WpMag

Rabu, 26 November 2014

NAK

 NAK 

“Nak, dulu ketika kamu masih kecil gunung Kelud meletus”
“Terus Bu, bagaimaana letusannya?”
“Dulu Nak, ketika usia mu belum genap satu tahun. Kota ini hujan abu. Tak ada matahari pada hari itu”
 “Nak, dulu kota ini kota mati”
“Kenapa Bu?”
“Berpuluh tahun dilanda banjir. Berpuluh tahun gagal panen”
Kemudian beliau melanjutkan lagi
“Nak, dulu kota ini disebut kota ‘Ngrowo’”
“Kenapa Bu, kok disebut Ngrowo?”
“Iya Nak, Berpuluh tahun dilanda banjir. Berpuluh tahun mengungsi, berpuluh tahun hidup tanpa ada hasil panen padi. Kota ini seperti rawa, sedikit penduduk yang bertahan di kota ini”
“Terus makan apa Bu?”
“Makan seadanya Nak, kalau ada jagung ya makan jagung, kalau ada gaplek ya makan gaplek. Dulu ibu aktivitas harus menggunakan sampan. Kalau mau ngaji Nak, Ibu dulu harus menyebrang sungai depan rumah kita. Ibu kadang berenang. Demi sebuah pelajaran mengenai agama”
“Terus simbah bagaimana Bu?”
“Simbah adalah pekerja keras. Beliau bekerja untuk menghidupi kami semua. Bekerja walaupun kondisi alam tak membaik berpuluh tahun”
Diam sejenak karena terdengar suara gemuruh di luar sana
“Nak, orang di sana. Di ibu kota, di kota-kota lain setiap ada banjir sebentar aja sudah ngeluh. Ada bantuan sedikit ngeluh. Nggak ada bantuan ngeluh. Mereka tidak tahu jaman ibu dulu. Gak ada bantuan Nak. Kami harus susah payah hidup dengan cara kami sendiri. Bahkan orang-orang di kampung ini pada ngungsi di pegunungan. Mereka mengungsi menghindari banjir yang terus datang”
“Iya ya Bu”
“Nak, suatau saat kalau kamu menghadapi bencana seperti saat ini jangan mengeluh. Hadapi dengan lapang dada. Walaupun pemerintahmu tak memperhatikan. Gusti Alloh mboten sare Nak”
“Iya Bu”

Kilatan  di ujung timur masih terlihat dikampung kecil ini. Sebentar lagi hujan abu biasanya akan mengiringi. Semoga saja saudara-saudara yang berada di kaki gunung Kelud selamat dan dapat menjalani aktifitas seperti biasa. #PrayforKelud

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar