WpMag

Rabu, 08 Juni 2011

Sampan yang Tak Lagi Terkayuh

Sampan yang Tak Lagi Terkayuh



Pikirannya terbang ke masa silam, hampir dua tahun yang lalu, saat kisruh kenaikan BBM melanda negeri ini. Di saat sore yang merangkak enggan, saat ia berbincang dengan mendiang suaminya.

Senja mulai tua. Langit mulai berwarna biru pekat kekuningan, terbias matahari yang memancarkan kehangatan khas sore hari. Camar laut berterbangan menimbulkan suara bising di udara. Sebagian ada yang pulang, sebagian lagi masih sibuk memburu ikan-ikan yang malang. Tapi sosok perempuan setengah baya itu masih belum beranjak dari tempat duduknya pada sepotong kayu bekas pohon kelapa yang tumbang. Masih mematung menghadap lautan. Tatapan kosongnya masih mengarah pada gulungan ombak yang tak henti berkejaran, gemuruh menerjang batu karang. Kerudungnya yang terlihat lusuh, tak rapi lagi karena hembusan angin laut, tersibak, memperlihatkan rambut usangnya. Ia tak bergeming, tetap saja mematung dengan mata sayu menerawang. Hanya anak laki-laki kecil berumur lima tahunan dalam pangkuannya yang tak henti mengoceh sambil mempermainkan kupu-kupu kertas.

Linah, nama perempuan itu. Umurnya belumlah terlalu tua di usianya yang menginjak empat puluh lima tahun. Beban pikiranlah mungkin yang membuatnya seperti itu. Tatapan kosongnya masih menerawang ke tengah samudera. Menyiratkan suatu harapan besar pada perahu-perahu kecil di kejauhan sana. Masih tersirat sebuah harapan untuk menunggu anak pertamanya pulang dari menjala ikan. Samsul nama anak itu. Masih sangatlah muda untuk menjadi seorang nelayan. Umurnya yang belum genap menginjak angka lima belas tahun. Tapi dia nekad berjuang dengan ombak dan badai untuk hanya sekedar menyambung sebuah jalan atas nama kehidupan.

***

Linah mungkin patut bangga kepada anaknya. Dia mampu memahami kondisi keluarganya yang lambat laun mulai terasa rapuh. Sekilas matanya meneteskan air mata yang tak lagi segar. Matanya terlalu lelah untuk terus mengeluarkan air mata kesedihan. Pipinya tak lagi bisa merasakan basah air mata itu. Dia masih terduduk. Di sepotong kayu bekas pohon kelapa pinggir pantai itu, sudah beberapa hari ini Linah menghabiskan waktu sorenya untuk menunggu kedatangan anak sulungnya itu pulang dari menjala ikan. Sudah hampir tiga hari Samsul menjala ikan di tengah lautan. Jangankan batang hidungnya, bayangan perahunya saja tak pernah nampak dari pandangannya untuk merapat di pinggir pantai dekat rumahnya.

”Kemanakah kau nak, Kenapa kau belum pulang juga?” hatinya meratap dalam dingin. ”Aku tak kan membiarkamu untuk pergi lagi nak. Biarlah kita hidup dalam kemiskinan, asalkan kau selalu ada disisiku,” ratapnya makin dalam.

Tak jauh dari tempat dia duduk. Berdiri sebuah rumah kayu yang lebih pantas disebut gubuk. Disanalah dia bersama anaknya berteduh dari panas dan hujan. Di sanalah dia menyandarkan kehidupan yang dirasa makin sulit untuk dimengerti. Tak ada kursi, tak ada lemari. Bahkan sekat-sekat kamarpun tak nampak di rumah gubuknya itu. Hanya satu ruangan kecil di sudut, sebuah kamar mandi. Terlihat beberapa helai anyaman daun kelapa yang dia gunakan untuk sekedar duduk dan beristirahat. Serta nasi dan ikan-ikan kering di atas lembaran koran di sudut lainnya sebagai makanan pokoknya selama ini.

Titian waktu terasa begitu merambat pelan, seolah mengejek setiap jengkalan pengharapan di angannya. Dadanya sudah tak bisa lagi merasakan sesak atas apa yang dia terima dari sepenggal kisah hidup yang telah dijalaninya. Sepercik harapan selalu terbersit tatkala pagi mulai turun menyapa tanah. Mengharap anaknya, Samsul, datang menambatkan perahunya di bibir pantai dengan keadaan selamat. Memang tak ada lagi doa yang selalu dia panjatkan setiap hari, sehabis shalat, selain keselamatan untuk anak sulungnya itu. Baginya keselamatan jauh lebih berharga dari hanya sekedar hasil tangkapan yang berlimpah. Bahkan Linah pernah berjanji pada sepotong doanya. Ia tak akan membiarkan anaknya itu untuk pergi melaut lagi sebelum dirasa umurnya mencukupi untuk berjuang dengan gelombang badai di tengah laut sana.

***

Pikirannya terbang ke masa silam, hampir dua tahun yang lalu, saat kisruh kenaikan BBM melanda negeri ini. Di saat sore yang merangkak enggan, saat ia berbincang dengan mendiang suaminya.

”Aku berjanji, anak kita tak akan ku biarkan menjadi nelayan miskin seperti kita kelak bu” potongan kalimat mendiang suaminya itulah yang selalu menghantui alam pikiran Linah selama ini. ”Tapi pak, apa yang bisa kita perbuat, ditambah dengan keadaan ini, BBM naik, sedang hasil tangkapam ikan kita tidak seberapa.” ”Kelak, aku ingin melihat anakku seperti para mahasiswa yang sering mengadakan penelitian di desa kita bu, pintar, cerdas, dan bisa membuat perubahan.” ”Tapi dengan apa kita menyekolahkannya pak.” ”Dengan tekad bu, dengan niat dan kesungguhan kita.” ”Tapi...” ”Sudahlah bu, nanti malam aku akan pergi melaut, semoga hasil tangkapan malam ini bisa berlimpah. Dan besok aku akan ikut warga untuk berdemo menolak kenaikan BBM di depan DPRD.” ***

Di tengah keheningan yang bergelayut, Linah sering meratapi nasib yang menderanya. Masih terbayang jelas kejadian yang menimpa dia dan keluarganya pada malam kepergian suaminya melaut. Karena ternyata percakapan sore itu adalah percakapan terakhirnya dengan mendiang suaminya. Linah harus menerima kenyataan pada sore keesokan harinya suaminya harus pulang dalam keadaan tak bernyawa, karena terjadi kerusuhan dalam aksi demo.

Saat itu, Linah tak tahu harus berbuat apa demi masa depannya, terlebih masa depan anak-anaknya. Kesedihan tak kan merubah segalanya. Air mata hanya akan menjadi tetesan kering tanpa makna. Jelata hanya akan menjadi sebuah keabadian untuk orang seperti dia. Perlahan dia mulai menata kehidupan barunya, meskipun harus tertatih. Dan, hampir tiga hari yang lalu. Samsul mengutarakan niatnya dan nekad pergi melaut dengan harapan bisa menggantikan bapaknya sebagai pencari nafkah di keluarga. Dia pernah berujar pada Linah, ingin mewujudkan cita-cita almarhum bapaknya. Paling tidak, masih ada satu harapan yang tersisa. Hati Linah terenyuh. Sungguh dia tak mampu menahan keinginan Samsul yang begitu kuat, meskipun sejuta kecemasan terlihat dari buliran air matanya saat melepas Samsul perlahan mengarungi deruan ombak dengan perahu milik almarhum bapaknya.

Tak ada hari yang Linah lewatkan untuk tidak memandangi lautan. Masih dengan berjuta kecemasan. Masih dengan berjuta pengharapan. Hanya rasa yakin yang bisa menghibur hatinya untuk bisa kembali melihat Samsul pulang dalam keadaan baik.

Namun hingga kini, bayangan perahunya saja belum menampakkan diri di tengah lautan. Dan Linah masih setia menunggu anak pertamanya itu pulang dengan iringan doa yang tak henti-hentinya ia panjatkan demi keselamatan anaknya itu. Masih terduduk di bekas sebatang pohon kelapa yang tumbang dengan kerudung lusuhnya. Masih tegar dengan hembusan angin pantai yang mempermainkan rambut usangnya. Masih sabar menanti dengan iringan riuh suara camar dan gulungan ombak yang sebagian menerpa batu-batu karang. Dan, entah kapan semuanya akan berakhir.

*** Angin berdesir saat pagi mulai turun merangkak, di pesisir pantai lain nun jauh di sebelah barat. Diantara batu-batu karang, tampak perahu nelayan yang tertambat secara terpaksa, bagai pasrah menerjang karang. Beberapa meter dari perahu banyak orang berkerumun. ”Ada apa pak?” tanya seorang laki-laki paruh baya pada nelayan yang baru saja keluar dari kerumunan. ”Ada mayat pak, remaja, tersangkut diantara karang,” jawab nelayan itu ”Innalillahi.”

Bandung, Mei 2011

*)Aftar Ryan, seorang graphic designer dan penikmat sastra yang berkediaman di Bandung.
sumber : Kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar