WpMag

Sabtu, 26 September 2015

MASIHKAH MINDER JADI PETANI?

MASIHKAH MINDER JADI PETANI?

Kehidupan petani
Ada fikiraan yang menggelitikku untuk terus memainkan keyboard. Ada sesuatu yang harus dikeluarkan. Menuliskan sebuah fenomena yang ada di masyarakat. Suatu kejadian, pola pikir masyarakat, atau hal-hal sepele yang kadang menggelitikku untuk dituliskan.

Dewasa ini, para pemuda memilih untuk bekerja disektor-sektor yang menjanjikan. Bekerja jadi pedawai negeri yang gajinya tiap bulan dapat diandalkan. Atau jika tidak, bisa juga jadi pegawai swasta yang gajinya rendah sampai tinggi. Para pemuda dengan susah payah menggapai mimpi-mimpinya. Entah lewat jelan depan atau jalan belakang. Semua tergantung diri masing-masing.

Fenomena yang agaknya menggelitikku ketika pemuda desa mulai memiliki pemikiran yang berbeda dengan para pendahulunya. Ketika, pekerjaan jadi petani mulai dipandang sebelah mata. Tak ada pilihan memang, saat ini petani adalah salah satu pekerjaan yang dinilai kurang menjamin kehidupan dimasa yang akan datang. Apalagi petani kecil dengan luas lahan kurang dari setengah hektar. Belum lagi para buruh tani yang tak memiliki lahan.

Pemuda-pemuda desa mulai meninggalkan tanah kelahirannya. Merantau ke kota untuk mengadu nasib. Meninggalkan tanah leluhurnya, kearifan nenek moyangnya dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakatnya. Demi sebuah harapan baru mereka kadang berfikir instan untuk mencapai sebuah tujuan. Kehidupan yang layak dan diharapkan akan menjamin hari tuanya.

Hay, pemuda desa. Ayo berfikir ulang mengenai keputusan yang kita ambil. Memang benar untuk saat ini pekerjaan jadi petani belum menjamin hari tua. Namun bukankah rezki manusia telah ditentukan. Tinggal kita mau bergerak menjemputnya atau tidak. Bukankah tugas kita untuk menjemputnya dengan cara apapun selagi sesuai dengan kaidah yang berlaku. Dan kita tak punya hak untuk mengurusi hasilnya.

Malu dicibir teman karena jadi petani?. Coba deh dipikir lagi. Bukankah dengan cara jadi petani kita ikut rembuk menghidupi bangsa Indonesia. Mencukupi kebutuhan masyarakat mulai dari beras, jagung, ketela atau bahan pokok lainnya. Bukankah itu juga sebuah kebaikan jika diniati dengan benar.

Gengsi?. Apakah kita masih gengsi jadi petani?. Yah, coba deh difikir-fikir lagi. Ada ungkapan “jika kaya jadilah pengusaha, jika hidup terjamin jadilah pegaawai, namun jika hidup bahagia jadilah petani”. Lantas kenapa masih bimbang?. Wajar jika masih bimbang. Namun ada poin yang harus digaris bawahi “bahagia bukan mengenai seberapa banyak uang yang kita miliki, bukan seberapa tinggi jabatan yang kita punyai tapi seberapa luas pemahaman dan penerimaan  hidup yang ada dalam diri”.

Maka bahagia itu bisa hadir dimana saja. Entah menjadi pegawai negeri, pengusaha dan bahkan petani sekalipun. Kesimpulannya kita ingin hidup bahagia atau ingin kaya?. Kekayaan memang bisa mengantarkan hidup bahagia. Namun kekayaan belum tentu menjamin hidup kita bahagia. Coba deh difikir-fikir lagi.


Karena bahagia adalah hak semua orang yang mau mengusahakannya. Hati yang lapang, fikiran yang jernih dan tindakan yang terpuji. Maka jadi petani pun kita memiliki hak yang sama untuk bisa bahagia. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar