WpMag

Senin, 20 Juni 2011

MENUNGGU DEWI SINTA PULANG

MENUNGGU DEWI SINTA PULANG

Rama masih bingung, karena kehilangan istrinya yaitu dewi Sinta. Karena permintaan dewi Sinta yang melihat kidang yang indah maka ia meminta sang Rama untuk mengkapnya. Akhirnya ketika ditinggal berburu, dan terlalu ceroboh, dewi Sinta malah hilang diculik oleh Rahwana. Ia dibawa ke kerajaan Rahwana yaitu Ngalenngka. Dewi sinta tak dapat berkutik apa-apa. Ia terkekan dalam dunia yang sempit. Tak dapat mengembangkan kreasinya. Ia juga tak dapat mengekspresikan dirinya. Yang paling parah ia sulit untuk menghasilkan generasi penerus yang berkualitas. Sulit menciptakan para intelektual-intelektual muda yang kreatif. Karena tekanan dan kebijakan-kebijakan di negeri Ngalengka ia frustasi. Karena dalam Ngalengka ia seperti patung, atau mungkin mati suri, namun ia masih hidup. Jiwa, hati dan raganya masih bergerak.
Rama dan adiknya sulit untuk melawan Rahwana. Jatayu yang menghalangi Rahwana ketika menculik Sinta pun tak dapat berkutik. Rama bingung, begitu juga para petinggi jurusan. Tak hayal usaha-usaha yang dikerahkan tak berbuah manis. Ia sulit untuk menembus kerajaan Ngalengka dan merebut kembali Dewi Sinta. Walaupun sudah berkonspirasi dengan mahasiswa, nampaknya belum bisa mengambil kembali dewi Sinta. Dosen-dosen dan para petinggi jurusan masih berfikir terus menemukan strategi yang pas dan momentum yang tepat.
Akhirnya momentum itu datang ketika Batara Guru dan para Dewa lain sedang makan-makan dengan para petinggi fakultas pertanian. Sebenarnya Batara Guru memang sudah tahu, bahwasanya di negeri Ngalengka ini sedang terjadi permasalahan. Namun ia menunggu waktu itu datang. Pada tanggal 20 juni 2011, ketika ia dan para dewa dikayangan diundang dalam Lustrum fakultas Pertanian UGM ia berbicara lantang dan siap membantu dalam pembebasan dewi Sinta. Ia akan meminta Hanoman dan bala tentaranya untuk bergabung dengan Rama dan para mahasiswa mengambil kembali dewi Sinta
Pidato Batara Guru itu disambut hiruk-pikuk tepuk tangan dari para mahasiswa dan dosen. Rahwana ternyata mencium gerak-gerik Batara Guru dan para dewa. Ia juga melihat pergerakan para mahsiswa dan oposisi di negerinya. Tak hayal ia kebingungan dan mencoba mengerahkan segenap kekuatannya agar dewi Sinta tak keluar dari kerajaannya.
Batara Guru sangat antusias dan siap membantu dalam mengambil kembali dewi Sinta. Baginya dewi Sinta sangat penting karena nantinya dalam jiwa dan raga dewi Sinta lah terlahir intelektual-intelektual muda yang mampu bekerjasama membangun Indonesia. Kementerian kelautan dan perikanan (KKP) sangat berharap nantinya dewi Sinta mampu memberikan kontribusi yang nyata ketika telah keluar dari kerajaan Ngalengka dan mengabdi sepenuhnya untuk negara.
Peperangan dimulai, ketika Hanoman akan merebut kembali dewi sinta, namun ia tertangkap. Akhirnya ia dibakar oleh Rahwana, baginya api bukanlah apa-apa dan kemudian api pun tak mampu membunuhnya. Rama dan para mahasiswa berbondong-bondong menyerang kerajaan Ngalengka, tak terkecuali para bala tentara hanoman dan KKP juga ikut. Akhirnya Rahwana dapat ditumbangkan dan dewi Sinta dapat dibawa pulang kembali ke Negeri asalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar