WpMag

Kamis, 07 April 2011

Tambangan, Jejak Peradaban Brantas




 
KOMPAS Images/FERGANATA INDRA RIATMOKO Ilustrasi: Tambangan atau perahu penyeberangan.


KOMPAS.com - Budaya baru terbentuk menggantikan budaya lama. Tetapi di atas permukaan air Sungai Brantas di Kabupaten Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur, masyarakat ternyata masih memanfaatkan kebiasaan kuno: menyeberang sungai dengan perahu.
Sungguh menarik mengamati betapa penyeberangan Sungai Brantas mengunakan perahu yang disebut tambangan, diyakini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tambangan sebagai sarana transportasi telah melintasi ujian adaptasi sosial dan adaptasi teknologi selama sekian abad.
Musim hujan yang berkepanjangan tahun lalu dan berlanjut hingga sekarang (juga disebut cuaca ekstrim), menjadikan debit air Sungai Brantas kini lebih besar. Warga menyatakannya, banyune kimplêh-kimplêh. Air melimpah.
Arus air deras, meski tak sampai bergelora. Seperti halnya Sungai Bengawan Solo di Jawa, Sungai Brantas hilir di Blitar sudah membentuk dasar sungai yang dangkal melebar seperti piring, bukan berpalung berjurang seperti mangkuk.
Ini terjadi akibat proses aluviasi, terikutnya bahan-bahan sedimen gunung mendangkalkan dasar sungai. Meski deras dan dalam oleh karena debit yang besar, arus air tetap tenang. Air tidak bergolak seperti sungai-sungai semacam Pekalen Sampean di wilayah timur Jawa Timur sehingga bisa dijadikan arena olah raga arung jeram.
Namun, justru berakar pada kondisi struktur fisik sungai semacam inilah, tradisi dan kebudayaan menyeberang sungai dengan perahu tambangan ini bisa terbentuk. Tambangan ini tak mungkin dioperasikan di sungai dengan air yang bergolak-golak.
*** SITUS resmi Pemerintah Kabupaten Tulungagung tidak mengutip sumbernya, menyebutkan, di era Majapahit (abad ke-14 sampai dengan ke-15), peradaban masa itu telah mengelola dan menata kegiatan penyeberangan ini. Para tukang tambang zaman itu, disebut Wwanganambangi, telah diorganisasi dengan rapi.
Tidak itu saja. Salah satu sentra kegiatan tambangan di zaman ini berada di Desa Majang, Kecamatan Tulungagung, kata Suprijanto, di situs Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Pemerintah Kabupaten Tulungagung.
Bisa jadi ini berhubungan dengan istilah jenis perahu payangan yang hingga kini merupakan sebutan bagi nama perahu besar penangkap ikan di desa-desa nelayan pantai selatan Jawa.  
Ada belasan jasa perahu tambangan masa kini yang masih tersisa namun beroperasi penuh. Di antaranya, di Desa Pundensari, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung yang dioperasikan Nohan, laki-laki 30-an tahun, pemimpin kegiatan perahu tambangan ini yang dikelola sebuah kumpulan orang, sejenis kerjasama bisnis.
Tempat perahu ini beroperasi bisa ditemukan di ruas jalan raya Rejotangan, ruas jalan Blitar Tulungagung. Pada jarak tertentu di sepanjang jalan akan tampak papan pemberitahuan bergambar perahu, dan bertuliskan tambangan. Bisa ada tambahan tulisan, "24 Jam Roda 2 dan bisa ditambah Roda 4." 
Umumnya perahu penyeberangan yang disebut tambangan itu kecil saja sehingga hanya bisa menyeberangkan orang atau sepeda motor.
Ada teori, perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar.Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi C
Namun ada juga yang berukuran cukup besar, sehingga bisa menyeberangkan mobil seukuran pikapukurakecil (Suzuki Carry 1.500 cc) atau Toyota Kijang, termasuk milik Nohan, pengelola tambangan.
Para penyeberang atau penumpang perahu ini adalah warga setempat yang memerlukan perjalanan lebih singkat dari Rejotangan (Tulungagung) ke Srengat (Blitar).
Sebenarnya kedua wilayah dihubungkan jalan raya Blitar Tulungagung, namun bagi pengguna tertentu cukup jauh jarak yang harus ditempuh jika mereka harus menyeberang lewat jembatan.
Sebab posisi jalan di lokasi ini membujur sejajar dengan posisi sungai. Jika orang hendak ke seberang sungai, maka harus berkendaraan menuju titik persinggungan sungai dan jalan berupa jembatan.
Selisih antara melewati jembatan dengan jarak jika naik perahu tambangan ini sampai 12 km. Untuk warga Rejotangan yang bekerja di Srengat di seberang dan menempuh perjalanan setiap hari, jarak itu terlalu jauh.
"Biaya menyeberang dengan tambang Rp 1.000 satu sepeda motor dengan satu pengemudi, atau Rp 1.500 jika ada pembonceng, cukup murah dibanding harus memutar lewat jembatan," tutur Huri (43), pengelola perahu tambang lainnya.
Organisasi kerjanya sederhana saja. Perahu tambang ini kini sepenuhnya merupakan kegiatan ekonomi. Perahu tambang dikelola sebuah kelompok yang bergiliran jaga, atau giliran kerja.
Lantaran banyaknya orang yang memerlukan pekerjaan dan nafkah, di perahu tambangan milik Huri misalnya, setiap orang peserta hanya mendapat giliran kerja tiga hari seminggu, dari tiga shift kerja 24 jam.
Ini agar semua mendapat kesempatan mencicipi rejeki perahu tambangan. Kelompok Nohan, bernama KT (Kelompok Tambangan) Margo Joyo, beranggotakan 11 orang.
Setiap shift ada tiga orang yang bekerja. Seorang mengendalikan dayung, sebagai kendali perahu. Dua orang lainnya, memegang tali, yang disebut tambang dalam Bahasa Jawa, dan menjadi asal nama tambangan itu.
Tali atau tambang inilah yang mengikat perahu, supaya perahu tak akan pernah bergeser dari tempatya. Ada dua tali. Satu yang berada sedikit di at as permukaan air, yang menjulur menyeberang sari sisi sungai satu ke sisi sungai lain. Berfungsi sebagai pegangan dua operator pendorong tenaga.
Satu tambang lainnya berupa kawat baja, yang berfungsi sebagai semacam rel, dengan roda yang terus berjalan b olak-balik sepanjang proses penyeberangan.
Kawat baja lainnya menghubungkan as roda dengan badan perahu. Ini menjadikan perahu tak pernah bergeser lokasinya, sehingga bisa merapat tempat ke lokasi dua dermaga di masing-masing sisi sungai.
Dewasa ini perahu-perahu yang semula dari bahan kayu, telah berganti dengan perahu besi. Badan perahu berlunas tunggal, bertindak sebagai semacam ponton.
Lambungnya dari bahan besi yang lebar, seperti struktur kapal feri roll on roll off (ro-ro). Baru sekitar setahun terakhir perahu ini dibuat, dengan biaya Rp 100 juta, dikerjakan di bengkel setempat.
Menurut Nohan, sebagai pemimpin kelompok, dirinya mewarisi bisnis ini dari ayahnya, yang kini karena sudah tua hanya sesekali ikut bekerja. Ayahnya itu, Pak To, juga mewarisinya dari kakek Nohan.
"Jadi ini turun temurun di keluarga kami. Selain ayah, kakak ipar saya juga bekerja disini. Jadi ini bisa disebut usaha keluarga, ditambah warga desa lainnya," kisahnya.
Artinya, perahu tambangan ini dengan demikian telah membentuk adaptasi teknologi, yang pasti amat berbeda dibanding teknologi tambangan zaman Majapahit. Namun ini tetap budaya yang sama dengan era itu. Adaptasi lainnya tentulah organisasi pengelolanya, yang kini berkembang sebagai usaha ekonomi kelompok warga.
Sungai Brantas yang diyakini sangat penting sebagai pilar dua peradaban di wilayah ini, kerajaan Singosari disusul Majapahit, pasti kegiatan tambangan ini dulunya merupakan alat transportasi utama.
"Ada teori yang mengemukakan perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar," kata arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.
Tambangan ini seperti menjelaskan tanda tanya, mengapa pada relief candi yang berdiri di kaki Gunung Kelud itu bisa ada gambar perahu. Relief itu bukan sekedar gambaran perahu kecil seperti perahu tambangan ini, namun malah perahu dengan deretan pendayung berjumlah 12 orang berderet di tepian perahu, ditambah gambar layar di atas perahu.
"Jika kita melihat sisa peradaban perahu seperti saat ini, maka bisa jadi dulunya di atas Sungai Brantas ini adalah pelabuhan besar dengan kapal-kapal besar, dengan layar besar, dengan bobot mati hingga puluhan ton," kata Dwi.
Jangan-jangan pula, para keluarga pengelolanya saat ini masih berhubungan dengan orang-orang yang dulu bergelar wwang anambangi di era Majapahit. Tidak itu saja.
Di lokasi tambangan itu mudah dijumpai berbagai benda purbakala seperti lumpang batu yang berada di tepi sungai. Ini bisa membawa tafsir lebih luas, tentang peradaban di tepian Brantas.
Yakni, sebuah masyarakat agraris (lumpang batu, tanda alat pengolahan biji-bijian hasil panen), namun telah melakukan kegiatan produksi yang ditransportasikan hingga ratusan kilometer, boleh jadi sampai ke pesisir utara di pantai Surabaya masa kini. Pertanyaannya, lalu produksi apa yang ditransportasikan zaman itu?
Bila sungai sedang tenang, di siang hari yang terik, di atas air hening dan tenang, sungguh menyenangkan menaiki perahu tambangan ini.
Pengemudinya pasti bekerja sembari menyetel radio transistor yang memperdengarkan gending-gending gamelan Jawa dari siaran radio amatir di Blitar dan Tulungagung.
Mungkin Raja Hayam Wuruk pernah melintasi sungai ini naik perahu seperti yang sedang kita alami. Mungkin Ken Arok juga, bersama istrinya yang terkenal cantik itu, Ken Dedes. (Habis)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar