WpMag

Kamis, 31 Maret 2011

JURNAL LIMNOLOGI 3

PENGUKURAN DEBIT AIR
ROBIN
09/283398/PN/11661
INTISARI
Debit air adalah besarnya air yang megalir persatuan waktu tertentu. Praktikum pengukuran debit air bertujuan untuk mengetahui meode dan cara pengukuran debit air. Praktikum dilakukan di kolam perikanan pada tanggal november 2010. Ada tiga metode yang digunakan dalam pengukuran debit air yaitu Embody’s float, rectangular weir, dan 90 triangulair north weir. Nilai debit air dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti bentuk dan ukuran salaran perairan , kondisi dasar perairan, dan kemiringan bidang perairan. Hasil dari praktikum dengan menggunakan ketiga metode ini adalah metode Embody’s float 4,94 x 10-2 m3/s, rectangular weir yaitu 14,42 x 10-2 cfs dan 90 triangular north ewir adalah 5,08 x 10-2 cfs. Pengukuran debit air memiliki banyak manfaat seperti untuuk mengetahui volume yang masuk dan keluar kolam atau tambak. Selain itu pengukuran debiat air sangat bermanfaat untuk mengatur sirkulasi air serta digunakan untuk budidaya.
Kata kunci : Debit air, kecepatan air, metode, pengukuran, saluran
Pendahuluan
Debit air adalah besarnya air yang mengalir persatuan waktu tertentu. Kondisi suatu perairan sangat tergantung dengan debiat air yang ada. Jika debit air cukup tinggi maka dapat mendukung kelangsungan hidup organisme didalamnya. Debita air yang cukup, mampu mendukung kegiatan perikanan khususnya bbudidaya ikan. Pengukuran debit air penting guna untuk mengetahui kemampuan perairan untuk dapat dimanfaatkan secara optimal.
Debit air didefinisikan sebagai laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang perairan persatuan waktu. Debit air salam satuan SI dinyatakan dalam meter kubik perdetik (m3/sekon) (Asdak, 1995). Aliran permukaan air di alam, mengalir tanpa dibuat, hubungannya terbuka, sejajar yang berasal dari kondisi yang sama sesuai dengan rumus hidrolik yang aplikasinya tergantung pada kecermatan (Welch, 1948). Arum merupakan faktor yang paling mengendalikan dan faktor pembatas utama pada ekosistem sungai. Arus juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengan debit air yang mengalir dalam ekosistem sungai (Odum, 1993). Pergerakan air sangat dipengaruhi oleh jenis bentang alam, jenis batuan dasar, dan curah hujan. Semakin rumit bentang alam, semakin besar ukuran batuan dasar, dan semakin banyak curah hujan, pergerakan air semakin kuat dan kecepatan arus semakin cepat, sehingga akan mempengaruhi debit air pula (Effendy, 2003). Pengukuran debit air dapat digunakan beberapa metode, antara lain metode Embody Float, dan Weir (Rectangular Weir dan 90o Triangular North Weir) (Wetzel, 2001).
Pengukuran debit air sangat memiliki peranan yang penting dalam dunia perikanan atau pemanfaatan perairan. Melalui pengukuran debit air maka dapat diketahui kemampuan perairan untuk menyuplai air untuk kebutuhan mahkluk hidup seperti manusia, maupun hewan dan tumbuhan. Didalam dunia perikanan memiliki peran yang setrategis dimana air adalah komponen utama dalam budidaya perikanan.


Metode
Praktikum pengukuran debit air dilaksanakan pada tanggal 25 november 2010 diselokan jurusan perikanan UGM. Metode yang digunakan dalam pengukuran debit air ada tiga, yaitu rfectangular weir, Embody’s float method, dan 90o triangular north weir. Embodys float method dilakukan dengan meentukan panjang selokab yang akan diukur, menghitung waktu untuk menempuh jarak yang telah ditentukan, dan menentukan konstanta perairan dengan melihat dasar keadaan perairan. Debit air dapat dihitung dengan rumus: R=WDAL/T, dengan R= debit air (m3/s); W= rata-rata lebar; D=rata-rata kedalaman; L= jarak yang ditempuh; A=konstanta; T= waktu tempuh pelampung.
Metode rectangular weir dan 90o triangular north weir , memiliki cara kerja yang hampir sama. Prinsip kerjanya meliputi menentukan lebar weir, membendung selokan, mengukur tinggi perairan, dan mengukur ketinggian air. Debit air dapat dihitung dengan menggunakan metode weir maupun metode 90o triangular north weir. Rumus untuk menghitung debit air dengan metode Q=3,33 X H3/2 (L-0,2H), dengan Q= debit air (cfs); H= tinggi weir (feet); L= lebar weir (feet). Rumus untuk menghitung debit air dengan metode 90o triangular north weir adalah Q= 2,54X H , dengan Q= debit air (cfs), dan H= tinggi weir.
Pembahasan
Praktikum pengukura debit air ini dilakukan dengna menggunakan tiga metode pengukuran yaitu Embody’s float, rectangular weir, dan 90o triangular notch weir. Hasil yang didapat dengan meggunakan metode Embody’s float adalah 4,94 x 10 -2 m3/s. Hasil yang didapat ini dilakukan dengan dua kali ulangan hal ini dimaksud agar data yang diperoleh lebih akuarat. Konstanta yang digunakan pada percobaan ini adalh 0,8 karena dasar selokan berbatu dan berkerikil. Metode kedua yang digunakan adalah rectangularweir. Hasil dari pengukuran dengan menggunakan metode ini adalah 14,42 x cfs. Metode yang ketiga adalah90 triangular north weir. Hasil yang didapat dengan mengunakan metode ini 5,08 x10 cfs. Hasil yang didapat pada 90o triangular weir dan rectangular weir tidak sama meskipun dilakukan pada tempat yang sama. Hal ini dikarenakan adanya air yang lolos ketika dibendung pada metode 90o triangular north weir, sehingga nilai debit airnya menhjadi kecil.
Pengukuran debit air dengan menggunakan ketiga metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Embody’s float method memiliki kelebihan yaitu mudah dilakukan dan dalam pelaksanaanya lbih cepat. Kekurangan dari metode ini adalah pelampung yang digunakan mudah terpengaruh oleh aliran angin sehingga laju pelampung bisa berubah-ubah setiap waktu dan bisa mengakibatkan kesalahan dalam pengukuran. Metode rectangular memiliki kelebihan berupa mudah dan cepat dilakuakan, tidak membutuhkan banyak pengukuran dan tidak terpengaruh oleh konstanta perairan. Metode ini juga memiliki kekurangan diantaranya adalah sulit dalam ketinggian air saat membendung dan adanya air yang lolos ketika dibendung. Metode 90o triangular north weir juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan metode ini adalah tidak membutuhkan banyak pengukuran mudah dan cepat dilakukan serta tidak terpengaruh oleh konstanta peairan. Kekuranan pengukuran kurang efektif dan sulit untuk membaca ketinggian. Penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode dapat dijadikan dasar dalam mempraktikkan metode ini dilapangan. Metode embody’s float cocok digunakan pada perairan yang mengalir dengan pengaruh angin yang kecil, karena kecepatan arus disungai dapat memungkinkan pengukuran dengan metode ini. Metode rectangular weir cocok digunakan pada perairan yang kecil dan tidak efektif pada perairan yang luas karena harue membendung aliran sungai. Metode 90o triangular north weir cocok digunakan pada perairan yang kecil seperti selokan karena metode ini dilakukan dengan membendung aliran air.
Hasil pengukuran dan pengamatan dengan menggunkan ketiga metode tersebut dapat dikatakan bahwa metode 90o triangular north weir adalah metode yang paling benar. Metode 90o triangular north weir memiliki hasil penghitungan yang relative kecil (teliti) dari pada dua metode lain. Selain itu dalam metode 90o triangular north weir pengambilan datanya hanya tinggi air tanpa lebar, hal ini dapat meminimalisir kesalahan. Praktikum pengukuran debit air ini memiliki banyak manfaat dalam bidang perikanan khususnya budidaya perikanan. Debit air ini dapat digunakan dalam pendistribusian dalam kolam atau tambak. Pengukuran debit dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kebutuhan air untuk irigasi. Pengukuran debit air dapat digunakan untuk budidaya ikan khususnya ikan nila ataupun udang galah karena adanya aliran air yang deras. Hal ini dapat digunakan untuk mengatur besar kecilnya air yang masuk ke kolam.
Pengukuran debit air dengan menggunakan ketiga metode didapatkan hasi bahwa dengan metode embody’s float 4,04 x 10-2 m3/s , dengan metode rectangular weir 14,42 x 10 -2 cfs , metode 90o triangular north weir 5, 08 x 10-2 cfs. Debit dipengaruhi oleh bentuk saluran air, kondisi dasar perairan, ukuran saluran air, dan kemiringan bidang lahan. Pengukuran debit air sangat bermanfaat dalam mengatur pendistribusian air ke kolam atau tambak ntuk kegiatan budidaya.
Saran
Pelaksanaan kurang puas, karena hanya dilakukan dengan simunlasi
Daftar pustaka
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Effendy, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Welch, P. S. 1948. Lymnological Method. McGraw-Hill Book Company Inc. New York.
Wetzel, Robert G. 2001. Limnology; Lake and River Ecosystems. Academic Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar