WpMag

Kamis, 24 Maret 2011

SIMTEM BUDIDAYA DAN AIR BUDIDAYA

A. Tempat Budidaya
Budidaya ikan dapat dilakukan dimana saja, selagi dapat terpenuhinya kebutuhan utama yaitu air. Budidaya ikan dapat dibedakan menjadi dua tempat yaitu budidaya air tawar dan budidaya air laut. Budidaya air tawar dapat menggunakan kolam, tambak, keramba, mina padi. Sedangkan budidaya laut dapat menggunakan keramba jarring aung (KJA), rakit, dan tambak.
Budidaya air tawar kebanyakan menggunakan kolam. Kolam untuk budidaya ini dapat dibedakan menjadi kolam tradisional, semi permanen, dan kolam permanen. Kolam tradisional ini biasanya hanya dengan melubangi tanah sehingga bentuknya tidak bias bagus dan rata. Kolam tradisional biasanya dibuat didaerah yang memiliki tanah dengan struktur baik atau tanh lemung. Tujuannya jelas agar nantinya air tidak mudah meresap ketanah, sehingga pergantian air tidak terlalu sering dan banyak. Kolam-kolam tradisional ini banyak di temukan didaerah boyolali, tepatnya dikampung lele. Kebanyakan dari masyarakat menggunakan kolam tradisional karena tanahnya yang relative padat sehingga air tidak mudah meresap. Kolam semi permanen biasanya dibuat dengan menggunakan plastic ataupun terpal. Kolam semi permanen biasanya digunakan didaerah dengan struktur tanah yang kurang baik dimana air mudah meresap. Struktur tanah berpasir sanagt tepat jika digunakan untuk kolam semi permanen. Umur untuk kolam semi permanen ini tidak terlalu lama sekitar 3-5 tahun, namun itu semua tergantung pengelolaannya. Kelebihan kolam semi permanen ini adalah mudah untuk dibongkar pasang serta menghemat biaya. Penggunaan kolam dengan terpal sangat efisien dan bias menekan pengeluaran. Kolam air tawar selanjutnya adalah kolam permanen. Kolam permanen ini terbuat dengan semen, sehingga strukturnya kuat. Kelebihan dari kolam permanen ini adalah air tidak mudah merembes ketanah dan menjadikan proses pengairan menjadi efisien. Namun kolam permanen ini dalam pembuatannya memerlukan biaya yang cukup besar.
Budidaya air laut kebanyakan menggunakan keramba jarring apung (KJA). Hal ini mengingat laut yang cukup luas, sehingga untuk memudahkan budidaya menggunakan KJA. Keramba digunakan dalam budidaya laut karena lebih efisien dan mudah. Ikan-ikan yang biasa dibudidayakan dikeramba jarring apung adalah ikan kerapu, bandengang, tuna, dll. Keramba jarring apung sangat bagus dikembangkan di laut. Selain untuk budidaya ikan laut juga dapat digunakan untuk budidaya rumput laut.

B. Teknologi dan Pengelolaan
Budidaya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu intensif dan ekstensif. Ciri-ciri Budidaya intensi adalah dilakukan pada lahan yang sempit, padat tebar tinggi, menggunakan pakan buatan, kuantitas dan nilai produksinya cukup tinggi. Budidaya intensif biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang besar dengan menggunakan modal yang cukup besar. Pasar yang dituju dari perusahaan-perusahaan itu adalah pasar nasional dan bahkan pasar internasional. Komoditas yang biasa dikembangkan dalam budidaya intensif diantaranya nila, udang, bandeng,dll. Udang merupakan komuditas yang utama dalam budidaya intensif karena harga jualnya yang cukup tinggi, dan kebutuhan pasar internasional akan komunitas udang ini sangat tinggi. Khususnya di Indonesia, udang dibudidayakan dengan intensif untuk diekspor ke Jepang, eropa, maupun amerika.
Budidaya ekstensif dicirikan dengan lahan yang luas, padat tebar rendah, pakan alami, dan kuantitas serta nilai produksi rendah. Budidaya ekstensif bisanya dapat ditemui didesa-desa dengan lahan yang masih luas. Namun karena minimnya modal menjadikan budidaya ekstensif ini sulit untuk berkembang. Minimnya modal ini memicu pada pemenuhan bibit yang kurang dan kebutuhan pakan buatan yang sulit unutk terpenuhi. Akibatnya padat tebar pada budidaya ekstensif menjadi rendah dan juga menggunakan pakan alami untuk pemenuhan pakan ikan.penggunaan pakan alami ini memang tidak mengeluarkan biaya yang banyak, namun kurang efisien waktu karena akan memperlambat masa panen. Seharusnya pakan alami ini dibarengi dengan pakan buatan seperti pelet ikan sehingga masa panen lebih cepat karena kebutuhan gizi ikan dapat terpenuhi. Hasil dari budidaya ekstensif ini hanya untuk memenuhi pasar local saja tidak untuk pasar luar negeri. Karena kualitas dari budidaya ekstensif ini kurang maksimal dan sulit untuk diterima dipasar luar negeri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar