang ber AC sambil menatap menitor. Berbeda pula dengan mereka yang berada dalam kendaraan sembari memainkan setir. Berbeda juga dengan mereka yang berada dalam ruang kelas sembari menuliskan soal dipapan kepada muridnya. Bertani membutuhkan nyali yang kuat. Harus berani tahan dari tempaan sinar matahari pagi sampai siang hari. Harus berani bergelut dengan lumpur ketika musim padi. Kehidupan yang keras membuat mereka semakin kuat dalam menghadapi hidup. Walaupun harus ditempa oleh panas siang dan dingin hujan namun semangat mereka tak kunjung padam. Al hasil, anak-anak mereka dapat hidup dengan layak, dapat mengecam pendidikan yang tinggi.

Saat ini bertani adalahh salah satu pekerjaan yang mulai ditinggalkan oleh kebanyakan orang. Musim yang tak menentu, konversi lahan pertanian menjadi bangunan dan rendahnya harga jual hasil pertanian menjadi penyebabnya. Pemanasan global menjadikan musim yang tak menentu dibelahhan dunia. Indonesia yang memiliki dua musim dengan rentang waktu enam bulan kini sulit diprediksi. Hal inilah menyulitkan petani untuk melakukan kegiatan pertanian. Mereka sulit menentukan kapan waktu tanam yang tepat. Kesalahan dalam menentukan waktu tanam akan berakibat fatal. Khususnya daerah Jawa lahan pertanian menjadi sempit, hal ini dipicu maraknya konversi lahan untuk digantikan bangunan. Beberapa lahan pertanian kini telah dibangun menjadi perumahan, pertokoan atau bahkan pasar modern. Sampai saat ini pemerintah kurang maksimal dalam melakukan penyerapan hasil pertanian lokal. Rendahnya daya saing produk lokal menjadikan harga hasil pertanian murah. Pemerintah lebih “asik” melakukan impor yang notabene merugikan petani. Dengan dalih harga impor lebih murah dan kualitasnya lebih bagus.

Kini petani dihadapakan pada pilihan sangat sulit. Disatu sisi lain mereka ingin hidup dengan hasil pertaniannya disisiyang berbeda banyak kendala yang harus dihadapi. Sudah saatnya pemerintah lebih berpihak pada kepentingan petani bukannya pada pemilik modal. Pemerintah harus melakukan terobosan guna menyerap hasil pertanian local. Tidak hanya itu pemerintahh diharapkan mampu memberikan pelatihan pada petani untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas pertanian. Petani tidak harus bertumpu pada kebijakan pemerintah yang belum tentu kapan sampainya. Sudah selayaknya petani terus giat bertani dengan mengedepankan pertanian yang ramah lingkungan sehingga dapat meningkatkan produktifitas. Penerapan organic farming dapat dilakukan dengan mengembalikan konsep pertanian konvensional dan mengombinasikannya dengan pertanian modern.

Sinergisitas antara pemerintah dan petani akan mampu memberikan manfaat yang besar khususnya bagi petani dan bagi masyarakat luas. Sinergisitas ini dapat dibangun dengan komunikasi yang baik antara pemerintah dan petani. Harapannya hasil pertanian akan meningkat dan kesejahteraan petani dapat terwujud.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar