WpMag

Kamis, 02 Juni 2011

TRANSFORMASI PERAN MAHASISWA

TRANSFORMASI PERAN MAHASISWA
 
Mahasiswa adalah orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi dibandingkan yang lain sehingga masyarakat menganggapnya orang yang mampu menyampaikan aspirasi suara hatinya. Ada beberapa fungsi atau peran mahasiswa, menurut Ridarmin S.Kom, M.Kom, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu sebagai penyampai kebenaran (agent of social control), sebagai agen perubahan (agent of change), dan sebagai generasi penerus masa depan (iron stock). Fungsi mahasiswa ini memang terealisasi  pada zaman dulu ketika Indonesia masih dalam penjajahan maupun setelah kemerdekaan. Kita pasti ingat ketika tahun 60-an dimana Mahasiswa melakukan aksi TRITURA (tiga tuntutan rakyat), pada tahun 1974 kita juga ingat peristiwa “MALARI” (malapetaka 15 Januari), dan terakhir pada tahun 1998 dimana Mahasiswa berhasil “meruntuhkan” orang paling berpenguasa di Indonesia selama 32 tahun. Kepemimpinan yang sewena-wena oleh pemerintah akhirnya dapat diruntuhkan oleh aksi yang sangat heroik oleh para Mahasiswa diseluruh penjuru Indonesia.
Kini mahasiswa sangat pasif dan tidak peka dengan isu-isu terkini. Mahasiswa sekarang kebanyakan memiliki sifat egois yang tinggi sehingga isu-isu terkini tak dihiraukannya. Mahasiswa tak lagi mendengarkan suara rakyat yang menderita oleh kebijakan pemerintah. Banyak mahasiswa sekarang yang hanya mementingkan nilai (IPK) dan berbagai aktivitas akademik. Baginya IPK sangat penting karena untuk kepentingan mencari kerja sehingga melupakan fungsi dan peran mahasiswa itu sendiri. Jika kita mau merenungkan dan sedikit berfikir lebih dalam, bahwasanya apa yang dilakukan mahasiswa sekarang kurang tepat yang hanya mementingkan kegiatan akademik.
Mahasiswa yang selalu menyuarakan aspirasi rakyat kecil, kini tak terdengar, hanya sedikit yang muncul dan bersuara lantang. Kebijakan-kebijakan pemerintahpun yang tak memihak rakyat kini tak direspon dengan demo ataupun yang lain, jikalau ada itu hanya sedikit. Jika ini terus terjadi maka yang dikawatirkan pemerintah dapat leluasa membuat kebijakan yang membelitkan rakayat sehingga ratyat sebagai obeyek menderita. Pemerintah menjadi sewenang-wenang dalam mengambil keputusan dan bersifat diktator yang selalu tak mendengarkan hati rakyat. Akibat yang sangat parah lagi negara menjadi alat memperkaya diri oleh beberapa kalangan elit, karena memeras rakyat dengan kebijakannya. Inilah yang dikawatirkan selama ini oleh berbagai kalangan adanya transformasi peran mahasiswa.
Kita sebagai mahasiswa, apa tidak miris jika rakyat dan lingkungan sekitar kita menderita. Kita apa tidak malu disebut mahasiswa, namun tak dapat berbuat apa-apa. Pantaskah kita disebut Mahasiswa yang hanya menuntut ilmu di kampus terus mendapat IPK tinggi, sementara saudara kita di lain tempat menderita akibat kebijakan pemerintah yang sewena-wena. Mari kita renungkan, apakah yang kita lakukan sekarang sudah mencerminkan peran Mahasiswa yang sebenarnya.
 
Robin
mahasiswa jurusan perikanan UGM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar