WpMag

Kamis, 31 Maret 2011

JURNAL LIMNOLOGI 1

MORFOMETRI PERAIRAN LENTIK
Robin
2009/283398/PN/11661
INTISARI
Danau merupakan perairan lentik (tenang) yang memiliki banyak manfaat untuk kehidupan, baik manusia maupun organisme didalamnya. Karakteristik suatu danau dapat diketahui dengan mengukur morfometrinya. Praktikum morfometri perairan lentik dilaksanakan dilaboratorium teknik penangkapan ikan (TPI) pada tanggal 21 oktober 2010. Tujuan praktikum adalah untuk mengetahui keadaan morfometri (bentuk dan ukuran) dan keadaan perairan danau/waaduk pada setiap level (tingkat) genangan. Praktikum dilakukan dengan menduplikasi peta waduk sermo. Diambil sampel 1X1 cm sebagai pembanding dengan gambar peta waduk sermo. Skala yang digunakan pada peta adalah 1: 15.000. Peta yang digunakan adalah peta waduk Sermo tahun 2000 dan 2005. Hasil praktikum yang telah dilakukan, didapat bahwa nilai shore development (Sd) waduk Sermo pada tahun 2000 di level 110 = 2,196 ; 120= 2,594 ; 130 = 3,945 ; 137 = 3,601. Nilai shore development waduk Sermo tahun 2005 pada level 110 = 1, 884 ; 120 = 2,929 ; 130 = 3,55 ; 137 = 4,42. Hasil yang diperoleh dalam penghitungan di praktikumdapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan berbagai aspek seperti luas, keliling, volume, dan shore development serta kesuburan waduk Sermo ditahun 2000 dengan 2005.
Kata kunci : Morfometri, perairan lentik, waduk sermo, shore development.
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu Negara kepulauan di dunia yang memiliki wilayah pantai dan laut yang cukup luas. Indonesia memiliki sekitar 17.085 pulau besar dan kecil yang tersebar dari sabang sampai merauke. Di samping itu Indonesia juga memiliki luas wilayah laut sekitar 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai sekitar 81.000. Meskipun perairan darat memiliki luas yang lebih kecil daripada perairanlaut, namun potensi yang dihasilkan cukup besar. Salah satu perairan darat yang memiliki potensi untuk pembangunan adalah danau/waduk. Danau merupakan perairan yang sangat baik untuk dikembangkan guna kesejahteraan rakkyat Indonesia.banyak fungsi dari danau/waduk seperti PLTA,sumber irigasi,budidaya ikan, dll.
Perairan dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perairan diam (lentik) dan perairan yang bergerak (lotik). Perairan lentik adalah perairan yang tenang di mana tidak ada arus atau kecepatan air, meskipun ada itu hanya dalam skala kecil dan tidak diperhitungkan (Wetzel, 2001). Perairan lentik atau perairan tenang dapat dibagi menjadio 3 bentuk, meliputi rawa, waduk, dan danau. Suatu perairan disebut rawa apabila perairan itu dangkaldengan tepi yang landai serta dipenuhi oleh air. Petrairan danau yaitu periran dalam, dengan bagian tepi yang umumnya curam. Air danau biasanya terlihat jernih dan dipinggir danau banyak ditemukan tumbuhan air. Waduk adalah perairan menggenang yang terbentuk akibat pembendungan aliran sungai (Suwignyo,1990). Menurut Triyatmo (2001) waduk merupakan bendungan air yang berfungsi untuk suplai air irigsi, air minum, pembangkit listrik mikrohidro dan [erikanan. Berdasarkan morfometri waduk, awal penggenangan ditentukan tempat pengamatan produktivitas primer perairan waduk. Tingkat produktivitas primer perairan waduk dapat digunakan sebagai dasar dalam mengetahui potensi produktivitas perairan. Morfometri adalah nilai kuantitatif dari parameter-parameter yang terkandung pada suatu daerah aliran sungai (DAS) atau danau (Welch, 1952). Penentuan karakteristik danau dilakukan dengan mengukur morfometri danau. Pengukuran morfometri sebuah perairan membutuhkan bantuan peta topografi. Peta topografi tersebut akan memberikan gambaran tentang ketinggian dasar danau. Parameter morfometri terdiri dari panjang, lebar, kedalaman, luas area, volume, keliling garis pantai, dan shore development (Cole, 1993). Menurut Hardaningsih (1998) dalam buku Triyatmo (1997), waduk sermo merupakan waduk kebanggaan dan yang pertama kali dibangun di DIY.
Praktikum tentang morfometri perairan lentik berguna untuk mendukung mata kuliah limnology. Selain itu, praktikum ini dapat memberikan informasikepada masyarakat luas mengenai kedalaman air setiap tempat dalam waduk, bentuk dan tipe pantai serta potensi pengembangannya bagi kesejahteraan masyarakat. Pengetahuan tersebut dapat digunakan dalam usaha perikanan, baik potensi budidaya maupun penangkapan ikan. Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam perikanan yang produktif dan bertanggung jawab.
Metode
Praktikum morfometri perairan lentik dilakukan untuk mengetahui luas, volume, keliling, dan shore development pada masing-masing level. Praktikum ini menitikberatkan pada perbedaan yang terjadi pada waduk sermo ditahun 2000 dengan tahun 2005. Ukuran waduk yang dipelajari pada elevasi (ketinggian) 110, 120, 130, dan 137 diatas permukaan laut (dpl). Informasi ini akan digunakan untuk mengetahui kesesuaian lahan secara fisik untuk pengembangan perikanan. Alat dan bahan yang digunakan meliputi, jarum, gunting, penggaris, pensil, peta waduk atau danau, dan benang. Prinsip kerja atau tata laksana praktikum morfomteri perairan lentik ini dimulai dengan menggambar duplikasi gambar peta bathimetri pada kertas kalkir. Duplikat gambar pada kertas kalkir dipotong, kemudian menimbangnya dengan timbangan analitik. Mengambil sampel duplikat peta dari kertas kalkir 1 cm X 1 cm. Kemudian menimbang sampel tersebut dengan timbangan analitik. Hasil data yang diperoleh digunakan utnuk menghitung luas, keliling, volume, dan shore development (sd). Skala yang digunakan pada peta adalah 1:15.000. Parameter morfometri dihitung berdasarkan rumus yang sudah ada , antara lain luas dengan rumus W1=W2 di
L1 L2
mana W1 berat peta (gram), W2 = berat sampel; L1 = luas peta(km2); volume dengan rumus V= h/3 (a1+a2+√a1 X a2) di mana V volume (km2), h = kedalaman vertical (m); a1 = luas area permukaan lebih atas (m2); a2 = luas area pada tempat permukaan tertentu yang lebih rendah (m2); dan shore development dengan rumus Sd= SL
2√πAo
di mana Sd (shore development) (km2); SL = keliling peta (km); Ao = luas peta (km2).
Hasil dan Pembahasan
Tabel 1
Tahun 2000 1:15.000
Level (m) Berat sampel (gr) Berat peta (gr) Luas peta (km2) Volume (km3) Keliling (km) Sd (km)
110 0,012 0,089 0,167 0,00247

0,00488 3,18 2,196
120 0,012 0,18 0,3375
5,34 2,594
130 0,012 0,35 0,66 11,325 3,945
137 0.012 0,61 1,44 0,00622 13,65 3,601

Tabel 2
Tahun 2005 1:15.000
Level (m) Berat sampel (gr) Berat peta (gr) Luas peta (km2) Volume (km3) Keliling (km) Sd (km)
110 0,012 0,035 0,066 0,00184

0,00513 1,71 1,884
120 0,012 0,18 0,3375
6,03 2,929
130 0,012 0,38 0,7125 10,62 3,55
137 0,012 0,6 1,1250 0,00638 16,6 4,42

Morfometri suatu danau atau waduk berbeda-beda, mulai dari luas, keliling, volume, serta shore development. Perbedaan ini mempengaruhi kedaan kesuburan perairan waduk/danau tersebut. Sehingga pengukuran morfometri ini penting untuk mengetahui karakteristik suatu perairan guna pengembangan pemanfaatan kawasan perairan sesuai dengan potensinya.
Shore development merupakan salah satu parameter yang diukur pada praktikum kali ini. Shore development yaitu indeks besarnya atau jauhnya penyimpangan bentuk perairan dari bentuk lingkaran. Apabila nilai Sd semakin besar menunjukkan tingkat kesuburan suatu perairan semakin tinggi (Anonim, 2008). Danau yang memiliki nilai Sd ± 2 berbentuk agak bulat atau elips. Jika nilai Sd <2 menunjukkan bentuk danau bulat, sedangkan jika Sd > 2 danau cenderung berbentuk makin tak beraturan. Hasil praktikum didapatkan pada level yang berbeda nilai Sd nya juga berbeda. Waduk sermo tahun 2002 pada level 110 nilai Sd nya 2,197 dan terus meningkat pada level yang tinggi. Namun hasil yang berbeda didapat pada level 137 nilai Sd nya justru menurun dibandingkan pada level 130 yaitu dari 3,945 menjadi 3,601. Dari nilai sd yang didapat maka pada level 110 bentuk dari waduk sermo mendekati bulat/elips. Hal ini terlihat dari nilai Sd yang didapat yaitu mendekati 2. Namun untuk tingkat kesuburan, pada level 130 yang memiliki kesuburan paling besar. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai Sd pada level tersebut dibandingkan nilai Sd pada level yang lain, dengan nilai Sd 3,945.
Nilai Shore development masing-masing level di waduk Sermo pada tahun 2005 berbeda-beda. Hasil yang didapat menunjukkan semakin tingginya level maka nilai Sd semakin meningkat. Pada level 110 nilai Sd nya 1,884 dan terus meningkat seiring meningkatnya level. Nilai Sd tertinggi adalah pada level 137 dengan nilai Sd 4,42. Berdasarkan teori semakin tinggi nilai Sd maka semakin tinggi tingkat kesuburannya. Jadi dapat disimpulkan pada level 137 nilai kesuburan waduk sermo tertinggi dibandingkan pada level lain. Nilai Sd terendah adalah pada level 110 dengan nilai Sd 1,884. Nilai Sd yang mendekati 2 ini menunjukkan bahwa pada level 110 memiliki bentuk morfometri mendekati bulat/ elips.
Nilai Sd tidak hanya digunakan untuk mengetahui bentuk suatu danau, tetapi juga mengetahui tringkat kesuburan suatu danau. Nilai Sd menunjukkan derajat penyimpangan bentuk danau dari bentuk lingkaran, makin besar penyimpangan maka semakin subur suatu danau. Terjadi perubahan morfometri waduk sermo pada tahun 2000 dengan 2005. Dimana terjadi peningkatan nilai Sd pada tahun 2000 dengan 2005. Sehingga dapat disimpulkan bentuk morfomtri waduk sermo mngalami perubahan menjadi makin tidak beraturan. Selain itu terjadi perubhan tingkat kesuburan pada waduk sermo ditahun 2000 dengan 2005. Dimana dari nilai sd yang didapat pada level 120 dan 137 mengalami peningkatan dari tahun 2000 dengan tahun 2005. Namun terjadi penurunan nilai Sd pada level 110 dan 130. Level yang tinggi ini mengakibatkan debit air meningkat dan area danau menjadi luas sehingga tingkat kesuburannya pun meningkat.
Pengetahuan mengenai morfometri danau sangat penting dalam kajian budidaya perikanan. Pengetahuan morfologi danau paling tidak telah memberikan gambaran kepada kita mengenai perubahan yang terjadi pada suatu danau dalam kurun waktu tertentu. Perubhan-perubahan tersebut meliputi perubhan debit air, keanekaragman ikan, dan yang paling penting adalah tingkat kesuburan. Tingkat kesuburan perairan sangat penting karena merupakan faktor yang mempengaruhi kegiatan budidaya perikanan
Kesimpulan
Kondisi Waduk Sermo pada tahun 2005 lebih subur dibandingkan pada tahun 2000 dibuktikan dengan nilai shore development yang tinggi. Terjadi perubahan luas,volume, keliling waduk sermo pada level berbeda ditahun 2000 dengan 2005. Kondisi waduk Sermo ditahun 2005 masih layak untuk digunakan budidaya perikanan.
Daftar Pustaka
Anonim. 2008. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (Volume 34, nomor 1). Pusat Penelitian Oseanografi dan Limnologi LIPI. Jakarta, Bogor.
Cole, Gerald. 1993. Buku Teks Limnologi (Alih Bahasa Fatimah MD. Yusoff dan Shamsiah MD. Said). Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. Kuala Lumpur.
Sostrodarsono, S. 1997. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. PT. Pradnya Paramita. Jakart
Triyatmo, B. 2001. Kajian Morfometri Berdasarkan Kondisi Topografi dan Estimasi Potensi Perikanan Waduk Sermo. Jurnal Perikanan UGM (GMU J. Fish Sci.). III(2); 27-35.
Welch, P.S. 1952. Limnology. McGraw-Hill. New York.
Wetzel, Robert G. 1975. Limnology Third Edition. Sounders College. Philadelphia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar