WpMag

Rabu, 06 April 2011

LIMNOLOGI

DAMPAK EUTROFIKASI TERHADAP EKOSISTEM PERAIRAN TAWAR DAN MANUSIA

Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini. Melalui penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses eutrofikasi. Sebuah percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap Lake Erie (ELA Lake 226) di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang hanya ditambahkan karbon dan nitrogen tidak mengalami fenomena algal bloom selama delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan fosfor (dalam bentuk senyawa fosfat)-di samping karbon dan nitrogen-terbukti nyata mengalami algal bloom.Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap permasalahan ini.
                Organisme perairan untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya memerlukan unsur fosfor (P) unsur tersebut dijumpai dalam senyawa fosfat (PO4), dan bersama-sama dengan unsur lainnya seperti belerang (S), kalium (K), dan karbon C) dikenal dengan unsur hara (nutrisi) yang dibutuhkan oleh fitoplankton, algae, dan sea grass. Fosfat di perairan alut yang normal berkisar antara 0,01-4 ug at/l (Brotowidjoyo at. Al, 1995). Fitoplankton kemudian akan berperan dalam siklus atau peredaran mata rantai makanan yang terjadi pada suatu perairan (Raharjo, et.al, 1982). Fitoplankton ini merupakan sumber dan awal dari mata rantai kehidupan dalam perairan. Fitoplankton berperan sebagai produsen primer dimana kebutuhan biota perairan akan memanfaatkannya untuk dapat berkembangbiak dan tumbuh (Koesoebiono,1981). Ketika aktifitas fitoplankton dalam perairan ini berjalan dengan baik maka perairan tersebut akan subur dan mampu mendukung kelangsungan hidup organisme didalamnya. Namun ketika unsur hara didalam suatu perairan terlalu banyak akan memberikan dampakl yang negatif dan positif bagi perairan tersebut. Dampak posiotifnya adalah terpenuhinya kebutuhan unsur hara unuk mendukung kelangsungan hidup organisme didalamnya, sedangkan unsur hara yang terlalu banyak ini akan mengakibatkan eutrofikasi.
            Eutrofikasi dapat didefinisikan sebagai pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Definisi lain, mengatakan Eutrofikasi adalah proses peningkatan laju input bahan organik ke sebuah perairan. Dalam bahasa awamnya, proses ini adalah penyuburan perairan secara berlebih yang disebabkan oleh masukan bahan organik Eutrofikasi merupakan problem lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 μg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik.
            Ada beberapa penyebab terjadinya eutrofikasi. Lingkungan perairan menjadi penyebab utama, dimana eutrofikasi ini akan terjadi ketika unsur hara di lingkungan perairan meningkat tajam, namun proses ini sangat lama. Faktor lingkungan ini di sebabkan unsur hara berupa karbon(C), kalium (K), belerang (S), dan phospat (P). Namun dari unsur hara tersebut fosfat lah yang menyumbang besar dari kejadian eutrofikasi. Fosfat di perairan berasal dari  10 persen proses alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 persen dari industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari pupuk pertanian, 23 persen dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari limbah peternakan. Paparan statistik di atas (meskipun tidak persis mewakili data di Tanah Air) menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat di era modern dan semakin besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang yang sangat besar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan air. Aktivitas manusia juga menjadikan proses eutrofikasi perairan ini menjadi lebih cepat. Contohnya penggunaan detergen yang megandung unsur fosfat serta limbah manusia yang terlalu tinggi. Musim juga berperan dalam terjadinya eutrofikasi perairan. saat musim penghujan, masuknya air dengan kandungan bahan organik tinggi dari daratan merupakan suplai utama unsur hara bagi perkembangan fitoplankton. Dengan daur hidup yang relatif singkat, fitoplankton mampu tumbuh dalam hitungan hari, melesat mencapai jutaan sel di dalam 1 liter air. Begitu cepatnya pertumbuhan fitoplankton dalam perairan ini akan mempercepat proses eutrofikasi.
Ketika populasi fitoplankton di suatu perairan mencapai titik maksimum maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup organisme didalamnya. Dampak negatif yang diakibatkan oleh bloming fitoplannkton seperti berkurangnya oksigen di dalam air yang dapat menyebabkan kematian berbagai makhluk air lainnya. Mahkluk hidup yang terbesar kena dampak adalah ikan. Karena semakin tinggi populasi fitoplankton akan mengakibatkan berkurangnya kadar oksigen (O2) terlarut di perairan sehingga kebutuhan oksigen untuk respirasi ikan akan berkurang dan akibatnya ikan akan mati.  Belum lagi beberapa akibat buruk bagi lokasi pariwisata perairan seperti renang, permainan air, dll. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa beberapa jenis fitoplankton yang potensial blooming adalah yang bersifat toksik, seperti dari beberapa kelompok Dinoflagelata, yaitu Alexandrium spp, Gymnodinium spp, dan Dinophysis spp. Dari kelompok diatom tercatat jenis Pseudonitszchia spp termasuk fitoplankton toksik.
Selain berdampak buruk pada ikan, eutrofikasi juga berdampak buruk bagi manusia. Beberapa penyakit akut yang disebabkan oleh racun dari kelompok fitoplankton di atas adalah Paralytic Shellfish Poisoning (PSP), Amnesic Shellfish Poisoning (ASP), dan Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP). Jenis racun yang ada juga beragam, dari mulai Domoic Acid sampai Saxitaxin yang daya letalnya hampir 1.000 kali lebih besar dari cyanida.
Racun-racun tersebut sangat berbahaya karena di antaranya dapat menyerang sistem saraf manusia, pernapasan, dan pencernaan. Melihat namanya, semua penyakit di atas berkaitan dengan konsumsi kerang oleh manusia. Kerang akan memanfaatkan fitoplankton sebagai makanannya. Sehingga fitoplankton yang berbahaya dan mengandung racu akan dimakan manusia akibatnya manusia akan terkena racun yang masih tersimpan didalam tubuh manusia. Pengolahan kerang yang kurang baik juga akan mempercepat racun bereaksi didalam tubuh manusia. Contoh pengolahan kerang yang kurang baik adalah cara membersihkan kerang dari cangkangnya yang kurang bersih dan cara masak yang tidak sampai matang sehingga bakteri/ mikrobia yang berbahaya tidak mati terkena suhu tinggi. Malangnya lagi, semua jenis fitoplankton yang beracun di atas dijumpai di beberapa perairan pesisir Indonesia.
Beberapa kejadian fatal yang disebabkan oleh fitoplankton beracun tercatat di perairan Lewotobi dan Lewouran (Nusa Tenggara Timur), Pulau Sebatik (Kalimantan Timur), perairan Makassar dan Teluk Ambon. Dari hasil penelitian peneliti di Unpatti, tampak bahwa bloom fitoplankton PSP Alexandrium spp rutin terjadi di Teluk Ambon. Namun, karena sistem kearsipan data yang masih jauh dari memadai, berbagai kejadian fatal yang diakibatkan oleh fitoplankton beracun tidak tercatat.
Di beberapa negara maju, bloom fitoplankton ini mendapat prioritas penanganan, mengingat dampak kerugiannya. Konsultasi publik tentang berbahayanya efek dari fitoplankton beracun merupakan hal biasa di sana. Kerugian ribuan dollar AS telah mereka alami karena kematian massal ikan, penyakit, dan penutupan areal pariwisata karena blooming fitoplankton ini.
Akhir-akhir ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal, tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. Banyak disiplin ilmu yang dgunakan dalam menangani dampak eutrofikasi ini seperti ilmu perikanan, biologi, bahkan tehnik lingkungan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut antara lain  aktivitas peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.
Penangannan untuk mengatasi eutrofikasi ini adalah dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk (birth control). Karena sejalan dengan populasi warga bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah diharapkan  mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif fosfat.
Anonim. 2009. Eutrofikasi. Wikipedia. Rabu 12 januari 2011
Brotowidjoyo, M.D., D. Triwibowo., E. Muyarto 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Edward dan Salam T.M. 2003. Pengaruh Upwelling Terhadap Eutrofikasi Zat Hara Fosfat di Laut Banda Bagian Utara. Pusat Penelitian Oseanografi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Koesoebiono. 1981. Plankton dan Produktivitas Bahari. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Perikanan Bogor: 169 hal
 Raharjo, S dan Sanusi, 1982. Oseanografi Perikanan 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Mengah Kejuruan. Penerbit . CV Petra Jaya. Jakarta






                       
               


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar