WpMag

Rabu, 06 April 2011

OCEANOGRAFI

MAKALAH
PENGARUH PENURUNAN MUKA TANAH
DAN PASANG AIR LAUT TERHADAP BANJIR ROB
DI  SEMARANG






OLEH :

Agus Indra Jatno                   (11805)
Muhotimah                            (11851)
Robin                                     (11661)
Windi Amelia                        (11756)
Yuni Riawan                         (11834)

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat dan bimbingannya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh Penurunan Muka Tanah Dan Pasang Air Laut Terhadap Banjir Rob Di  Semarang. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Oseanografi Semester Genap(IV). Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada:
            Kami  menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.



Yogyakarta, Maret 2011

Penulis








DAFTAR ISI

Halaman Judul .............................................   1
Kata Pengantar ............................................    2
Daftar Isi ......................................................   3
BAB I.        PENDAHULUAN
I.1       Latar Belakang ..........................    4
I.2       Study Area ...............................       5
I.3       Metode penyusunan Makalah ....     8
I.4       Hasil ........................................     9
BAB II.       PEMBAHASAN ......................       10
BAB III.      KESIMPULAN DAN SARAN...     13
DAFTAR PUSTAKA ..................................     15











BAB I
PENDAHULUAN

I.1        LATAR BELAKANG
Indonesia mempunyai panjang garis pantai sekitar 81.791 km. Hal tersebut merupakan potensi sekaligus tantangan untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya karena jika tidak, maka wilayah pantai Indonesia dapat mengalami kerusakan yang juga berdampak pada budidaya perikanan dan perikanan tangkap. Sebagian besar lahan pesisir di sepanjang pantai Indonesia mengalami kerusakan yang sangat parah sebagai akibat dari tingginya tingkat kerusakan pantai sampai akhir tahun 2008 dan telah banyak kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan akibat dari bencana kerusakan pantai tersebut.
Bencana banjir merupakan permasalahan umum terutama didaerah padat penduduk pada kawasan perkotaan, daerah tepi pantai atau pesisir dan daerah cekungan. Masalah banjir bukanlah masalah baru bagi Kota Semarang, tetapi merupakan masalah besar karena sudah terjadi sejak lama dan pada beberapa tahun terakhir ini mulai merambah ke tengah kota. Hal tersebut di atas terjadi karena adanya faktor alamiah dan perilaku masyarakat terhadap alam dan lingkungan.
Sementara itu proses terjadinya banjir sendiri pada dasarnya disebabkan oleh faktor antroposentrik, faktor alam dan faktor teknis. Faktor antroposentrik adalah aktivitas dan perilaku manusia yang lebih cenderung mengakibatkan luasan banjir semakin meningkat. Beberapa faktor antroposentrik yang juga merupakan faktor non teknis penyebab banjir pada kota Semarang, yaitu Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya terjadinya perubahan tata guna lahan pada daerah–daerah lindung seperti daerah perbukitan dan daerah pegunungan sehingga menimbulkan problem peningkatan run–off dan banjir kiriman. Sedangkan pembangunan ke arah pantai dengan reklamasi menyebabkan luasan rawa menjadi berkurang sehingga mengakibatkan luasan tampungan air sementara juga berkurang.
Seiring dengan laju pembangunan Kota Semarang, Pertumbuhan dan perkembangan kota telah menyebabkan perubahan pada kondisi fisik kota, yaitu perubahan guna lahan. Hal itu tentu saja menimbulkan permasalahan tersendiri pada Kota Semarang. Semakin besar suatu kota maka semakin besar atau kompleks permasalahan yang ditimbulkan dan dihadapinya, misalnya Kota Semarang. Kota Semarang dalam beberapa tahun terakhir ini menghadapi permasalahan yang cukup sulit, yaitu banjir.
Masalah banjir di Indonesia sejak dahulu sampai sekarang ini masih merupakan masalah yang belum dapat diselesaikan. Berhubung fungsi kota-kota pantai sebagi pusat pertumbuhan perekonomian maka masalah banjir ini menjadi sebuah pemikiran dan keprihatinan pemerintah, karena sangat mempengaruhi tata kehidupan baik dari segi ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Problem banjir secara garis besar disebabkan oleh keadaan alam dan ulah campur tangan manusia, sehingga dalam pemecahannya tidak hanya dihadapkan pada masalah masalah teknis saja tetapi juga oleh masalah-masalah yang berhubungan dengan kepadatan penduduk yang melampaui batas. Gejala alam yang dimaksud adalah karena umumnya kota-kota pantai terletak di pantai berupa dataran yang cukup landai dan dilalui oleh sungai-sungai dan ketika pasang sebagian di bawah permukaan air laut, disamping juga dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi. Fenomena kenaikan paras muka air laut (Sea Level Rise) juga merupakan sebab yang mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas banjir.
Melihat dari keadaan tersebut, tidak ada salahnya kita sebagai mahasiswa yang notabene adalah calon penerus negeri ini menyumbangkan sedikit pemikiran untuk ikut memberi kontribusi dalam penanganan bencana yang terjadi negara kita.Penanganan bencana atau manajemen plan yang kita susun dalam bentuk makalah ini lebih fokus kepada penanganan bencana alam air yang didalamnya termasuk Tsunami, Banjir,  dan rob,sehingga dengan mengetahui cara penangan yang baik kita bisa meminimalisir dampak negatif terhadap budidaya ikan. Dampak negatif dalam arti kita bisa mengathui penanganan hama dan penyakit ikan yang ditimbulkan akibat banjir tersebut. Hanya saja permasalahan kita kerucutkan lagi menjadi penanganan masalah banjir dan rob.

I.2        STUDI AREA
Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia dengan penduduk sekitar 1,3 juta jiwa. Semarang merupakan kota yang dipimpin oleh wali kota Drs. H. Soemarmo HS, MSi dan wakil wali kota Hendrar Prihadi, SE, MM. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat. Kedudukan Kota Semarang sangat strategis sebagai simpul transportasi regional menjadikan kota Semarang mempunyai kelengkapan sarana prasarana fisik sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut mendorong pertumbuhan dan perkembangan kota berjalan dengan cepat.
Daerah dataran rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah. Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati, dan Banyumanik.
Penduduk Semarang umumnya adalah suku Jawa dan menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Agama mayoritas yang dianut adalah Islam. Semarang memiliki komunitas Tionghoa yang besar. Seperti di daerah lainnya di Jawa, terutama di Jawa Tengah, mereka sudah berbaur erat dengan penduduk setempat dan menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi sejak ratusan tahun silam.
Rob atau banjir air laut adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang menggenangi daratan, merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut. Di Semarang permasalahan Rob ini telah terjadi cukup lama dan semakin parah karena terjadi penurunan muka tanah sedang muka air laut meninggi sebagai akibat pemanasan suhu bumi. Rob menjadi permasalahan di kota-kota seperti Semarang, Jakarta serta kota-kota yang berada di Pantura Jawa dan akan menjadi permasalahan besar dikemudian hari sejalan dengan pemanasan suhu dunia dan tidak terkendalinya penyedotan air tanah sehingga muka tanah turun.

I.3        METODE PENYUSUNAN MAKALAH
Masalah-masalah yang timbul akibat banjir rob yang melanda kawasan  pantura memberikan kita gambaran bahwa bencana tersebut sangat berpengaruh terhadap  perikanan budidaya. Pengaruh yang ditimbulkan meliputi hama dan penyakit Ikan.
Hal yang disebutkan di atas merupakan sekelumit dari berbagai macam dampak yang kita peroleh dalam penyusunan makalah “banjir rob Semarang”.Pengumpulan data yang kita gunakan dalam penyusunan makalah ini sebagian besar diperoleh dengan merujuk pada teknologi internet.Namun tidak hanya internet sumber-sumber lain juga dimanfaatkan demi melengkapi data-data penyusunan makalah.Secara keseluruha metode yang kita gunakan sebagai berikut:
  1. Akses internet,
Kemudahan serta akses yang cepat dalam pencarian data manjadi alasan mengapa metode tersebut digunakan. Namun tidak dipungkiri, kita juga menemukan kekurangan dalam penggunaaan metode tersebut. Data yang begitu banyak membuat kesulitan dalam penyusunan makalah. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan lebih menyederhanakan masalah menjadi lebih spesifik, sehingga penyusunan data menjadi lebih mudah. Beberapa situs yang digunakan diantaranya; Google.com, kompas.co.id, republika.com, jawapos.co.id, wikipedia.co.id dan situs-situs yang lain yang berperan dalam penyusunan makalah.
  1. Media cetak dan Visual
Selain menggunakan akses internet. Pengolahan data juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti media cetak (koran atau majalah) dan media visual (televisi). Dampak yang sangat besar,tentu menjadi santapan para wartawan media cetak maupun visual untuk mengangkat berita ini ke publik.Sehingga tidak sedikit pula sumber berita tentang banjir pantura dan masalah-masalahnya yang kita gunakan dalam penyusunan data.
  1. Pustaka
Penyusunan makalah juga dibantu dengan membaca beberapa referensi buku yang ada, sehingga sangat membantu dalam penyusunan makalah terutama dalam merumuskan masalah dan dalam pembutan manajemen plan.
  1. Diskusi
Penyusunan makalah tidak bakal rampung tanpa kerja sama tim. Metode diskusi selalu digunakan dalam setiap pertemuan.Terutama dalam merumuskan maslah serta konsep manajemen plan yang bakal digunakan dalam melengkapi penyusunan karya ilmiah.Metode diskusi yang sering dilakukan sangat berperan penting sehingga makalah mengenai banjir pantura rampung dikerjakan.

I.4        HASIL
Setelah dilakukan serangkaian metode yang digunakan dalam penyusunan makalah, diperoleh banyak fakta mengenai kejadian banjir dan rob yang terjadi di wilayah Pantura khususnya wilayah Semarang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber, sejak tahun 2000 tahunnya wilayah Semarang selalu mengalami musibah banjir. Bukan hanya menelan kerugian harta dan jiwa, musibah banjir di Semarang juga sering menimbulkan kerugian di bidang perikanan khususnya perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Selain itu banjir juga menghancurkan berbagai macam sarana dan prasarana sekitarnya. Berikut adalah data informasi yang kami peroleh mengenai banjir pantura yang dihimpun dari beberapa sumber media:
  1. Banjir rob air laut ini memaksa penduduk desa yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan untuk tidak melaut. Meski demikian mereka belum mengungsi dan berharap cuaca buruk segera berlalu. Namun penduduk desa kini mulai kekurangan air bersih. Sumur yang menjadi sumber air kini bercampur air asin. Mereka berharap pemerintah daerah setempat segera memberi bantuan (liputan6.com/ 19/02/2008)
  2. Air rob lebih merusak dibanding banjir biasa. Ini diakui warga perumahan Tanah Mas, satu kompleks elite di wilayah utara Semarang. Perumahan yang dihuni awal tahun 1979 itu sekitar sepuluh tahun terakhir ini menjadi wilayah langganan banjir rob. Rob telah menjadikan keadaan berubah. Berkeliling di kawasan perumahan yang terdiri sekitar 5.000 unit rumah itu tak sulit mencari rumah yang rusak, porak-poranda. Dindingnya yang kumuh tidak terawat, pecah-pecah, bahkan nyaris runtuh. Rumah yang dulunya mewah terbengkalai, ditinggalkan penghuni begitu saja. (adhisthana.tripod.com/artikel/semarang.txt)

BAB II
PEMBAHASAN
Hasil yang diperoleh menunjukkan betapa banyak kerugian yang timbul akibat musibah banjir. Jika tidak ditangani secara serius, musibah banjir bakal menjadi sebuah “acara tahunan” yang bakal melanda Semarang setiap tahunnya. Perikanan menjadi salah satu sektor yang terkena imbas dari musibah tersebut. Salah satu contoh adalah kesempatan panen udang yang langsung musnah karena tambak disekitar wilayah pantai Indramayu seperti disulap banjir menjadi danau luas sehingga udang dalam tambak terbawa arus banjir.Beberapa hal yang menyebabkan banjir sering terjadi di Indramayu adalah gelombang pasang, jebolnya tanggul akibat meluapnya air sungai,dan meluapnya air sungai itu sendiri.Agar bencana banjir yang menimbulkan banyak kerugian tidak terus menerus terjadi kita harus dapat mencegah atau meminimalkan dampak negatif  yang diakibatkan banjir.
Mengingat bencana banjir yang musiman tersebut, seharusnya pemerintah dan pihak-pihak terkait terutama departemen perikanan mengantisipasi untuk meminimalisir kerugian yang bisa timbul. Jika tidak segera mencari jalan keluar maka para petani ikan akan mengalami kerugian terus menerus.
Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menangani serta mengantisipasi dampak banjir rob Semarang antara lain:
  1. Upaya Mitigasi
Upaya Mitigasi Yang Dapat dilakukan untuk mengatasi banjir rob Semarang anatara lain yaitu:
  1. Evaluasi Sumberdaya Lahan
Evaluasi lahan adalah proses penelaahan dan interpretasi data dasar tanah, iklim, vegetasi, dan komponen lahan lainnya sehingga dapat diidentifikasi dan dibandingkan berbagai alternatif berbagai penggunaan lahan yang mungkin dikembangkan. Evaluasi lahan berguna untuk membuat perencanaan penggunaan dan pengelolaan lahan sehingga lahan dapat digunakan secara tepat (Manik, 2003). Dengan demikian manfaat yang mendasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Hal ini penting terutama apabila perubahan penggunaan lahan tersebut diharapkan akan menyebabkan perubahan-perubahan besar terhadap keadaan lingkungannya.
Selain itu, curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, orde sungai dan litologi merupakan lima aspek fisik dasar yang dianggap berperan dalam penetapan kawasan berpotensi banjir, selanjutnya dengan penggabungan informasi dari kelima aspek tersebut dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kawasan, yakni(1) kawasan rawan banjir, (2) kawasan berpotensi banjir, (3) kawasan relative aman banjir dan (4) kawasan aman banjir.
Dalam melakukan zonasi kawasan banjir, input datanya berupa peta-peta komponen lahan yang tersebut sebelumnya, (curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, orde sungai dan litologi), dan keluarannya adalah Peta Zona Kawasan Banjir. Contoh lain mengenai alur pikir pemrosesan data yang memerlukan pengetahuan khusus tentang suatu fenomena alam adalah analisis bahaya banjir rob terhadap pola genangan banjir rob. Seringkali Peta Bahaya banjir rob jarang tersedia bahkan tidak tersedia ataupun tidak lengkap, sehingga harus dilakukan dadakan yang kurang begitu valid. Persoalannya adalah, tidak semua peta tematik sesuai untuk jenis kajian ini. Di sinilah perlunya pemahaman tentang fenomena banjir rob untuk menentukan tema-tema yang relevan, berupa Peta Curah Hujan, Peta Lereng, Peta penggunaan lahan (land use) Peta Geologi/Tanah. Melalui proses overlay dan pengolahan data atributnya, gabungan peta tersebut akan menghasilkan Peta Bahaya Bnjir Rob Erosi. Dari sini dapat dilakukan zonasi bahaya Banjir Rob terhadap pola genangan banjir rob.
Proses overlay dan pengolahan data atribut merupakan salah satu tahapan dari pembuatan peta tersebut. Secara keseluruhan, tahapannya adalah sebagai berikut:
  • Input: antara lain digitasi, scanning, transformasi data, konversi data, dan koneksi dengan perangkat lain (input device).
  • Manajemen: antara lain pengelolaan basisdata, struktur data, kamus data, metadata, standardisasi data, dan kontrol kualitas. Basisdata yang dimaksud berupa kumpulan data grafis dan atribut (table yang saling terkait menjadi tu kesatuan, yang dapat ditambah, diperbaiki, dan dipanggil kembali secara tepat untuk berbagai keperluan.
  • Analisis/Proses: antara lain overlay, spatial joint, buffer, Digital Elevation Model (DEM), network, modelling, editing, kalkulasi dan integrasi data, serta klasifikasi dan rektifikasi.
  • Presentasi/Output: meliputi map composition, print control quality, dan
    interactive maps, yang dapat menampilan peta-peta tematik (sintetik), tabulasi, dan sistem informasi spasial.
Dengan keterangan diatas, dapat dipahami bahwa pemanfaatan system informasi geografi dalam upaya mitigasi benca banjir rob kota Semarang dapat dilakukan dengan upaya secara dini, mulai dari pepengklasifikasian daerah banjir rob.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
  1. Banjir Semarang merupakan banjir tahunan yang disebabkan karena kesalahan penataan ruang Semarang dan peralihfungsian Ruang Hutan Terbuka menjadi bangunan dan properti lainnya.
  2. Perikanan menjadi salah satu sektor yang terkena imbas dari dampak banijir rob Semarang.
  3. Pemanfaatan system informasi geografi dalam upaya mitigasi benca banjir rob kota Semarang dapat dilakukan dengan upaya pengklasifikasian daerah banjir rob.
B. Saran
  1. Diperlukan kerjasama dari tiap pemerintah daerah yang ada di daerah pesisir pantai ketika terjadi air pasang.
  2. Konsep overlay dan pengolahan data atributnya harus segera di sosialisasikan kepada masyarakat.















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Kabupaten Semarang. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Semarang.
Diakses pada tanggal 1 April 2011.
Anonim, 2010. Dampak Banjir rob. http://www.wikimu.com/News/Display. Diakses  pada tanggal 1 April 2011
Anurogo, Dito. 2009. Segala Sesuatu tentang Banjir di Kota Semarang www.kabar
Indonesia.com. Diakses pada tanggal 1 April 2011.
Inkantriani, Betha Patria. 2008.  Evaluasi Daya Dukung Lingkungan Zona Industri Genuk
1 April 2011.
Manik, Karden Eddy S. 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Djambatan. Jakarta.
Nybakken, J. W. 2002. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta.
Setiyanto, Heru. 2002. Studi Pengaruh Penurunan Muka Tanah Dan Pasang Air Laut Terhadap
Banjir Rob Di Kecamatan Semarang Utara




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar