WpMag

Kamis, 02 Juni 2011

Di Akhir Penantian Ini

Aku tetap duduk disini, termenung menunggu dia. Sudah hampir 3 jam aku tak beranjak dari sini, tempat duduk yang menemaniku setiap hari menunggu kedatangnnya. Sudah dua tahun dia meninggalkanku, tanpa alasan yang jelas, dan tanpa sebab yang pasti. Aku tetap disini, menunggu dia datang, dia pulang dan akan aku berikan sejuta senyuman jika dia telah datang. Kini aku merasa kesepian sejak dia pergi meninggalkanku sendiri. Kini dirumah aku hanya sendiri dan tak ada yang menemani. Hanya kicaun burung yang terdengar di pagi hari. Lalu lalang kendaraan yang melintas depan rumah mendambah ramai suasana setiap hari.
Entah kenapa dia pergi meninggalkanku, hingga aku berada disini sendiri. Hanya sedikit kata yang kuingat keluar dari bibir manisnya ketika akan meninggalkanku sendiri.”Cinta butuh materi ‘mas’, dan aku tidak dapat hidup hanya dengan cintamu saja. Karena nanti aku akan mati ditelan rasa cinta yang kau berikan”. Aku mencoba memikirkan kata-kata yang diucapkannya itu. Apakah memang uang pensiuanan ini tidak cukup untuk bertahan hidup dengannya?, atau memang dia malu kini aku sakit-sakitan?. Atau mungkin juga aku tak dapat memberikan keturunan kepadanya???. Mungkin aku tak dapat memberikan yang terbaik baginya, hanya dapat memberikan cinta ini. Ketika penyakit ini mulai menggerogoti tubuhku, memang aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya dapat berjalan disekitar rumah dengan bantuan tongkat. Untuk keluar rumah dan bertemu teman-teman saja aku harus dibantu olehnya, yang kini telah pergi entah kemana. Sehingga kini aku tak dapat bekerja seperti biasa. Kini aku hanya mengandalakan uang pensiunan untuk dapat hidup. Sudah 3 tahun aku pensiun, bukannya aku sudah waktunya pensiun, namun penyakit inilah yang mengantarkanku untuk pensiun dini.
Waktu terus berjalan, berlarian seolah tak mau ketinggalan. Detik demi detik, menit demi menit turus berlarian saling silih berganti. Terasa cepat hidup ini untuk dijalani. Kemarin rasanya aku bersamanya duduk disini, diteras dengan ditemani secangkir teh untuk menikmati sore hari. Ya, kemarin aku duduk bersamanya dengan obrolan dan canda tawa. Bercerita tentang masa muda, tentang waktu pertama kali kenalan dan bahkan bercerita tentang masa depan.
Ketika kita pertama kali kenal pada waktu duduk kelas 2 SMA. Kami sering ngobrol bareng, ngerjain PR, dan bahkan pernah bolos bareng. Sering bertemu di sekolah membuat kita lebih akrab dan mengantarkanku untuk menjalin ikatan seperti anak muda biasanya, yaitu pacaran. Perjalan cinta ini terus berlanjut, hingga di bangku kuliah dan bahkan sampai pelaminan. Rasa cinta yang lahir dan tumbuh bertahun-tahun tak menjamin hubungan kita lebih harmonis, malah kini hancur berantakan. Tak ada yang tersisa, hanya rasa cintaku padanya yang masih ada, dan tetap untuk menunggunya. Apakah dia juga merasakan, atau mungkin dia sudah menghapus dan membuang rasa cinta di hatinya.
Aku juga teringat ketika kita masih pacaran dulu, dalam komunikasi kita sering memakai surat, sehingga terlihat romantis. Ketika kita belum jadian, aku sering mengirim surat padanya yang berisi kata-kata indah dan beberapa puisi. Ternyata surat yang aku berikan dulu, masih tersimpan dengan baik hingga kita menjalin hubungan suami istri. Kadang aku merasa malu, membaca surat-surat yang aku tulis dulu, karena isinya lucu, dan bahkan bisa membuat aku ketawa lagi. Kini surat-surat itu masih tersimpan dengan baik sebagai kenang-kenangan perjalanan hidup kami. Dan kini hanya beberapa surat inilah yang menemaniku dan menghiburku akan kerinduanku padanya, yang kini telah tiada entah dimana.
Suara adzan membangunkanku dari lamunan panjang sore ini, namun dia belum pula datang. Aku menengok ke kanan dan kekiri barang kali di terliahat. Namun tak kulihat dia, hanya lalu lalang kendaraan yang aku temukan. Sesekali terlihat orang yangberjalan, namun bukan dia, hanya orang yang numpang lewat ataupun yang maumelaksanakan solat maghrib di masjid. Aku mencoba untuk menghirup udara panjang, sedikit ku menyimpan tenaga untuk berdiri. Aku mulai beranjak dan berjalan tertatih-tatih masuk kerumah untuk persiapan sholat. Rasa sakit terus menggerogoti tubuh ini, hingga terasa kaki ini sulit untuk digerakkan. Terus terasa hingga aku mulai tak tahan. Rasanya mungkin kaki ini seperti lepas dari tubuh. Basuhan air wudhu mendinginkan kepala yang berjam-jam melamun di tengah kesunyian. Kepala ini mulai terasa segar dan aku mulai memiliki kekuatan baru. Namun itu hanya sekedar membiusku sebentar. Rasa sakit di kaki ini tak dapat lagi dibohongi. Aku terus berjalan menyusuri ruangan rumah kecil ini. Terlihat foto pernikahanku dengannya didinding menempel lekat seolah tak mau lepas. Terlihat senyum merah yang keluar dari bibirnya merekah bak mawar. Ini adalah foto yang sangat aku sukai dan foto ini merupakan saksi bisu ikatan cinta yang suci. Namun ikatan cinta itu kini telah putus ditelan sang waktu yang sangat kejam.
Aku lepaskan semua urusan dunia,sejenak aku bersimpuh di hadapan Tuhan. Rasa sakit, kesepian, dan bahkan rasa rinduku dengannya aku tinggalkan dijejak-jejak kaki dunia. Aku mencoba merangkai dan berjalan ditempat yang berbeda. Tempatnya para penempuh jalan kedamaian. Terus berjalan dengan secercah harapan. Dengan lantunan ayat Al Qur’an mengantarkanku dialog dengan Tuhan. Keluh kesah hidup akan aku utarakan dalam munajat pada Tuhan malam ini. Ingin rasanya aku melupakan segala kejadian dan waktu yang telah diberikan oleh Tuhan. Ingin rasanya aku kembali seperti masa-masa kecil dimana hidup tanpa ada beban dan tanggung jawab. Sembari itu aku mencoba bermunajat dihadapan Allah
Tuhan mungkin hambamu ini terasa lancang dalam meminta, doa adalah perintah dari Engkau, maka aku beranikan diri untuk melakukannya
Tuhan, jikalau takdir ini memang terbaik untuk ku , maka kuatkanlah hatiku untuk menjalaninya
Tuhan jika memang dia takkan kembali lagi kehadapanku, maka gantikan yang terbaik darinya
Tuhan tetapkanlah istiqomah hambamu dalam jalan kebenaran
Amin
Sejenak aku duduk diatas sajadah yang mulai kusam ini. Menahan Rasa sakit yang turus datang dan semakin kuat, entah berapa berat rasa ini. Sepertinya kaki ini tak kuat untuk menahannya. Jantung terasa berdetak lebih kencang. Darah mengalir dengan sedikit oksigen yang dapat kuambil dari udara. Penyakit kambuhan ini mulai datang dengan sambutan yang menyesakkan dada. Terlalu banyak pikiran atau mungkin sudah waktunya untuk merasakan ini semua. Jantung bergerak semakin cepat, lebih cepat dari gerak detikan jam dinding.
Assalamualaikum, terdengar salam ditelinga ini. Namun tubuh yang mulai kaku ini tak kuasa untuk berdiri. Jantung berdetak lebih kencang, bibir mulai tak dapat digerakkan. Assamualaikum, sepertinya suara itu tak asing ditelingaku. Memoriku membaca suara siapa itu, dan dengan rasa sakit yang terus memuncak, aku tak dapat mengingatnya siapakah gerangan yang mengucapkan salam??. Salam kembali terdengar dengan nada yang agak pelan, aku mencoba untuk diam dan mengingat suara yang datang. Kayaknya ini suara yang pernah aku dengar di alam mimpi, entah kapan aku sudah lupa. Namun bibir tak dapat lagi berucap, mulut terasa terkunci rapat. Jawaban salam hanya dapat terucap dihatiku. Tubuhku mulai melemah, jantung ini mulai berdetak lebih pelan, alunan dzikir melantun di hati untuk selalu mengingat Illahi.
Mata mulai berkunang-kunang, rasa ngantuk, atau rasa sakit tak dapat dibedakan. Kalimat salam pun masih terdengar kembali, Assalamualaikum??.. ingin rasanya aku menjawab dengan suara yang kencang, agar dia tahu aku ada dirumah. Namun mulutku sudah tak dapat digerakkan, hanya getaran kecil yang terus datang dibibir ini. Kalimat salam terus melayang ditelinga namun lebih kecil lagi. Mata mulai terpejam dan disertai jantung yang berhenti. Aku tak merasakan apa-apa, hanya dapat menjawab salam di alam mimpi ini.
Rasanya sangat berbeda tak seperti biasanya
Terus melayang dalam dimensi yang lain
Aku hanya merasakan suasana yang berbeda
Oh Tuhan, aku datang kehadapaMu………..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar