WpMag

Jumat, 02 November 2012

DERITA SEMESTER AKHIR

DERITA SEMESTER AKHIR



Derita semester akhir, skripsi…skripsi…skripsi…. Mungkin itu yang selalu menyelimuti semua mahasiswa tingkat akhir. Skripsi satu kata yang mungkin dapat menimbulkan multiflayer effect. Kepala cenat-cenut lantaran tak menemukan judul, bisa juga. Dikata-katain dosen hal yang lumprah. Namun sejenak aku tidak membahas mengenai satu kata tersebut. Kini aku ingin membahas mengenai seminar 1 SKS ku yang amburadul. Memang manusia diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda. Ada seorarng yang pandai dan mudah menangkap setiap penjelasan yang disampaikan oleh seorang guru. Ada juga orang yang pandai namun sulit untuk menangkap penjelasan seorang guru. Ada juga orang yang  tidak pandai namun mudah menangkap perkataan guru/dosen. Dan yang terakhir sudah tidak pandai, tambah sulit lagi menangkap penjelasan guru. 
Kalau begitu kita masuk pada golongan berapa…?
Setelah saya merenung, akhirnya aku putuskan masuk pada golongan terakhir yaitu tidak pandai dan sulit menerima penjelasan guru. Ini terjadi beberapa waktu lalu. Sungguh kejadian ini terjadi. Beberapa waktu lalu aku mengajukan makalah seminarku pada dosen. Beliau melihat judulku dan mengatakan

“bagus….sudah cukup”

Lanjut lagi beliau membuka halaman demi halaman makalah yang aku buat, mulai dari latar belakang, tujuan, pembahasan. Beberapa dilihatnya, namun hanya sebentar. Dengan raut muka seorang dosen yang memiliki keilmuan yang mumpuni beliau berkata

“sudah cukup…hanya beberapa yang harus diperbaiki, seperti di tujuan”

Dalam hatiku “Alhamdulillah” akhirnya dapat berjalan dengan lancar. Keluar dari ruang dosen aku dapat menghirup nafas segar. Hari demi hari berganti, tak ada masalah. Semua berjalan seperti biasa. Tak ada beban karena makalah sudah didepan mata tinggal menyeminarkan.

Hari itu pun datang, hari yang tak pernah aku duga. Hari dimana manusia-manusia harus menggigit jari lantaran kesalahannya atau kesalahan orang lain. H-2 aku segera menghadap dosen pembimbing untuk meminta ACC makalah. Ternyata dan ternyata apa yang aku dapatkan. Bukan ACC makalah, tapi revisi makalah. Mampus lah. Sang dosen mengatakan bahwa makalahku banyak yang salah dalam hal penulisan. Dalam hal isi tak jauh beda, banyak hal yang belum aku masukkan. Aku menyadari hal itu dan memang benar keadaannya. Akhirnya, aku harus tertunduk lesu dan pulang dengan tangan hampa…eiiit salah pulang dengan tangan menggenggam makalah yang harus direvisi. Seminarpun ditunda. Makalah pun harus direvisi. Pikiran pun tambah runyam karena besoknya harus menghadapi ujian 3 mata kuliah. Sudah lah dari pada memperjuangkan seminar yang hanya 1 SKS mending dan mengorbankan ujian 3 mata kuliah yang 6 SKS. Mending tidur, kemudian belajar…belajar…belajar untuk ujian….


gambar : salah satu isi dalam makalah yang dipenuhi coretan...hehehe

Pada dasarnya saya merenungkan bahwa yang salah itu pada diri saya atau sang dosen? Saya belum mendapatkan jawaban. Jika saya yang salah, apa memang pendengaran dan pemahaman saya itu lemah. Tapi kok  orang lain yang mendengarkan penjelasan beliau kadang kala juga tak bisa memahami. Jika beliau yang salah, apakah patut mahasiswa yang kecil dan sedikit ilmu ini menyalahkan dosen yang keilmuannya sudah tinggi. Dan akhirnya aku letakkan makalahku di kamar, mumbuka laptop dan menuliskan kejadian ini….salam…salam untuk semua yang sedang menghadapi masa-masa sulit di tahun akhir menjadi mahasiswa….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar