WpMag

Senin, 05 November 2012

SEMINAR 1 SKS POTENSI DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN SIDAT



SEMINAR 1 SKS
POTENSI DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN SIDAT


  

Disusun Oleh:

Robin
09/283398/PN/11661


Program Studi Budidaya Perikanan
Jurusan Perikanan






FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
I.      PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Ikan sidat merupakan salah satu jenis ikan yang belum begitu popular bagi masyarakat Indonesia. Namun jika melihat potensi ikan sidat di Indonesia yang begitu besar merupakan peluang untuk dapat dikembangkan. Saat ini ikan sidat belum dapat di benihkan secara masal, sehingga untuk menyuplai kebutuhan benih dalam kegiatan pembesaran masih tergantung dari alam. Terdapat sekitar 13 spesies ikan sidat yang hidup di Indonesia. Banyaknya jenis ikan sidat ini membuka peluang untuk dikembangkan lebih intensif sehingga menimbulkan multyflayer effect.
Pertembuhan ikan sidat dialam relatif lambat (Deekter, 1981). Lecombe-Finger (1983) mengemukakan bahwa pertumbuhan ikan sidat Eropa dari elver hingga sidat ukuran 25 cm adalah 7 cm pertahun. Pertumbuhan sidat budidaya berkisar antara 11-17 cm pertahun (Deelder, 1981). Maka dengan melihat pertumbuhannya yang lambat perlu dilakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan pertumbuhan ikan sidat. Harapannya dengan pertumbuhan yang cepat maka proses panen akan lebih singkat sehingga permintaan sidat dunia dapat terpenuhi.
Konsumsi ikan sidat mengalami peningkatan yang signifikan, dimana pada tahun 1985 sebesar 80.000 ton menjadi 140.000 ton pada tahun 1999. Tetapi peningkatan jumlah konsumsi tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan produksi. Pada tahun 1994 mampu mencapai 40.000 ton, sedangkan pada tahun 1999 merosot drastis, hanya tinggal 23.000 ton (Tabeta, 2002). Tahun 2012 permintaan ikan sidat dunia mencapai 300 ribu ton, dan setengah permintaan ikan sidat didominasi oleh Jepang yang mencapai 150 ribu ton/ tahun (P2HP, 2012).






A.    TUJUAN 

1.    Mengetahui potensi dan permasalahan pengembangan budidaya ikan sidat
2.   Mengetahui aspek penting dalam pembesaran ikan sidat seperti persebaran ikan, wadah budidaya, pakan, dan penyakit serta pemasaran.

B.     MANFAAT
Manfaat dari seminar ini agar dapat mengetahui potensi ikan sidat untuk dibudidayakan dan berbagai masalah yang nantinya diharapkan dapat dipecahkan dari berbagai penelitian.

C.    METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam seminar ini dengan menggunakan metode tinjauan pustaka. Dengan cara mencari jurnal-jurnal, literatur, buku dan sebagainya.

II.       PEMBAHASAN 
A.    Potensi pengembangan budidaya ikan sidat
Ikan sidat merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Harga ikan sidat dipasaran mencapai 100 – 150 ribu / kg. Saat ini terdapat 13 jenis ikan sidat di alam dan yang sudah dikembangkan untuk dibudidayakan masih minim. Beberapa jenis yang telah dibudidayakan adalah Anguilla bicolor, A. marmorata, A. japonica, dll. Ketersediaan benih yang melimpah menjadi peluang yang sangat besar untuk dikembangkan lebih maju.
Ikan sidat dapat hidup di dua perairan yaitu di perairan tawar dan asin. Ketika akan memijah ikan sidat akan melakukan migrasi ke laut dalam. Tahap selanjutnya ketika sidat mulai memasuki fase glass eel akan kembali ke perairan tawar. Maka dari itu pengembangan budidaya ikan sidat dapat dilakukan di perairan tawar. Potensi perairan Indonesia yang masih besar merupakan peluang untuk dimanfaatkan dalam pengembangan budidaya pembesaran sidat. Potensi perairan di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 1. Potensi , pemanfaata, dan peluan pengembangan perairan Indonesia
sumber : KKP,  2010
            Melihat tabel diatas maka menjadi sangat potensial bahwasanya perairan Indonesia khususnya perairan tawar yang masih luas untuk dimanfaatkan. Dapat dilihat bahwa potensi perairan umum dan kolam cukup besar mencapai mencapai 400 ribu Ha. Jika dimanfaatkan secara maksimal bukan tidak mungkin akan memberikan multiflayer effect yang cukup besar.
            Saat ini teknologi untuk pengembangan budidaya sidat cukup mudah. Artinya bahwa penerapan teknologi untuk budidaya hampir sama seperti budidaya ikan konsumsi lain. Syarat hidup ikan sidat juga tidak begitu sulit sehingga akan dapat dengan mudah untuk dibudidayakan. Ikan sidat juga dapat dipelihara di berbagai bentuk wadah seperti kolam, pen, dan keramba jaring apung (Anonim, 2012).
Ikan sidat dapat hidup pada media air tawar maupun air payau. Namun pada dasarnya kebanyakan pembudidaya membudidayakan ikan sidat pada media air tawar. Selain kemudahan untuk mendapatkan media, juga karena biaya operasional yang dikeluarkan juga lebih murah. Berikut adalah tabel hasil penelitian mengenai ikan sidat yang dibudidayakan pada media air dengan kadar garam berbeda (Sutrisno, 2008).
Tabel 2. Rata-rata sintasan, laju pertumbuhan spesifik dan konversi pakan benih sidat setelah 42 hari pemeliharaan
Salinitas perlakuan
(ppt)
Sintasan
(%)
Laju Pertumbuhan
Spesifik (%)
Konversi Pakan
0
58a
0,02a
21,11
5
100b
2,33b
3,36
10
96b
1,65b
5,11
15
97b
1,57b
5,70
Keterangan : angka dalam kolom yang diikuti huruf superskrip sama menunjukkan tidak beda nyata (P<0,05)
Sumber : Sutrisno, 2008

B.     Permasalahan pengembangan budidaya sidat
Saat ini pengembangan budidaya sidat masih bertumpu oleh ketersediaan benih dari alam. Ketersediaan benih dari alam walaupun cukup melimpah namun sifatnya musiman. Hal ini dikarenakan ikan sidat melakukan migrasi untuk memijah di laut pada waktu-waktu tertentu. Biasanya ikan sidat melakukan pemijahan pada awal musim penghujan. Sehingga ketergantungan benih dari alam minim jika tidak di carikan solusi yang tepat akan menjadi masalah suatu saat nanti. Tidak sampai di situ, jenis ikan sidat untuk kualitas ekspor ke berbagai Negara berbeda-beda. Seperti contoh, Negara Jepang biasanya mengimpor sidat jenis A. bicolor sedangkan Negara Cina dan hongkong cenderung mengimpor jenis A. marmorata.
Ikan sidat merupakan ikan karnivora murni yang membutuhkan pakan berupa hewan lain. Apabila ikan tersebut diberi pakan buatan maka kadar protein pakannya harus tinggi (40%) sehingga harga pakannya mahal., hal ini akan menyebabkan biaya produksi dalam budidaya sidat menjadi tinggi sehingga harga sidat bila dijual menjadi tinggi. Saat ini pakan yang digunakan untuk benih ikan sidat masih mengandalkan pakan alami seperti cacing sutra, cacing darah, maupun artemia. Setelah menginjak dewasa ikan sidat biasanya dapat diberi makanan berupa pelet yang dibentuk pasta.

C.    Persebaran ikan sidat

Ikan sidat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang laku di pasar Internasional (Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa Negara lain). Dengan demikian ikan ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor. Di Indonesia, ikan sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan P. Jawa, pantai barat P. Sumatra, pantai timur P. Kalimantan, pantai P. Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat (Affandi, 2010).
Menurut Matsui (1993), mengelompokkan ikan sidat menjadi dua golongan besar   berdasarkan posisi sirip yang dimilikinya yaitu perbandingan antara panjang preanal dan predorsal yang dinyatakan dalam persentase terhadap panjang total. Golongan tersebut adalah:
·         10 Golongan dengan tipe sirip dorsal panjang (long fin) dengan persentase antara 7%- 17%. Sidat yang termasuk dalam kelompok ini berjumlah 14 spesies.
·         Golongan berikutnya adalah tipe sirip dorsal pendek (short fin) dengan persentase antara 0%- 5% yang terdiri atas 4 spesies.
Menurut Nontji (1987), terdapat sekitar 13 spesies dan subspesies ikan sidat dengan daerah penyebaran di Indonesia meliputi perairan pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Menurut Tomiyama (1977), Indonesia setidaknya memiliki enam jenis ikan sidat yaitu Anguilla mormorata, A. celebensis, A. ancentralis, A. borneensis, A. bicolor bicolor, A. bicolor pacifica. Jenis-jenis ikan sidat tersebut menyebar didaerah –daerah yang berbatasan dengan laut dalam. Berikut adalah klasifikasi, zonasi dan distribusi ikan sidat

Tabel 3. jenis spesies, zonasi, dan distribusi geografi ikan sidat
Tipe
Zona
Jenis spesies
Distribusi
Long fin
Temperature
A.      anguilla
Inggris, Jerman, Belanda, Itali
A.      rostrata
Amerika (timur), Kanada
A.      japonica
Jepang, China
Ekuatorial
A.      reinhardti
Australia
A.      marmorata
Afrika, Indonesia
A.      celebensis
Filipina, Indonesia
A.      megaastoma
Kaledonia baru
A.      ancentralis
Indonesia
A.        borneensis
Indonesia
A.       nebulosa nebulosa
Srilanka
A.        mossambica
Afrika
Short fin
A.        bicolor bicolor
Indonesia, Srilanka
A.        bicolor pacifika
Indonesia
A.        obsura
Kaledonia baru
temperature
A.        dieffenbachi
Selandia baru
A.        australis australis
Australia
A.        australis schmidti
Kaledonia baru
Sumber : Affandi, 2010
Pengembangan ikan sidat hingga saat ini masih tergantung pada penangkapan dari perairan umum. Ketersediaan ikan ini di pasaran baik kontinuitas maupun kuantitas tidak dapat dijamin dan sangat tergantung dari keberhasilan usaha penangkapan di alam (Herianti, 2005). Budidaya pembesaran secara intensif telah dilakukan di beberapa negara maju seperti Jepang dan Eropa dengan benih yang diambil dari alam dengan cara mencegat ruaya benih sidat/elver dari perairan asin ke perairan tawar. Di Indonesia usaha pembesaran secara intensif dan terkontrol pernah dilakukan pada tahun 1995 – 1997 di Sukabumi, tetapi kesulitan mencari benih merupakan kendala utama sehingga usaha itu tidak berlangsung lama.
Permintaan akan benih sidat (glass eel) yang cukup tinggi tidak diimbangi oleh produksinya. Sejauh ini untuk memenuhi permintaan benih ikan sidat masih mengandalkan dari penangkapan dari alam. Pembenihan ikan sidat saat ini belum ditemukan sehingga kebutuhan akan benih sidat hanya mengandalkan dari alam. Ikan sidat mempunyai sifat katadromus yakni melakukan ruaya mijah ke laut dan anak-anak sidat melakukan ruaya kembali untuk tumbuh dewasa di perairan tawar. Ruaya merupakan bagian terpenting dalam siklus hidup ikan sidat untuk kelangsungan proses regenerasi. Pemutusan salah satu mata rantai siklus ini dapat mengakibatkan punahnya sumberdaya sidat di alam karena pemijahan hanya terjadi sekali dalam hidupnya (Herianti, 2005).
Berbagai penelitian di lakukan untuk dapat membenihkan ikan sidat secara masal. Namun saat ini belum ada hasil yang maksimal dari berbagai penelitian tersebut. Beberapa hasil penelitian mengenai beberapa aspek untuk pembenihan ikan sidat seperti yang telah dilakukan oleh Herianti (2005), mengenai rekayasa lingkungan untuk memacu perkembangan ovarium ikan sidat.
D.    Pakan sidat

Ikan sidat termasuk hewan karnivora, diperairan umum ikan sidat memakan berbagai jenis hewan khususnya organisme bentik seperti : crustace (udang dan kepiting), polichaeta (cacing), larva chironomous (Tesch, 1977), bivalvia (De Nie, 1982). Ikan sidat termasuk hewan nocturnal yang aktif pada malam hari. Sehingga dalam kaitannya kegiatan pembesaran alangkah baiknya pemberian pakan dilakukan pada malam hari.
Pertumbuhan sangat berkaitan erat dengan pakan. Pakan yang memenuhi kebutuhan gizi dapat berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan. Ketersediaan pakan alami memiliki peran penting dalam budidaya ikan terutama pada stadia benih. Pada budidaya intensif pengadaan pakan buatan sangat diperlukan. Pakan buatan juga dapat melengkapi penyediaan nutrisi yang tidak terdapat dalam pakan alami (Afrianto dan Liviawaty, 2005). Berikut adalah kandungan nutrient untuk ikan sidat.
Tabel 4. Kandungan nutrient pakan yang dibutuhkan ikan sidat
Nutrient
Kandungan (%)
Protein
 Lemak
 Seratkasar
 BETN
Abu
47,93
10,03
8,00
8,32
25,71
Sumber : Anonim, 2011

Telah banyak publikasi yang membahas mengenai pakan untuk benih ikan sidat. Berbagai penelitian dilakukan guna memberikan landasan dalam pengembangan budidaya ikan sidat. Menurut Arief M et al (2011) pemberian pakan alami dan kombinasi dengan pakan buatan memberikan pengaruh yang cukup mencolok. Hasil penelitian pada ikan sidat dengan ukuran 11 cm pakan yang tepat dan memberikan pertumbuhan terbaik adalah dengan menggunakan pakan alami berupa tubifex. Rata-rata laju pertumbuhan harian pada perlakuan  tubifex adalah 1,7 %. Publikasi lain menyebutkan bahwasanya pemberian pakan alami berupa artemia telah memberikan tingkat kelulus hidupan mencapai 100% . berikut disajikan tabel mengenai pemberian pakan alami terhadap sintasan, laju pertumbuhan spesifik dan konversi pakan (Sutrisno, 2008).
Tabel 5. Rata-rata derajat sintasan, laju pertumbuhan dan konversi pakan benih ikan sidah setelah 42 hari pemeliharaan
Pakan Perlakuan
(jenis)
Sintasan
(%)
Laju Pertumbuhan
Spesifik (%)
Konversi Pakan
Tubifex
83,3a
1,85a
4,34
Artemia
100,0a
2,82b
2,77
Spirulina
80,0a
0,15c
134,33
Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti huruf superskrip sama menunjukkan tidak beda nyata (P<0,05)

Sidat yang masih berbentuk glass eel dan berumur 4-10 hari dapat diberi pakan cacing tanah yang dilumatkan. Cacing tanah segar di lumatkan dengan cara  di blender, dan dibentuk pasta. Pertama kali pasta cacing ini dimasukan ke akuarium, tidak ada elver yang tertarik kecuali saat elver menabraknya dengan tidak sengaja. Ketika elver melakukannya maka dia mulai makan di dasar akuarium. Perlu waktu satu jam atau lebih bagi elver untuk makan, sampai habis (Anonim, 2011)
Sidat yang berumur 10-20 hari diberi makan 2 kali sehari. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari jam 09:00 dan jam 17:00. Elver kemudian secara cepat mendeteksi adanya makanan, dan tertarik dengan bau amis, akan tetapi lambat menentukan lokasi dari pakan, karena arus air akan mendifusikan bau makanan ke seluruh aquarium, elver akan segera berenang menjelajah di dasar kolam. Elver menentukan lokasi pakannya sepenuhnya dengan indera penciuman (eel yang buta yang ditempatkan di akuarium dapat hidup bertahun tahun) akan memakan pakan secara rakus jika mendapatkannya.
Elver akan tumbuh dan dapat terlihat beberapa tumbuh lebih cepat dari pada yang lainnya. Ia akan mulai terbiasa dengan rutinitas pemberian pakan, segera setelah pakan di letakan, dengan cepat sidat menciumnya dan secara rakus memakan pasta pakan. Dapat berlangsung dalam 10 menit. Kandungan protein yang diperlukan untuk Anguilla japonica mencapai 44,5%, sedangkan kandungan protein yang diperlukan untuk sidat eropa berkisar antara 30-48% (Spannhof and Kuhne, 1977; Degani et al., 1984, 1985; Arai et al., 1986).

E.     Tempat Pembesaran


Ikan sidat bersifat katadromous, dimana memijah di laut dalam jauh dari daerah pembesaran yang umumnya di perairan tawar. Benih ikan (glass eel) sidat tropis umumnya beruaya anadromous di muara sungai dalam kawanan multi-spesies (Aoyama, 2009). Migrasi ikan sidat ke perairan laut dilakukan secara pasif mengikuti arus perairan laut. Setelah bermetamorfosis menjadi glass eel, selanjutnya larva sidat fase glass eel tersebut masuk ke sungai. Larva sidat masuk ke sungai hanya pada waktu tertentu dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Larva sidat bermigrasi dari kawasan muara ke arah hulu.(Budiharjo, 2010).
Pembesaran ikan sidat yang telah dilakukan saat ini diperairan tawar dengan berbagai bentuk wadah. Secara praktis ikan sidat dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba jaring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya ikan sidat yang harus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya (Anonim, 2012).
Budidaya pembesaran ikan sidat di keramba jaring apung dapat dilakukan dengan mudah. Biasanya Satu unit jaring apung memiliki empat kolam berukuran 7 x 7 m, dengan jaring berukuran 7 x 7 x 2,5 m dan mata jaring 2,5 inchi. Untuk menghindari lolosnya ikan, disekeliling tepian kolam bagian atas diberi penutup dari hapa dengan lebar 60 cm.
F.     Penyakit
        Penyakit yang seringkali menyerang ikan sidat dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yakni penyakit menular yang sering disebut parasit, disebabkan oleh aktivitas mikro organisme seperti bakteri jamur, virus dan protozoa. Lalu yang kedua adalah penyakit yang tidak menular, yaitu penyakit yang bukan disebabkan oleh mikro organisme, tetapi disebabkan hal lain misal karena kekurangan pakan, keracunan konsentrasi oksigen dalam air rendah atau penyakit gelembung udara. (Anonim, 2012)
                  Penyakit yang menyerang ikan sidat yang dibudidayakan diberbegai Negara maju seperti di Jepang dan Negara-negara Eropa adalah Anguilla crassus. A.crassus merupakan nematode yang telah menyerang berbagai kolam pembesaran ikan sidat di Jepang dan berbagai Negara Eropa. Serangan A. Crassus ini biasanya terjadi ketika sidat mulai dewasa dan memasuki perairan tawar. Kemungkinan hal ini terjadi lantaran perbedaan salinitas sehingga mempengaruhi sistem dalam tubuhnya. Setelah dapat bertahan di air tawar biasanya kekebalan terhadap serangan penyakit semakin meningkat. Hal ini dikarenakan sidat mulai mengembangkan sistem pertahanan non spesifik sehingga menghasilkan antibodi untuk pertahanan dari serangan penyakit (Kuwahara et al., 1974; Moravec and Taraschewski, 1988).

G.    Pemasaran

Sidat biasa dikonsumsi pada ukuran sekitar 500 gram ke atas, namun ada pula yang mengkonsumsi ukuran di bawah itu. Ikan sidat yang di ekspor ke Jepang biasanya berukuran antara 250-300 gram. Sebelum dipanen sidat perlu dipuasakan terlebih dahulu. Satu atau dua hari sebelum pemanenan sidat tidak perlu diberi makan (Anonim, 2012).
Ikan sidat mempunyai banyak keunggulan. Konon, tekstur dagingnya yang lembut mampu menyembuhkan berbagai penyakit, terutama penyakit kulit. Di Jepang dan Eropa, sidat digemari karena memiliki kandungan protein, terutama vitamin A. Kandungan vitamin A sidat 45 kali lipat dari kandungan vitamin A susu sapi. Kandungan vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi. Kandungan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, zat wajib untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 748 mg/100 gram. Sidat memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram. Masih banyak lagi kandungan zat ajaib yang terkandung dalam tubuh sidat. Tak heran, di Eropa, Amerika, Taiwan, dan Jepang, konsumsi ikan sidat cukup tinggi (Anonim,2012)
Saat ini permintaan ikan sidat didunia cukup tinggi yaitu mencapai 300 ribu ton pertahun. Permintaan sidat terbesar dari negara Jepang yang mencapai 150 ribu ton/tahun. Budaya orang Jepang mengenai mengkonsumsi sidat mengakibatkan permintaan ikan sidat cukup tinggi. Selain itu anggapan beberapa orang mengenai khasiat ikan sidat meningkatkan permintaan sidat untuk kebutuhan konsumsi. Berikut ini disajikan mengenai permintaan pasar untuk komoditas sidat di Jepang, Cina, dan Taiwan pada tahun 1985-1999.
Tahun
Taiwan

Cina

Japan

Lain

Total konsumsi

Berat (ton)
%
Berat (ton)
%
Berat (ton)
%
Berat (ton)
%
Berat (ton)
1985
36,170
45,11
28,44
3,55
41,094
51,25
81
0,10
80,189
1986
37,044
48,19
16,75
2,18
38,025
49,46
134
0,17
76,878
1987
35,157
46,61
18,79
2,49
38,311
50,79
87
0,12
75,434
1988
44,133
47,08
86,39
9,22
40,893
43,63
66
0,07
93,731
1989
45,850
47,92
86,01
8,89
40,976
42,79
292
0,30
95,757
1990
54, 786
52,45
95,59
9,15
39,983
38,28
132
0,13
104,460
1991
58,954
51,53
14,496
12,69
40,098
35,11
763
0,67
14,207
1992
58,966
51,34
16,012
13,94
37,391
32,55
2491
2,17
114,860
1993
49,547
43,51
25,113
22,05
34,830
30,59
4377
3,84
113,867
1994
31,471
28,29
45,073
40,52
30,380
27,31
4308
3,87
111,232
1995
20,320
19,87
49,073
47,96
29,496
28,84
3407
3,33
102,264
1996
18,817
16,11
66,104
56,60
29,517
25,27
2358
2,02
116,796
1997
17,331
13,25
86,188
65,90
25,031
19,14
2242
1,71
130,792
1998
13,016
10,62
83,432
68,08
22,845
18,64
3255
2,66
122,548
1999
8,765
6,75
92,255
73,39
23,637
18,21
2137
1,65
129,794
Tabel 6. Produksi dan permintaan pasar untuk ikan sidat di Taiwan, Cina, dan Jepang
Sumber: Wu-Chung Lee et al, 2003



III.    KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
·         Potensi sidat untuk dikembangkan semakin menjanjikan selain harganya yang tinggi juga karena sumber daya yang melimpah dan kemudahan teknologi dalam budidaya.
·         Permasalahan yang timbul dalam budidaya adalah keterbatasan benih, penyediaan pakan, dan penyakit
·         Aspek penting dalam pembesaran ikan sidat meliputi persebaran benih, wadah pembesaran, pakan, dan penyakit serta pemasaran.
Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut khususnya untuk mengupayakan pemebenihan ikan sidat, sehingga kebutuha benih untuk kegiatan pembesaran dapat terpenuhi.














DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R. 2001. Strategi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat. Prosiding Seminar Riptek Kelautan dan Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor

Affandi dan Etty Riani, 1994. Studi adaptasi benih ikan sidat (elver) Anguilla bicolor bicolor pada berbagai tingkat salinitas. Fakultas Perikanan - IPB. Bogor. 11 hal.

Afrianto, E., dan E. Liviawaty. 2005. Pakan Ikan. Kanisius : Yogyakarta. Hal 9-77.

Anonim, 2012. Menjajal Peruntungan Budidaya Sidat.  http://galeriukm.web.id/unit-usaha/perikanan/menjajal-peruntungan-budidaya-sidat

Anonim, 2011. Penyakit Ikan Sidat. http://www.sidatonline.com/

Aoyama J. (2009). Life History and Evolution of Migration in Catadromous Eels (Anguilla sp.). Aqua-Bio Science Monograph (AMSM), Vol. 2, No. 1, pp 1-42.

Bertin, 1942. Les Anguillis. Payot ed. Paris

Budiharjo, A. 2010. Migrasi Larva Sidat (Anguilla spp.) Di Muara Sungai Progo. Disertasi UGM. Yogyakarta

Deelder, C.L. 1981. Expose Synoptique des DonnesBiologigues Sur L’Anguille, Anguilla L. 1,758. Synop. FAO

De Nie, H. W. 1982. A Rate on the Significanse of Dreissena sp. In. The Food of The Ell Anguilla Anguilla in Tjeukemeer Hydrobiologia.

Ditjen Pengolahan dan Pemasaran hasil Perikanan (P2HP). 2012. Permintaan Ikan Sidat Dunia 300 ribu Ton. Kliping Surat Kabar 2012. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Jakarta

Herianti I. 2005. Rekayasa Lingkungan Untuk Memacu Perkembangan Ovarium Ikan Sidat (Anguilla bicolor). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah

Kuwahara, A., Niimi, A. and Itagaki, H., 1974. Studies on nematode parasitic in the air bladder of the eel. 1. Description of Anguillicola crussa n.sp. (Phimetridae, Anguillicolidae). Jpn. J. Parasitol., 23(5): 275-279.

Matsui, I. 1982. Theory and practice of eel culture. AA-Balkema. Rotterdam: 7 – 87

Nontji, A. 1987. Laut nusantara. Djambatan Press. 368 h.

Sutrisno. 2008. Penentuan Salinitas Air dan Jenis Pakan Alami yang Tepat Dalam Pemeliharaan Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor)

Tesch, F. W. 1977. The Eel. Biology and Management of Eels. Chapmen and hall. London

Tomiyama, T and T. Hibiya. 1992. Fisheries in Japan Eel. Japan Marine Product Photo Material Association

Wu-Chung Lee, et al. 2003. The competitiveness of the eel aquaculture in Taiwan, Japan, and China. Aquaculture. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar